Roped Fate

Roped Fate
Ch.32 : Kita Bertiga



Sempat beristirahat sejenak di ruang klub exorcist, tapi setelah jam pelajaran dimulai, Riko tetap kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Ia merasa sudah terlalu sering membolos, jadi untuk kali ini ia akan lebih memperhatikan pelajaran lagi.


Andi sebenarnya agak bersimpati pada Riko, ia memang memiliki emosi yang tak stabil dan berubah-ubah dengan cepat, mungkin saja ia memiliki kenangan buruk yang berpengaruh besar pada kejiwaannya. Oleh karena itu, Andi selalu berusaha mencari tahu tentangnya, mungkin saja ada hal yang bisa ia lakukan untuk membantunya.


****


Pelajaran dimulai, Riko mencoba fokus tapi ia selalu merasa terganggu. Beberapa phantom bug berseliweran di kelas, terutama pada bangku tempat Sheerli duduk sekarang. Wajar saja, mengingat kejadian tadi pagi, tentu saja ia masih merasa kesal. Riko agak khawatir, bagaimana jika orang itu akan melakukan sesuatu terhadap temannya.


Riko kembali menarik napas panjang dan mencoba untuk melupakan semua hal yang berhubungan dengan itu, saat ini ia harus fokus pada pelajaran dan mengikuti kelas seperti biasanya.


Karena bosan, Juan mencoba mengganggu Riko yang dari tadi terlihat cukup serius dalam memperhatikan pelajaran, ia mulai melempar kepalan kertas ke bangku Riko yang ada di depannya. Riko sedikit kesal dengannya, ia pun membalasnya dengan melemparkannya kembali, tapi sayang sekali itu malah terlempar ke arah Fuurin dan mengenai kepalanya.


Tak mau kalah dari mereka, Fuurin pun malah ikutan membalas lemparan itu, ia tahu bahwa ini gara-gara Juan, karenanya ia balas melempar ke arah Juan. Namun, lemparan itu berhasil dihindari Juan, yang akhirnya malah mengenai Riko.


“Oii ... kalian ini!”


Pada akhirnya, konsentrasi belajarnya kembali bubar. Ia pun membalas lemparan itu selama guru masih menulis di papan tulis. Aksi mereka terus berlanjut, ketiganya tak ada yang mau mengalah dan malah jadi perang saling lempar di kelas.


Tentu saja guru pembimbing menyadari keributan yang sedang terjadi, saat sebelum guru melihat ke belakang, mereka bertiga malah melempar semua kepalan kertas ke meja Sheerli. Ini hanya reaksi spontan, tentu saja mereka tak bermaksud sengaja.


Sheerli kembali naik pitam dan tanpa sadar ia menggebrak mejanya, guru yang melihat hal itu, sudah pasti akan menyalahkannya. Karena ulah mereka bertiga, Sheerli pun diberi hukuman dan peringatan oleh guru.


Juan hanya mencoba menahan tawanya dan bersikap seolah tak terjadi apapun sebelumnya.


‘Hehh ... rasakan itu, hahaha...,’ batin Juan.


Kali ini memang bukan salahnya, tapi bagi Juan, hukuman itu memang pantas untuk orang seperti Sheerli.


Sejak kejadian tadi pagi, Riko pun mulai merasa risih dengan tingkah Juan yang tiba-tiba sok akrab berlebihan, ia selalu mengganggu dan berusaha berdekatan dengannya. Terkadang ia juga mengikuti Riko ke mana-mana, entah itu secara langsung ataupun diam-diam.


Semakin hari orang itu semakin menyebalkan, ia malah terkesan seperti stalker. Riko pun jadi lebih waspada, mungkin saja orang itu memiliki rencana yang tak terduga.


“Oii ... kau jamur, semakin hari kau kian menjamur saja,” ucap Riko curiga.


“Yah ... kejam seperti biasanya, memangnya tak boleh ... aku ingin berteman denganmu,” balasnya dramatis.


“Aku tak perlu teman lagi,” balas Riko cuek.


“Hee ... tapi bukankah aku sudah menjadi temanmu,” goda Juan lagi.


“Kau terlihat mencurigakan, takutnya malah jadi parasit nanti,” sahut Riko pedas.


“Ahahaha ... kata-kata pedasmu memang selalu sukses menyakiti hati orang lain, jelas saja kau tak punya teman,” sindir Juan.


“Biarkan saja, yang penting aku bisa fokus belajar.”


“Yah ... tapi aku bisa berguna untukmu kan?”


“Kau memang terlalu pintar, tapi juga mencurigakan.”


“Aku tak ada niat buruk sih, tapi kenapa orang-orang selalu curiga denganku, hmm ... jadi heran.”


Dengan langkah terburu-buru, tiba-tiba saja Fuurin datang menemui mereka berdua, dengan napas yang masih terengah-engah, ia mulai memberitahu mereka tentang hal apa yang baru saja telah terjadi.


“Hah ... hah ... hah ....”


“Hei, nona remora ... ada apa denganmu?” tanya Juan penasaran.


“Kau seperti sedang dikejar setan, jangan bilang emang beneran setan,” ucap Riko malas.


“Entahlah, aku tidak tahu!” seru Fuurin polos bersemangat.


“Kampret! maksud lu apaan haa ...,” balas Riko kesal.


“Aku tak yakin, sepertinya itu manusia ... orang itu mencoba untuk mencelakaiku,” ucap Fuurin serius.


“Apa yang terjadi, bisakah kau menceritakannya?” tanya Juan lagi.


“Saat aku sedang berjalan tadi, tiba-tiba sesuatu jatuh dari lantai atas, itu hampir saja mengenaiku, untungnya aku berhasil menghindar dan langsung pergi dari sana,” jelas Fuurin panik dan kembali terbawa suasana.


