Roped Fate

Roped Fate
Ch.73 : Teman Lama



“Riooooon!” teriak Riko histeris.


Seketika orang-orang di sekitarnya pun terkejut hingga melompat menjauhinya.


“Hei, berandalan ini hampir saja membuat jantungku copot,” sindir Andi yang cukup kesal akan teriakan kejutan dari Riko.


“Tiba-tiba tersadar seperti itu, apakah kau habis bermimpi buruk?” tanya Fuurin yang terlihat cukup khawatir.


“Ah, jadi tadi aku bermimpi ya, baiklah kalau begitu aku ingin segera beristirahat ... maaf sudah merepotkan, tapi aku ingin langsung kembali ke kamarku, jika perlu sesuatu kalian bisa meminta pada paman dan bibi,” jawab Riko dengan wajahnya yang masih kusut dan mata yang sedikit berkaca-kaca.


“Ah baiklah ... kami hanya perlu perawatan dan istirahat sejenak, senior Ran dan yang lain sudah cukup untuk membantu untuk pengobatan dan perawatan, jadi tak perlu khawatir,” balas Fuurin lembut.


“Kau juga sedang terluka, ayo segera masuk! bibi atau Tian akan membantu kalian sampai senior yang lain tiba,” balas Riko dengan intonasi yang sedikit lesu.


“Baiklah kalau begitu ayo!” seru Fuurin.


“Tapi ngomong-ngomong senior yang lain sekarang di mana, sudahkah kalian menghubungi mereka?” tanya Riko untuk sekedar memastikan.


“Hampir saja lupa, baiklah aku akan menghubungi mereka semua agar segera kembali,” balas Fuurin yang kemudian langsung mengambil ponselnya.


Fuurin pun mengirim pesan singkat pada senior-seniornya yang masih dalam misi pencarian Riko. Setelah selesai memberitahu semuanya mereka langsung bergegas masuk untuk segera mendapat perawatan.


Namun, sebelum sempat sampai masuk ke dalam, Riko kembali tersadar dengan orang asing yang sedang berjalan bersama mereka.


“Hei, ngomong-ngomong ini orang datang dari mana? kenapa bisa bareng kalian?” tanya Riko penasaran.


“Kami menemukannya ketika mencarimu di suatu tempat, anak ini juga sempat mendapat serangan dari iblis, jadi ia juga perlu perawatan,” jelas Andi singkat.


“Oh begitu ... okelah,” balas Riko singkat.


Anak tadi pun tersenyum, lalu melambaikan tangan. “Senang bertemu lagi, Riko.”


Tentu saja Riko cukup terkejut mendengar salam dari orang itu, tetapi saat ini ia sedang tak ingin berdebat lagi karena sudah sangat lelah, jadi ia hanya mengabaikannya.


“Eh, dia tahu namaku? ah sudahlah, kita bahas besok saja ... aku perlu beristirahat segera,” gumam Riko dengan ekspresi wajah mengantuk dan mata sayu.


****


Setelah perawatan luka selesai dilakukan, mereka pun dipersilakan untuk beristirahat di ruang tamu sembari menunggu yang lainnya.


Riko yang baru saja selesai berendam air hangat kemudian langsung meluncur ke tempat tidurnya karena sudah sangat lelah baik tubuh fisik maupun hatinya.


‘Huhh ... aku sudah tak tahu lagi harus bereaksi seperti apa, sekarang aku sudah bisa mengingatnya dengan jelas tentang kejadian hari itu dan hatiku pun masih terasa sakit oleh itu, apa yang harus aku lakukan? orang itu memintaku untuk hidup seperti manusia biasa pada umumnya, tapi takdirku ... aku tak bisa menghindari hal itu, aku bisa saja terbunuh lebih cepat jika menyerah sampai di sini, tapi bagaimana?’ bhatin Riko yang tak henti bertanya dan meyakinkan dirinya sendiri.


Cukup lama terlentang sambil menatap plaffon kamarnya, tiba-tiba saja suara ketukan pintu kembali menginterupsi kegiatan istirahatnya.


Tok ... tok ... tok


“Hadeh, ini siapa lagi? ganggu orang  saja,” ucapnya dengan sedikit kesal.


