Roped Fate

Roped Fate
Ch.29 : Latihan Dasar



Andi dipersilahkan duduk sembari menunggu Riko dan Tian menyelesaikan urusan mereka, lalu bibi menyiapkan minuman hangat dan kue manis untuknya. Mereka cukup lama berbincang-bincang sebelum kedua biang kerok di sana datang dengan wajah yang kusut dan berantakan.


“Oii ketua ... cepat kau mau bahas apaan, gue udah bonyok nih gara-gara Tian, sebaiknya usir saja dia dari sini,” ucap Riko dengan wajah mengenaskan.


“Usir ke mana? hmm ...,” tanya Andi santai.


“Suruh ke kamarnya, biar gak gangguin gue lagi,” pinta Riko.


“Kenapa harus aku, bukankah kau kakaknya,” sahut Andi.


“Dia gak mau, ngotot tetap ingin ikut.”


“Hmm ... okelah!”


“Jangan dengarkan dia kak Andi, aku gak akan mengganggu kok!” seru Tian agak heboh.


“Tian, kamu kembali saja ... aku sedang ada urusan penting dengan kakakmu, jadi lain kali saja ya,” pinta Andi.


“Yahh ... oke deh, huft ... gara-gara kau sih, awas nanti kau ya!”


“Kok jadi gue sih, salah sendiri jadi adik kok kurang ajar.”


Tian sangat kesal, ia pun pergi berlari ke kamarnya, tak lupa juga dengan gebrakan pintu ala gadis kecil yang sedang ngambek. Namun, Riko hanya mengabaikan kelakuan adiknya yang menurutnya itu abnormal. Tian adalah anak yang mandiri dan agak tomboy, jadi bertingkah imut merupakan suatu keanehan bagi Riko.


Tak mau buang-buang waktu lagi, Riko pun mengajak Andi pergi ke ruangan belajarnya. Di sana Andi akan menjelaskan tentang dasar bagaimana bertarung sebagai exorcist. Kali ini Riko cukup tenang dan patuh, karena percuma saja berontak, ia tak punya alasan logis untuk menolak bantuan seseorang. Bukan hanya itu saja, Andi juga akan menjelaskan tentang tanda yang mengikat pada dahi mereka.


“Mengingat banyak kejadian buruk yang telah terjadi, aku bermaksud untuk mengajarimu teknik bertarung, karena aku tak selalu bisa melindungimu, jadi kuharap kau bisa melindungi dirimu sendiri,” jelas Andi.


“Okelah ....”


Andi kembali mengernyit, rupanya tak sesulit yang ia bayangkan, Riko yang biasanya selalu memberontak, kali ini mau mendengarkan sarannya.


“Baiklah, aku juga akan memberitahumu tentang tanda itu, agar kau mengerti dan bisa lebih berhati-hati lagi.”


“Ya sudah ... jelaskan saja! aku juga penasaran sih.”


Andi tersenyum lega karena Riko jadi lebih tenang dari biasanya dan ia juga cukup pengertian, meskipun sikap dinginnya tidak bisa dihilangkan, tapi itu sudah cukup membantunya. Ia pun mulai menjelaskannya dengan singkat dan jelas.


“Tanda itu disebut Jiu, yaitu salah satu tanda khusus yang hanya diberikan padaku, mungkin kau melihat Rein juga memilikinya, tapi itu memiliki bentuk yang sedikit berbeda, tanda itu disebut Shan, tentunya kedua tanda itu memiliki keunikan masing-masing,” jelas Andi perlahan.


“Dan kau memberi tanda yang sama padaku,” sela Riko.


“Benar, tapi sebenarnya itu bukan hanya untuk membuka penglihatan khususmu, itu juga bisa menjadi kekuatanmu jika kau melatihnya dengan benar,” balas Andi.


“Tapi sepertinya itu tidak berguna, malahan membawa sial,” sangkal Riko yang masih tak percaya.


“Itu karena kau belum memahami semuanya, itu adalah tanda suci dan mereka juga seperti pisau bermata dua, jika kau tak bisa mengendalikannya dengan baik, maka tanda itu akan menyakiti dirimu sendiri,” jelas Andi tenang.


“Itu karena kau yang membuat semuanya jadi semakin rumit, coba saja kau tak memberi tanda itu padaku, semua pasti akan baik-baik saja.”


“Kau yakin mengatakan hal itu? mungkin kau memang belum bisa menggunakan kekuatan itu, tapi tahukah ... tanpa kau sadari tanda itu juga pasti pernah menyelamatkanmu.”