“Kau yakin ada orang yang sengaja melakukannya?” tanya Riko.


“Yakin lah! kalau hanya sebuah pot yang jatuh, aku sih masih bisa maklum, tapi ini ... ya kali, masa ada batu batako yang nyasar di lantai atas, ini sih bukan kebetulan lagi,” jelas Fuurin.


“Iya juga sih, menurutmu siapa pelakunya?” tanya Riko serius.


“Sudahlah! aku juga tak ingin asal menuduh, aku hanya ingin memperingati agar kalian berdua juga harus lebih berhati-hati,” sahut Fuurin serius.


“Ya ... walaupun sebenarnya aku malas bekerjasama denganmu, tapi oke deh ... aku juga sudah bosan bertemu masalah saat sendirian,” balas Riko malas.


“Yeah ... gitu dong!”


Setelah kejadian hari ini, mereka bertiga pun selalu bersama dan menjadi teman sekomplotan.


Riko memang bukanlah orang yang suka bersosialisasi, tapi jika dengan kedua orang itu, ia merasa mungkin itu tidak terlalu buruk. Berteman dengan mereka juga kadang-kadang bisa menyenangkan.


Sudah cukup lama sejak hari itu, akhir-akhir ini Riko agak jarang berinteraksi dengan orang-orang di klub exorcist, ia lebih memilih berdiam diri di kelas dan lebih giat belajar.


Fuurin cukup mengerti dengan tekadnya yang ingin lebih maju, karenanya ia juga akan ikut serta membantu Riko, begitu juga dengan Juan, walaupun dia orang yang masa bodo terhadap pelajaran, tapi tetap saja ia adalah murid yang pandai.


“Riko! hari ini ada latihan khusus dengan ketua, kau mau ikut kan?” tanya Fuurin.


“Tidak, kau pergi saja dengan Juan, aku tetap di kelas, lagi pula di sini masih ramai, jadi aman-aman saja,” sahut Riko masa bodo.


“Okelah ... ngomong-ngomong, kau sekarang jadi lebih pasif dan cenderung menghindari orang-orang klub, memangnya ada masalah apa?” tanya Fuurin lagi.


“Masalah sih gak ada ... cuma gue malas aja, entah berapa kali sudah, gue hampir dimakan setan, jadi sebaiknya sekarang cari tempat yang ramai saja,” balas Riko yang masih enggan.


“Tapi di klub kan juga ramai, mereka juga sudah berpengalaman,” ucap Fuurin yakin.


“Iya, di dalam klubnya emang ramai, tapi perjalanan menuju ke sananya yang horror, masa ada ruang klub letaknya di pojokan, mana jauh lagi,” protes Riko kesal.


“Hmm ... okelah, kalau begitu aku pergi dengan Juan saja, kalau ada perlu hubungi saja aku, ya!” seru Fuurin.


“Siap.”


Karena Riko merasa enggan, akhirnya Fuurin hanya mengajak Juan untuk menemaninya pergi ke ruang klub.


Selama perjalanan, seperti biasa mereka selalu saling berselisih, bahkan suasana sunyi di sekitar menjadi redam karena ocehan mereka berdua. Namun, tetap saja ... walaupun dengan keributan yang mereka ciptakan, bukan berarti mereka bisa lengah begitu saja.


Dalam interval singkat pada obrolannya, mereka mulai saling memberi isyarat untuk waspada. Mereka mulai merasakan keanehan dan aura yang tidak biasa, tentunya Fuurin langsung menyadari bahwa itu adalah tanda-tanda kemunculan iblis.


Fuurin mulai mengambil posisi bersiap, tapi di sisi lain ia juga merasa bingung, apa yang harus ia lakukan terhadap temannya si Juan, tak mungkin juga jika ia meninggalkannya sendiri saat melawan iblis yang akan muncul nantinya.


Ia kembali melihat sekitar, aura aneh yang bercampur membuatnya sedikit bingung. Dan suasana buruk tadi pun langsung berubah menjadi normal. Namun, untuk beberapa alasan, itu masih terasa aneh untuknya.


Tak lama kemudian, tiba-tiba muncul seseorang yang entah datang dari mana.


“Hei ... apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Rein tiba-tiba.


“Senior?” balas Fuurin yang tampak masih heran.


“Ah, kalian mau pergi ke ruang klub ya?” tanya Rein lagi.


“Benar, tapi aku hanya ikut mengantar Fuurin saja sih,” jawab Juan santai.


“Oh begitu, baiklah ... kalian sebaiknya lebih berhati-hati dan jangan terlalu sering melewati tempat ini,” ucap Rein sekedar memberi saran.


“Iya, haha ... tapi mau bagaimana lagi, hanya ini jalan satu-satunya menuju klub,” sahut Juan canggung.


“Okelah, terserah kalian saja ... aku hanya mengingatkan agar kalian lebih berhati-hati lagi,” tambah Rein lagi.


“Baiklah, senior juga ya,” ucap Juan ramah.


“Tentu saja, tuan muda Archea,” balas Rein dengan senyuman misterius di wajahnya.


“Haah ....”


Juan sedikit kebingungan, kenapa orang itu bisa memanggilnya seperti itu, ditambah lagi dengan aksen yang penuh maksud, ia pun jadi penasaran lagi. Namun, sebelum orang itu sempat pergi, Fuurin memberi sedikit pesan khusus.


“Terima kasih, untuk yang tadi.”


Kemudian mereka berdua langsung pergi untuk melanjutkan kembali perjalanan menuju ruang klub. Dari kejauhan ia terus memperhatikan.


‘Tentu saja, kau juga tahu kan?’ gumam Rein sembari tersenyum.


.


.


.


TBC