
Hujan pagi ini masih belum mereda. Namun, bersyukur Riko sudah bertemu seseorang, setidaknya perasaan was-wasnya sudah berkurang.
Rein membantu Riko untuk pergi ke UKS, walaupun tidak ada luka sama sekali, tetapi setidaknya untuk seorang manusia biasa yang tiba-tiba diserang iblis, tentunya ia juga akan mengalami shock ringan.
Selain itu pakaian yang ia kenakan juga sudah basah kuyup, jika tak segera diganti bisa saja ia terserang flu.
Riko merasa sedikit beruntung hari ini, walaupun orang yang sudah menolongnya itu kesannya masih agak misterius, ia tetap bersyukur, ternyata tak seperti bayangannya, Rein jauh lebih sopan jika dibandingkan ketuanya.
Namun, jika dilihat kembali ia memang terlihat agak pasif dan kosong, hal itu membuat Riko sedikit bersimpati padanya.
Selama perjalanan mereka, hampir tak ada percakapan antara mereka berdua. Riko mencoba untuk tidak memikirkan kata-kata terakhir Rein.
‘Sebenarnya apa maksudnya ketika mengatakan hal itu?’ pikirnya.
Beberapa menit berlalu, di perjalanan mereka tiba-tiba bertemu Andi.
“Eh ... rupanya kakak Jiu,” sapa Rein.
“Berhenti bercanda, Rein!” balas Andi yang merasa sedikit risih.
“Ahh ... ga asik ah.”
“Bagaimana keadaanmu, kau sudah lebih baik?” tanya Andi yang tampak sedikit khawatir.
“Ahaha ... iya dong, aku baik-baik saja,” balas Rein singkat.
“Kau ... tinggallah bersamaku! aku pasti akan mencari cara untuk menyembuhkan penyakitmu,” ucap Andi dengan serius.
“Tidak apa-apa, aku masih kuat ... kau tak perlu khawatir,” balas Rein santai.
“Biarkan aku mencarikan dokter terbaik untukmu,” pinta Andi lagi.
“Sudah kukatakan tadi, aku tidak apa-apa dan aku masih bisa menahannya, lagi pula percuma saja ... takkan ada yang bisa menyembuhkannya,” ucap Rein lemah.
Di tengah perseteruan mereka tiba-tiba saja Riko menyela.
“Senior Rein, sebenarnya kamu sakit apaan?”
“Tidak apa-apa kok, ini bukan masalah besar, kamu anak kecil sebaiknya fokus belajar saja ya,” jawab Rein.
Ia tersenyum sembari mengelus kepala Riko. Riko sedikit mengernyit, walaupun kata-kata Rein terdengar agak seperti hinaan baginya, tetapi di sisi lain ia juga merasa dimanjakan.
‘Coba saja aku memiliki kakak seperti dia, pasti akan menyenangkan, harusnya tak seperti orang itu bukan? orang yang bahkan aku tak bisa mengingatnya,’ bhatin Riko agak sedih.
Cukup lama jeda kosong antara mereka bertiga, akhirnya ketiganya berpikir untuk memulai membuka percakapan lagi.
“Aku ...,” ucap ketiganya secara bersamaan.
Mereka malah jadi canggung lagi. Agar semua tak jadi semakin lebih kaku, Andi pun menyarankan agar yang lebih muda untuk bertanya lebih dahulu.
“Baiklah, kalau sudah begini ... yang paling bocah deh yang duluan,” usul Andi dengan santai.
“Apa maksudmu dengan yang paling bocah? kau ketua sialan! jangan memperlakukanku seperti anak kecil terus, aku tak akan mengampunimu lagi,” sahut Riko kesal.
“Hahaha ... kau terlihat sangat lucu dan bodoh, bagaimana jika aku mengangkatmu sebagai adikku, haha ...,” ucap Andi sembari mengacak-acak rambut Riko sampai berantakan.
“Diam kau rubah sialan, berhenti menjadikanku sebagai mainanmu!” bentak Riko sambil berontak.
“Hhhh, sepertinya hubungan kalian sangat dekat sekali ya, mirip seperti saudara kandung,” sela Rein.
