
Setelah merasa keadaannya lebih baik, Riko segera kembali ke kelas.
“Oke ... sepertinya keadaan sudah membaik, pakaianku juga sudah kering, aku harus kembali ke kelas,” gumam Riko.
Ia selalu datang dan pergi tanpa menghiraukan keberadaan Andi di sana. Andi pun selalu berusaha bersabar menghadapi Riko yang selalu keras kepala. Ia menghela napas lagi, Riko benar-benar tak ingin mendengarkan peringatannya.
“Huh ... terserah kau saja, aku sudah memberitahumu, tapi ingat satu hal! kau jangan sampai jatuh dalam kegelapan, jika itu sampai terjadi, aku takkan ragu lagi untuk membunuhmu,” ancam Andi.
“Haah ... itu bukan urusanku, aku hanya manusia biasa, sudah jelas aku takkan membiarkan siapapun mengambil alih diriku ... baik kau, iblis, bahkan Tuhan sekalipun, aku masih tetap diriku sendiri.”
Andi berjalan ke arah Riko, ia mulai menyentuh dahi menuju kelopak mata dan turun ke tulang pipi hingga menjauh dari wajahnya, tanda itu kembali muncul.
“Kuharap kau tidak akan mengecewakanku.”
Andi pun pergi tanpa berkompromi lagi, mungkin ia merasa sedikit lelah menghadapi Riko yang keras kepala.
Riko terdiam sejenak sebelum kepalanya kembali sakit dan terasa mencekiknya. Ia mungkin tak bisa lagi berjalan ke kelas dan akhinya tetap beristirahat di sana, ia mulai kesal dengan keadaannya saat ini.
“Apa yang telah dilakukan ketua brengsek itu, awas saja nanti akan kubalas orang itu,” gumamnya kesal.
Tak lama kemudian datang beberapa orang untuk mengunjunginya. Di depan pintu sudah berdiri dua orang di sana, dan ternyata mereka adalah senior klubnya Ruri dan Ran.
Mereka langsung masuk dan datang untuk membantu merawat Riko, sebenarnya Riko agak senang karena ternyata masih ada orang yang mau datang menemaninya, mengingat keadaannya saat ini, jangankan berjalan ke mana-mana, membuka mata saja sudah terasa berat, kepalanya benar-benar sakit.
Mungkin ia akan beristirahat penuh selama seharian di sana. Kedua seniornya pun mencoba untuk sedikit menghiburnya, tetapi Riko hanya terus mengeluhkan kekesalannya pada ketua. Mereka jadi tak tega, tetapi mereka juga menghormati ketuanya, tak ada yang perlu ditanggapi serius, mereka hanya mencoba untuk menasehatinya.
“Arghh ... ketua sialan! beraninya ia melakukan ini terhadapku, awas saja nanti kau empat mata,” umpat Riko.
“Riko ... kau jangan begitu, ketua tak pernah bermaksud buruk padamu,” lirih Ran yang mencoba menenangkannya.
“Tapi ia sengaja memberikan tanda ini, untuk bisa menyiksaku sewaktu-waktu,” ucap Riko dengan penuh kebencian.
“Tanda? maksudmu?” tanya Ran kebingungan.
“Kalian tidak tahu?” sahut Riko yang sedikit heran.
“Tahu apa? aku tidak mengerti,” tanya Ran lagi.
“Baiklah, kalau begitu lupakan saja.”
“Yasudah, kalau begitu ... kau istirahat saja,” sela Ruri.
Akhirnya Riko kembali beristirahat, karena walau mau lanjut ngoceh pun tetap tibak bisa, ia sudah kehabisan tenaga, jadi untuk saat ini tak ada pilihan yang lebih baik dari istirahat.
Cukup lama kedua seniornya berbincang-bincang, tiba-tiba Ran mendapat panggilan dari seseorang, ia tampak agak khawatir. Ran menutup teleponnya dan bergegas pergi keluar.
“Ruri, kau jaga Riko di sini, jangan biarkan dia pergi ke mana-mana aku harus pergi sekarang,” pinta Ran.
“Baik, tapi apa yang telah terjadi?” tanya Ruri.
“Kau ikuti saja, ini perintah!” seru Ran tegas.
“Baiklah, aku mengerti.”
Ran membisikkan sesuatu pada Ruri sebelum ia meninggalkan tempat itu.
“Aku mengerti, jaga dirimu ... kuharap semua akan baik-baik saja,” pesan Ruri sebelum Ran pergi.
Riko masih setengah sadar, ia cukup penasaran dengan sedikit keributan tadi yang mengganggu istirahatnya.
