
Malam yang dingin hari itu diselimuti cahaya ungu, terdengar suara dentuman dari berbagai arah. Riko hanya bisa terdiam, ia begitu ketakutan dengan kekacauan yang terjadi. Namun, sebenarnya yang paling membuatnya takut adalah jika ia tak bisa menemukan orang tuanya lagi.
“Rion, aku takut ...,” bisik Riko ketakutan.
“Jangan khawatir, mereka akan segera kembali ... yakinlah, semua orang yang ada di sini bukanlah orang lemah, karena ini adalah pekerjaan mereka,” lirih Rion.
“Umn.”
Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan dan sekelompok orang yang berdatangan ke tempat itu, Riko semakin penasaran mendengar suara derap kaki redam yang semakin mendekat.
Rion hanya terdiam di balik semak-semak sembari berusaha menutup pandangan Riko agar ia tak semakin panik jika melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini.
Rion menatap kelompok orang yang sedang berusaha membantu dan mencoba mengatasi kekacauan yang sedang terjadi. Sembari memperhatikan kelompok tersebut, ia sedikit mengernyit ketika mendapati seseorang yang ia kenal tengah ikut berjuang di sana.
‘Paman Sen? jadi ternyata ia berada di kelompok yang berbeda dari tante Rima ya, pantas saja,’ bhatin Rion.
Beberapa orang dari kelompok 2 pun mulai bergabung dengan kelompok lainnya, terlihat Rima dan juga Diana mulai berpindah ke tempat kelompok bantuan.
Jadi, dalam perkemahan tersebut ada 2 kelompok yang ikut serta dan bekerjasama, mereka berasal dari masing-masing organisasi besar di sana.
Perlahan dalam kabut dan cahaya benderang, munculah semacam makhluk aneh mengerikan yang menyerang mereka dari setiap sudut.
Api berwarna ungu membakar setiap benda yang ada, mungkin itu lebih panas dari api biasa sehingga lebih cepat menyebar dan menghanguskan sebagian lahan di sekitarnya.
‘Api iblis ya? hebat sekali ... tapi juga mengerikan, apa mereka bisa mengatasi makhluk besar itu?’ tanya Rion dalam hati.
Beberapa serangan telah berhasil mendarat pada iblis tersebut. Namun, sayang sekali serangan mereka tak ada yang berpengaruh sama sekali.
Tak lama berselang, Rion memperhatikan kembali paman Sen yang sedang menarik busurnya dengan sangat kuat.
‘Woah, senjata yang hebat ... sangat kuat dan indah, dilihat dari ukurannya ... itu pasti sangat sulit digunakan, jika seseorang bisa menariknya dan mengenai sasaran, aku yakin dia adalah orang yang tak bisa diremehkan,’ bhatin Rion yang tampak kagum.
Dengan pandangan yang yakin dan fokus, paman Sen mencari kesempatan dan waktu terbaik untuk melepaskan anak panahnya.
Ketika anak panah terlepas dan meluncur, terdengar suara gema yang cukup menggelegar. Karena terlalu fokus dan terpukau dengan anak panah tersebut, Rion pun tak sadar bahwa Riko yang sedang berusaha memaksa menyingkirkan kedua tangannya yang terus menghalangi pandangannya.
Riko langsung melihat pada kerumunan orang-orang di sana.
“Aku mendengar suara busur ayah, aku yakin itu adalah ayah ... suara khas yang hanya dimilikinya, aku ingin ke sana sekarang ... ayah pasti ada di sana,” ucap Riko dengan tidak tenang.
“Itu urusan orang tua, kau hanya akan menghalangi dan mengganggu mereka, diamlah di sini sampai mereka semua menyelesaikan pekerjaanya,” bisik Rion sembari menahan Riko lagi agar ia tak kabur.
“Tapi, lihat itu ... makhluk itu bagaimana bisa begitu mengerikan, dia akan membunuh semuanya, kenapa kita tak kabur saja bersama yang lain?” jawab Riko setelah menyadari keberadaan makhluk itu.
“Karena itu adalah takdir dan pekerjaan menyedihkan mereka, kenapa harus kabur? jika takut mati mereka tak harus memilih pekerjaan bodoh ini,” jelas Rion dengan pandangan dinginnya.
“Ada apa dengan pekerjaan, kenapa bertarung untuk pekerjaan?” tanya Riko kebingungan.
“Kita anak kecil tidak mengerti apapun, yang kutahu pasti bahwa mereka semua adalah sesat, hanya masalah waktu ... mereka semua akan mati jika memilih jalan bodoh ini, mungkin saja kita yang tak berdosa ini juga akan ikut menerima dampak takdir menyedihkan ini di masa depan,” jelas Andi dengan tatapan serius.
“Kenapa kau mengatakan itu? apa kau benar-benar ingin mati?”
“Tentu saja tidak, tapi takdir yang sudah ditetapkan ... tak ada yang bisa mengubahnya, seberapa keras pun kau mencobanya, pada akhirnya akan sama saja, kita semua adalah menderita, aku sudah melihatnya berkali-kali dan semuanya hanya begitu saja, kita semua hanyalah orang bodoh yang terus berusaha menciptakan idealisme sendiri untuk membenarkan berbagai hal,” balas Rion dengan intonasi dingin.
“Tidak, semua orang berhak ... juga ayah dan ibu adalah orang yang baik, mereka bukan orang bodoh, mereka selalu memberitahuku untuk menjadi anak yang baik, itu bukanlah hal yang bodoh,” bantah Riko yang tampak tidak terima.
