Roped Fate

Roped Fate
Ch.60 : Pertarungan Melawan Zombie



Tengah malam yang dingin, para anggota klub exorcist sedang menjalankan misi di jalan mawar selatan. Saat ini mereka benar-benar bernasib buruk, bahkan sedikitpun tak ada yang menduganya bahwa makhluk yang akan mereka lawan itu adalah sekumpulan zombie.


“Tenangkan diri masing-masing, jangan pikirkan jumlah dan bentuknya ... lakukan saja perlawanan seperti biasa, aku sendiri belum pernah menghadapi zombie sebelumnya, jadi berhati-hatilah kalian, jangan biarkan mereka sampai menyentuh kulit kalian!” seru Andi sembari memperhatikan sekitar.


“Baik ketua,” jawab anggota lainnya secara serempak.


“Yah, sudah jelas dong! siapa juga yang mau disentuh makhluk menjijikan seperti itu, bisa-bisa korengan kulit gue,” sela Riko dengan wajah masamnya.


“Baguslah kalau sudah paham, kuharap kau tak akan dimakan ataupun diculik oleh para zombie itu nantinya,” sindir Andi iseng.


“Cihh.”


Mereka semua masih berkumpul di satu titik dan saling menjaga dari masing-masing sisi. Sebelum memulai serangan, pertama mereka perlu memikirkan pola terlebih dahulu.


Riko, Andi, Fuurin, Ruri, Erick, Nana, Ran dan Miki pun membentuk suatu pertahanan kombinasi delapan arah mata angin.


Sebagai serangan pembuka, Ruri mengeluarkan elemen anginnya untuk mengibaskan sisa kabut yang masih menghalangi pandangan. Lalu disusul oleh semburan elemen api dari Nana.


Kemudian mereka mengamati reaksi dari para zombie tersebut. Tentunya serangan itu tak mempan untuk menghentikan pergerakan zombie, meskipun dengan tubuh yang berkobarkan api mereka tetap menyerang dengan ganas.


Setelah semburan api dihentikan, para exorcist pun menjadi tercengang melihat bahwa tubuh zombie tersebut berubah dan mengeluarkan semacam cairan busuk sebagai tanda perlawanan dari semburan api yang baru saja mengobarkan mereka.


“Sial, tak mempan ya!” umpat Ruri.


“Benar, karena mereka adalah zombie ... serangan dengan kekuatan spiritual yang masih minim mungkin tak akan berpengaruh, karena itu kita harus menggunakan cara alternatif lainnya, seperti ....”


WHURRR ....


Belum sempat Andi menyelesaikan kata-katanya, Riko sudah lebih dulu melepas anak panahnya yang kemudian melesat dengan cepat menuju sasarannya.


CKAKKK ....


Anak panah pun berhasil mengenai salah satu titik vital zombie yang menyebabkan terganggunya aliran energi mereka. Perlahan zombie itu mulai tumbang karena kacaunya energi dalam tubuh.


Andi pun menyeringai, kemudian bersiap mengerahkan anggota lainnya untuk segera menyerang.


“Baiklah, aku lanjutkan kata yang terpotong tadi ... karena kekuatan spiritual kita masih lemah, jadi ... mari kita tumbangkan mereka dengan serangan fisik, siapkan senjata kalian masing-masing ... ayo kita potong mereka menjadi beberapa bagian,” perintah Andi dengan penuh semangat.


“Baik!” jawab mereka serentak.


Pertarungan pun dimulai, mereka semua berpencar dan mengambil bagiannya masing-masing. Begitu pula dengan Andi, ia bergerak ke arah belakang dengan langkah yang santai.


Meskipun yang lainnya bertarung hanya dengan fisik, tetapi ia tetap menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melayangkan senjata uniknya. Sama halnya dengan senjata khusus milik Riko, jarum-jarum miliknya bukanlah jarum biasa. Ada unsur spiritual di dalamnya yang sekaligus menjadi racun di setiap serangannya.


Andi menciptakan rangkaian pola serangan yang menitik khususkan pada titik-titik pusat energi hingga menghancurkan aliran energi tersebut secara bersamaan.


Dalam hal ini Andi adalah orang yang paling diuntungkan, sehingga tanpa melakukan gerakan yang berlebihan, ia mampu menjatuhkan banyak zombie dalam sekejap.


Karena keahliannya dalam memanipulasi logam, juga dengan energi spiritual yang tinggi, ia berhasil unggul dalam pertarungan kali ini.


“Ketua memang hebat, tapi aku juga tak mau kalah lho! oii ... zombie bau akan aku cincang-cincang kau sampai jadi kecil imut,” teriak Ruri cukup bersemangat.


Pisau gerigi adalah salah satu senjata khusus milik Ruri, ia berlari dan menebas para zombie dengan senjatanya. Tanpa ragu ia benar-benar memotongnya menjadi bagian-bagian yang terpisah, tetapi karena waktu yang tidak mendukung ... ia hanya membiarkannya seperti itu dan kembali memburu zombie lainnya, padahal yang ada dalam benaknya kini ia sangat ingin memotongnya lebih banyak lagi.


Sementara yang lain, juga masih terus berjuang melawan para zombie itu. Erick menggunakan bumerang sebagai senjata khususnya, lalu Miki dan Nana menggunakan pistol khusus, sedangkan Ran menggunakan pedang kuno dan Fuurin sendiri memakai tali senar khusus.


