Roped Fate

Roped Fate
Ch.41 : Menginap



Riko pergi mengunjungi Fuurin dan Andi, saat ini mereka berdua sedang beristirahat di mobil Andi.


****


Andi sedang membantu untuk merawat Fuurin. Ia memang tidak sedang terluka, tapi energinya cukup terkuras karena pertarungan tadi, ditambah lagi ia sudah menggunakan segel itu sebelumnya, pastinya ia sangat kelelahan saat ini.


“Nona Fuurin, bagimana keadaanmu sekarang?” tanya Andi.


“Sudah lebih baik kok, kaichou tidak perlu khawatir ya,” jawab Fuurin lemah.


“Baiklah, kalau begitu beristirahatlah dengan baik, aku akan mengantarmu pulang setelah Riko datang,” lirih Andi.


“Ah, benar juga ... bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Fuurin lagi.


“Dia baik-baik saja, Ruri memberitahuku bahwa Riko sudah sadar, mungkin sebentar lagi dia akan datang.”


“Oh, syukurlah kalau begitu.”


Tak lama kemudian, Riko datang bersama Ran. Ia masih agak canggung, bagaimana sebaiknya menyapa mereka berdua.


“Ee ... hai, bagaimana keadaan kalian berdua?” sapa Riko dengan terpaksa.


“Kami baik-baik saja, kau jangan berdiri saja di sana, ayo datang kemari!” seru Andi.


“Ah, oke ... aku datang ...,” jawab Riko dengan canggung.


Riko datang mendekat dan perlahan masuk ke dalam mobil. Namun, sepertinya masih ada yang kurang, melihat Ran yang masih berdiri di luar, Andi merasa tidak enak hati. Ia pun memanggil dan mengajaknya untuk ikut bersama mereka.


“Ran! kau juga ikut saja bersama kami, aku akan mengantarmu pulang,” ajak Andi.


“Oke ... tapi, teman-teman yang lainnya ...,” sahut Ran agak ragu.


“Kau hubungi saja Ruri dan bilang bahwa kau sudah pulang bersamaku, jadi mereka tak akan khawatir lagi.”


“Baiklah, akan aku beritahu Ruri.”


Ran pun juga ikut masuk ke mobilnya dan siap berangkat pulang ke rumah masing-masing.


“Oii ... ketua, apa keadaanmu sudah cukup baik untuk mengendarai kendaraan, bagaimana jika nanti kau tiba-tiba pingsan di perjalanan, habislah kita semua,” ucap Riko.


“Tenang saja, energiku tidak selemah itu, jadi tak perlu khawatir jika tak ada halangan iblis lagi, kalian pasti akan kuantar pulang dengan selamat,” sahut Andi.


“Oke, ngomong-ngomong ... apa kau sudah beritahu yang lain, bahwa kau akan pulang lebih dulu?” tanya Riko untuk sekedar memastikan.


“Tentu saja, tadi Ruri memberitahuku bahwa kau sudah sadar, jadi sekalian aku menyuruhnya untuk kembali dengan yang lainnya, karena aku akan segera berangkat setelah kau datang.”


“Oh, begitu ya.”


Mereka pun melesat ke tujuan pertama, yaitu rumah Riko. Karena di sana rumahnya lah yang paling dekat. Dalam perjalanan, mereka tak terlalu banyak berinteraksi, hanya menunggu hingga mobil sampai di tujuan. Setelah sampai, Riko hanya mengucapkan sampai jumpa dan berterima kasih.


“Hmm ... akhirnya sampai juga, kalian bertiga sampai jumpa besok ya ... dan terima kasih untuk hari ini, juga Fuurin ... kau beristirahatlah yang cukup, semoga keadaanmu cepat membaik,” ucap Riko sebelum pergi.


“Oke, kau juga beristirahatlah dengan baik! sampai bertemu besok ya,” sahut Fuurin.


“Baiklah, sampai jumpa besok, jangan lupa nyalakan terus lampu di kamarmu, biar kau tak mimpi buruk nanti malam,” tambah Andi sambil meledek Riko.


“Kau ... siluman empat mata! siapa juga yang takut,” balas Riko kesal.


“Hahaha ....”


Selesai mengantar Riko, waktunya melanjutkan tujuan kedua, yaitu rumah Fuurin. Namun, sebelum ia akan melanjutkan perjalanannya, Fuurin memiliki beberapa kondisi yang membuatnya menolak untuk pulang


“Kaichou ... aku tidak akan pulang hari ini, bolehkah menginap sehari saja di tempatmu? atau tidak ... ke tempat senior Ruri juga boleh, maaf ya jadi merepotkan,” pinta Fuurin.


“Baiklah, aku akan mengantarmu ke sana, tapi ... kenapa tidak mau pulang, apakah ada masalah?” tanya Andi.


“Yah ... aku tak mau keluargaku khawatir, jadi ... nanti aku akan memberitahu mereka bahwa hari ini aku akan menginap di rumah teman,” jawab Fuurin lemah.


“Begitukah, oke ... aku akan mengantarmu ke tempat Ruri.”


Karena tujuan kedua tidak jadi, maka Andi pun beralih ke tujuan ketiga, yaitu rumah Ran.


“Ngomong-ngomong, nona Rin, ilusi yang kau gunakan tadi itu ...,” sela Ran penasaran.


“Oh, aku terpaksa menggunakannya, sudah kepepet sih, hujan daun iblis sangatlah berbahaya, kemungkinan itu akan mencelakai kami, terutama Riko,” jelas Fuurin singkat.


“Dimensi ilusi iblis, kau bahkan menggunakan darahmu untuk memanggil semua itu, harusnya kau sudah mengerti konsekuensinya kan?” tanya Andi lagi.


