Roped Fate

Roped Fate
Ch.02 : Temanku Memang Aneh



Riko memang sudah tercap buruk di sekolahnya, apapun yang ia lakukan selalu salah di mata orang lain. Namun, lebih parahnya lagi, orang yang baru saja mengaku sebagai temannya, bahkan jauh lebih parah darinya, tapi anehnya ia tak pernah disalahkan seperti halnya Riko, malahan Riko sendiri yang dituduh atas segala masalah yang disebabkan oleh gadis terhormat itu.


‘Aku sebenarnya masih bingung dan selalu penasaran dengan segala tindakannya tak masuk akal, dia ini benar-benar bodoh atau bagaimana sih?’


Pelajaran berjalan seperti biasa, Riko selalu memperhatikan Fuurin. Ia sedikit mengernyit, orang yang ia pikir sangat bodoh ternyata tak sebodoh itu. Fuurin siswa yang sedikit tenang di kelas, mengikuti pelajaran dengan baik serta menjawab soal latihan dengan sangat baik, ia cukup mandiri walaupun terkadang terlihat pasif, tapi beberapa kali ia juga tersenyum pada teman sekelasnya.


Tentu saja mereka tak tega mengabaikan gadis polos ini, walaupun pernyataan konyolnya tempo hari cukup menggemparkan kelas tapi mereka memakluminya, malahan prihatin orang-orang mengira ia hanyalah korban dari kebusukan Riko.


‘Oke, kenapa hanya aku yang selalu disalahkan?’


Setelah jam istirahat berbunyi, Riko langsung melesat keluar demi menghindari masalah. Dirasa cukup aman, Riko kembali menormalkan langkah kakinya. Ia berjalan sambil merenung, tiba-tiba saja masalah sudah mendarat di kepalanya.


“Oi, kampret! siapa yang lemparin kaleng kepala gue aa ...,” protes Riko dengan penuh kekesalan.


Melirik sejenak ke belakang dan mendengus.


“Sudah diduga, biang masalah bakal ngejar bahkan sampai ke ujung rambut gue yang udah rontok,” gumam Riko pasrah.


“Huaa ... jangan gitu dong! kita ini kan teman, kalau keluar ya harus barengan, kok aku ditingal sih,” balas Fuurin yang selalu bereaksi nyentrik.


“Lu buntutin gue terus, bilang aja lu suka kan?”


“Jiahh ... ge-er, labil bener lu nona ... kemarin-kemarin udah setuju jadi temen, sekarang diinterogasi lagi, capek deh.”


“Gue berubah pikiran ah ....”


“Bodo amat, gue mau belanja ... yuk, kita barengan ke kantin! ga ada tapi pokoknya harus ikut.”


Fuurin langsung menarik tangan Riko sembari berlari-larian dan tertawa layaknya orang bodoh. Riko menarik napas panjang dan menghembusnya cepat, ia harusnya mengerti dari awal ia sudah terikat dengan gadis ini, semakin ia menghindarinya maka semakin lekat ia dikejarnya, karena itu berjalan bersama di jalannya bukanlah pilihan yang buruk.


‘Mungkinkah, akan seperti ini selamanya?’


PLAKKK ....


Riko menampar dirinya sendiri karena merasa kesal dan konyol.


‘Tak mungkin kan, Tuhan mengikat takdirku bersama orang ini?’


PLAKKK ....


‘Mikir apaan sihh, kok malahan baper.. oke fix! kita selamanya temenan titik.’


‘Arghhh ... tidak-tidak ... nyebelin amat sihh.’


Sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Riko telah terlibat pertengkaran internal dengan dirinya sendiri, Fuurin hanya tersenyum melihat tingkah lucu temannya.


Sampai dikantin mereka memesan makanan, duduk bersama sambil berbincang-bincang menunggu pesanan datang.


Selain berbicara tentang pelajaran dan aktifitas sekolah, sisanya tidak ada pembahasan lain yang begitu penting. Mereka hanya menikmati hidangan sebagaimana murid lainnya lakukan.


Namun, banyak diantara mereka yang menatap sinis dengan perasaan tidak suka, Riko perlahan terdiam dan menghentikan kegiatannya. Wajah biru gelap yang dingin mulai membingkai ekspresinya, di tengah kekosongnnya tiba-tiba saja Fuurin berteriak sembari menggebrak meja.


“Omg ... duit gue ketinggalan! pergi dulu ya, nanti kalau sempat aku bayar belakangan, bye bye.”