“Senior Ruri ... dia mau pergi ke mana? tampaknya begitu terburu-buru,” tanya Riko.
“Ah, kau sudah bangun ya? ahahaha,” ucap Ruri agak canggung.
“Senior belum menjawab pertanyaanku.”
“Ee ... dia sedang ada urusan, sebaiknya kau tak perlu mencari tahunya.”
“Ugh ... bosan!”
“Jika kau ingin membantu seseorang, maka dengarkan permintaan mereka, bukankah kau sudah dengar tadi, Ran ingin kau tetap beristirahat dengan tenang di sini, dan ketua juga,” sahut Ruri dengan ekspresi yang tidak tenang.
“Hmm ... aku hanya ingin tahu saja, tidak untuk pergi ke sana, lagi pula sakit ini terasa aneh, tak seperti sebelumnya, sakitnya terus menerus menekan kepalaku,” keluh Riko.
“Soal tanda itu ... sebenarnya, aku tahu sedikit tentang itu,” ucap Ruri tiba-tiba.
“Benarkah, bisakah kau jelaskan sedikit padaku?” balas Riko penuh harap.
“Akan kuberitahu, tapi sebaiknya kau jangan membahas hal ini kepada siapapun, mengerti?”
“Baiklah, katakan saja!”
“Tanda di dahimu itu seperti pengikat takdir seseorang, kau pasti akan memiliki tanda yang sama seperti orang yang menuliskannya padamu,” jelas Ruri dengan perlahan.
“Pengikat takdir? apa maksudmu itu? kata-katamu benar-benar membuatku khawatir,” balas Riko yang semakin gelisah.
“Bukan seperti itu maksudku! setiap tanda yang sama akan saling terhubung dan mengikat setiap pemilik tanda itu untuk berbagi takdir, seperti halnya master dan murid ataupun tuan dan seekor anjing,” jelas Ruri lagi.
“Apa maksudnya itu?”
“Hmm ... mungkin dia melihatmu sebagai adik laki-lakinya dan mencoba untuk mengikatmu agar ia bisa selalu mengawasimu, kau orang yang impulsif, ketua benar-benar kerepotan menghadapimu, jadi intinya tanda itu juga akan membantumu agar tidak sampai dikuasai iblis.”
“Apa itu berarti iblis tak bisa menyerangku?” tanya Riko lagi.
“Tidak juga, itu bukanlah semacam jimat, kau tahu ... iblis itu kuat, ia bisa menyerang siapapun termasuk ketua juga.”
“Argghhh ... aku bingung lagi!”
“Sudahlah, suatu saat nanti kau pasti akan mengerti.”
“Okelah, tapi ngomong-ngomong ... sakitnya sekarang sudah agak mereda sih.”
“Iya, memangnya ada apa?”
Ruri mencoba untuk menghubungi Ran, tetapi sayangnya tidak ada jawaban. Kemudian ia juga mencoba menghubungi yang lainnya dan hasilnya tetap sama. Ruri mulai khawatir,
‘Apakah mereka sedang kesulitan?’ pikirnya.
“Oii ... senior! ada apa memangnya? kau terlihat begitu cemas,” tanya Riko penasaran.
“Ran tidak menjawab panggilanku, begitu juga yang lainnya,” ungkap Ruri semakin cemas.
“Yang lainnya? tunggu sebentar, apa ini artinya mereka ....”
Setelah lebih tenang, Riko pun kembali mengumpulkan dan mengingat setiap kejadian yang telah terjadi sebelumnya, ia perlahan menyimpulkan dan menyadari sesuatu.
“Aku yakin ini bukan hanya kebetulan biasa, bagaimana bisa ... kalian benar-benar tak ingin memberitahuku?” tanya Riko serius.
“Aku harus tetap di sini, ini adalah perintah,” jawabnya semakin tegang.
“Perintah? jadi begitu rupanya, dia sengaja mengirimmu ke sini hanya untuk menahanku di sini, benar bukan?” tanya Riko curiga.
“Kau ... kau jangan mempersulit kami lagi, dia memang memintaku agar menahanmu tapi itu untuk kebaikanmu juga, memangnya apa yang bisa kau lakukan di sana?” sahut Ruri kesal.
“Aku tahu itu ... tapi maaf senior, aku bukanlah anak-anak yang harus selalu dilindungi,” ucap Riko tegas.
BRUKHHH ....
Riko langsung kabur setelah mendorong seniornya cukup keras.
