
Mereka terus berlari hingga sampai di depan kuil. Namun, tiba-tiba saja ketiganya terjatuh karena telah kehabisan tenaga, untuk bisa berlari menaiki anak tangga itu rasanya sangat mustahil. Dengan cepat makhluk tersebut menyergap ketiga anak yang telah tak berdaya itu.
Tanpa diduga tiba-tiba serangan yang melesat sangat cepat pun berhasil memotong jari-jari dari iblis tersebut.
“Iblis Ungu? makhluk menjijikan sepertimu dengan beraninya menyerang teman-temanku, tak bisa diampuni!” teriak Shin sembari menunjuk ke arah iblis tadi.
Serangan berikutnya pun kini berhasil menembus dada makhluk itu. Meskipun iblis ungu bisa meregenerasi tubuhnya dengan cepat, tetapi Shin tidaklah memberi celah. Ia menyerang makhluk itu secara bertubi-tubi.
Tak ingin berlama-lamaan lagi ketika iblis belum meregenerasi bagian terlemahnya, Shin pun menggunakan kesempatan itu untuk mengambil ‘hati iblis ungu’
Hati iblis adalah pusat dari energi iblis itu sendiri, jika benda itu sampai dikeluarkan dari tubuhnya maka ia akan melemah dan kehilangan kekuatannya hampir lebih dari 50%
Saat itu pula Shin langsung memberi pukulan kuat pada iblis hingga membuatnya terpental begitu jauh sampai ke pinggiran desa. Setelah makhluk itu menyingkir dari pandangannya, ia pun langsung menemui teman-temannya.
“Bagaimana keadaan kalian?” tanya Shin khawatir.
“Kami baik-baik saja, tapi keluarga kami ... aku tak tahu lagi,” sahut Rein lemah.
“Kalian diamlah di sini sebentar, aku bantu obati luka-luka ringan ataupun memar di tubuh kalian, selain itu meskipun sudah menjauh tapi iblis tadi masihlah aktif, karena itu jangan kembali dulu ... para exorcist saat ini sudah sampai, tunggu sampai mereka menyelesaikan tugasnya dulu, barulah kalian boleh kembali,” perintah Shin.
“Baik! dan terima kasih sudah menyelamatkan kami,” jawab mereka serempak sambil membungkukkan tubuhnya.
“Santai saja, bukankah kita sahabat, hehe ...,” balas Shin dengan senyum yang lembut.
Mendengar kata itu, Andi dan yang lainnya merasa lega dan sedikit terharu kemudian berlari untuk memeluk Shin secara bersamaan.
****
Setelah para exorcist berhasil menghalau iblis tadi, mereka kembali ke desa untuk mencari keluarga masing-masing. Berbeda dengan Andi yang orang tuanya memang jarang berada di rumah, mereka selalu pergi keluar daerah karena urusan pekerjaan. Meski begitu ia cukup bersyukur, hari ini orang tuanya sedang tidak ada di rumah.
Namun, serangan dari iblis tadi tentunya telah menghancurkan bagunan di desa mereka, serta memakan banyak korban.
Di sana para exorcist mulai membantu mengumpulkan jasad dari korban penyerangan itu, Rein dan Hita berlari dengan panik mencari keluarganya karena rumah yang mereka tempati sebelumnya telah hancur berantakan.
Tiba-tiba dalam perjalanannya Hita terpleset lalu terjatuh di depan kerumunan orang-orang, Rein yang kebetulan berada di belakangnya pun langsung berlari untuk menolongnya.
Hita yang mencoba bangkit dan menatap ke depan langsung kehilangan cahaya pada matanya, begitu dekat ia melihat deretan jasad keluarganya. Seakan tak percaya, dia benar-benar telah kehilangan seluruh keluarganya.
Tak banyak yang bisa dilakukannya, ia hanya menangis dengan begitu emosional, Rein hanya bisa menundukan kepalanya, ia turut berduka atas kepergian keluarga Hita.
Tanpa mengatakan apapun, Rein hanya mampu memeluk untuk menenangkannya, untuk sekarang tak ada yg bisa ia lakukan, ia hanya berjanji dalam hati di depan jasad orang tuanya, bahwa sampai akhir hidupnya ia akan terus bersama menyayangi dan menjaga Hita dengan sepenuh hatinya.
