Roped Fate

Roped Fate
Ch.16 : Apa Aku Berarti Untukmu?



Latihan pertama berjalan dengan cukup baik, tidak ada kendala yang banyak berpengaruh, meskipun terkadang Riko menjadi kesal hingga kembali beradu mulut dengan seniornya, tetapi itu bukanlah masalah besar, karena semakin banyak ia berinteraksi dengan seniornya, maka semakin dekat juga hubungannya dengan anggota klub exorcist.


Namun, hari-hari berikutnya Riko malah tambah suram, ini dikarenakan para anggota junior sudah kembali dan ikut latihan bersama. Ia tak senang melihat tatapan mereka yang memandangnya rendah.


Selain Fuurin anggota junior lainnya hanya berjumlah tiga orang, mereka berasal dari kelas 8B dan 2 orang dari 8C, sebenarnya tak satupun dari mereka yang mengenal Riko dengan baik, mereka hanya mendengar kabar angin dari orang ke orang.


Tak mau melihat teman baiknya terus dijelek-jelekan, akhirnya Fuurin turun tangan untuk memberitahu mereka bahwa Riko tidaklah seperti yang mereka bayangkan, tentu saja mereka bertiga tak ingin jika ada perseteruan antar anggota lainnya.


Oleh karena itu, mereka hanya mengiyakan kata-kata Fuurin, tetapi berbeda di hati mereka masih memiliki keraguan.


Walaupun sebenarnya Riko sendiri tidak peduli, apakah mereka akan bersikap baik atau tidak padanya, itu sungguh bukan urusannya. Ia hanya tidak suka dengan keberadaan mereka, itu benar-benar mengganggu pikirannya.


Setiap hari ia hanya berinteraksi dengan Fuurin atau salah satu seniornya bernama Ran, awalnya memang agak canggung, tetapi lama kelamaan ia cukup terbiasa, jika ia ingin datang maka ia akan pergi ke sana dan jika tidak ia hanya ada di kelas ataupun bolos ke suatu tempat.


Beberapa hari yang lalu, guru mengatakan bahwa akan ada ulangan minggu depan, diharapkan agar siswa belajar dengan baik.


Mungkin itu adalah hal biasa, tetapi Riko sebenarnya berpikir keras untuk itu, sesekali ia juga ingin terlihat hebat agar bisa menginjak-injak para hatersnya.


Namun, masalahnya di sini ia tak bisa belajar sendiri, mengingat hari-hari yang sudah ia lewatkan sebelumnya hanya untuk bolos.


Fuurin mengajaknya untuk belajar bersama setelah pulang sekolah dan kegiatan klub berakhir, ia setuju saja walaupun agak bosan kalau harus belajar di rumah.


DING ... DONG ....


Bel istirahat berbunyi, seperti biasa mereka akan pergi ke kantin bersama. Tentu saja ia tak ingin ada orang yang ikut-ikutan untuk mengganggu makan siangnya bersama Fuurin.


Akhir-akhir ini Riko memang sudah mulai mengurangi aktifitas bolosnya, tetapi sikap sombonganya tentu tetap tidak berubah, ia juga selalu mengacaukan aktivitas setiap orang yang ingin berdekatan dengan temannya.


“Oii, Riko! kau kok marah-marah melulu kalau mereka bertanya padaku?” protes Fuurin.


“Mereka itu cuma ingin mempengaruhimu biar menjauh dariku dan ketika aku tak punya teman lagi, mereka akan sangat bahagia,” jelas Riko.


“Kau terlalu banyak berpikir tahu!”


“Di sekolah itu ada banyak jenis manusia, di antaranya ... tipe yang gak senang lihat orang bahagia atau senang lihat orang menderita, kedua, ada tipe yang cuma ikut-ikutan padahal gak tahu masalahnya apa, biasanya mereka sok-sokan ikut ngehujat lalu menggosip sana sini tanpa tau kebenarannya, ketiga, orang yang sudah tahu kebenarannya tapi sengaja membalikkan fakta agar ia di senangi, selain itu ada mereka yang sengaja merendahkan orang untuk menaikkan derajat mereka, itu sudah biasa terjadi di setiap tempat, kau jangan terlalu polos jika tak ingin dijadikan keset,” jelas Riko dengan emosi yang berapi-api.


“Oke deh, aku tahu pengalaman burukmu ... tapi lupakan saja itu, masih ada aku di sini lho!” balas Fuurin antusias.


“Kau ... apa kau bisa selamanya memegang kata-katamu?” tanya Riko ragu.


"Aku tak berjanji, tapi selama aku masih ada di dunia ini ... aku pasti akan selalu memegang janjiku,” jawab Fuurin dengan tegas.


“Baiklah, itu membantuku lebih dari cukup, kau memang yang terbaik, dan kita lihat saja ... suatu hari nanti akan aku buktikan dan membuat mereka memohon di kakiku,” balas Riko ambisius.


“Yosh! aku juga akan membantumu ... dan mengembalikan nama baikmu,” tambah Fuurin.


Di sepanjang perjalanan mereka membahas cukup banyak hal, tertawa dan saling memukul, itu adalah hal biasa bagi keduanya sampai akhirnya mereka berdua sampai di kelas.


Sampai di depan pintu ia agak terkejut, tampak seseorang sedang menunggunya di sana.


“Hei Riko! akhirnya kamu datang juga,” seru seorang siswi cantik yang bernama Lisa.


