Roped Fate

Roped Fate
Ch.25 : Rahasia Klub



Juan dan Fuurin pergi ke ruang klub, untuk mengunjungi ketua dan yang lainnya. Sampai di sana mereka disambut cukup baik lalu dipersilahkan masuk.


"Halo ... senior Ruri, aku ingin melihat keadaan kalian," sapa Fuurin ramah.


"Oh iya, silahkan masuk," jawab Ruri.


"Ehm ... kalau aku boleh gak?" tanya Juan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ahh ... iya, silahkan saja, haha ...," jawab Ruri sekaligus merasa agak aneh.


Andi yang tadinya sudah hampir terlelap pun kembali bangkit setelah mendengar suara Fuurin dan Juan yang sedang berdiri di depan untuk mengunjunginya.


“Hei, apa kau sudah tidur?” tanya Andi.


“Hmm ... apaan, gue baru aja mau bermimpi, lu ganggu ah!” protes Erick.


“Hee ... pemalas kau, gak dengar ada suara orang di luar tuh, kayaknya ada yang berkunjung,” balas Andi yakin.


“Emang siapa?”


“Dari suaranya ... kurasa itu nona Fuurin dan Archea Juan.”


“Oh, terus ... si Riko itu gak ikut?”


“Sepertinya tidak, dia masih ingin berontak, jadi aku abaikan saja dulu.”


“Yah ... dilihat dari kepribadiannya sih, ia memang tipe orang yang susah diberitahu, sampai kapanpun orang itu tidak akan mau tunduk padamu.”


“Kita lihat saja nanti, ku tahu ... dia hanyalah anak-anak pembangkang yang kesepian.”


“Hee ... rupanya kau yakin sekali.”


“Tentu saja ... aku akan mengatasi semuanya, kau tahu sendiri kan? aku paling benci anak yang pembangkang.”


“Oke ... terserah kau saja, tapi ingat! jangan sampai salah langkah, sikapmu itu bisa saja menjadi bumerang bagimu, dan suatu saat nanti ... mereka bisa menghancurkan dirimu sendiri.”


“Jangan khawatir, aku selalu mengusahakan yang terbaik.”


“Siap, tapi kau juga jangan terlalu berharap, dia bukanlah Ivan.”


“Aku tahu itu ....”


Obrolan mereka berdua langsung terhenti, karena dua orang tadi sudah datang menuju ruangannya.


“Kaichouuu ... bagaimana keadaanmu?” tanya Fuurin.


“Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir,” balas Andi santai.


“Syukurlah kalau begitu, makanya lain kali hati-hati beli makanan, biar gak jadi keracunan seperti sekarang,” ucap Fuurin lega sekaligus memberitahunya agar lebih teliti dalam memilih makanan.


“Keracunan?? haah ... apa maksudnya itu?” tanya Erick kebingungan.


“Bukankah kalian jadi berhalusinasi dan saling menghajar setelah makan jamur beracun,” jelas Fuurin.


“Kau ini bilang apaan sih, aneh sekali,” jawab Erick semakin bingung.


Andi sedikit kesal dengan temannya ini, mulutnya benar-benar tidak bisa di rem. Ia kembali membisikkan sesuatu pada temannya agar ia segera paham.


“Oh ... iya-iya, aku baru ingat! tadi kepalaku terbentur sesuatu jadi ingatanku masih agak samar-samar,” ungkap Erick canggung.


Juan sedikit mengernyit sebelum memasang seringai di wajahnya. Andi selalu menyadari hal itu, dan ia juga merasa begitu terganggu olehnya.


“Kau ... kenapa ikut ke sini?” tanya Andi sinis.


“Cuma ingin melihat keadaan semua orang, lagi pula jika tak aku antarkan segera si berisik super panik ini, bisa-bisa kelas menjadi heboh,” balas Juan santai.


“Pfttt ....”


“Hmm ... sudahlah.”


“Kau masih tak mengizinkanku untuk datang kemari?” tanya Juan untuk memastikan lagi.


“Oke ... aku mengizinkanmu untuk hari ini saja,” balas Andi singkat.


“Yeah, itu cukup membantu.”


Sebenarnya Juan masih agak kesal dengan ketua yang terus bersikeras tak mau menerimanya di klub exorcist. Namun, walaupun hanya diberikan izin sehari saja, ia pasti akan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk mencari informasi.


Andi kembali terdiam, tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu, Juan pastinya sudah mengerti bahwa ia tak boleh melakukan sesuatu yang mencurigakan, karenanya ia mencoba untuk tidak memasang ekspresi apapun pada wajahnya.


Mereka berbincang-bincang seperti biasa, Fuurin juga membantu untuk membereskan beberapa pekerjaan yang biasa dilakukan seniornya, seperti membersihkan lantai, merapikan barang-barang, dan sebagainya. Sementara Juan dari tadi terlihat hanya berkeliaran di sekitar Ruri, ia mencoba menggoda seniornya itu, tetapi selalu diabaikan.