Riko terus berusaha menyangkal argumentasi Rion, meskipun ia tak punya banyak kata-kata yang bisa dijelaskan, tetapi ia cukup optimis bahwa orang tuanya adalah orang-orang yang hebat.
“Apa itu seperti kau sudah menyerah?”
“Jika dipikir-pikir mungkin jawabannya adalah 'iya', mungkin aku sudah menyerah sejak lama, hanya saja aku tak mau mengakuinya ... hampir semua orang juga merasakannya, tapi karena aku masih hidup, jadi tak ada alasan untuk berhenti, hidupku masih terus berjalan, mengikuti arus kehidupan manusia tanpa merasakan apa-apa lagi, hanya saja aku masih memiliki akal sehat untuk tetap mengikuti bagaimana seharusnya manusia bertindak,” balas Rion sembari tersenyum lemah.
“Kau benar-benar membingungkan, aku tak mengerti itu.”
“Sudahlah, kau tak perlu memikirkannya sekarang ... banyak orang yang aku temui menyimpang karena mental lemah mereka, kegelapan pun memakan hati dan pikiran hingga membuat mereka menjadi orang gelap yang menyimpang, karena itu ... apapun yang kau lihat nantinya, tetaplah jadi manusia terhormat dan berarti, kau masih dipenuhi cahaya ... begitu juga dengan orang tuamu, tak sepertiku ... tapi tak perlu mengkhawatirkanku, tentunya aku masih waras.”
“Aku tak begitu mengerti, tapi aku percaya ... itu telah membuatku lebih tenang sekarang.”
Karena cukup sibuk dengan argumentasi mereka, keduanya pun teralihkan dari pertarungan para orang tua dengan iblis cahaya ungu.
Anak panah yang sebelumnya melesat itu memang cukup kuat, tetapi tampaknya itu belum cukup untuk melemahkannya. Serangan beruntun terus menghunjam iblis, paman sen sudah hampir kehabisan anak panah. Namun, iblis masih saja bergerak.
Yang lain pun juga masing-masing mendaratkan serangan terbaik mereka, tetapi sayangnya senjata manusia tak cukup kuat untuk bisa melumpuhkan makhluk itu.
Bahkan panah iblis terkuat milik paman Sen pun tak bisa melemahkannya. Semua orang merasakan ketakutan luar biasa ketika amunisi mereka yang semakin menipis, tetapi iblis masih saja tak terpengaruh.
Kali ini serangan balasan dari iblis, hanya dengan sekali serangan pun telah menghabisi banyak orang di sana. Riko hanya terdiam dengan tangan yang bergetar saat melihat hal itu, ia tak tahu harus bagaimana, jika pergi sama saja dengan mencari mati. Ia berniat mengajak pergi kedua orang tuanya beserta rekannya itu untuk menjauh sejauh-jauhnya.
Apapun itu pekerjaannya, ada yang lebih penting dari itu. Tak peduli dengan hal lainnya, cukup hanya mereka berempat saja, setidaknya jika tak bisa menyelamatkan yang lainnya, yang terpenting darinya tak boleh ada yang pergi.
Riko semakin geram, ia tak bisa melakukan apapun ... ia juga tak bisa pergi ke sana karena itu akan sia-sia.
“Kau tetaplah di sini, bukankah sudah aku bilang mereka adalah orang-orang bodoh yang hanya berusaha mempertahankan idealismenya masing-masing, jika ingin mati ... maka matilah sebagai manusia normal pada umumnya,” ucap Rion tiba-tiba.
“Apa yang harus aku lakukan Rion?” tanya Riko polos.
“Eh, kau terus memanggilku seperti itu, entah kenapa terasa lucu, hahaha ... sikap unikmu itu kau benar-benar layak disebut cahaya, hahaha ... tapi sudahlah, kau tak perlu melakukan apapun, jika situasi sudah menjadi sangat buruk, hanya satu yang perlu kita lakukan yaitu kabur,” jawab Rion serius.
“Lalu bagaimana dengan orang tua kita?”
“Percayakan saja pada mereka ... semoga semuanya akan baik-baik saja, bahkan mati sekalipun, kita tetap tak bisa melakukan apapun ... kau jangan hanya mengandalkan hatimu, tapi pakai juga otakmu, manusia sudah diberikan pikiran untuk itu gunakanlah sebaik-baiknya,” balas Rion datar.
“Tapi aku tak ingin mereka pergi, aku sangat menyayangi mereka.”
“Aku juga sangat menyayangi ayahku, tapi saat dia pergi apa yang bisa kulakukan, apa aku harus ikut mati juga? tentu saja sangat bodoh jika berpikir seperti itu, bahkan mereka yang sudah mati pun pastinya berharap agar kita bisa tetap hidup, jika kau ingin mati ... bukankah pengorbanan mereka malah menjadi sia-sia, itu sama saja kau menolak usaha yang telah diperjuangkan mereka untukmu, benar-benar percuma.”
“Basi! aku mau semuanya tetap hidup.”
“Huhh ... kau tahu, semua tak akan terjadi hanya dengan kau menginginkannya, berusaha saja belum tentu berhasil apalagi hanya berharap.”
“Huaaaa ....” Riko langsung menangis sejadi-jadinya.
Rion pun seketika langsung membungkamnya agar tak berisik lagi, ia cukup kerepotan menghadapi anak manja itu. Namun, tetap saja ia tak bisa meninggalkan bocah tak bersalah itu.
.
.
.
TBC