
Setelah menyelesaikan ritual segel penangkal iblis hari ini, Andi segera kembali ke mobilnya, Riko mengantarnya sampai depan gerbang rumah. Ia sebenarnya agak canggung dan gengsi untuk mengucapkan terima kasih, tetapi ia juga tak mau berhutang kata-kata. Karena itu, ia segera mengucapkan terima kasih walaupun dengan berat hati.
“Hei, rubah empat mata ... terima kasih ya untuk hari ini, lain kali kau tak usah datang lagi, oke! bye-bye ...,” ucap Riko berterima kasih dengan cara yang tidak sopan.
“Cihh ... dasar anak-anak, oke deh! sampai jumpa besok,” sahut Andi yang mencoba untuk memakluminya.
Riko kembali masuk ke dalam, sementara Andi langsung kembali ke mobilnya. Namun, sebelum ia menjalankan mobil, di sana tampak ada seseorang yang datang menghampirinya. Memang tidak cukup lama berbicara dengannya, sebelum akhirnya Andi mulai tancap gas lagi dan pergi.
Riko menarik napas lega sembari merebahkan badannya ditempat tidur.
'Hmm... hari ini begitu melelahkan, berbeda jauh dari hari-hari sebelumnya, semua terasa begitu tak masuk akal dan menyimpang dari kehidupan manusia, huhh...,' keluhnya dalam hati.
Berada di rumah memang lebih menenangkan, tanpa gangguan ia bisa menjalankan kehidupan seperti biasanya.
Esok hari yang cerah mengawali pagi yang indah, burung-burung berkicau ria, sinar matahari merambat ke dalam jendela kaca di kamar Riko.
Sampai ia terbangun, suara berisik di luar pintu sungguh mengganggu.
“Siapa sih, pagi-pagi begini berisik gedor-gedor pintu?” ucap Riko malas.
“Oii ... kakak pemalas! niat sekolah gak? udah siang nih, gue mau berangkat dulu ya, 15 menit lagi udah terlambat, bye-bye ....” teriak Tian dari balik pintu.
“Wtf ... sialan! gue lupa setel alarm kemarin, wehh ... terlambat nih.”
Bangun tidur Riko langsung melesat ke kamar mandi. Selesai membersihkan diri, ia langsung bersiap-siap, kemudian mengambil kembali ranselnya dan siap berangkat.
Kali ini ia tidak sarapan karena pada jam sekarang saja ia sudah cukup terlambat. Akan sangat buruk jika ia terlambat sampai setengah jam, benar-benar tidak lucu bukan.
Sampai di sekolah ia sudah terlambat lagi. Namun, sebenarnya itu adalah hal yang biasa karena datang terlambat sudah menjadi kebiasaannya setiap hari. Walaupun hari ini ia dengan tak sengaja bangun kesiangan, tetapi untuk hari-hari berikutnya ia akan mencoba untuk datang lebih awal.
“Yo! Riko, kau terlambat lagi nih,” sapa Fuurin.
“Emang kenapa? udah biasa kok,” sahut Riko.
“Hmm ... kau sudah janji kemarin mau temani aku latihan kan.”
“Iya tau, kampret! terus apa hubungannya dengan terlambat, biarpun terlambat gue masih tetap bisa datang kan,” sahut Riko sinis.
“Hehehe ....”
Juan yang tadinya ga urus, tiba-tiba saja merasa tertarik untuk mendengarkan obrolan mereka berdua. Namun, di sisi lain siswa yang lainnya menatap jijik dan muak dengan Riko. Ia selalu tak peduli, tetapi dalam hati tetap memikirkan bagaimana cara membalas mereka semua.
Dalam hal ini Juan tidak akan ikut campur karena ia bukanlah tipe orang yang mau berbagi kesialan orang lain, ia lebih memilih diam dan mencari posisi aman.
Walaupun sebenarnya ia memiliki pandangan yang berbeda dengan orang lain, tetapi ia takkan ikut campur masalah sosial secara blak-blakkan, karena itu hanya akan mempengaruhi citranya di mata orang lain.