Meskipun dengan langkah yang terpaksa, Riko tetap datang untuk membukakan pintu.


“Siapa sih? oahm ...,” tanya Riko sembari membukakan pintu.


“Hai Riko, aku bawakan minuman hangat yang disediakan bibimu, silahkan diminum untuk menambah energi sebelum beristirahat,” sapa Leo sembari menyodorkan segelas minuman hangat.


Riko pun langsung mengambil minuman tersebut. “Oh, terima kasih! tapi kenapa kau yang datang sih! menyebalkan sekali ... ke mana si ketua empat mata itu? oya, nanti kau suruh si empat mata datang ke sini ya ... tapi cuma dia aja, jangan bawa-bawa yang lain, mengerti!” perintah Riko yang sedikit berapi-api.


“Ah baiklah, aku tak mengerti kenapa kau terlihat agak kesal dengan keberadaanku, tapi ya baiklah aku akan memanggilkannya untukmu,” balas Leo dengan ramah.


“Yoi.”


Sambil menunggu Andi, Riko pun kembali duduk di kasurnya sembari meminum minuman hangat tadi.


“Huhh, mengapa takdir begitu mempermainkanku?” gumam Riko dengan ekspresi yang kosong.


Tak lama kemudian Andi pun datang dan masuk ke kamarnya.


“Oi, hiu kecil ... kenapa memanggilku tiba-tiba? aku bahkan belum sempat beristirahat, kau tau energiku sudah hampir habis pada pertarungan tadi,” protes Andi yang juga terlihat masih ngantuk.


“Aku tak menyuruhmu untuk bertarung, hanya bicara saja tak akan menghabiskan banyak energi,” balas Riko singkat.


Andi pun menutup pintu dan mulai berjalan ke tempat Riko. “Memang tidak, tapi karena itu aku pun tak bisa beristirahat dongo! kau lihat ini sudah jam berapa, hahh!” bentak Andi yang semakin geregetan dengan reaksi polos menyebalkan ala Riko.


“Huh, yasudah maaf deh maaf, kau bisa beristirahat di kamarku sambil membahasnya, karena ini adalah hal yang sangat penting ... jadi kau jangan tidur hari ini,” balas Riko dengan santai.


“Kejam seperti biasanya dan sekarang memintaku untuk tidak tidur, apa kau ini benar-benar manusia hah! hmm ... tapi baiklah aku akan mendengarkanmu jika itu memang sesuatu yang sangat penting,” balas Andi sembari menghela napas sejenak.


“Yosh! kalau begitu kau silahkan duduk, aku habiskan minuman ini terlebih dahulu,” balas Riko sembari melanjutkan kembali kegiatan minumnya.


“Hmm ... no comment lah.”


Tak membutuhkan waktu yang lama Riko pun menghabiskan minumannya, kemudian meletakkan gelas di mejanya.


Sempat terdiam sejenak sebelum Riko akhirnya Riko terpaku menatap ke wajah Andi. Sementara Andi yang menyadari hal itu pun hanya mengernyitkan alisnya, karena merasa sedikit aneh. Tak lama kemudian Riko mendekat lalu menarik kacamata miliknya dan kembali terdiam menatapnya.


“Hei, kenapa menatapku seperti itu? jangan bilang kau sudah jatuh cinta padaku, ahaha” goda Andi untuk memecah keheningan.


“Oi ... kau pikir kau siapa beraninya menonjokku seperti itu, awas saja ya tunggu pembalasanku!” bentak Andi sambil mendeklarasikan pembalasan pada Riko.


“Ahahaha ... aku memukulmu sekali, kau bodoh sekali ternyata,” tawa Riko dengan lepasnya.


Karena terlanjur kesal Andi pun mengambil bantal di sekitarnya untuk menyerang Riko. Riko sendiri juga tak mau hanya tinggal diam, ia pun juga ikut mengambil bantal untuk melawan Andi saat ini.


Pada akhirnya mereka hanya menghabiskan waktu untuk perang bantal. Setelah tenaga keduanya habis, mereka berdua langsung ambruk diatas tempat tidur.


