Roped Fate

Roped Fate
Ch.48 : Mawar Ungu



Setelah bel pulang sekolah berbunyi, seluruh murid mulai berhamburan keluar. Hari ini Riko sedang ada janji dengan Andi untuk latihan bersama serta membahas strategi untuk misi mereka besok. Riko menunggunya di depan gerbang sekolah dengan wajah yang tampak bosan. Tak lama kemudian, Andi pun datang menghampirinya.


“Halo, anak bandel ... sudah lama menunggu?” sapa Andi.


“Sudah, lama sekali,” sahut Riko cuek.


“Oke ... kalau begitu, ayo berangkat! kita berlatih di rumahmu.”


“Hmm.”


Mereka pun pergi menuju mobil. Sembari memperhatikan sekitar Riko mulai mempercepat langkahnya sebelum ada orang yang tiba-tiba mencegatnya lagi. Saat sebelum memasuki mobil, Riko kembali menoleh ke suatu tempat, ia merasa seperti ada yang aneh di sana.


Ia sempat terdiam sesaat sebelum Andi kembali menyadarkannya.


“Hei ... ada apa, kenapa bengong seperti itu?” tanya Andi.


“Bukan apa-apa, aku hanya merasa seperti ada orang di sana,” balas Riko yang masih tampak penasaran.


“Hmn ... tidak ada.”


“Sudahlah! mungkin hanya perasaanku saja, ayo ... segera berangkat.”


“Oke.”


Perjalanan menuju rumah Riko terlihat masih normal-normal saja, hampir tak ada gangguan yang menghalangi mereka seperti sebelumnya. Oleh karena itu, mereka bisa sampai dengan cepat ke tujuan.


Sampai di depan rumah Riko, Andi mulai memarkirkan mobilnya. Saat Riko mulai turun dari mobil, ia kembali merasa ada yang aneh.


“Oii ... ketua, kok dari tadi gue merasa seperti ada orang yang sedang mengikuti kita ya, apa kau tak merasakan ada yang aneh?” tanya Riko merasa agak risih.


“Entahlah, kita hanya perlu waspada saja dan untuk saat ini sebaiknya kita segera masuk dulu, nanti bicarakan lagi di dalam,” balas Andi dengan sedikit terburu-buru.


“Okelah!”


SRAKK ... SRAKK ....


Suara gemerisik dedaunan tiba-tiba terdengar dari arah pohon dekat rumahnya. Lagi-lagi Riko dibuat penasaran, seketika ia langsung berlari ke tempat itu untuk memastikannya, tetapi ternyata tak ada apapun di sana.


Ia bingung lagi, lalu Andi pun berteriak memanggilnya agar segera kembali.


“Hei ... Riko, apa yang kau lakukan di sana? cepatlah kemari!” seru Andi.


“Oke ... gue datang.”


“Kenapa lagi kau, aneh sekali.”


“Tadi ada suara aneh, kupikir ada seseorang di atas sana,” balas Riko yang tampak was-was.


“Sudah kukatakan kau abaikan saja, sebaiknya segera masuk,” ucap Andi dingin.


“Iya, tapi tadi itu ... huhh, yaudah! masuk saja deh,” jawab Riko dengan kesal.


Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam dan mengabaikan hal sebelumnya. Sampai di dalam ... seperti biasa, Tian akan mengganggu aktivitas kedua orang itu. Riko selalu kesal dengan pengganggu kecil itu. Jadi, ia mengunci Tian untuk sementara waktu di kamarnya sendiri.


“Kau ... adik sialan, sebaiknya diam saja dulu di kandangmu, jangan mengganggu! gue lagi badmood, jadi tak ada toleransi untuk saat ini,” teriak Riko sambil mengunci adiknya dari luar.


“Awas kau ... gue pasti akan segera lolos dari penjara ini, lihat saja nanti akan gue obrak-abrik ruangan lu,” balas Tian dengan teriakan nyaringnya.


“Heh ... bisa apa lu pembangkang kecil.”


“Arghhh ....”


Tian merasa sangat kesal sembari menggedor-gedor pintu, ia terus ngomel-ngomel dan mondar-mandir mencari jalan keluar. Sementara Riko hanya berdiri santai di luar dengan ekspresi puas.


“Haha ... rasain lu! makanya, sekali-sekali harus nurut jadi bocah,” ejek Riko.


“Hmm ... padahal kau sendiri juga bocah, dan tindakanmu juga bocah, sekarang kau berkelahi dengan bocah,” sindir Andi.


“Hah! apaan sih.”


Andi menghela napas dan mencoba memaklumi jawaban menyebalkan itu.


“Huhh ... setiap kali aku datang ke rumah ini, kalian berdua pasti hanya fokus untuk berkelahi, tidak bisakah kalian sedikit menghargai keberadaanku di sini, hmm,” tambah Andi.