'Aku bukanlah orang bodoh seperti mereka, tentu saja aku memiliki tujuan yang besar, tetapi aku tak harus pamer diri seperti mereka-mereka yang berkuasa, itu akan membuatmu jadi lebih mudah dikenali.' bhatin Juan.
Hari ini Riko belajar cukup baik, walaupun ia tak begitu aktif, tetapi sebenarnya ia sudah cukup memperhatikan penjelasan guru.
DING ... DONG ....
Jam istirahat berbunyi, Fuurin tampak berseri memberi isyarat pada Riko.
“Oke ... sudah tahu kok! tapi sebelum itu gue harus makan dulu, tadi pagi gue belum sempat sarapan,” ucap Riko dengan nada sinis seperti biasa.
“Yosh! kalau begitu ayo kita pergi ke kantin,” timpal Fuurin dengan sangat bersemangat.
“Cepat sana! jangan terlalu sumringah! bikin kesal saja.”
Mereka berdua langsung pergi ke kantin, tentu saja Juan selalu ingin tahu urusan orang. Dari luar ia memang terlihat agak pasif, tetapi tindakan diam-diamnya selalu aktif.
Dengan santai berjalan menuju kantin, ia selalu memperhatikan sekitarnya dengan cermat, tetapi masih dengan ekspresi masa bodonya.
Sampai di kantin ia memesan makanan, lalu mencari tempat duduk yang di mana ada orang sasarannya.
Ia melihat Riko dan Fuurin duduk bersama, karena itu ia langsung datang menuju meja itu untuk ikut duduk bersama.
“Eh, ternyata kalian berdua, sepertinya meja di sana sudah penuh, aku boleh duduk di sini kan?” tanya Juan.
“Tentu saja, tuan muda jamur!” seru Fuurin bersemangat.
“Haahh ... kau mulai lagi ikan remora!”
“Sudahlah! oi kau, lihat di sana masih ada tempat kosong tuh,” sela Riko.
“Huaa ... kalau yang itu sih memang selalu kosong, lagian aku bosan kalau makan sendirian,” sahut Juan.
“Kalau begitu ... sana! tuh, di depan masih ada tempat duduk kosong lagi satu dan masih ada orang di sampingnya,” ucap Riko dengan nada mengusir.
“Kalau yang itu sih ... aku gak kenal mereka, gak asik kalau makan dengan orang yang tidak dikenal,” balas Juan yang berusaha meyakinkan Riko.
“Bisa aja lu ngeles, jamur payung,” sahut Fuurin.
“Juan! namaku Juan ....”
....
Cukup lama berdebat, tiba-tiba seseorang datang dan berdiri di sana sembari menautkan lengannya di bahu Juan yang masih berdiri.
“Whaaa ... kaichouuu! kamu di sini," teriak Fuurin bersemangat.
“Hmm ... kalau begitu ayo silahkan duduk, kita makan bareng-bareng berempat, oke!” seru Fuurin.
“Oii ... kau seenaknya saja memutuskan! terutama si empat mata ini, kenapa harus ikutan juga, bikin kesal saja,” protes Riko.
“Tenanglah nona hantu, aku hanya duduk saja, tidak untuk mengganggumu, setelah ini kalian berdua ikut denganku,” sahut Andi dengan nada dan ekspresi yang santai.
“Siappp ... kaichou!”
“Nona hantu? pfttt ... apa semua orang di sini memiliki nama julukannya? tapi kau tahu, jujur saja ... namamu lah yang paling aneh,” ucap Juan sembari berusaha menahan tawanya.
“Diam kau jamur payung!” sahut Riko kesal.
“Sudahlah anak-anak, waktunya makan! kalian berdamai dulu ya,” sela Andi untuk membubarkan perseteruan mereka.
“Heee ... suasana menyebalkan macam apa ini, orang-orang bermasalah semuanya duduk satu meja makan denganku,” ucap Riko tiba-tiba.
“Tidak, sebenarnya yang bermasalah itu adalah kau sendiri,” balas Fuurin.
“Berisik kau!”
