Roped Fate

Roped Fate
Ch.49 : Busur Dan Anak Panah



Malam itu setelah makan malam selesai, Riko langsung kembali ke kamarnya. Ia terbaring dengan bebas sambil memikirkan banyak hal.


Walaupun merasa begitu kelelahan, Riko tetap tak bisa tidur dengan tenang. Angin dingin berhembus ke ruangannya, ia baru sadar bahwa jendelanya ternyata masih terbuka.


Riko kembali bangkit dan pergi untuk menutup jendela, sebelum itu ia sempat memperhatikan pemandangan di luar sana. Cukup lama terlarut dalam desiran angin itu membuat ia merasa sangat ngantuk.


Namun, ada beberapa hal yang menurutnya sedikit janggal, itu cukup mengganggu di pikirannya, tetapi ia berusaha untuk tak memikirkannya.


‘Hei, bukankah aku sudah menutup jendela ini sebelumnya, apa mungkin angin bisa membukanya begitu saja, tak mungkin lupa kan?’ bhatin Riko heran.


Setelah menutup jendela, Riko segera kembali menuju tempat tidur. Namun, ketika ia mulai melangkah dalam beberapa pijakan, kepalanya mulai pusing dan akhirnya tak sengaja menabrak lemari di dekatnya.


Yang paling mengejutkan adalah ketika suatu benda tiba-tiba terjatuh dari atas lemari. Riko bingung sekaligus merasa khawatir, bagaimana bisa ada benda seperti itu di kamarnya?


“Hah ... busur dan anak panah?” gumam Riko kebingungan.


Ia memukul wajahnya berkali-kali untuk memastikan apakah itu kenyataan. Riko berusaha bangkit dan mengabaikan rasa pusing pada kepalanya, ia berlari keluar untuk mencari seseorang.


Dalam perjalanannya ia bertemu Tian yang kebetulan akan kembali ke kamarnya. Sebelum itu, Riko mencoba untuk memanggil dan menanyakan hal itu pada adiknya terlebih dahulu.


“Oii ... Tian, tunggu sebentar!” panggil Riko dengan terburu-buru.


“Apaan sih kak Riko?” sahut Tian agak malas.


Riko langsung berlari mendekat ke tempat Tian. Ia terlihat agak panik, membuat Tian merasa cukup penasaran.


“Hmm ... ada apaan lagi ini orang, heehh.”


“Oii Tian, kau tahu gak kenapa bisa ada busur dan anak panah di kamar gue?” tanya Riko serius.


“Hahh, mana tahu ... emang kau liatnya di mana? langsung nongol gitu di kamar,” sahut Tian.


“Arghh ... kau lihat saja dulu, ayo ikut ke kamar gue!” pinta Riko dengan tergesa-gesa.


“Okelah ... kakak sialan merepotkan,” jawab Tian malas.


Mereka langsung kembali menuju kamar Riko untuk memastikan lagi.


Riko begitu terburu-buru dan berjalan menuju kamarnya, bahkan sampai depan di kamar ia tak sadar bahwa pintu masih belum terbuka, sambil melirik ke arah Tian, ia melangkah sembarangan dan mencoba masuk.


Akibatnya ia pun menabrak pintu kamar yang memang belum terbuka.


BUAGHHH .....


“Auhh ... sialan! pintu kurang ajar, bilang dong kalau belum terbuka,” umpat Riko melampiaskan kekesalannya.


“Kakak bodoh! makanya otak dipakai, mata dipasang keduanya,” sahut Tian.


“Gue kekurangan minum air mineral mungkin, lagi pula ini kepala sudah pusing aja dari tadi gak bisa fokus.”


“Yaudah, cepat masuk! gue mau lihat di mana busurnya.”


Akhirnya mereka masuk dan mulai memeriksa benda tadi. Tian memperhatikan kedua jenis benda itu dan mengernyit, setelahnya ia pun menghela napas santai.


“Bagaimana, kau tahu sesuatu?” tanya Riko penasaran.


“Sepertinya benda ini memang sudah lama disimpan di sini, lihatlah! ini sudah berdebu,” jawab Tian dengan tempo yang tenang.


“Benar juga sih, kedua benda ini tadi terjatuh gara-gara gue gak sengaja tabrak lemari, tapi kenapa bisa ada di sini yah?” tanya Riko sambil mengingat-ingat sesuatu.


“Jelas ini kau yang simpanlah, terus siapa lagi kalau bukan kau, lagi pula dulunya ... kau juga suka bermain panahan bukan,” sahut Tian.


“Hahh, sejak kapan? gue gak ingat pernah memegang benda seperti itu sebelumnya, hmm,” ungkap Riko kebingungan.


“Ahh dasar kau ini, bahkan dulu waktu masih kecil kau sangat dingin, gue aja gak pernah punya kesempatan untuk berbicara, biasanya dulu kau berlatih panahan dengan sangat serius dan yahh .... sangat kejam, matamu selalu menusuk pandangan orang,” jelas Tian sekaligus memberi kritikan terhadap Riko.


“Benarkah, tapi gue tak ingat di bagian yang itu, selain tentang kebersamaan ibu dan ayah sisanya hanya ada hal memuakkan dan ketidakadilan,” sahut Riko yang sedikit emosional.


“Mengenai itu ... lupakan saja, sekarang kau sudah tinggal bersama kami dan menjadi bagian keluarga ini, jadi jangan terus menyimpan kebencian itu ya,” pinta Tian.


“Yah ... sudahlah, gue juga tak ingin mengingatnya, sekarang gue sudah punya tujuan dan inspirasi, jadi hal itu tak akan bisa melemahkan sama sekali,” balas Riko sombong.