Sama halnya dengan Andi, Fuurin juga menggunakan energi spiritual untuk mengontrol tali senarnya. Ia mengikat sasaran lalu menarik kedua ujung tali dan mencekiknya, tak hanya itu saja ... ia juga bisa memetik tali senar kemudian menghasilkan gema spiritual yang dapat melemahkan lawan maupun mengacaukan aliran energi mereka.


Melihat hal itu Riko pun jadi termotivasi untuk bersaing dengan kawan seangkatannya itu.


‘Benar-benar kemampuan yang hebat sekaligus indah, sial! dia benar-benar mengesankan ... kalau begitu, gue harus lebih serius lagi, gak mungkin dong! kalau gue jadi yang paling menyedihkan di sini,’ pikir Riko agak cemas.


Beberapa waktu telah berlalu, jumlah zombie sudah berkurang banyak. Riko bekerja lebih keras hari ini, sebagai pengalaman sekaligus latihan ia berhasil menghabisi cukup banyak zombie.


“Tch, sialan! mereka benar-benar membuatku kelelahan, tunggu saja ... akan segera aku akhiri segelintir sampah yang masih tersisa itu,” teriak Riko dengan sombongnya.


Ia masih bisa berlari menyerang zombie itu meski sudah kelelahan dan kakinya juga terasa berat, sayangnya ia malah terpeleset pada beberapa pijakan dalam serangan.


Riko pun terjatuh, ia juga sudah kelelahan ... meskipun pencapaiannya biasa-biasa saja, tetapi ia adalah orang yang paling berjuang keras lebih dari siapapun, karena keterbatasan spiritual dan media, ia lebih banyak mengeluarkan tenaga untuk itu.


Tak lama kemudian, para zombie mulai mendekat ke arahnya. Riko juga sedang tak membawa satupun senjata di tangannya. Ia belum sempat mendapatkan anak panahnya kembali dan sekarang kakinya malah kram di saat-saat yang genting.


Angin dingin kembali berhembus, perasaan tak nyaman itu lagi-lagi muncul. Riko mulai merasa pusing dan ngantuk, ia merasa sudah kehabisan tenaga. Namun, zombie terus bergerak maju dan memberi serangan balasan.


“Heh, apa aku hanya akan berakhir seperti ini, Rion,” gumam Riko yang semakin melemah.


Dalam kedipan terakhir yang terlihat dalam pandangannya hanyalah sosok zombie yang siap menyergapnya.


Ketika matanya telah tertutup, ia tak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya, ia hanya merasakan bahwa sesuatu sedang menggenggam dan menutup matanya sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya.


Setelah cukup lama melewati pertarungan sengit itu, Andi dan yang lainnya juga sudah merasa cukup kelelahan, setelah berhasil membereskan semua, mereka pun akhirnya kembali berkumpul. Di sana mereka mulai kebingungan dan mempertanyakan keberadaan Riko.


Angin pun kembali bertiup menerbangkan helai daun dengan cukup kencang.


Seketika Andi mengerutkan dahinya sembari memperhatikan area sekitar. “Kalian semua, bersiaplah ... ada sesuatu yang tak beres di sini, jangan sampai lengah,” ucap Andi dengan nada yang serius.


“Aku juga merasakannya ... ini benar-benar gawat, bahkan Riko pun hilang entah ke mana ... apa yang harus kita lakukan, ketua?” tanya Fuurin khawatir.


“Tenang saja, kesampingkan dulu masalah Riko ... mari selesaikan urusan kita dengan musuh, setelah itu barulah kita mencari Riko,” balas Andi dingin.


“Tapi ketua ....”


“Jangan khawatir! dia pasti akan baik-baik saja, sekarang fokuslah dengan musuh di depan.”


Tak lama setelah kehadirannya, cahaya ungu kembali muncul dan menyebar dengan cepat. Kemudian, tiba-tiba potongan zombie mulai bergerak dan perlahan menyatu, aliran energinya pun kembali terisi.


Satu persatu dari mereka pun mulai bangkit. Andi dan yang lainnya seketika mematung, mereka sudah cukup kelelahan akibat pertarungan sebelumnya.


“Cih sial! sungguh tak ada habisnya ... orang itu tak memberi celah sama sekali, dia benar-benar sudah merencanakan semuanya dengan matang,” gumam Andi resah.


“Ketua, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Ruri cukup panik.


“Para zombie dihadapan kita ini bukanlah makhluk ilmiah, tapi mereka dikendalikan oleh seseorang dengan kekuatan iblis ... karena itu, aku berencana menggunakan segel pengikat untuk menahan kekuatan dari violet mark tersebut ... aku tak begitu yakin itu akan berhasil, tapi kurasa tak ada salahnya untuk mencoba,” jelas Andi.


“Baiklah, ayo kita coba cara itu!” seru Erick dengan cukup antusias.


Baru saja mereka akan memulai rencananya, tiba-tiba saja beberapa zombie bergabung, menyatu dan membentuk satuan baru yang jauh lebih besar.


“Mo-monster menjijikan macam apa ini?” gumam Ruri dengan ekspresi bak hitam biru di wajahnya.


“Jangan khawatir! bukankah itu akan lebih mempermudah kita untuk menangkapnya,” sahut Andi mencoba untuk mendinginkan suasana.


Namun, sebelum bisa menangkap makhluk itu, tentunya mereka perlu bertarung sekali lagi untuk melemahkannya.


Setelah sepakat, mereka mulai berpencar lagi untuk mengisi setiap sudut. Andi yang berada di posisi tengah pun mulai membuat pola segel jurusnya. Sementara yang lainnya menyiapkan jurus mereka yang dikombinasikan dengan senjata khususnya masing-masing.


.


.


.


TBC