Akhirnya mereka menikmati makanan bersama dengan sambil menghujat satu sama lain. Di tengah candaan mereka yang masih berlangsung, tiba-tiba saja Fuurin terdiam, ia kembali merasakan perasaan itu lagi.
'Ini sama seperti sebelumnya, aku penasaran sebenarnya itu apa?'
Fuurin langsung melihat ke sekitarnya, ia kembali serius dan waspada.
“Kaichou ...,” ucap Fuurin sambil menatapnya serius.
Andi mengangguk tanda sudah mengerti, kemudian ia membuka ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada anggota lainnya.
Juan diam-diam memperhatikan ekspresi mereka, tentu saja ia tahu bahwa ada sesuatu yang aneh telah terjadi.
Ia hanya tersenyum santai di kala memikirkan sesuatu. Berbeda dengan Riko yang tetap fokus pada makanannya, tetapi sebenarnya ia juga cukup kesal melihat yang lainnya.
“Oii ... kalian ini kenapa yah, kok pada nge'lag gini sih, bosan!” sindir Riko.
Juan hanya sedikit terkekeh misterius sebelum dengan tegas ia bertatap pandang dengan Andi. Ia pun kembali tersenyum setelahnya.
'Tentu saja kau tak bisa menganggap masalah ini dengan sepele, benar bukan?' batin Juan.
Beberapa menit berlalu, Andi membuka pesan masuk dari temannya, ia pun bergegas untuk kembali.
“Aku sudah selesai, kalian lanjutkan saja makanan kalian, jika sudah selesai ... kalian bisa datang ke ruang klub, oke! sekarang aku akan kembali, kalian jangan ribut lagi ya," ucap Andi serius.
”Siap, berhati-hatilah kaichou!” sahut Fuurin.
“Jangan khawatir! kau sendiri juga harus waspada, dan kau Riko ... jagalah Fuurin baik-baik,” pinta Andi sebelum pergi.
“Tanpa lu suruh, gue sudah tahu kali! lagian apaan itu kata-katamu seperti kakek-kakek yang mau berangkat perang, aneh sekali.”
“Pfttt ....”
“Hmm ... sudahlah! kau memang legend purba terlangka dan terbodoh, huft ... dan kau Archea Juan, aku sarankan sebaiknya kau jangan terlalu ikut campur dengan kami jika kau tak ingin mendapat masalah,” ucap Andi lagi dengan tegas.
“Sudah pernah kukatakan sebelumnya, aku hanya orang biasa tentu tak berharap mengambil bagian dalam masalah yang lain, aku hanya menyelesaikan urusanku, itu saja,” balas Juan masih dengan nada santai dan misteriusnya.
“Hmm ... terserah kau, aku sudah memperingatimu, maka dari itu kuharap kau bisa menjaga dirimu sendiri, karena ini bukanlah masalah biasa, kau mengerti itu?” tanya Andi sebagai peringatan terakhir untuk Juan.
Juan tersenyum simpul tanda ia sudah mengerti.
“Terima kasih atas perhatiannya, senior.”
“Oii ... kalian kenapa sih? kok malah jadi tegang begitu, makanannya ... lihat! kasihan makanannya keburu dingin,” sela Riko yang merasa semakin kesal.
“Hmm ... oke, sampai nanti ya.”
Akhirnya mereka kembali melanjutkan makan siang mereka yang sempat terjeds.
“Itu si empat mata kenapa sih, makanan masih banyak begini udah main kabur aja, kan sayang kalau dibuang,” gerutu Riko lagi.
“Kalau begitu kau saja yang lanjutkan, lihat tuh dia nya juga sudah pergi,” sahut Juan.
“Hmm ... benar juga, sayang sekali kalau sampai dibuang, oke ... gue aja deh yang ngalah buat habisin makanannya, terpaksa sih,” sambung Riko.
“Riko ... bilang saja kau emang mau makan itu kan?” sahut Fuurin yakin.
“Terpaksa tau, nona Fuurin yang terhormat.”
“Hahaha ....”
.
.
.
TBC