“Hah, sialan! kau bilang tak ada pertarungan ... tapi kau sendiri yang malah memulainya, kenapa semakin hari kau ini semakin menyebalkan saja,” umpat Andi dengan napas yang terengah-engah.


“Ahahaha ... aku hanya kesal, tak mengerti harus bagaimana mengekspresikannya, aku jadi ingin memukulmu,” balas Riko sambil terkekeh.


“Huhh, sudahlah ... sebenarnya apa yang ingin kau katakan itu? membuatku semakin curiga saja,” tanya Andi dengan sedikit kesal.


“Ahaha ... kenapa takdir berjalan begitu tak adil, aku merasa ingin segera beristirahat dengan urusan dunia manusia, aku bahkan tak menjalankan hidupku dengan baik meskipun aku sudah menjauhi takdir terkutuk itu, kau tahu ... mengapa Tuhan memilihku untuk menerima takdir ini, sangat menyebalkan tapi apa yang bisa aku lakukan? Chuyan,” balas Riko yang perlahan mulai menitikkan air mata.


“Kau?”


Pernyataan Riko membuat Andi kembali tersadar, ia begitu terkejut seakan tak percaya. Riko mendapatkan kembali ingatan tentang masa lalunya.


“Benar, kau bocah tengik yang tidur bergelantungan di atas pepohonan tengah hutan, sungguh tak disangka dan sekarang aku pun percaya bahwa sebenarnya kau telah menyadariku sejak hari pertama kau menangkapku bersama Fuurin,” jelas Riko sembari menghapus air matanya.


“Sudah kuduga ... aku selalu mempercayai hal itu, tapi aku tak mengerti mengapa kau bisa melupakan semuanya bahkan tujuanmu menjadi exorcist terkuat kau lupakan begitu saja, aku sempat berpikir mungkin saja aku salah orang, tapi energi spiritual unikmu itu ... bagaimana mungkin aku bisa melupakannya, hanya saja ... aku merasa ada yang sedikit berbeda dan aneh dengan energi spiritualmu dibandingkan waktu itu, tak berani membahas hal itu denganmu sebelum kau benar-benar mengingatnya,” balas Andi yang tampak sedikit murung.


“Kalau sudah begini aku jadi canggung berbicara denganmu, kau adalah teman pertamaku selain kakak tiri, aku ingin memukulmu tapi kau sudah banyak membantuku,” ucap Riko dengan wajah masamnya.


“Kau pikir aku masochist yang rela disiksa begitu saja, jangan harap bisa memukulku lagi.” sahut Andi sedikit jengkel.


“Ahahaha, lupakan tentang hal itu ... untuk sekarang aku cukup bersyukur, terima kasih sudah membawaku ke klub exorcist, meskipun ini menyakitkan saat mengingat semua hal, daripada hidup seperti sampah tanpa mengetahui kenyataan, aku lebih baik terluka untuk berjuang kembali ... bersama kalian juga tidak begitu buruk, aku bisa mendapatkan semangatku kembali,” balas Riko dengan senyum lembut di wajahnya sembari terlentang bebas di tempat tidurnya.


“Aku senang mendengarnya, meskipun saat membawamu ke dalam klub itu sulitnya setara dengan memaksa harimau menjadi vegetarian, ahahaha ... kau tau mengendalikanmu itu benar-benar membutuhkan kesabaran yang sangat tinggi, hmm ...,” sindir Andi sambil terkekeh.


“Ya ... mana tahu, aku dulu tak bisa mengingat banyak hal tentang masa laluku, selain itu masalah yang disebabkan oleh perempuan licik itu membuat citraku menjadi hancur dan akhirnya hanya menjadi berandalan sekolah, cihh!” sahut Riko dengan perasaan kesal mengingat kejadian sebelumnya.


“Ah, Sheerli itu ya?”


“Kau tahu tentang masalah itu?” tanya Riko yang langsung bangkit dan duduk.


“Tentu saja, nona Fuurin memberitahuku ... kau benar-benar beruntung, bertemu dengannya sudah mengubah kehidupan monotonmu itu,” balas Andi dengan senyuman kecil di wajahnya.


