Roped Fate

Roped Fate
Ch.01 : Pilihan



Prolog :


Matahari bersinar terik seperti biasa, seorang siswa berjalan dengan sombongnya untuk membalas tatapan sinis setiap orang. Ia terlihat begitu santai layaknya orang normal yang tanpa dosa, mereka selalu berpikir dia adalah orang yg tak tahu malu.


Playboy psyco adalah julukannya di sekolah, tahun ini adalah 2 tahun terakhirnya menjadi siswa SMP.


‘Siapa juga yg peduli dengan mereka, aku hanya melakukan apa yg ingin aku lakukan, tanpa harapan dan tujuan aku benar-benar telah menyianyiakan waktu yang kumiliki dan aku pun menyadarinya, sudahlah! memangnya siapa yg akan membentak ataupun memarahiku? sementara aku tak memiliki siapapun di sisiku.’


.


.


.


Bel berdering tanda pelajaran akan segera dimulai. Siswa paling fenomenal yg paling dibenci tampaknya akan terlambat lagi, meskipun sudah sampai di sekolah ia masih sering terlambat memasuki ruang kelas, yg ia lakukan hanyalah melanggar peraturan, menggangu para siswi, membolos, nongkrong bersama para berandalan dan kadang menyendiri. Jika bukan karena kepala sekolah bersimpati padanya, mungkin ia sudah dikeluarkan dari sekolah.


****


Hari ini murid-murid di kelas 8D tampak bersemangat karena akan kedatangan murid baru.


Cuaca yg tadinya cerah kini berubah mendung dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Suasana luar sekolah yg sudah mulai tenang dan sepi, terlihat seseorang berjalan terburu-buru hingga tak sengaja menabrak seorang siswa.


“Aduhh ... maaf tak sengaja, aku sedang buru-buru,” ucap seorang gadis dengan wajah yang polos.


“Kenapa kau begitu terburu-buru?” tanya siswa itu dingin.


Ia memiringkan kepalanya dan merasa sedikit bingung.


“Kenapa? tentu saja aku terlambat masuk kelas, tapi karena aku murid baru jadi sepertinya tidak masalah,” balas gadis itu bersemangat.


“Lalu mengapa kau masih terlihat khawatir?” tanya siswa itu lagi.


“Tentu saja aku khawatir, walaupun bagaimana aku ini tetap terlambat,” balas si gadis yang masih tetap ceria.


“Aneh!”


Masih dengan wajah yg dingin, lantas ia meninggalkan orang yg menabraknya tadi.


“Hei, tunggu ... kenapa kau tak membantuku?” tanya gadis itu.


“Kenapa harus membantumu, kau bisa berdiri sendiri,” jawabnya acuh.


“Huhh ... bisa-bisanya kau mengabaikan perempuan yg sedang kesakitan,” protes gadis itu sedikit dramatis.


“Hanya karena kau seorang perempuan, bukan berarti kau bisa seenaknya mengaturku,” sahutnya ketus.


“Haaah ... kau ini kenapa sih, aku kan hanya ingin berteman denganmu, hmm ...,” goda siswa itu lagi.


“Tapi aku tak ingin berteman denganmu,” jawabnya singkat sebelum pergi dengan langkah yang cepat.


Ia bangkit lalu mengejar orang itu, sambil berjalan ia terus menggoda dan menggangu orang bermata dingin tersebut.


“Whaaa ... cuek sekali, aku tahu kau lagi badmood, tapi aku cukup penasaran bagaimana kau bisa terlambat?” tanya siswi itu sambil melirik lekat ke arahnya.


“Aku memang selalu terlambat, membolos adalah hobiku.”


Meskipun kesal dengan tingkah siswi super ceria itu, ia tetap menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan terpaksa.


“Ohh ... begitukah, jadi kau ini semacam berandalan sekolah yakk? hmm ... berarti hari ini aku juga ikutan membolos dong?” tanya siswi itu lagi.


“Berhenti mengikutiku, hari ini aku sedang malas berurusan dengan orang lain,  jika kau sangat ingin bermain denganku, mungkin lain kali saja,” bentak siswa itu yang semakin kesal.


“Yahh ... bosan, kalau lain kali sih undanganku sudah gak berlaku lagi,” goda siswi yang semakin antusias itu.


“Terserahlah, kau ini perempuan kok sialan sekali sih,” balasnya yang benar-benar sudah bosan berbicara lagi.