“Entahlah ... aku tak begitu yakin, tapi saat ini aku masih belum bisa untuk mempercayaimu.”


“Tidak masalah, tapi aku yakin suatu saat nanti kau akan mengerti.”


“Baiklah, sekarang lanjutkan latihan sajalah.”


Akhirnya mereka kembali melanjutkan tentang pelatihan dasar. Dalam pertarungan, seni beladiri tentunya merupakan teknik dasar yang harus dikuasai sebelum mereka melanjutkan dengan latihan energi spiritual. Riko memang cukup ahli dalam hal berkelahi, tapi ia masih belum mengusai ritma dan kestabilan dalam bertarung.


Pertama, untuk memahami bagaimana pergerakannya sendiri dan juga lawan, ia masih belum cukup baik dalam melihat kelemahan lawan ataupun memprediksi gerakannya. Dalam kenyataannya, ia tak bisa hanya asal membabi buta ketika menghadapi seorang petarung, ia juga perlu belajar strategi dan kerjasama.


Andi menjelaskan satu per satu hal dasar yang perlu ia pelajari, mungkin setelah ia cukup baik menguasainya, akan ada pelatihan lainnya. Di dunia ini ia tak hanya akan berhadapan dengan sesama manusia saja, ada begitu banyak jenis monster yang harus ia hadapi dengan teknik yang berbeda-beda, ia juga perlu melatih kelincahan dan ketajaman mata juga pikiran. Namun, sebelum itu kembali lagi ke dasar, ia harus lebih banyak berlatih jika ingin setara.


Saat ini Riko masih belum menginjak di level mana pun, oleh karena itu ... perjalanannya untuk menjadi seorang exorcist tentunya masih panjang.


Riko kembali termenung, ia harus benar-benar membulatkan tekadnya untuk bersungguh-sungguh, terutama dalam hal egonya harus ia kesampingkan dulu. Memang benar ia tak menyukai ketuanya, tetapi ia juga tak bisa selalu lari dari masalah ini, setidaknya ini adalah cara yang tepat untuk ia membalas budi.


“Aku akan berlatih seperti yang kau minta, tapi ingat aku tetap bukan anggota klub, kau mengerti,” tegas Riko yang masih tetap pada pendiriannya.


“Baiklah, tidak begitu buruk, aku akan mengajarimu bertarung, mungkin sekarang hanya sedikit yang akan aku ajarkan, tapi mulai besok ... kau bisa berlatih bersamaku di emerald space,” balas Andi yang cukup puas.


“Baiklah! aku setuju, tapi kau tak perlu membahas hal ini dengan yang lainnya,” tambah Riko lagi.


“Oke ... baguslah.”


“Iya ... haha, ka-kalau begitu ... mohon kerjasamanya.”


Latihan kali ini hanya akan menitikkan pada pukulan dan tendangan, selain itu untuk blok dan serangan juga akan sedikit diperkenalkan. Saat ini mereka sedang berada di ruangan jadi mereka tak akan melakukan latihan ekstrim yang berpotensi menghancurkan ruangan.


Ini hanya latihan biasa seperti pada umumnya, Riko agak kesal karena ia merasa hanya sedang melakukan hal yang bodoh.


‘Kalau hanya memukul sih sudah biasa, lalu di mana letak point pentingnya?’ bhatin Riko kesal.


Pukulan memang hanya hal yang biasa, tapi bukan berarti tak ada gunanya untuk dilatih. Agar Riko tak hanya protes padanya, Andi pun memberi Riko kesempatan untuk mendaratkan pukulan padanya. Tentu saja ia langsung setuju, karena ini seperti kesempatan emas untuknya bisa membalas kekesalan itu terhadap Andi.


Pukulan pertama berhasil dilayangkan. Namun, tentu Andi akan menangkisnya dengan mudah, Riko sih agak kesal ketika serangan terbaiknya malah ditangkis, karena itu Andi kembali mengintruksikan Riko untuk memukul dan mendorong telapaknya.


Riko kembali bersiap dengan kepalan yang cukup kuat untuk mendaratkannya pada telapak tangan Andi, saat itu pun juga ia merasa sedikit puas karena berhasil memukul sasarannya. Riko menarik napas panjang sebelum memasang seringai di wajahnya. Andi sedikit mengernyit, sebenarnya bukan seperti itu tujuannya.


Ia kembali berpikir, cara ini memang tidak begitu efektif untuk membuatnya mengerti. Bagaimana tidak, hanya dengan berhasil mendaratkan pukulan saja Riko sudah kegirangan, padahal ia sendiri memang sengaja menyuruh untuk memukul dan mendorongnya, yang bertujuan untuk melihat seberapa kuat tenaga dalamnya.