“Ya sudah ... kalau begitu, ayo cepat! latihannya di ruang belajarku saja.”


Mereka berdua akhirnya mulai melanjutkan aktivitas dan tujuan awal mereka yaitu, latihan dan membahas strategi misi.


Riko pun mempersilakan tamunya untuk datang ke ruang belajarnya.


Di sana mereka mulai membahas strategi yang akan digunakan dalam misi besok, sekaligus mengajarkan Riko bagaimana caranya bertarung dan bekerjasama dengan tim.


Setelah pembahasan itu selesai latihan fisik dan teknik pun dimulai, ini masih seperti latihan mereka biasanya, hanya saja pemahaman Riko kali ini jauh lebih baik dari sebelumnya.


Irama gerakannya sudah lebih teratur dan ia juga sudah cukup baik dalam mengontrol emosinya. Meskipun teknik ini masih jauh untuk dikatakan sudah bisa terjun dalam pertarungan, akan tetapi dasar itu pastinya sangat penting sebagai langkah awal dan pondasi untuk mencapai stage berikutnya.


Riko tak akan protes lagi, karena ia tahu bahwa jawabannya akan sama. Ia tak akan langsung diajarkan bertarung dengan kekuatan super tak masuk akal. Pertama, ia hanya harus berfokus pada gerakan dasar dan pola yang berulang.


Ayunan tangan yang semakin ringan dan tajam dengan tatapan fokus pada seluruh ruang lingkup serta gerakan refleks dan keseimbangan tubuh yang kuat, begitu juga dengan posisi kaki yang tak boleh sampai menipis dan melemah.


Andi terus mengawasi gerakannya dengan seksama, jika saja Riko melakukan kesalahan, maka ia akan langsung memberi serangan peringatan, entah itu mengunci pergerakan ataupun langsung merobohkan keseimbangannya, Ia selalu melatihnya dengan ketat dan tegas.


Sebagai selingan Andi juga memberi latihan bertarung bersama dengannya, tentu saja ia tak akan menggunakan kekuatan spiritualnya, melainkan pertarungan fisik biasa agar pertarungan itu menjadi lebih seimbang.


Mungkin dari segi tempat memang agak kurang mendukung, karena di dalam ruangan pastinya akan menjadi cukup sempit untuk ukuran tempat latihan, akan tetapi Riko terlihat cukup menikmati latihan itu. Meskipun beberapa serangan yang mengenainya terasa cukup sakit, tetapi ia tetap berjuang dan tak mau kalah darinya.


Tak lama kemudian, terdengar suara berisik dari dekat jendelanya. Riko pun langsung pergi untuk memeriksanya. Saat ia membuka penuh tirai dan jendela, di sana ia melihat adik sepupunya sedang berdiri sembari nyengir karena ia ketahuan sedang menguntit.


“Hehehe ....”


“Oii ... kau ini! bisa tidak sekali saja jangan mengganggu kami terus,” ucap Riko dengan nada kesal.


“Gue kan cuma mau kabur aja, kebetulan penasaran juga, ya ... sekalian aja gitu biar tahu,” balas Tian dengan santai.


“Gue cuma penasaran aja, seperti apa sih latihan exorcist itu?”


“Hah ... sejak kapan kau tahu tentang exorcist? lagi pula ini hanya latihan bertarung biasa, siapa saja bisa melakukan,” sahut Riko sedikit terkejut.


“Gue cuma pernah dengar aja sih, jadi ikut penasaran gitu.”


“Aneh ... sebaiknya sekarang kau pergi saja sebelum gue seret lagi kau nanti.”


“Heeh ... seret aja kalau bisa, nanti gue bakar semua koleksi superheromu.”


“Arghhh ... kau ini semakin lama semakin kurang ajar ya, perlu diberi pelajaran nih,” ancam Riko lagi.


“Lalalalala ... gue gak denger nih gue gak denger ...,” ejek Tian sambil memutar bola matanya.


“Tchh ... adik stress.”


Riko pun langsung menutup jendela dan tirainya, lalu kembali menuju tempat Andi duduk bersantai.


“Yah ... aku jadi heran kau ini selalu saja berdebat dengan Tian, sebenarnya pada rebutin apaan sih?” tanya Andi dengan santai.


“Rebutan kebebasan dan siapa yang paling berkuasa, sialan!” balas Riko dengan intonasi yang tinggi.


“Heh ... kok malah ngegas sih, padahal cuma bertanya saja.”


“Oke deh, kalau begitu latihannya cukup sampai di sini saja, lagi pula ini juga sudah menjelang petang, kau sebaiknya pulang saja, latihannya juga sudah cukup melelahkan, gue mau istirahat dulu,” ucap Riko yang tampak sudah kelelahan.


“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa besok ... dan jangan lupa tentang misinya,” balas Andi sembari mengingatkannya lagi.


“Oke, gue pasti datang kok!”


