
Sampai di ruang klub, Riko mulai ngomel-ngomel lagi menyuarakan protes dan kekesalannya. Andi yang menyadari kedatangannya tampak menyeringai puas.
“Baru saja pergi, sudah datang lagi ... kau pasti sudah merindukan aku bukan? hahaha ...," ucap Andi sambil terkekeh.
“Beraninya, ini semua pasti ulahmu kan? ngaku saja kau,” protes Riko sembari menggebrak meja di depannya.
“Apa maksudmu dengan ‘ulahku’ memangnya apa yang aku lakukan?” tanya Andi santai.
“Itu ... para monster di luar apa maksudnya? kenapa mereka tiba-tiba muncul begitu saja? kau tau ... sejak aku mulai bertemu orang-orang aneh seperti kalian, hidupku jadi penuh dengan hal-hal aneh.”
“Apa aku termasuk?” sela Fuurin.
“Kau memang menyebalkan tapi aku tidak membencimu, aku hanya tidak suka dengan si empat mata ini, kau juga jangan berdekatan dengan dia terus,” balas Riko dengan sedikit menurunkan volume suaranya.
“Sudah-sudah, jangan ngegas dulu dong! kau mungkin kebingungan dengan yang baru saja kau lihat, tapi itulah kenyataannya,” sahut Andi.
“Jadi benar, para makhluk di luar itu adalah monster pemakan manusia seperti yang sebelumnya menyerangku?” tanya Riko sedikit khawatir.
“Oh ... bukan, mereka sedikit berbeda dengan iblis hana, itu disebut phantom bug kau akan menjumpai mereka di mana-mana, sedangkan iblis hana sendiri memiliki level yang lebih tinggi dan mereka juga takkan berkeliaran bebas seperti halnya phantom bug,” jelas Andi.
“Aku tak mengerti, sebelumnya aku tak pernah melihat makhluk seperti itu, kenapa sekarang mereka jadi berkeliaran di mana-mana? kalau begini semua orang akan dilenyapkan,” tanya Riko yang semakin serius.
“Bukankah sudah aku katakan tadi, mereka berbeda dengan iblis hana, phantom bug sendiri tidak akan memakan manusia, mereka hanya berkeliaran begitu saja, sebenarnya sejak dulu mereka sudah ada dan berkeliaran di sekitar manusia, hanya saja kita yang tak bisa melihat mereka,” sahut Andi yang masih terlihat tenang.
“Tapi kenapa sekarang aku tiba-tiba bisa melihat mereka?”
“Tanda dari tinta yang aku poleskan pada dahimu akan membuka dimensi terdalam pada pengelihatanmu.”
“Kampret! kau rubah empat mata ... lalu kenapa kau menandainya padaku, kau sengaja kan ... agar aku stress melihat para makhluk aneh bergerombol itu,” protes Riko lagi.
“Bisa tidak, kalau berpikir itu jangan yang negatif terus, jelas saja para demon terus mengincarmu.”
“Kau sendiri yang mengatakan bahwa makhluk yang di luar itu tidak akan memakan manusia, lalu kenapa kau malah menampakkannya untukku sementara mereka tidak berbahaya, jadi ... apa untungnya aku bisa melihat mereka.”
“Maka dari itu kau dengarkan dulu, setidaknya kalau bertanya itu yang sopan, kalau bukan karena temanmu ini, aku sudah tak mau peduli dengan bocah keras kepala sepertimu.”
“Makanya ga usah tandai gue yang aneh-aneh.”
“Kau ....”
“Sudahlah, jangan bertengkar lagi! ini masalah serius jangan sampai karena keributan ini kita jadi salah langkah,” sela Fuurin sambil membubarkan perang mata antara mereka berdua.
“Hmm ... okelah nona Fuurin, aku akan jelaskan secara gamblangnya agar si bodohmu ini bisa mengerti dan tidak bisa bacot lagi.”
“Cihh ....”
“Baik akan aku jelaskan semuanya, phantom bug adalah sejenis hantu atau roh yang berbentuk hewan kecil dan abstrak, artinya mereka bisa mengambil bentuk apapun itu kecuali dalam bentuk manusia, mereka berkeliaran di mana saja, kadang menetap juga kadang berpindah-pindah, seperti yang aku katakan tadi, mereka memang tidak bisa memakanmu, tetapi mereka bisa mempengaruhi hatimu, mereka yang hatinya sedang lemah akan dengan mudah dipengaruhi untuk melakukan suatu hal yang negatif, dan yang lebih parahnya lagi mereka bisa mendorong kelemahanmu sehingga bisa jatuh ke wilayah iblis, dan kau sudah termasuk di dalamnya,” jelas Andi sambil menatap sinis ke arah Riko.
“Haah ....”