“Yahh ... sudah! sudah! ayo temani aku ke ruang guru!” pinta siswi itu dengan tiba-tiba.


“Kau pikir kau siapa, jangan memerintahku seenaknya!” sahut siswa itu dengan intonasi yang lebih tinggi.


“Cihh ... pelit banget sih, yasudah aku cari sendiri, bye-bye ... sampai jumpa lagi ya.”


Mereka pun berpisah dan berjalan berseberangan arah, orang itu masih kesal dan terus menggerutu, bagaimana bisa ada perempuan selancang itu di sekolah ini.


“Cihh ... pelit apanya, sudah baik aku tak menggodanya, ehh ... dia malah cari gara-gara, awas saja kalau bertemu lagi.”


Sudah cukup lama mondar-mandir di halaman sekolah, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kelas. Namun, apa yang terjadi setelahnya?


Betapa terkejutnya ia melihat seseorang yang sedang berdiri di depan kelasnya.


“Yahho ... kita bertemu lagi,” sapa siswi yang ia jumpai sebelumnya.


“Kau ....”


“Wahh ... ternyata kita sekelas, perkenalkan aku murid baru di sini namaku Fuurin, kamu siapa?”


“Aku ....”


‘Pantas saja orang ini tak mengenaliku, ternyata dia murid baru di sini, tapi kutahu setelah ini dia pasti akan menjauhiku, sama seperti yang lainnya.’


Tanpa menjawab ataupun membalas pertanyaan gadis itu, langsung saja ia kembali ke tempat duduknya.


“Wahh ... sombong sekali ya ... menjijikan lagi, bikin muak saja.”


Begitulah murid-murid di kelas saling berbisik, tetapi ia tetap selalu mengabaikan semua itu.


“Hei kau, tidak sopan sekali kalau orang bertanya, ya dijawab dong!”


teriak salah satu siswa di kelasnya.


“Oh, kenapa harus menjawab? terserah gue dong, memangnya dia siapa, dan kau juga siapa? tidak perlu mengatur gue seperti itu,” balasnya dengan angkuh.


“Cihh, awas kau ya ....”


Gadis itu pun merasa canggung dan tidak enak hati, ia berusaha melerai perdebatan antara kedua siswa ini.


“Sudahlah jangan ribut ah, aku tidak apa-apa kok, dan kamu ... maaf jika pertanyaanku kurang berkenan untukmu, mungkin aku akan menanyakannya lagi setelah mood mu membaik, oke!” lerai gadis itu.


‘Ini orang bodoh atau bagaimana sih, sudah tahu gak mau respon, masih aja maksa pake lain kali segala lagi, memangnya kau pikir kapan moodku akan membaik, membuatku jadi penasaran sebenarnya dia ini gadis polos atau dongo sih?’ pikirnya kesal.


Pelajaran pun dilanjutkan seperti biasa, di sini terlihat jelas Fuurin adalah siswi yang sangat jenius dan antusias, ia begitu cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Banyak di antara mereka yang diam-diam mengaguminya.


Jam istirahat berbunyi, murid-murid mulai berkerumunan di meja Fuurin untuk sekedar menyapa atau ingin berteman dengannya, tak sedikit juga di antara mereka yang memperingatinya untuk menjauhi si berandalan sekolah.


Ia hanya menatap sejenak ke arah Fuurin dengan tatapan dinginnya setelah itu kembali pergi ke luar ruangan.


"Sudah jelas sekarang ia sudah membenciku, hmm ... itu sih sudah biasa," gerutu siswa tadi.


.


.


“Wahh ... kau membuat orang tadi menangis,” ucap siswi yang bernama Fuurin tadi secara tiba-tiba.


“Bukan urusanmu, jika sudah tahu untuk apa bertanya lagi,” balasnya dingin.


“Aku belum tahu.”


“Apaan?”


“Namamu?”


“Cihh ... bukankah mereka sudah memberitahumu segalanya.”


"Benar, tapi tak satupun ada yang menyebutkan nama aslimu mereka hanya menyebut julukanmu, kalau tidak salah namamu ‘playboy psyco’ ya kan, tapi rasanya kurang sopan memangilmu seperti itu, jadi kau mau memberi tahu namamu?”


“Untuk apa juga, sudah tahu penjahat masih dekat-dekat pula, kau sudah gila ya?”


“Kalau memang penjahat untuk apa juga memperingatiku, yeah!”


‘Ini orang benar-benar aneh, sebenarnya dia suka atau gimana sih, kok ngotot banget pengen dekat dan berteman’ pikirnya bingung.