Akhirnya kedua orang itu mencukupkan latihan hari ini. Riko mengantar Andi sampai depan gerbang rumahnya, ia tak banyak basa-basi lagi, setelah mengantarnya sampai depan, ia pun langsung kembali ke dalam.


Andi selalu mencoba memahami sifat cuek bebek juniornya itu, tampaknya untuk bisa membuatnya berubah itu cukup sulit, tetapi sudahlah ... ia juga tak terlalu mempermasalahkannya.


Sebelum sempat masuk ke mobil, Andi memeriksa ponselnya terlebih dahulu. Tak lama kemudian, dedaunan pun kembali bergemerisik, seketika ia langsung menoleh ke tempat itu. Dengan waspada ia terus memperhatikan sekitar.


Sudah cukup lama berdiri mengamati tempat itu, tampaknya masih tak ada sesuatu mencurigakan yang muncul, jadi ia segera kembali ke mobil dan siap melaju ke rumahnya.


‘Rasanya tadi seperti ada seseorang di sana, tidak mungkinkan ... jika itu hanya perasaanku saja, auranya juga tidak biasa, entahlah! tampaknya akan ada banyak sampah yang perlu disingkirkan nantinya,’ pikir Andi sembari memberi seringai pada wajahnya.


.


.


Di sisi lain Riko langsung berlari dan meluncur ke tempat tidur, ia merasa begitu kelelahan dengan latihan tadi. Belum lama bermalas-malasan, ia sudah dipanggil oleh bibinya.


“Riko ... mandi dulu sana, setelah itu kita makan malam bersama ya,” teriak bibinya.


“Okelah ... tapi aku hibernasi sebentar, nanti kalau sudah lebih dingin, baru deh mulai aktivitasnya,” sahut Riko agak malas.


“Ya sudah ... kalau begitu kami tunggu nanti di meja makan ya ....”


“Kenapa harus makan bareng sih, biasanya juga sendiri ah, memangnya ada apaan?” tanya Riko enggan.


“Bukan apa-apa, cuma karena hari ini pamanmu pulang lebih awal, jadi sekali-sekali tak apalah ... kalau makan bersama,” jawab sang bibi santai.


“Oh ... baiklah, nanti aku ke sana.”


Riko pun kembali melanjutkan kegiatan malasnya sampai temperatur tubuhnya lebih mendingin. Setelah itu barulah ia mulai melakukan rutinitasnya seperti mandi dan kegiatan lainnya.


.


.


Di ruang makan, kerabat keluarganya sudah duduk dan berkumpul, mereka hanya tinggal menunggu Riko saja.


Tak lama kemudian, Riko pun muncul dengan ekspresi membosankan. Karena sebenarnya ia memang sangat malas dengan acara makan bareng seperti itu, ia lebih suka makan sendiri dan bebas sesuai keinginannya mau kapan ia akan makan.


Namun, karena ini acara keluarga yang cukup penting untuknya, jadi ... tentunya ia juga akan melakukannya.


Ketika sudah duduk di meja makan, ia baru menyadari kalau vas bunga di sana adalah bunga mawar berwarna ungu. Riko terkejut dan secara spontan langsung mengambil vas bunga itu, lalu membantingnya di lantai.


“Hei ... apa yang kau lakukan, kenapa tiba-tiba membanting vasnya?” tanya paman.


“Ah ... maaf, cuma refleks! lagi pula itu kenapa bisa mawar warna ungu sih, macam tak ada bunga lain aja,” jawab Riko yang tampak dipenuhi beban pikiran.


“Memangnya kenapa kalau mawar ungu? di toko bunga juga banyak yang lagi jual itu,” sahut Tian heran.


“Mawar ungu itu horror, kampret! lu anak kecil gak tau apa-apa sih,” balas Riko.


“Hah ... sama bunga aja kok takut, heran deh ... kau ini laki-laki bukan?” sindir Tian pedas.


“Tian sialan! siapa juga yang takut, gue cuma mengingatkan kalau mawar ungu itu adalah alamat buruk tau!” balas Riko serius.


“Sudalah, lupakan tentang vasnya ... sekarang kita lanjutkan makan malamnya, dan lain kali bibi akan ganti vasnya dengan bunga lain,” sela Bibi sambil membubarkan perdebatan mereka berdua.


“Baiklah bibi ... dan maaf untuk vasnya, aku benar-benar tidak sengaja,” ucap Riko dengan perasaan menyesal.


“Sudahlah ... kalau begitu duduklah kembali Riko, kita sajikan makan malamnya,” tambah paman.


“Oke.”


Mereka pun kembali melanjutkan kegiatan sebelumnya yang tertunda. Meskipun sebenarnya Riko masih merasa kesal dan terganggu, tetapi ia hanya mencoba mengabaikan dan melupakan hal itu sejenak.


.


.


.


TBC