“Umm, meskipun begitu ... aku masih merasa sakit, kenapa aku bisa melupakannya ... dulu aku tak tahu mengapa dia tiba-tiba menghilang dan itu membuatku kesal, tapi saat mengingat semuanya dengan jelas ... aku sekarang mengerti dia sudah pergi dan tak akan kembali lagi, semua itu disebabkan olehku,” ucap Riko yang kembali teringat.


“Jangan terlalu menyalahkan dirimu, aku yakin dia sendiri ingin yang terbaik untukmu,” balas Andi tenang.


“Kuharap begitu, dia ingin aku hidup seperti manusia biasa, tapi aku malah memilih untuk meneruskan ego dan ambisiku, mungkinkah dia akan marah padaku?” tanya Riko sambil termenung.


“Kurasa tidak juga, dia menyayangimu bukan,” balas Andi sambil melirik ke arahnya.


“Entahlah, meskipun begitu aku tetap membencinya ... dia memberiku banyak rasa sakit dan rasa bersalah, memang aku ingin tetap hidup tapi aku tak ingin dia mengorbankan hidupnya hanya untuk menyelamatkanku waktu itu, benar-benar mengesalkan!” balas Riko yang sedikit emosional mengingat hal itu.


Sungguh Andi tak ingin membebankan perasaan negatif lebih banyak lagi tentang masa lalu Riko, karenanya ia tak ingin bertanya lagi dan hanya mengusap-usap kepala Riko dengan lembut.


“Kau sudah melewati banyak kesulitan dalam hidupmu selama ini, aku yakin kau bisa lebih kuat lagi karena itu jangan sampai dikalahkan perasaanmu sendiri,” ucap Andi dengan senyuman yang ramah.


“Aku tahu itu, tapi rasanya menyebalkan sekali saat tiba-tiba bisa mengingat semuanya begitu saja,” balas Riko sembari menutupi matanya yang mulai meneteskan air mata.


“Tidak apa-apa, menangis bukanlah hal yang buruk ... justru akan mengkhawatirkan jika kau tidak menangis oleh hal itu,” balas Andi yang mencoba menenangkan Riko.


“Terima kasih dan maaf sudah banyak merepotkanmu,” ungkap Riko tiba-tiba.


“Eh, kenapa ... kau mau pergi ke mana?” tanya Andi yang tampak sedikit terkejut.


“Haah ke mana? aku tetap di sini kok ... hanya saja sulit untuk mengatakan kata-kata itu biasanya ... aku tak ingin banyak berhutang terima kasih, jadi sebaiknya aku ucapkan lebih cepat,” balas Riko sembari mengerucut mulutnya merasa sedikit canggung mengatakan hal itu.


Andi yang melihat hal itu hanya terkekeh, kemudian ia mencubit kedua sisi pipi Riko dengan kedua tangannya karena merasa cukup gemas dengan tingkah Riko yang memang tsundere itu.


“Kau malah jadi lebih imut saat mendapatkan ingatanmu kembali, sungguh tak terduga ... sekarang akankah kau mau menerima pelukanku adik kecil?” goda Andi sembari terkekeh.


“Jijik anjir ... menjauh dari gue secepatnya! arghhh ...,” bentak Riko yang langsung bangkit dan menyeret Andi keluar dari kamarnya.


“Ahahaha.”


Kemudian Andi melambaikan tangannya sebelum ia benar-benar pergi dari kamar Riko. Ia sempat melirik dengan sudut matanya sembari tersenyum singkat.


‘Baiklah, dengan begini semuanya akan berjalan lebih mudah, setidaknya dia sudah bisa dikendalikan dibanding sebelumnya, huhh ... tapi entah kenapa aku masih merasa resah, sepertinya akan ada hal besar yang terjadi dalam waktu dekat ini, saat ini aku masih lega Riko ada di pihakku tapi orang itu ... sungguh sulit diprediksi, entah apa yang mereka rencanakan, sudah pasti tak akan aku biarkan orang itu mengambil alih semuanya.’


Andi terlihat sedikit lebih serius saat memikirkan kembali hal-hal yang mengganggu pikirannya. Namun, ia juga mencoba untuk mengabaikan hal itu sementara dan kembali ke ruangannya untuk beristirahat.


.


.


.


TBC