Ruri memang sangat popular di sekolah, wajar saja ada banyak siswa yang senang mengganggunya, ia sendiri merasa risih dengan hal itu, karenanya bersikap jutek sudah menjadi kebiasaannya.


Andi yang melihat hal itu hanya bisa menghela napas kesal.


‘Kenapa ada begitu banyak siswa yang tidak bisa diatur di tahun ini,’ pikirnya.


“Hei kau ... sebenarnya apa sih tujuanmu? kenapa begitu terobsesi dengan kepopuleran?” tanya Andi tiba-tiba.


“Hehe ... aku juga ingin menjadi terkenal seperti mereka, jika aku berteman dengan orang-orang yang hebat otomatis aku akan ikut berada di atas,” jawab Juan optimis.


“Huftt ... padahal kau orang yang jenius, tapi masih berpikir seperti itu, jika kau memang ingin berdiri di atas maka kau harus berusaha dengan caramu sendiri, bukannya numpang dari ketenaran orang lain,” sahut Andi sembari menghela napas.


“Kau yang sudah hebat bisa saja berkata seperti itu, bahkan kau tak tahu berapa banyak usaha yang aku lakukan tapi semua berakhir sia-sia, kau tahu ... berusaha saja tidak cukup, karena kesuksesan itu diperuntukkan hanya untuk orang-orang yang beruntung saja,” balas Juan dengan intonasi tidak senang.


“Hmm ... aku memang tidak tahu seperti apa pengalamanmu, walaupun saat ini kau belum bisa mencapai seperti yang kau harapkan, tetapi setidaknya kau sudah berusaha agar tidak berakhir lebih buruk dari hari ini, jika kau sudah tahu peruntunganmu buruk, maka kau juga perlu mengerti bahwa kau harus berjuang lebih keras dari orang yang beruntung,” jelas Andi lebih santai.


“Hei, senior ... kenapa takdir itu tidak adil?” tanya Juan sembari teringat.


“Jangan begitu, kau bukanlah satu-satunya orang yang berpikir demikian, aku pun juga sama, tapi aku tak ingin jadi menyimpang dari hal itu, seburuk apapun jalan yang pernah kulalui aku akan tetap berlari menuju cahaya,” sahut Andi dengan kata-kata yang lebih tulus.


“Sudahlah ... pulang sekolah kau ikut bersamaku, ada beberapa hal yang ingin aku beritahu, karena kau sudah terlalu mencampuri urusan kami, jadi akan aku peringatkan lagi padamu,” ajak Andi dengan sedikit seringai pada wajahnya.


“Eh ... tapi aku ...,” balas Juan merasa cukup ragu.


“Jangan khawatir, aku tak akan membunuhmu, kau tak perlu menelpon sopirmu karena aku akan mengantarmu pulang setelahnya,” balas Andi yang semakin berseri.


“Entah kenapa peringatanmu membuatku jadi semakin khawatir,” sahut Juan dengan ekspresi kecut di wajahnya.


“Tenang saja ... penyiksaan juga tidak dilegalkan di sini,” tambah Andi lagi.


“Uwahh ... kalau begitu aku akan mengajak Riko juga,” keluh Juan yang mulai crybaby.


“Biarkan dia, kau jangan mengganggunya lagi.”


“Kau ini, memangnya kau ini kakaknya? over protective banget sih!”


“Bukan seperti itu ...,” balas Andi dengan ekspresi yang agak murung.


Andi pun langsung meninggalkan Juan, dan pergi ke tempat Fuurin.


‘Ehh ... tadi dia bilang apa? kenapa ekspresinya langsung berubah, yang benar saja! tunggu sebentar ... dari beberapa hal yang kuselidiki, sepertinya Riko memang pernah memiliki kakak laki-laki, tapi telah hilang tanpa kabar sejak lama, ini seperti bukan kebetulan biasa, jangan-jangan memang benar kalau dia ...’ bhatin Juan yang penuh dengan spekulasi.


“Oii ... jamur Juan, cepat kemari! tolong bantu aku memindahkan benda berat ini, oii ...,” teriak Fuurin dari ruangan lainnya.


“Iya, berisik!”


Juan segera pergi membantu Fuurin, ia cukup kesal dengan keadaan ini.


Niatnya mau menjenguk tapi kok malah jadi cleaning service sih, makinya dalam hati.


.


.


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Juan menunggu Andi di luar ruang klub. Ia agak ragu, tetapi mencoba untuk tetap tenang, setidaknya itu akan menjawab rasa penasarannya pada setiap keanehan klub exorcist dan seperti apa hubungan mereka dengan Riko.


Beberapa menit menunggu, akhirnya Andi datang juga. Pertama, ia mengajak Juan untuk sekedar berkeliling-keliling sekolah sembari sedikit berbincang-bincang. Juan sebenarnya agak merasa takut, ia diajak ke beberapa bangunan kosong di sana yang juga sudah tampak usang.