“Tidak mungkinlah, kakakku tidak seperti dia,” sahut Riko dengan spontan.
“Kau punya kakak?” tanya Rein sedikit terkejut.
“Emm ... sebaiknya lupakan saja, aku tak ingin membahasnya lagi,” jawab Riko dingin.
“Ahaha ... begitu ya! tenang saja, kau bisa menganggapku sebagai kakakmu,” ucap Rein dengan lembut.
“Umm ... tentu! senior Rein,” balas Riko ramah.
“Ee ... lalu, bagaimana denganku?” tanya Andi iseng.
“Aku membencimu, kau menjauh saja!” bentak Riko sinis.
“Adikku kejam sekali rupanya.”
“ARGHHH ....”
Riko sangat kesal dengan tindakan Andi yang selalu senang mengganggunya.
‘Ada apa dengan orang-orang? kenapa mereka senang sekali mengklaim diriku sebagai adik laki-laki mereka, huhh ... sangat menyebalkan.’
Riko kembali teringat dengan kejadian tadi, dan bermaksud menanyakannya lagi.
“Senior Rein, tentang yang tadi itu ....”
SRAAKKK ....
Rein mengambil beberapa helai daun pada tanaman pot di sana lalu merubahnya menjadi daun yang keras dan tajam, ia mengarahkannya ke suatu tempat di balik dinding itu.
“Rein?”
“Ada seseorang yang sedang mengamati kita, kau periksa di sana!” perintah Rein.
“Aku tahu itu, tapi kau jangan perlihatkan kekuatan supranaturalmu di depan umum, itu sangat beresiko,” balas Andi.
“Sebelum orang itu pergi jauh, cepat lakukan saja!” perintah Rein serius.
Andi langsung pergi ke tempat yang ditujukan oleh Rein tadi, sementara ia masih memeriksa tempat di sekitarnya. Riko sedikit kebingungan dalam hal ini, ia mencoba menanyakannya lagi pada Rein.
“Senior Rein, sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya Riko kebingungan.
“Sttttt ... kamu jangan bertanya lagi, di sini sudah tak aman lagi ... seseorang baru saja mengintai kita, kau harus waspada!” balas Rein yang masih dalam mode serius.
“Senior Rein, kau tidak menyusul ketua?” tanya Riko.
“Hmm ... jadi aku hanya beban di sini.”
“Jangan begitu ... kau adalah junior kami, sudah kewajiban kami untuk melindungi para junior, dan kau tidak perlu khawatir padanya, dia akan baik-baik saja.”
“Siapa juga yang mengkhawatirkan orang itu ... cuihh.”
Tak lama setelah itu muncul seseorang yang tiba-tiba menginterupsi pembicaraannya dengan Rein.
“Ehm ... ternyata diam-diam adikku juga mengkhawatirkanku, aku jadi terharu.”
Andi yang tiba-tiba muncul begitu saja, membuat Riko kembali kesal, rasanya setiap bertemu dengannya tak mungkin akan tanpa ada gangguan dari orang itu.
“Kau jangan GR dulu ya!”
“Bagaimana di sana, apa kau berhasil menangkapnya?” tanya Rein serius.
“Tidak, aku tak melihat siapapun di sana, sepertinya orang itu sudah kabur,” jelas Andi singkat.
“Oh, begitukah?” sahut Rein yang tampak ragu.
Mereka kembali berkumpul dan melanjutkan perjalanannya ke UKS. Di sisi lain Rein masih penasaran dengan orang tadi.
‘Sangat aneh ... tak mungkin Jiu tidak bisa menangkapnya, kecuali yang tadi itu bukan manusia biasa, tetapi ... akan terasa aneh jika aku mengatakan bahwa itu memang bukan manusia, atau mungkin ... Jiu sengaja menyembunyikan sesuatu dari kami?’
Dalam pikiran yang penuh tanda tanya, di luar ia selalu terlihat pasif, walaupun beberapa kali menyeringai tipis. Namun, tetap saja takkan ada yang mengerti bagaimana jalan pikirannya.