Andi kembali menghela napas, dia yang sama sekali tidak berpindah posisi, mencoba memberi contoh kepada Riko, setidaknya dengan cara ini akan lebih mudah ia mengerti. Kali ini Riko yang harus bersedia membuka telapak tangannya, untuk bertukar posisi dengan Andi. Ia setuju saja meskipun agak khawatir bahwa Andi akan balas dendam padanya.


Kali ini Andi yang akan memberi serangan terhadap Riko, ia pun bersiap memasang kuda-kudanya, melihat hal itu, Riko malahan protes lagi.


“Oii ... ketua! jangan bilang kau ingin balas dendam padaku,” ucap Riko agak khawatir.


“Tidak perlu khawatir ... aku hanya akan memberi contoh agar kau cepat mengerti.”


“Hmm ....”


Riko kembali fokus dan bersiap. Namun, ketika Andi mulai melayangkan pukulannya, Riko kembali dibuat terkejut. Andi memberi serangan dengan tangan terbuka tanpa mengepal, lalu mendorong kuat kearahnya. Alhasil Riko pun terpental cukup jauh.


“Oii ... sialan! ini sih curang namanya, kau menggunakan kekuatanmu,” protes Riko kesal.


“Tidak juga, aku tidak menggunakan kekuatan spiritual sama sekali, itu murni tenaga dalam, karena kau tidak mengerti jadi aku praktekkan langsung,” jelas Andi santai.


“Tapi gue yang jadi korban kekerasan di sini.”


“Benarkah? apa pukulanku terasa sakit?”


“Gak juga sih ... pukulan tadi sama sekali tidak sakit, tapi gue terpental dan pas jatuhnya itu yang sakit sekali woee ...,” protes Riko lagi.


“Namanya juga latihan, ya memang begitu ... intinya bukan tentang seberapa kuat kau mendaratkan pukulan, tapi seberapa dalam tenaga yang kau keluarkan, jika dalam pertarungan kau hanya mengandalkan kekuatan fisikmu, kau akan cepat kelelahan tanpa mencapai apapun,” jelas Andi secara rinci.


“Lalu?”


“Kau harus melatih tenaga dalammu, agar lebih kuat dan stabil, karena itu aku ingin kau menyempurnakan pukulanmu terlebih dahulu, dan kau harus ingat yang akan kau hadapi bukan hanya manusia, tapi para iblis yang memiliki tingkat kekuatan yang bervariasi, kau harus bisa lebih kuat dari mereka,” tambah Andi lagi.


“Okelah ... aku mengerti, sekarang aku sudah lelah, latihan dilanjutkan besok saja,” balas Riko yang tampak sudah jenuh.


“Baiklah ... kalau begitu setelah ini aku permisi pulang dulu, kuharap kau bisa lebih serius lagi untuk memikirkan tentang latihan, mengerti?” ucap Andi lebih serius.


“Siap, nanti latihannya aku lebih rajin lagi, kalau begitu ayo ... aku akan mengantarmu sampai di depan.”


Setelah latihan berakhir, Riko pun pergi mengantar Andi sampai depan rumahnya. Ia tak terlalu banyak basa-basi, hanya ada ucapan terima kasih dan sampai jumpa besok. Namun, itu sudah lebih dari cukup dari yang ia harapkan. Sebelum sempat menuju mobil, mereka berdua kembali di buat heboh oleh Tian yang tiba-tiba datang menghampirinya.


“Kakak Andi! tunggu sebentar!” teriak Tian.


“Wah ... ini apa lagi ya? si setan kecil kenapa lagi dah?” ucap Riko agak jengkel.


“ Hahh ... hah ... kakak Andi, ini aku buatkan puding untukmu, tenang saja ... ini tidak pedas kok!” seru Tian yang tampak buru-buru.


“Adik sialan, kau bikin malu saja ... masakan horrormu itu, mau dibagaimanakan pun tetap mengerikan, jelaslah ... yang masak setan sih,” sindir Riko.


“Bilang apa? hahh ....”


“Eh ... sudahlah kalian berdua, aku ambil pudingnya, nanti aku cicipi di rumah, kalian kembali saja ke dalam,” sela Andi sambil mengambil kotak puding dari Tian.


“Wahh ... siap! semoga suka ya kak Andi.”


“Heehh ....”


Akhirnya mereka berdua mau kembali setelah perdebatan yang panjang telah berlalu, Andi pun bisa kembali dengan tenang ke mobilnya dan siap melesat pulang.


.


.


.


TBC