Roped Fate

Roped Fate
Ch.81 : Rubah Immortal



Beberapa hari berlalu, setelah memutuskan untuk bergabung dalam organisasi exorcist, Andi dan yang lainnya pun mulai beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.


Meskipun mereka sudah resmi menjadi anggota luar dari salah satu kelompok organisasi, di luar itu mereka juga berlatih ke alam immortal bersama sahabat kecilnya yang juga seorang Deity.


Di alam immortal mereka diterima dengan cukup baik oleh seorang tetua Deity yang memiliki hubungan baik dengan Shin. Sebelum itu Shin pun sudah menjelaskan padanya bahwa ia akan mengajak teman manusianya untuk berlatih di sana.


Sang tetua yang biasa dipanggil Su itu pun menyetujui untuk melatih ketiga anak manusia di sana, selama mereka bisa menaati peraturan dan tidak membuat kekacauan. Mereka juga tidak diizinkan melewati batas-batas yang ada di alam tersebut, karena bagaimanapun keberadaan mereka masih dirahasiakan dari tempat itu.


Selain itu, Shin juga tak bisa mempercayai bahwa teman-temannya akan baik-baik saja jika sampai sebangsanya mengetahui identitas asli mereka bertiga.


****


Berlatih di alam immortal sangatlah mengesankan bagi mereka, suasana di tempat itu jauh lebih tenang dan mereka pun bisa menyerap energi alam sebanyak mungkin.


Hingga suatu ketika, Andi mencoba berkeliling di sekitaran perbatasan. Dalam perjalanannya itu, secara tak sengaja ia menjumpai seekor rubah kecil yang tampak kesulitan. Andi pun mencoba mendekati dan memeriksanya.


Rubah kecil itu tampak terjebak pada dahan pohon yang sudah roboh dan tak sengaja menimpa setengah dari badan belakang dari rubah tersebut. Dengan sigap Andi pun membantu untuk mengangkat dan menyingkirkan dahan pohon dari tubuh hewan kecil itu.


Tak hanya sampai di sana, Andi juga sempat mencarikan sumber mata air di dekatnya untuk diberikan rubah kecil tadi, karena tampaknya ia juga kehausan setelah cukup lama terjebak di sana.


Seusai menghabiskan air yang dibendung pada kedua telapak tangan Andi, sang rubah pun kembali mundur dan menatap Andi penasaran.


“Hei bocah ... sepertinya aku belum pernah melihatmu, tapi terima kasih untuk sebelumnya karena sudah menolongku,” ucap rubah itu dengan tatapan tajamnya.


“Eh! dia bisa bicara?” gumam Andi yang cukup terkejut.


“Tentu saja bisa, kau pikir aku bisu? atau kau baru kali pertama melihat makhluk sepertiku?” balas rubah itu sedikit curiga.


Andi pun terpikir, hampir saja ia lupa bahwa ia sedang berada di alam immortal. Tentu saja makhluk seperti itu sudah biasa muncul di sana.


‘Hampir saja aku lupa, ini alam immortal dan aku tak boleh bertindak sembarangan, jika sampai identitasku terekpos bisa berbahaya,’ bhatin Andi sedikit tegang.


“Ahh maaf, aku jarang bermain keluar ... kadang aku merasa canggung dan belum terbiasa, hehehe,” balas Andi sedikit canggung.


“Tak perlu setegang itu, siapa dan dari mana pun asalmu itu bukan urusanku, karena kau sudah menolongku, maka aku akan memberimu sesuatu sebagai timbal baliknya,” ucap sang rubah serius.


“Terima kasih kalau begitu, kuharap kau juga bisa merahasiakan tentang keberadaanku ini dari yang lainnya,” balas Andi sambil membungkuk.


“Tak perlu khawatir mengenai hal itu, daripada itu ... aku melihat kekuatanmu sangat lemah, mungkin kau akan mengalami sedikit kesulitan ke depannya, karena itu aku ingin memberimu sesuatu, mungkin ini bukanlah sesuatu yang istimewa, tapi ini akan berguna untukmu,” ujar sang rubah sembari menatap tajam ke arah Andi.


“Baiklah, sesuatu apa yang ingin kau berikan itu?” tanya Andi lagi.


“Ulurkan tanganmu dan buka kedua telapak tanganmu,” pinta sang rubah.


Andi pun hanya mengikuti instruksi dari rubah tersebut. Dengan perasaan ragu-ragu ia mengulurkan telapak tangan yang terbuka. Kemudian sang rubah pun menyalurkan energi khusus pada telapak tangannya.


Andi hanya terdiam penasaran, menunggu sampai sang rubah menyelesaikan aksinya tersebut.


Tak menghabiskan banyak waktu, sang rubah pun kembali menarik kaki depannya, kemudian memberi pesan terakhir pada Andi.


“Baiklah, kurasa sudah cukup ... dengan kekuatan ini kau akan mampu melihat energi spiritual setiap makhluk, baik itu manusia, iblis, immortal, atau jenis makhluk lainnya, kemampuan khusus seperti itu mungkin tak akan berpengaruh pada ketahanan fisik, tapi dengan memiliki itu setidaknya kau bisa membedakan energi setiap makhluk yang akan kau jumpai, dengan begitu kau bisa memilah makhluk-makhluk berbahaya yang perlu dihindari, sampai di sini kau sudah mengerti?” jelas sang rubah dengan rinci.