“Auhh ... bocah sialan! dorong sih dorong, tapi kira-kira juga dong ... bagaimana kalau gue patah tulang, bisa-bisa dipecat jadi model, huhh,” protes Ruri yang masih pada posisinya.
Ia merintih kesakitan, tetapi perlahan mencoba bangkit dari sana untuk mengejar Riko.
Di sisi lain, Riko berlari dengan sangat terburu-buru, meskipun kepalanya masih sedikit terasa sakit, tetapi ia hanya mengabaikannya.
Saat ini ia sedang berdiri di halaman belakang sekolah, dan ingin segera pergi ke tempat di mana para seniornya sekarang berada. Namun, di tengah perjalananya ia kembali menemukan kesulitan.
“Oke, sekarang aku sudah berhasil kabur darinya, tapi masalahnya ... ke mana aku harus pergi untuk menemukan mereka? Hmm ... harusnya aku tanyakan dulu dia sebelum kabur, bodoh sekali sih.”
Riko kebingungan harus melangkah ke mana, sekilas ia berpikir untuk kembali dulu ke kelas untuk mencari Fuurin, tetapi sepertinya itu bukan ide yang bagus, mengingat reaksi seniornya tadi, ia yakin bahwa situasi di sana sedang tidak baik-baik saja, tentunya ia tak ingin membawa Fuurin ke tempat yang berbahaya.
Terlalu banyak berpikir, ia malah hanya mondar-mandir di tempat saja. Tak lama kemudian tanpa ia sadari seseorang datang untuk menangkapnya.
“Huaa ... tertangkap kau tikus kecil, hehh ....”
“Senior Ruri? hehehe.”
“Beraninya kau mendorongku tadi ... padahal aku ini siswi idola sekolah,” bisik Ruri dengan aura membunuh di belakangnya.
“Memangnya kenapa?” tanya Riko polos.
PLAKKK ....
“Kau hampir membuatku kehilangan pekerjaan, model terkenal sepertiku ini jika sampai patah tulang bakalan diledek habis-habisan, terutama bagi para haters,” jelas Ruri dengan berapi-api.
“Iya sorry ... ga sengaja, cuma reflek ... hmm, jadi heran, btw kenapa di setiap tempat pasti ada yang namanya haters ya,” gumam Riko.
“Begitulah kehidupan, kau bukan hanya berperang dengan iblis saja tapi juga dengan haters,” balas Ruri sembari mengepalkan tangannya.
“Iya sih, kalau dipikir-pikir kedua makhluk itu seperti 11/12 jadinya,” sambung Riko lagi.
“Pftt ... bisa aja kau.”
“Eh ... ngomong-ngomong tentang iblis, di mana mereka sekarang? cepat tunjukan aku, aku berjanji tidak akan bertindak gegabah,” pinta Riko dengan ekspresi memaksa.
“Baiklah, aku akan mengantarmu ke sana, lagipula aku sendiri sebenarnya juga khawatir,” balas Ruri yang akhirnya setuju mengajak Riko.
“Yeah ... gitu dong! oke ... sekarang ke mana?”
Ruri berjalan ke tengah halaman belakang untuk membuat sebuah segel di atas tanah, lalu ia memanggil Riko untuk masuk ke dalam lingkaran segel tersebut.
“Kau takkan bisa menemukan yang lainnya jika kau hanya mencari mereka, karena saat ini mereka pasti sudah membuat segel pelindung agar tak ada manusia yang bisa menemukan tempat itu,” jelas Ruri sambil menentukan garis segelnya.
“Lalu?”
“Tenang saja, tentu aku mengenali segel pelindung mereka, dan saat ini aku akan membawamu ke sana dengan segel teleportasiku, bersiaplah!” seru Ruri.
Ruri akhirnya memulai untuk mengaktifkan segel teleportasi menuju ke tempat rekan klubnya berada, yaitu night zone. Sebelum menyelesaikan part terakhirnya, kemudian ia dengan cepat menutup mata Riko menggunakan telapak tangannya.
Night Zone : Unfold ~ Teleport!
~Bebaskan~
Setelah sampai di sana, perlahan Ruri memindahkan tanganya dari wajah Riko, yang kemudian membiarkan juniornya perlahan membuka mata.
Riko masih sedikit terkejut, walaupun ia sudah tahu hal itu sebelumnya. Dan beginilah pemandangan dunia dalam segel pelindung.
“Tempat ini gelap ... apakah di sini memang selalu seperti ini?” gumam Riko.
Mereka pun mulai melangkah menuju tempat di mana rekan klub lainnya sekarang.
.
.
.
TBC