“Oii ... apa maksudnya kalau sempat?” tanya Riko yang kembali naik pitam.


“Ohh ... kau juga ga bawa duit? bilang dong! yukk, kabur bareng-bareng.”


“Oii ... sebentar! ini mah kriminalitas, jangan ngajak-ngajak gue dong!”


Tanpa basa-basi Fuurin menarik tangan Riko untuk mengajaknya kabur bersama, semua orang yang ada di sana tercengang dengan tindakan gila mereka terutama Fuurin.


Riko benar-benar pusing dibuatnya. Bagaimana tidak, bahkan sebandel- bandelnya Riko, belum pernah ia kabur tanpa membayar terlebih dahulu.


‘Apa orang ini aslinya memang pencopet? hmm ... Dia benar-benar berniat merusak citranya sendiri dasar aneh.’


Sampai di tempat yang aman mereka berhenti sejenak, tentu saja Riko langsung ngomel-ngomel dan protes.


“Hahh ... hahh ... kau sudah gila ya? ini masih di area sekolah, kau sudah berani begini.”


“Ahahahaha ... sekali-sekali tak masalah lah, masih ada lain waktu untuk membayarnya.”


“Huh ... kenapa kau bodoh sekali sih, ya ampun ... reputasi baikmu bahkan kau sendiri yang sengaja mencemarinya, apa untungnya coba?”


“Aku tak peduli reputasi baik atau apalah, aku hanya ingin bersenang-senang sesuai kehendak hatiku, untuk apa reputasi baik jika hatimu sendiri tidak bahagia.”


“Yahh ... emang sih, tapi kalau dibully gini, terus menyendiri lah dari mana datangnya bahagia, dongo!”


“Jelas dari dirimu sendiri, jika kau bisa bahagia dalam kesepianmu maka kau menang.”


“Di dunia ini masih ada banyak aturan ya nona terhormat!”


“Biarkan saja! kalau ada aturan ... gampang, dilanggar saja, asalkan jangan berlebihan.”


“Okelah, terserah kau ... ternyata benar kau lebih parah dariku, sekarang aku baru mengerti mengapa kau bisa berteman denganku, huhh ... nyerah deh gue.”


“Gitu dong, nah ... sekarang ngapain lagi yakk.”


“Jelas ambil duitmu yang katanya ketinggalan tadi, terus bayar tuh ke ibu kantinnya.”


“Jangan dulu ahh ... itu mahh ... urusan nanti, bagaimana kalau sekarang kita ke club sastra dulu.”


“Ngapain, mau gabung? sana! gue ga ikut.”


“Ye ... siapa juga yang mau gabung, kita ke sana buat kerjain mereka, seru kan! lagian orang-orang dari club ini juga pernah isengin kau, jadi impas deh! ga melanggar peraturan.”


“Impas apanya, lalu kau sendiri ga ada masalah sama mereka ngapain ikutan.”


“Kalau aku sih ... cuma mau ikutan aja hehehe ...."


“Huftt ... benar-benar sakit kau nona, pokoknya gue ga ikut titik.”


“Hmm ... bagaimana kalau aku perginya bawa ini, apa kau mau ikut.”


Sambil menunjukan sebuah dompet di tangannya.


“Oii ... Itu dompet gue kampret! bagaimana bisa pindah ke elu ... dasar bakat kriminalitas, lihai benar tanganmu.”


“Oke ... kalau mau dompetnya kembali, ayo kejar aku! dan kita akan berkumpul di gudang belakang untuk menyusun strategi penyerangan terhadap club sastra, *see y*a!”


KRIK ... KRIK ... KRIK ....


“Kampret! gue benar-benar speechless, bacotnya udah kayak penjahat beneran, apa dosaku sampai-sampai dikirim dedemit model ginian, huaa ... kalau ga dikejar, sayang duit gue di dompet melayang.”


‘Maklum sih temanku memang aneh, kalau ga aneh ga mungkin mau berteman.’


Riko segera menyusulnya. Tak perlu bermain kejar-kejaran, cukup pergi ke gudang belakang mereka pasti akan bertemu. Ia cukup deg-degan walaupun dicap sebagai penjahat, tetapi ia tak pernah melakukan hal buruk dalam skala besar seperti hari ini, ia ragu tetapi kesal juga mengenai club sastra, dompet, maupun temannya dan hari ini ia mencoba tak ragu untuk segera menyelesaikan masalah tersebut, ia hanya berharap semoga takkan ada masalah besar yang ditimbulkan oleh teman barunya.


.


.


.


TBC