“Haah ... bilang apaan sih bocah ini, hmm.”


Riko pun meletakkan benda tadi di mejanya, kemudian ia kembali meluncur ke tempat tidur. Ia merasa sangat ngantuk dan akhirnya terlelap dengan cepat.


Beberapa jam telah berlalu, tengah malam pun tiba. Riko mulai merasa tak nyaman dengan tidurnya, kemudian ia terbangun lagi.


Udara terasa cukup dingin dan hembusan angin juga tak seperti biasanya. Setelah menyadari sesuatu, Riko pun seketika bangkit dari tempat tidur, kepalanya terasa semakin sakit saja, ia melihat bahwa ternyata jendelanya kembali terbuka.


“Sialan! kenapa terbuka lagi sih, apa tadi gue lupa kunci jendelanya? hmm ...  pantas saja jadi masuk angin nih,” gumam Riko.


Ia berjalan menuju jendela untuk segera menutupnya. Namun, setelah sampai di depan jendela ... lagi-lagi ia terpaku dengan suasana di luar.


Hembusan angin itu benar-benar berbeda, semua terasa sepi dan menyedihkan. Tak lama kemudian, muncul kilatan cahaya merah keunguan dari kejauhan yang dihiasi oleh pohon rindang bergemerisik di depannya.


Riko tak mengerti dengan perasaannya sendiri, ia melihat kilatan itu dengan perasaan hampa, entah di mana pikirannya tertuju, ia hanya terpaku oleh cahaya itu.


Perlahan ia mundur, lalu mengambil busur dan anak panah tadi. Tanpa disadari, ia mulai menarik busurnya dan mengarahkan pada cahaya yang entah dari mana asalnya.


Setelah melepaskan satu anak panah, Riko kembali tersadar.


‘Hei, apa yang sedang aku lakukan, untuk apa aku menarik busur itu?’


Riko kembali menekan kepalanya, ia kembali merasakan sakit dan kebingungan. Tanpa alasan yang pasti, air matanya mulai mengalir.


‘Eh, ada apa ini? perasaan ini ... kenapa aku merasa sakit seperti ini, sungguh menyebalkan, tolong berhentilah air mata sialan!’


Ia merasakan berbagai emosi buruk yang tiba-tiba muncul. Air matanya mengalir begitu saja. Begitu juga dengan perasaannya, tetapi ia sama sekali tak bisa mengingat apapun.


Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti sesuatu yang pecah. Ia kembali terperanjat dan sadar bahwa penghalang yang diciptakan oleh Andi sebelumnya telah hancur oleh bidikannya tadi.


Ia kembali melebarkan iris matanya seakan tak percaya sekaligus merasa takut bahwa ternyata ia telah melakukan kesalahan.


“Apa yang sudah aku lakukan, bagaimana bisa aku menghancurkannya begitu saja, ini hanya jebakan, bukan salahku ... ini bukan salahku!” gerutu Riko sambil perlahan mengambil langkah mundur.


Ia masih tak percaya dengan semua rangkaian kejadian yang telah terjadi.


“Ini pasti hanya ilusi, ada yang mencoba menjebakku kan, siapapun sialan itu ... akan segera aku tuntaskan,” ancam Riko dalam kesendiriannya.


Tak lama kemudian, kepalanya kembali merasakan sakit yang parah. Kali ini dikarenakan oleh tanda Jiu yang tiba-tiba muncul pada dahinya, tentu saja ia sudah mengerti akan hal itu.


Masih dengan tubuh yang bergemetar, Riko mencoba berdiri dan meraih jendela untuk segera menutupnya. Namun, sebelum ia sempat menutup jendela sepenuhnya, tiba-tiba muncul iblis bertubuh kecil yang langsung mendobrak dan memaksa masuk ke dalam ruangannya.


Riko merasa sangat kesal, ia ingin langsung menghadapinya, tetapi rasa sakit di kepalanya sungguh mengganggu.


“Sial, karena penghalang sudah hancur, makhluk terkutuk ini bisa masuk dengan bebas, ditambah lagi tanda ketidakadilan ini selalu menghalangi kehidupan gue, tch ...,” umpat Riko sembari menahan rasa sakit pada kepalanya.


Iblis itu tergolong sangat lincah dan agresif, Riko benar-benar kewalahan menghadapinya, beberapa kali ia gagal menyerang iblis itu.


Riko melemparkan berbagai benda-benda di sekitarnya, tetapi selalu meleset. Tak ingin hanya menghindar saja, iblis tersebut juga berencana memberi serangan balasan. Ia pun menyerang dan melesat ke arah Riko.


Dalam tempo sesingkat itu, tentunya Riko takkan sempat mencari senjata lain maupun kertas mantra yang pernah ia simpan sebelumnya. Jadi, mau tak mau ia harus menghadapi serangan itu atau menghindar dan kabur sejauh mungkin.


Namun, mengingat keadaannya saat ini, ia benar-benar sudah tak memiliki tenaga untuk berlari lagi, karenanya tanpa basa-basi lagi dengan spontan ia mengambil busurnya dan melepaskan bidikan lagi dengan anak panah tadi.


Sasarannya tak pernah meleset, ia pun tak mengerti alasanya, padahal sebelumnya ia tak ingat pernah melakukan hal itu.


Iblis yang terkena bidikan Riko pun langsung lenyap, dan anak panah tadi hanya terjatuh begitu saja. Riko merasa cukup lega, tetapi sakit pada kepalanya masih belum mereda juga.


Ia perlahan merangkak mendekat pada jendela yang masih belum tertutup, hingga akhirnya ia terjatuh dan tak sadarkan diri sebelum sempat menutup jendela itu.


.


.


.


TBC