
Pada pagi hari yang cerah, klub exorcist mulai membahas misi kemarin yang telah dijelaskan oleh guru Tono, mereka menyiapkan berberapa strategi baru untuk misi di jalan mawar. Guru Tono cukup terkesan dengan pembahasan misi kali ini, klub exorcist di sekolah ini pada dasarnya memang beranggotakan murid-murid jenius yang popular.
“Pak guru Tono, bisakah anda mengantarkan berkas dokumen ini kepada Fuurin,” pinta Andi sambil menyodorkan beberapa berkas kepada guru Tono.
“Tentu saja, kebetulan hari ini saya akan mengajar di kelasnya Fuurin,” jawab guru Tono.
“Baguslah kalau begitu, mohon kerjasamanya.”
Lalu, guru Tono mengambil berkas tersebut dan pergi setelah mengucapkan permisi.
Dengan langkah yang santai, guru Tono membawakan berkas tersebut menuju kelas 8A, selama perjalanannya ia melihat suatu bayangan yang tampak mencurigakan, lantas ia mencoba untuk mengikutinya.
Dalam pagi yang masih sejuk, Juan berjalan melewati koridor kelas lain, dari kejauhan ia melihat guru Tono yang bertingkah aneh dan mencurigakan, ia menjadi penasaran dengan apa yang sedang dilakukan orang itu.
‘Heeh ... ini ada apa lagi guru baru, mengendap-endap seperti maling, memangnya ia sedang menguntit siapa sih? hmm ... ikutan ah ... hehe,’
pikir Juan iseng.
Bayangan itu melesat mendekati suatu tempat dekat tangga menuju kelas di lantai dua dan masuk ke sebuah gudang kecil di sekitar sana.
Masih dengan kewaspadaan yang tinggi, guru Tono mencoba melihat keadaan sekitar, ia sedikit khawatir jika ada orang yang memperhatikannya. Ketika melihat ke belakang ia kembali terperanjat, ternyata seseorang sedang melihat gerak-geriknya dari tadi.
Dengan langkah perlahan guru Tono mencoba mendekati seseorang yang sedang bersembunyi dari balik tiang bangunan. Ia menarik lalu membekap orang itu agar tak berteriak.
“Maaf, saya tidak bermaksud buruk, kamu jangan salah sangka dulu! akan saya jelaskan, tapi kamu jangan berisik,” bisik guru Tono dengan suara pelan.
Orang itu hanya mengangguk tanda bahwa ia setuju dengan perkataan guru Tono, setelah orang itu lebih tenang, guru Tono mulai melepaskan dan menyingkirkan tangannya.
“Oke, guru baru ... anda benar-benar membuat saya jantungan, gelagatmu macam penjahat saja, penguntit lagi,” sindir Juan.
“Ya ... untuk itu saya minta maaf, saya memang berbakat menjadi orang mencurigakan, padahal sebenarnya saya tidak memiliki niat buruk apapun,” sangkal guru Tono.
“Makanya, anda jangan mengendap-endap seperti itu, memangnya pak guru sedang buntutin siapa sih?” tanya Juan penasaran.
“Tadi saya melihat objek mencurigakan, makanya saya ikuti sampai ke sini,” jawab guru Tono serius.
“Lalu, sekarang?” tanya Juan lagi.
“Ah ... benar juga! saya jadi lupa mengamati orang itu, ini gawat!” sahut guru Tono yang kembali teringat dan panik.
BRUGHHH ....
KLANGGG ....
“Suara itu ...,” gumam keduanya.
Terdengar seperti suara benda jatuh, mereka berdua kembali diam terpaku saling menatap. Mereka menjadi khawatir itu akan menjadi sesuatu yang buruk. Keduanya langsung bergegas ke sana untuk menyelidiki apa yang sedang terjadi.
Dari kejauhan mereka melihat, tampaknya di sana terdapat seseorang yang dikenal sedang berdiri tak jauh dari lokasi jatuhnya benda itu.
“Hei ... apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Juan heran.
“Sudah jelas mau ke kelas lah, gue tadi lewat tiba-tiba lampu gantung ini terjatuh, hampir saja mengenai gue,” sahut Fuurin kesal.
“Tenang dulu, emm ... nama kamu Fuurin kan, bagaimana keadaanmu? apa ada yang terluka?” tanya guru Tono dengan wajah agak khawatir.
“Aku baik-baik saja, cuma ada beberapa pecahan kaca lampu yang mengenai kakiku, tapi ini tidak terlalu parah sih,” jelas Fuurin santai.
“Kalau begitu, mari saya antarkan ke UKS agar lukamu segera diobati,” ajak guru Tono yang tampak masih khawatir.