“Aku mengerti, sekali lagi terima kasih ... kemampuan seperti ini tentunya sangat berguna bagiku,” balas Andi ramah.


“Baiklah, cukup sampai di sini aku harus segera pergi dari tempat ini, kau juga sebaiknya cepat kembali ke tempatmu, di sini tidaklah aman untuk bocah manusia sepertimu,” ucap sang rubah sebelum pergi dari tempat itu.


“Umm,” balas Andi singkat.


Meskipun di sisi lain Andi merasa cukup senang dan bersemangat, tetapi ia adalah tipe orang yang berhati-hati, jadi sebisa mungkin ia memilih pilihan yang paling aman.


Meskipun ia mempercayai ketiga sahabatnya, tetapi untuk sementara ia memutuskan untuk merahasiakan tentang kejadian sebelumnya dan memikirkannya lagi di lain hari.


****


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Andi sampai ke tempat teman-temannya berada. Di saat yang bersamaan pula Andi merasa penasaran, kemampuan khusus seperti apa yang ia miliki saat ini.


Sebenarnya Andi masih bingung bagaimana kekuatannya bisa bekerja. Namun, saat ia mendekat dan memikirkan apa yang ia inginkan saat itu. Sesuatu yang tak biasa mulai tampak pada pengelihatannya.


Terlepas dari kemampuan khususnya, Andi memang selalu penasaran untuk melihat seperti apa kekuatan dan energi spiritual orang-orang di sekitarnya sejak pertama kali ia mulai mengenal dunia exorcist.


Masih dengan wajah yang datar, ia memperhatikan setiap orang yang ada di sana, ia juga sempat melihat energi dari Shin. Tak heran lagi, Shin memang memiliki energi spiritual yang istimewa dibandingkan kedua temannya.


‘Aku tak bisa memperkirakan seberapa besar kekuatan Shin, tapi energi spiritualnya benar-benar terang dan kuat, tentu saja ... ia seorang Deity, berbeda dengan kami yang hanya manusia biasa, benar-benar istimewa dan unik,’ bhatin Andi yang cukup terkesan.


“Oi, ChuYan ... kenapa malah bengong begitu, ada sesuatu yang mengganggu di pikiranmu?” tanya Rein penasaran.


“Ah tidak ... aku hanya sedikit kelelahan dan lapar, bukan masalah yang besar,” balas Andi dengan senyuman singkat di wajahnya.


Tanpa mengajukan pertanyaan apapun, Shin hanya menatap Andi heran, sembari mengernyitkan alisnya ia tampak menyadari sesuatu dan memasang ekspresi bak menuntut suatu penjelasan, Andi yang menyadari hal itu kembali bergidik dan menjadi canggung.


‘Ah benar juga ... walau bagaimanpun Shin tetaplah seorang makhluk immortal, aku tak bisa menyembunyikan apapun darinya, sudahlah akan aku jelaskan nanti padanya,’ bhatin Andi pasrah.


“Kalau begitu kita kembali dulu dan makan bersama, latihan kita lanjutkan nanti saja, oke?” sambung Hita dengan antusias.


“Tidak perlu kembali, aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian, ayo ikut bersamaku,” ajak Shin ramah.


“Baik,” jawab ketiganya serempak.


Akhirnya mereka semua pergi untuk menyajikan makanan bersama. Hita dan Rein tampak bersemangat dan bersenang-senang di tempat itu, berbeda dengan Shin dan Andi yang terlihat sedikit pasif dan kurang mood.


Setelah menyelesaikan makanannya, masing-masing dari mereka pun mulai beristirahat, Rein dan Hita yang masih sibuk berbincang-bincang hanya mengabaikan kedua temannya yang mulai berpindah dan mencari tempat lain untuk beristirahat.


Setelah mereka berdua sudah pergi, Rein pun kembali penasaran lalu membahasnya lagi bersama Hita. Tak lupa juga dengan nama immortal mereka saat ini, tentunya di sana mereka tak bisa menggunakan identitas asli karena cukup beresiko.


“Hei, Lin Xie ... tidakkah kau penasaran dengan ChuYan dan Shin, tampaknya hubungan mereka sangat rumit terakhir ini ... walaupun tak mengatakan apapun entah kenapa rasanya mereka berdua seperti sedang melakukan debat internal setiap kali bertemu,” ucap Rein dengan muka masamnya.


“Entahlah, mereka memang selalu seperti itu ... ya meskipun begitu pada akhirnya mereka berdua saling setuju dan saling memahami bukan,” balas Hita santai.


“Iya sih, tapi rasanya ruwet aja gitu ... risih liatnya, hmm.”


“Sudahlah, biarkan saja dulu mereka, nanti juga normal lagi.”


Rein dan Hita pun kembali melanjutkan istirahat mereka dan bermaksud memberi ruang kepada Andi dan Shin untuk menyelesaikan urusan mereka.


.


.


.


TBC