“Iya, aku tahu ... tapi tadi benar-benar terdesak, jadi tidak ada pilihan lain lagi,” jawab Fuurin lemah.


“Segel terlarang itu ... kau benar-benar orang yang misterius,” ucap Andi datar.


“Emm ... aku sedikit penasaran, ilusi seperti itu bukankah akan sangat sulit dikendalikan, bagaimana jika seandainya kalian bertiga terjebak di sana selamanya?” tanya Ran.


“Masalah itu, aku sudah memikirkannya sejak awal, jika dalam waktu sebelum berakhir 24 jam dan aku masih belum bisa melepaskan ilusi itu, maka aku akan menggunakan diriku sendiri untuk menghancurkan dimensi itu,” jawab Fuurin dengan tegas.


“Benar sekali, sebelum 24 jam tempat itu masih atas kendaliku, karenanya jika dalam jangka waktu itu aku masih belum bisa melepaskannya, maka dengan bunuh diri, semua dimensi ilusi itu akan hancur dan kalian bisa kembali ke dunia nyata,” jelas Fuurin sembari tersenyum getir.


“Kau benar-benar egois, mana bisa seperti itu, jika itu sampai terjadi aku dan dia mungkin tak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri, karena itu ... kau jangan coba-coba untuk melakukannya lagi, bagaimanapun keadaannya,” ucap Andi dengan intonasi yang agak tinggi.


“Baiklah, maafkan aku untuk hal itu.”


Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Ran, ia mengucapkan salam sampai jumpa besok, lalu pergi masuk ke rumahnya. Selanjutnya, tujuan terakhir yaitu, mengantar Fuurin untuk pergi ke rumah Ruri.


“Kaichou ... apakah senior Ruri akan mengizinkanku untuk menginap di sana?” tanya Fuurin ragu.


“Tentu saja, dia pasti senang jika ada teman yang menginap,” balas Andi santai.


“Emm ... tapi, bagaimana dengan keluarganya?” tanya Fuurin yang masih ragu.


“Jangan khawatir, mereka semua baik, kau pasti akan diterima dengan baik di sana,” balas Andi.


“Kuharap begitu.”


“Sudahlah, kalau tak diizinkan, kau bisa menginap di rumahku.”


“Woah, benarkah! baguslah ... itu cukup membantu.”


“Umm.”


Sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah Ruri, kedua orang itu langsung bergegas turun dan masuk ke dalam. Sampai di depan pintu, Andi pun memencet bel di luar sembari menunggu si pemilik rumah membukakan pintunya. Tak lama berselang, seseorang datang membukakan pintu untuk mereka.


“Eh, nak Andi ... selamat malam, kamu sedang mencari Ruri ya?” sapa seorang wanita paruh baya di depan pintu rumah.


“Iya tante, Rurinya ada?” tanya Andi ramah.


“Ruri belum datang, malah tadi tante berpikirnya dia sedang bersama nak Andi,” jawab ibunya Ruri.


“Ah, benar juga kaichou ... tadi senior Ruri kan masih bersama yang lainnya, mungkin ia masih di jalan atau masih mengantar senior yang lainnya,” sela Fuurin.


“Ah, benar juga ya.”


“Kamu ... juniornya Ruri ya? cantik sekali! kalau begitu, ayo masuk dulu ... kalian berdua ngobrol di dalam saja, sebentar lagi Ruri akan datang,” ajaknya dengan ramah.


“Baiklah, terima kasih tante.”


Mereka berdua langsung masuk ke dalam. Sambil menunggu, ibu Ruri menyiapkan minuman hangat untuk mereka berdua. Cukup lama berbincang-bincang di sana, akhirnya Ruri pun datang juga.


“Halo ... senior Ruri, aku sudah menunggumu,” sapa Fuurin.


“Eh, kalian berdua? sudah lama menunggu?” tanya Ruri yang sedikit terkejut dengan keberdaan keduanya.


“Tidak juga, tidak begitu lama,” sahut Andi singkat.


“Emm ... ngomong-ngomong apa ada sesuatu yang ingin kalian bahas, kenapa tiba-tiba datang?” tanya Ruri dengan santai.


PLAKKK ....


Tiba-tiba ibunya menggeplak kepala Ruri.


“Oii ... ini emak-emak apaan sih maksudnya, main geplak aja,” protes Ruri.


“Kamu yang sopan dong, temanmu datang bukannya disambut dengan baik, malah diinterogasi, hmm,” sahut sang ibu yang sedikit jengkel.


“Ah, mama ke belakang saja sana! kami mau bicara bertiga,” pinta Ruri.


“Sudahlah, tidak masalah Ruri ... aku juga tidak akan berlama-lamaan, hanya mengantar Fuurin kemari,” sela Andi.


“Ah, baiklah ... oiya Fuurin, ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Ruri.


“Sebenarnya aku ingin menginap di sini sehari saja, boleh kan?” tanya Fuurin yang tampak penuh harap.


“Tentu saja, aku senang ada teman ngobrol nantinya,” balas Ruri sedikit bersemangat.


“Terima kasih, emm ... bagaimana dengan tante, apakah aku boleh?” tanya Fuurin lagi untuk memastikan.


“Dengan senang hati, semoga kamu betah di sini ya,” jawab ibunya Ruri.


“Syukurlah! terima kasih ya.”


Setelah urusan mereka selesai, Andi pun akhirnya bisa kembali dengan tenang. Ia hanya berpesan kepada mereka berdua agar beristirahat dengan baik. Lalu keduanya ikut mengantar Andi sampai depan rumah. Setelah mengucapkan salam sampai jumpa besok, Andi pun kembali ke mobilnya dan siap melesat pulang.


.


.


.


TBC