“Baiklah, terima kasih kalau begitu.”
“Ini sedikit aneh sih ... sepertinya memang disengaja,” sela Juan.
“Apaan sih maksudmu? ayo cepat pergi dari tempat ini,” sahut Fuurin buru-buru.
“Aku mencium bau-bau kejahatan di sekitar sini, sebaiknya langsung kita selidiki,” tambah Juan lagi.
“Arghhh ... kau cuma jamur bisa apa, sebaiknya pergi saja! jangan cari masalah, berbahaya tau!” protes Fuurin.
“Benar yang dikatakan Fuurin, kamu sebaiknya ikut kami saja, di sana berbahaya,” sambung guru Tono.
“Huftt ... terserah kau saja, tapi kau jangan bawa-bawa Riko ke dalam situasi bermasalah lagi, ribet urusannya kalau bersama dia,” ucap Fuurin kesal.
“Ehm ... ada yang perhatian nih!” goda Juan lagi.
“Haahh ... bilang apaan sih,” sahut Fuurin lagi.
“Ahahaha ....”
Akhirnya, mereka bertiga pergi ke UKS untuk merawat beberapa luka Fuurin akibat pecahan kaca tadi.
Dari balik ruangan itu, aura kejahatan kembali menyebar.
“Sial ... gagal lagi!”
“Hehh ... makhluk menjijikan, entah berapa kali aku memergokimu, kau tetap masih saja memuakkan.”
“Diam kau! ini bukan urusanmu, berhenti menggangguku.”
“Kalau begitu, sebaiknya kau mati saja di sini dan jadilah experiment untuk anak-anakku.”
Riko yang hendak turun dari tangga tiba-tiba mendengar keributan yang sungguh mengganggu telinganya, ia begitu penasaran, kejahatan apa yang telah melanda sekolahnya saat ini.
‘Siapa sih di sana? berisik sekali,’ tanya Riko dalam hati.
Ia pun berlari dengan terburu-buru menuruni tangga untuk melihat para penjahat yang sedang berdebat di bawah. Namun, sayang sekali ... saat telah sampai di bawah, di sana ia sudah tak menemukan siapapun. Sepertinya suara langkah kaki Riko telah disadari musuh sebelumnya.
‘*Rupanya mereka berhasil kabur ya, sial! gue jadi penasaran, siapa sih kedua orang tad*i?’
.
.
Sampai di ruang UKS, guru Tono membantu Fuurin untuk mengobati lukanya serta memberi perban agar tidak terjadi infeksi. Selesai itu, guru Tono kembali teringat untuk menyerahkan beberapa berkas dokumen untuk Fuurin.
“Oh iya, tadi ketua exorcist menitipkan berkas ini untukmu,” ucap guru Tono sambil menyerahkan berkas dokumen tersebut.
“Oh, terima kasih! maaf, jadi merepotkan,” balas Fuurin ramah.
“Tidak masalah.”
“Ngomong-ngomong, kalian berdua tadi kenapa tiba-tiba muncul, padahal sebelumnya aku tak ada melihat kalian lewat sana,” tanya Fuurin penasaran.
“Oh ... sebenarnya tadi aku sedang mengikuti pak guru baru yang terlihat mencurigakan dan sedang menguntit orang,” jawab Juan santai.
“Dan saya melihat sesuatu yang terlihat abnormal dan mencurigakan, lalu memutuskan untuk mengikutinya, ternyata saya malah ketahuan sedang menguntit, jadi saya tadi sempat berkompromi dulu dengan Archea Juan makanya tidak sempat melihat kejadian selanjutnya,” jelas guru Tono.
“Ya ... dan setelah cukup lama berdebat, tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras, jadi kami langsung keluar dari persembunyian menuju TKP,” tambah Juan.
“Oh, begitu rupanya ... sepertinya kita harus segera menangkap pelaku sebelum ia bertindak lebih jauh lagi,” tegas Fuurin.
“Kau benar! aku pasti akan mencari cara yang tepat untuk itu, sayang sekali saat ini aku masih belum punya bukti,” sambung Juan.
“Yah ... kau masih ingat kan, dengan kesepakatan itu?” tanya Fuurin.
“Tentu saja, pastinya aku tak akan pernah melupakan hal itu, heh,” balas Juan sembari menyeringai.
Sorotan mata mereka kembali berapi-api, tampaknya mereka berdua telah membuat kesepakatan sebelumnya.
Meskipun guru Tono di sini merasa bingung sendiri, tapi ia yakin itu adalah suatu kesepakatan yang besar.
.
.
.
TBC