Dalam perjalanan itu, Andi kembali teringat untuk bertanya pada mereka.
“Hei kalian, aku masih penasaran, sebenarnya kalian ini mau pergi ke mana sih?” tanya Andi penasaran.
“Ketua kampret! ngapain baru tanya sekarang, lu gak tahu kita mau ke UKS,” sahut Riko dengan nada tinggi seperti biasa.
“UKS? Rein ... sakitmu kambuh lagi?” tanya Andi.
“Bukan, aku hanya ingin mengantar Riko saja,” balas Rein santai.
“Riko, apa dia sakit?”
“Tidak juga, dia hanya kebasahan tak sengaja diguyur hujan.”
Riko kembali membelalakkan matanya ketika mendengarkan pernyataan Rein.
‘Bukan, tidak seperti itu kan?’ pikirnya.
“Ah iya, aku baru ingat! ngomong-ngomong kenapa kalian bisa bersama tadi?” tanya Andi penasaran.
“Ah, itu ....”
Sebelum Riko sempat melanjutkan kata-katanya, Rein kemudian menyelanya.
“Oh ... tadi itu Riko tak sengaja tersiram air hujan karena atap dan plaffon yang tiba-tiba bocor saat ia lewat, maklum sudah lama dan rapuh, mungkin saja kucing atau hewan lainnya tak sengaja menginjaknya dan membuatnya bocor seketika,” jelas Rein dengan ekspresi yang meyakinkan.
‘Akkhh ... alasan macam apa itu? rasanya malah jadi merendahkanku, seakan aku orang bodoh yang selalu sial, arggghh ... untuk apa juga ia berbohong?’
“Oh ... begitu ya! Riko kau ... jangan-jangan kau punya masalah dengan dewi keberuntungan ya?” sindir Andi sembari terkekeh.
“Tuh kan! sialan ini pasti selalu ledekin gue, arggghh ....”
“Hahahaha ....”
Andi berjalan ke depan mendahului mereka berdua sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sementara Riko mendekati Rein sembari menarik lengan bajunya, ia memberi tatapan penuh tanya padanya.
“Senior ... yang tadi itu ....”
“Sttt ... aku tak mau dia mengkhawatirkan aku lagi, dan kau juga jangan katakan pada siapapun mengenai kejadian tadi, ya!” pinta Rein.
“Baiklah.”
Mereka berdua akhirnya sepakat untuk merahasiakan kejadian tadi pagi.
Sampai di UKS, mereka bertiga masuk di sana sembari sedikit berbincang tentang urusan klub, Riko hanya mengenakan jaket yang dipinjamnya dari Rein, sementara ia masih mengeringkan seragam sekolahnya.
Udara terasa agak dingin dan kering, Riko pun mulai bersin-bersin.
“Sepertinya kau terserang flu, sebaiknya istirahat saja di sini, aku akan memberitahu wali kelasmu, sekaligus meminta izinnya,” ucap Andi.
“Baiklah, terima kasih sudah membantu, tapi aku ingin ditemani senior Rein di sini,” balas Riko lebih tenang.
“Jadi kau beneran takut nih? pftt ...,” goda Andi lagi.
“Bukan begitu kampret ... biar ada aja teman ngobrol,” sahut Riko semakin kesal.
“Hahaha ... terserah kau sajalah, aku pergi dulu.”
Andi mulai berhanjak dari sana dan kembali ke kelasnya terlebih dahulu.
‘Ini masih cukup pagi, jika pelajaran sudah dimulai barulah akan aku sampaikan,’ batin Andi.
Di sisi lain Riko sebenarnya malas berdiam diri di UKS hanya karena flu. Namun, mengingat kejadian tadi pagi, tentu ia masih belum pulih dari shocknya, jadi percuma saja jika ia mengikuti ulangan dengan perasaan tak tenang, ia juga pasti takkan bisa berkonsentrasi dengan baik.
“Arghhh ... aku melewatkan ulangan hari ini, terpaksa deh nyusul nanti hmm ...,” teriaknya kesal.
Rein hanya tersenyum ramah sembari mencoba menghiburnya.
.
.
.
TBC