“Ahh ... kau ya, sudah lama menunggu?” tanya Riko agak canggung.


“Baru saja, waktu itu kamu bilang akan belajar bersama lagi kan?” balas Lisa bersemangat.


“Ehh .. iya-iya, tapi sekarang aku agak sibuk sih,” ucap Riko agak ragu sambil kembali melirik Fuurin.


“Masa iya sibuk terus sih, sekali-sekali ga ada waktu senggang kah?” tanya Lisa lagi.


“Bukannya begitu, aku sudah ada janji hari ini,” sahut Riko malas.


“Mmm ... oiya ini temanmu kan?”


“Ah iya, namaku Fuurin.”


“Aku Lisa, senang bertemu denganmu, boleh pinjam temanmu sebentar? aku lagi kerepotan nih, mungkin dia bisa membantuku,” ucap Lisa dengan penuh harap.


‘Apa maksud loe dengan pinjam sebentar, memangnya gue barang apaan?’ bhatin Riko kesal.


“Oh iya, silahkan! kalau memang lagi butuh bantuan, tidak masalah,” balas Fuurin singkat.


“Oke deh ... sebentar saja ya.”


“Siap!”


Dengan wajah yang berseri, Lisa menarik tangan Riko dan mengajaknya pergi. Sementara Fuurin masih berdiri di sana, tak lama berselang ia kembali dikejutkan oleh ocehan seseorang.


“Hmm ... sayang sekali pacarmu ditikung orang tuh.”


“Apaan sih jamur payung, kau selalu nongol di setiap kejadian apapun,” sahut Fuurin kesal.


“Jangan begitu dong! aku cuma prihatin saja melihatmu saat ini, suasana hatimu pasti sedang galau kan?” goda Juan dengan tatapan isengnya.


“Bukan urusanmu! orang itu ... aku merasa buruk terhadapnya,” ucap Fuurin tiba-tiba.


“Iya aku tahu kau itu sedang cemburu, hmm ... jujur banget nih orang,” balas Juan sambil terkekeh.


“Bukan begitu! aku tidak cemburu, aku hanya merasa orang itu sangat tidak baik bersama Riko,” sahut Fuurin mencoba meluruskan kesalahpahaman Juan.


“Hmm ... maka dari itu, aku tahu maksudmu.”


“Aku harus menyelidiki orang itu.”


“Iya tahu kok, perasaanmu ... oke, aku akan membantumu menyingkirkannya, kau mau kan ... membuat suatu kesepakatan denganku?” tanya Juan penuh maksud.


“Cepat! katakan dulu apa itu?” tanya Fuurin dengan serius.


Riko dan Lisa pergi ke perpustakaan, di sana banyak buku berserakan di mana-mana, ia sedikit terkejut dan tampak kebingungan.


‘Setan apa yang telah mengobrak-abrik perpustakaan sampai begini parahnya, hmm.’


“Hei! Lisa, kok bisa berantakan begini?” tanya Riko yang masih tercengang.


“Ehh ... itu tadi sebenarnya, teman sekelasku ingin memindahkan rak-rak buku ini agar tempat membaca tidak terlalu sempit dan ....”


“Sempit apanya, ini mah sudah lebih dari cukup,” potong Riko dengan nada agak kesal.


“Iya memang, tapi mereka mengambil kursi lain lagi untuk diletakkan di sini agar mereka bisa bergerombol nongkrong di sini,” jelas Lisa dengan tenang.


“Haahhh ....”


“Tapi sayang, ketika mereka mulai memindahkannya, eh ... raknya malah jatuh dan buku-buku jadi berserakan,” tambah Lisa.


“Lalu ....”


“Lalu, mereka memintaku untuk membereskannya, mereka bilang ada urusan mendadak jadi tidak bisa membantu,” balas Lisa dengan sedikit canggung.


“Hahh ... kau ini, kok mau aja dikesetin, biarin aja! nanti mereka juga yang dimarahi,” sahut Riko yang semakin kesal.


“Aku tidak bisa menentang, sayang sekali untuk saat ini aku masih tak bisa ....”


“Hmm ... kau ini benar-benar menyedihkan ya.”


Mengetahui hal itu, mau tidak mau Riko tetap membantunya, ia juga tak tega membiarkan gadis itu bekerja keras sendiri, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau membantunya belajar.


Dan karena hal itu Riko kembali melewatkan jam pelajarannya. Namun, walaupun demikian ia tetap masih bisa belajar di sana bersama Lisa.


Di sisi lain Fuurin merasa kesal, bisa-bisanya Riko bolos lagi padahal ia mengatakan bahwa ia akan mengubah kebiasaan buruknya itu, menyadari hal itu Juan kembali cekikikan melihat wajah kusut Fuurin.


‘Tunggu saja sampai istirahat nanti, akan aku protes dia habis-habisan, hmm... bagaimana bisa mengembalikkan nama baik jika kau masih saja membolos seperti berandalan, membantu sih membantu, tapi gak sampai bolos juga kali,’ protes Fuurin dalam hati.


Sebenarnya bukan masalah cemburu, ia hanya peduli dengan temannya dan selalu ingin yang terbaik untuknya, karena itu terkadang ia merasa jengkel saat temannya bersikap cuek pada dirinya sendiri, sementara ia sendiri sudah berjuang keras untuknya, bukankah ini seperti perjuangan yang tak ada artinya?


.


.


.


TBC