“Karena itu aku menandaimu ke wilayah kami agar kau menyadari kesalahanmu, tinta yang aku poleskan tadi adalah bubuk suci yang berasal dari dunia immortal, dan seharusnya kau bersyukur aku telah memberikannya padamu.”
“Lalu ... kau sendiri bagaimana bisa mendapatkan benda itu?”
“Kau tak perlu tahu, itu urusanku ... lihat saja dulu dirimu, dan sekarang kau mengerti kan! mengapa kami selalu memperingatimu, selain itu aku juga ingin memberitahu hal lainnya, bahwa yang sudah kau lihat saat ini baru hanya Phantom bug dan Deserted demon, bahkan kau tak tahu bahwa selain dua makhluk tadi, masih ada jenis monster lainnya lagi yang lebih berbahaya, karena itu aku harap kau bisa lebih waspada, dan aku sarankan kau bergabung dengan kami secepatnya.”
“Kenapa begitu? kau bisa belajar hal lebih banyak disini dan kau juga akan lebih aman dasar bodoh,” sahut Fuurin agak kesal.
“Sudah ku bilang tadi, aku takkan bergabung, ya kali aku mau menjadi pendeta bodoh sepertimu, benar-benar bukan passionku ... menyebalkan, bosan.”
“Sudahlah nona Fuurin, bukankah ia sudah mengatakannya dengan jelas bahwa ia takkan mau bergabung, jika kau masih khawatir dengannya cukup awasi saja orang bodoh ini, bukankah kalian satu kelas jadi kau adalah orang yang paling dekat dengannya.”
“Baik kaichou ....”
“Oke ... sekarang aku sudah bisa pergi kan?”
“Silahkan saja, tapi aku sarankan satu hal penting, jika kau melihat sesuata yang aneh di luar sana nanti jangan sampai berteriak di tempat umum ya, nanti kau bisa dikira sudah gila, hhhhh,” goda Andi lagi.
“Cihh ... terima kasih atas saran tidak bergunamu itu, kau jangan remehkan aku ... kau tahu sendiri kan siapa aku.”
Andi terkekeh sembari mencoba menahan tawanya. Melihat hal itu Riko mulai kesal, ia mengambil sebuah buku yang ada di dekatnya lalu melemparkannya ke arah Andi, tetapi ternyata Andi berhasil menghindarinya. “Oops ... tidak kena!”. Andi mulai mengikik dan jadi semakin gemas untuk mengolok-oloknya.
Sembari mempertahankan harga dirinya, tanpa basa-basi lagi Riko langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Sama seperti sebelumnya sesampainya di depan pintu, ia kembali mengentakkan pintu dengan seluruh amarahnya. Namun, ketika pintu itu terbuka penuh, ia kembali terperanjat dan secara otomatis langsung berteriak melihat apa yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Di depan pintu, anggota klub exorcist lainnya sedang berdiri disana. Mereka sedikit kebingungan, apa yang dilakukannya? kenapa anak ini tiba-tiba berteriak, apa mungkin dia sudah stres? gumam mereka.
Tanpa mengatakan apapun Riko langsung pergi melewati mereka dengan perasaan malu.
.....
“Kaichou ... Riko berteriak lagi.”
“Jangan khawatir, biarkan saja! ia hanyalah bocah badung yang sebenarnya penakut.”
“Kenapa kaichou selalu mengganggunya seperti itu, bukankah ia malah jadi semakin membencimu dan takkan pernah mau bergabung.”
“Mau bagaimana lagi, hanya itu cara terbaik untuk menghadapi bocah rusuh sepertinya.”
“Tapi itu hanya akan membuatnya semakin kesal dan bisa saja ia malah jadi terjurumus untuk melakukan hal-hal negatif.”
“Karena itu kau ada untuk selalu mengawasinya, misi mutlakmu adalah menuntun dan menjaganya agar tetap berada dalam wilayah kita.”
“Baik, kaichou ... aku pasti selalu mengawasinya dan berusaha meluruskan jalannya.”
“Kau benar-benar tulus dan bijaksana, walaupun temanmu begitu rusuhnya, kau tetap peduli, Baiklah! tapi ingat satu hal, pertama kau harus selalu memastikan keadaanmu tetap baik.”
“Tenang saja kaichou ... aku akan baik-baik saja, tidak perlu khawatir.”
Anggota klub lainnya kembali menuju ruang utama klub, mereka tampak masih terheran-heran dan beberapa diantara mereka ada juga yang masih terkekeh. Hei, yang tadi itu kenapa sih? tiba-tiba berteriak seperti itu, aneh sekali, gerutu mereka.
“Oke ... kita lihat saja nanti, berapa lama ia bisa bertahan,” ucap Andi dengan yakin.
.
.
.
TBC