Beberapa saat kemudian Andi berlari ke arah kerumunan bersama dengan orang tua Rein, di sana ia melihat Rein dan Hita yang tampak sedang berduka. Dengan napas yang masih terengah-engah ia pun bertanya apa yang telah terjadi di sana.
“Rein, Hita ... apa yang telah terjadi? tanya Andi khawatir.
“Keluarga Hita sudah pergi, mereka semua meninggalkannya sendiri,” sahut Rein lemah.
“Hita ...,” Andi kehabisan kata-kata, tak ada yang bisa ia katakan selain menahan air matanya.
“Kami turut berduka nak Hita, semoga mereka bisa pergi dengan tenang, jangan khawatir masih ada kami dan teman-temanmu yang akan menerima, tidak apa-apa ... menangislah sebanyak yang kau butuhkan, kami akan menjagamu,” ucap ibunya Rein.
Hita tak mampu menjawab apapun, ia hanya menangis begitu saja. Rein sedikit bimbang dengan dirinya, ia mengerti kesulitan keluarganya. Namun, ia juga tak bisa mengabaikan Hita begitu saja.
“Ibu, ayah ... bolehkan aku meminta sesuatu ... kali ini saja, permintaan terbesarku ... bisakah ibu dan ayah membiarkan Hita tinggal bersama kita? ia tak memiliki siapapun saat ini, aku sangat mengkhawatirkannya, aku berjanji tak akan meminta banyak hal pada kalian dan aku akan lebih berhemat lagi, aku janji!” pinta Rein dengan sangat.
“Jangan khawatir, tentu Hita akan menjadi bagian dari keluarga kita juga ... ibu dan ayahmu pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk kalian,” balas sang ibu dengan lembut.
Sang ayah pun juga mengangguk setuju dan membelai rambut Rein.
“Kamu adalah anak yang kuat dan bijaksana, ayah sangat bangga padamu,” sambung sang ayah.
“Terima kasih, kalian berdua adalah orang tua yang terbaik!” seru Rein dengan perasaan haru.
“Jangan lupa, ada aku juga ... jika kalian menemui kesulitan aku pasti akan membantu, masalah makanan dan biaya kalian tak perlu khawatir ... bukankah kita ini sahabat, jangan sungkan jika sedang membutuhkan sesuatu,” tambah Andi.
“Terima kasih semuanya, itu sangat membantu,” balas Rein sembari tersenyum lemah.
****
Sejak saat itu hubungan mereka bertiga semakin dekat benar-benar seperti keluarga, Andi pun kadang-kadang menginap di rumah Rein bersama Hita juga. Karena belakangan ini kakeknya lebih sering pergi mengunjungi kerabat jauh, Andi pun jadi kesepian karena itu ia lebih sering menginap daripada tidur di rumahnya.
Meski begitu Andi tetap mengusahakan yang terbaik untuk mereka, ia pun lebih berhemat untuk bisa membantu memenuhi kebutuhan kedua sahabatnya itu.
****
Setiap malam, mereka selalu menatap langit malam bersama-sama sebelum mereka pergi tidur. Membuat harapan ketika melihat bintang jatuh dan banyak hal lainnya.
“Hei, aku sangat bahagia saat kita bertiga berkumpul bersama ... ayo kita berjanji bersama, apapun yang terjadi kita jangan sampai terpisahkan, selalu bersama dalam keadaan apapun dan jangan pernah menghianati janji,” ucap Rein dengan semangat.
“Tentu saja, kita akan menjadi teman sampai akhir ... tapi di masa depan aku juga ingin berdiri di samping Andi, apakah itu akan menghianati janji pertemanan?” tanya Hita sembari tersipu.
“Tidak terhitung menghianati selama kita bertiga masih setia bersama, tapi ... bisakah jangan dia arghhh ... kenapa harus Andi sih curang sekali, awas kau ya ... mulai sekarang kita rival,” pekik Rein yang sedikit cemburu terhadap Andi.
“Ahahaha ... aku cuma bercanda kenapa kau jadi serius begitu, hahaha,” sahut Hita usil.