‘Apakah orang ini akan menghabisiku di sini?’


ia terus bertanya-tanya dalam hati. Andi mulai menjelaskan kembali tentang kegiatan klub mereka seperti apa dan bagaimana mereka menyelesaikan misinya, Andi menjelaskan semua secara garis besarnya saja. Juan cukup mengerti dengan apa yang dikatakan Andi, tetapi tak begitu paham dengan sistem kegiatannya, ia hanyalah orang luar. Namun, setidaknya itu bisa menjawab beberapa rasa penasarannya.


“Bangunan ini sudah lama dibiarkan terbengkalai, tentu saja jika kau sembarangan masuk ke dalamnya maka kau akan mendapat masalah besar, kau tahu itu ...,” ucap Andi dengan senyuman rubah khasnya.


“Tentu saja, melihatnya dari luar saja, sudah bikin ogah pergi ke sana,” sahut Juan agak malas.


“Ahahaha ... jika itu Riko, pasti ia tetap akan pergi ke sana walaupun sudah diperingati, hahaha,” ucap Andi sembari terkekeh.


“Hei, senior ... aku masih penasaran, Riko itu apa memang adik kandungmu?” tanya Juan tiba-tiba.


KRIK ... KRIK ... KRIK ....


“Haah ... siapa yang bilang seperti itu, jelas bukan lah!” sangkal Andi.


“Tapi, tadi di ruang klub kenapa kau membuat ekspresi seperti itu? Riko sendiri juga harusnya memiliki kakak laki-laki, yang sayangnya telah pergi entah ke mana,” balas Juan sembari mengingat-ingat.


“Haah ... bagaimana kau bisa tahu, aku saja tidak tahu, dasar penguntit! sebenarnya apa yang kau inginkan darinya?” tanya Andi curiga.


“Tidak ada, aku hanya kebetulan mengenalnya, kulihat ia begitu misterius, jadi aku hanya penasaran saja, tak ada maksud apa-apa,” jelas Juan malas.


“Dulu aku juga memiliki adik laki-laki, harusnya sekarang ia sudah seumuran dengan Riko, kurasa mereka berdua memiliki banyak kesamaan, salah satunya sifat bandel dan keras kepalanya itu selalu membuatku jadi naik darah, ia juga tak mau mengaku salah saat membuat kesalahan,” jelas Andi.


“Pfttt ... Riko banget.”


“Terakhir kali, aku sudah memperingatinya untuk tetap di rumah, tapi diam-diam ia malah mengikutiku, waktu itu aku benar-benar tak menyadari keberadaannya, sampai akhirnya ketika aku mengetahui hal itu, aku telah terlambat datang untuk menyelamatkannya, dia sudah terlanjur pergi dalam kecelakaan itu,” jelas Andi dengan ekspresi yang lemah.


“Begitukah? aku tahu itu pasti berat untukmu, karena itulah kau pasti melihat adikmu ke dalam Riko, benar bukan?”


“Itu benar, dia sangat keras kepala hingga begitu sulit diatur.”


“Karena itu kau ingin dia bergabung ke klub exorcist?” tanya Juan lagi untuk sekedar memastikan.


“Ini untuk keselamatannya juga, tahun ini mungkin akan ada banyak permasalahan yang muncul, karena itu aku ingin dia berlatih bersama kami agar ia bisa melindungi dirinya sendiri, meskipun aku masih punya alasan lainnya lagi ... tapi untuk sekarang hal itu saja kurasa sudah cukup,” balas Andi sembari tersenyum lemah.


“Seperti itu ya, memangnya makhluk seperti apa yang ingin menyerangnya?” tanya Juan lagi.


“Tugas kami adalah membasmi iblis atau semacamnya, sebenarnya bukan hanya di sekolah ini saja, tapi di luar sana ada begitu banyak tempat yang belum kami selidiki.”


Juan tak ingin memberi banyak komentar lagi karena ia juga sudah tidak mampu mencerna seluruh penjelasan Andi.


“Arghh ... rasanya menyebalkan sekali, ini masih belum bisa di terima otakku, tapi yang pasti aku akan tetap berhati-hati, itu saja.”


“Baiklah ... aku sudah memberitahumu semuanya, jadi kau berhenti menyelidiki kami! karena itu benar-benar mengganggu tugas kami,” ucap Andi dingin.


“Oke, jangan khawatir ... aku tak punya maksud buruk pada kalian dan Riko.”


“Oke ... jadi berhenti kau melibatkannya ke dalam urusanmu,” pinta Andi dengan tatapan sinis.


Ia menatap sejenak Andi dalam keheningan itu, lalu pergi melewatinya.


“Aku takkan pernah sengaja melibatkannya, tapi bagaimana jika ia terlibat sendiri bahkan tanpa aku memintanya?”


.


.


.


TBC