“Btw, kau apakan gadis tadi kok bisa menangis?”


“Seperti biasa, aku mencampakannya.”


“Kenapa kau mencampakannya?”


“Ya ... terserah gue dong!”


“Ahhh ... ga asik ah, jujur aja ga berani ... gimana bisa maju.”


“Oke ... kau ingin aku jujur, bagaimana kalau aku bilang, aku membenci perempuan.”


“Woahh ... kamu gay yah?”


“Gak gitu juga kampret!”


“Terus gimana?”


“Aku punya pengalaman buruk tentang perempuan, dan kau tidak perlu bertanya lagi.”


“Eeehhh ... tapi aku tidak membencimu kok, bertemanlah denganku!”


“Tidak mau.”


“Mmm ... ahh ... namamu, namamu?”


“Kau benar-benar keras kepala, okelah ... tapi setelah ini jangan menggangguku lagi.”


“Yosh ... namamu?”


“Riko.”


“Mmm ... biasa saja, seperti nama orang pada umumnya.”


“Memangnya kenapa? lu pikir nama gue kayak hewan buas gitu.”


“Hahaha ... begitu ya!”


“Terus ... namamu kok aneh gitu? tak seperti orang Indo pada umumnya.”


“Ohh ... itu ibuku yang memberi nama, beliau adalah orang Jepang, dulunya ibu berasal dari keluarga seorang pendeta, jadi ketika masih muda beliau lebih sering berada di kuil dengan tenang selalu dimanjakan suara lonceng angin (fuurin), karenanya beliau memberiku nama demikian.”


“Oahh ... lalu? apa kau menyukai nama itu?”


“Tentu saja! aku merasa ketika angin bertiup, rasanya begitu damai dan sunyi.”


“Kau orangnya suka ketenangan, tapi selalu mengganggu ketenangan orang lain, dasar.”


“Cih ... sok tahu nih!”


“Emang tahu, tempe.”


“Tsundere.”


“Hahhh ....”


“Hehehe.”


“Okeh ... sudah ya ... gue pergi dulu.”


Setelah itu ia bergegas pergi menjauh, tetapi Fuurin terus mengikutinya, rasanya kesal ingin berontak dengan si gadis super ceria ini. Entah sedang malas atau tak tega, ia hanya mampu memaki dalam hati sambil mengelus dada memelankan napas emosionalnya.


“Huh ... okelah, kali ini kau yang menang, sebenarnya kau mau apa sih, kok ngotot banget ingin jadi temanku, sementara orang lain menjauhiku,” ucap Riko pasrah.


“Bukan apa-apa, aku hanya merasa kau bukan orang jahat, hanya saja peruntunganmu yang terlalu buruk, itu mengingatkanku pada seseorang, kau pasti selalu kesepian, kan?” balas Fuurin dengan hangat.


“Tapi kau harus mengerti, jika ingin menjadi temanku, maka kau akan bernasib sama sepertiku dan orang lain akan menjauhimu juga.”


“Aku tahu, malahan sudah bilang kok.”


“Apa maksudmu?”


“Aku sudah bilang ke semua orang bahwa aku sudah berteman denganmu dan mereka tak perlu lagi dekat dengan ku.”


“Haaaaaa ... apaan, kau sudah gila ya! huhh ... oke! sekarang aku percaya bahwa kau benar-benar orang yang bodoh, sungguh aku baru menyadarinya.”


“Jangan gitu dong ... aku ini sudah jadi temanmu lho!”


“Terserahlah, kau aneh sekali sih ... tapi terima kasih atas tindakan bodohmu, aku sangat menghargainya.”


“Yosh ... gitu dong hehe ....”


Mereka berdua berjalan sambil bercanda dan saling menghina di sepanjang perjalanannya.



.


‘Aku pikir hidupku akan selamanya seperti ini, tapi ternyata aku kembali bertemu masalah paling merepotkan yang tak bisa aku hindari, karenanya sekali lagi aku akan berjuang sambil menuntun si bodoh ini untuk menyelesaikan misi hidup yang begitu rumit bersama gadis polos nan dongo, dia memang tak secantik gadis-gadis yang pernah aku permainkan dulu namun jiwanya bagaikan angin berhembus yang mengisi semua tempat dan menggerakkan lonceng hati untuk kembali berdenting.’


Aku hanya ingin menaruh harapanku padanya, dan melihat seberapa lama ia bisa bertahan?


.


.


.


TBC.