“Hahaha ... baiklah, selama kita bertiga masih ada di dunia jangan sampai saling menghianati, jika memiliki umur yang panjang kita akan tetap bersama,” sambung Andi.
“Baiklah, berjanji kepada langit dan bumi, kita sahabat selamanya!!!” seru mereka dengan serempak.
****
Beberapa hari setelah itu datang sekelompok exorcist ke desa mereka, tampaknya ada suatu hal penting yang ingin mereka sampaikan karena itu Andi dan teman-temannya ikut berkerumun untuk mencari tahu.
“Hei, bukankah itu salah satu kelompok exorcist yang sebelumnya memberi bantuan ke desa kita?” gumam Andi penasaran.
“Benar, untuk apa mereka kembali lagi? mari kita dengarkan lebih dekat lagi,” sahut Rein.
“Ayo kalau begitu,” sambung Hita yang juga penasaran.
****
Cukup lama berdiri dan mendengarkan apa maksud dan tujuan kelompok itu ke desanya. Andi dan yang lainnya mulai termenung, mereka terlihat cukup tertarik dengan apa yang dibicarakan para exorcist itu. Namun, di sisi lain mereka juga terlihat masih ragu.
“Iblis yang sebelumnya menyerang desa ini belumlah stabil, makhluk itu tak bisa dilenyapkan dengan mudah, karena itu kami masih menyegelnya untuk sementara waktu, bukan tak ada kemungkinan untuk iblis itu mengamuk lagi, oleh karena itu kami datang kemari untuk memberi penawaran dan maksud untuk merekrut anggota baru, agar jika saat mereka datang kembali ... kalian semua sudah siap bertarung sebagai exorcist sampai bantuan datang, kalian sendiri perlu memiliki pertahanan masing-masing, bagaimana? jika kalian setuju bisa mendaftar segera dan untuk yang masih ragu, kalian bisa pikirkan nanti ... kami akan tetap menunggu pendaftaran di hari berikutnya,” jelas salah satu anggota kelompok itu.
Di tengah keramaian orang-orang, Andi pun mengangkat tangannya dengan antusias.
“Paman, bolehkah aku bertanya apa nama kelompok kalian?” tanya Andi penasaran.
Exorcist itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan Andi, itu bukanlah pertanyaan penting yang perlu diajukan, meskipun terdengar aneh, tetapi melihat Andi yang masih anak-anak, exorcist tadi pun hanya memaklumi dan memberitahunya.
“Kami dari kelompok naga putih selatan, harap kalian mengingatnya jika berniat bergabung dengan kami, sebenarnya kami ini hanya kelompok kecil yang terbagi, kami masih memiliki resources yang lebih besar yang biasa disebut SANGU Exorcist, untuk saat ini organisasi tersebut adalah yang terbesar,” jelas exorcist tadi.
“Ah baiklah kalau begitu, akan kami pikirkan lagi mengenai yang tadi,” balas Andi sebelum pergi dari tempat itu.
Rein dan Hita pun mulai mengejar Andi yang berjalan dengan sedikit lebih cepat.
“Hei, kenapa tadi kau menanyakan hal tak penting seperti itu? kesannya seperti sedang menginterogasi saja, bisa-bisa mereka curiga nantinya,” protes Rein.
“Ahhh kau ini, mereka dari awal juga memang mencurigakan jadi tak ada salahnya jika hanya menanyakan hal itu masih wajarlah ... lagi pula kalian sudah melupakan ... bahwa kita masih memiliki teman lainnya, karena kita terlalu sibuk dia pasti kesepian,” sahut Andi dengan intonasi yang agak tinggi.
“Benar juga, kita bahkan belum bertemu Shin sejak hari itu,” balas Hita agak murung.
“Kalau begitu kita pergi sekarang?” tanya Rein untuk memastikan.
“Ayo, aku perlu minta pendapat Shin untuk itu, karenanya aku tanyakan mereka berasal dari kelompok apa, mungkin saja Shin mengetahui sedikit tentang kelompok tadi, kan!” terang Andi.
“Ah kau benar juga ... kita harus cari tahu dulu seperti apa kelompok mereka itu,” sahut Rein tenang.
Mereka pun kembali bersemangat dan berjalan dengan antusias menuju kuil di tengah hutan.
.
.
.
TBC