Roped Fate

Roped Fate
Ch.11 : Belajar



Aku selalu iri dengan orang-orang yang beruntung, mereka dengan mudahnya berdiri di atas tanpa butuh perjuangan yang besar, sedangkan aku ... berapa banyak pun berjuang masih tetap jadi orang biasa, aku tak mengerti, mengapa dengan mudahnya mereka bisa langsung jadi terkenal?


“Ketua OSIS?”


“Hai, kamu temannya nona Fuurin kan? kalau begitu, terima kasih sudah membantunya.”


“Ah iya ... sama-sama, kalian sepertinya cukup dekat ya ... hehehe.”


“Oh iya, kami memang sangat dekat.”


Jangan bilang kalau mereka ....


“Kaichouuu ... cepat kemari ada yang ingin aku beritahu, ini sangat penting.”


“Apa yang mau kau beritahu, katakan saja langsung.”


“Tidak bisa sekarang ... pertama kita usir dulu si jamur payung itu.”


“Jamur payung?”


“Oii, kau nona brengsek ikan remora ... jangan memanggilku dengan sebutan itu terus, aku punya nama kali!”


“Oke ... kalau begitu, siapa namamu junior manis?” tanya Andi.


“A-aku ... namaku Juan.”


“Kaichou ... kau suka sekali menggoda orang-orang, lihatlah dia jadi gugup begitu, kasihan ... dia taklah sekuat Riko.”


“Hahh ... apa maksudmu kampret!”


“Sudahlah kalian berdua, kita kembali ke topik utama, dan ... Juan, salam kenal ya! kau sudah tahu namaku bukan?”


“Tentu saja, senior Andi.”


“Baiklah, kalau begitu bisakah kau kembali dulu ke kelas, kami ada hal penting yang harus dibicarakan,” pinta Andi.


“Baiklah ... aku akan kembali, kalau begitu sampai jumpa lagi.”


“Oii ... si jamur Juan, tunggu sebentar!”


“Ada apa lagi sih! berisik sekali kau.”


“Ee ... cuma mau bilang terima kasih aja, kau sudah membantuku tadi, kapan-kapan aku akan mentraktirmu, oke!”


“Terserahlah, tapi rasanya agak tidak sopan jika perempuan mentraktir laki-laki, nanti bayar masing-masing sajalah.”


“Itu sih bukan traktir namanya, sudahlah! nanti kita semua makan bareng-bareng, sama Riko juga.”


“Terserah kau ... sekarang aku harus segera kembali, sampai jumpa lagi ya!”


Juan akhirnya pergi untuk kembali ke kelas, ia tampak masih agak kesal.


“Apaan sih! padahal dia hanya murid baru, sekarang sudah dekat dengan ketua OSIS, dia juga dekat dengan hiu legend sekolah ini dan siapa lagi besok, huhhh.”


Ia terus menggerutu kesal selama perjalannya. Ketika hendak melewati halaman sekolah yang juga kebetulan bersebrangan dengan tangga menuju lab. Fisika, Juan kembali terdiam.


Eh, bukankah dia itu ....


Setelah Juan benar-benar pergi, Fuurin mulai menceritakan semua kejadian aneh yang ia alami. Selain itu ia juga sedikit menambahkan tentang keberadaan Riko yang tiba-tiba menghilang.


Andi menanggapi keluh kesah Fuurin dengan cukup serius, tetapi tentang halnya Riko, sebenarnya itu tidak terlalu mengkhawatirkan.


Ia tahu betul Riko bukanlah orang yang selemah itu. Ini hanya kekhawatiran Fuurin yang berlebihan, ia pun kembali terkekeh. Riko itu bukanlah anak kecil yang harus selalu dituntun.


Selain itu ia adalah berandalan sekolah, tempat mana sih yang belum pernah ia kunjungi. Dia itu pembolos yang berkeliaran di mana-mana, mana mungkin bisa tersesat.


.


.


Riko duduk bersantai sembari memainkan ponselnya, ia ingin mencoba untuk belajar online sendiri, tetapi rasanya itu sangat membosankan. Ia kembali menyenderkan badannya pada tepi dinding di sana, tak lama kemudian seseorang menghampirinya


“Riko! kau di sini sendiri?”


“Iya, aku sedang malas belajar di kelas ... tadinya sih mau belajar online tapi bosan, materinya susah dimengerti.”


“Kalau begitu aku bantu kamu ya! kita belajar bersama.”


“Kau tidak masuk kelas? dan apa yang kau lakukan di sini, mengapa tiba-tiba kemari? jangan-jangan kau mau bolos lagi.”


“Aku bosan di kelas, jadi aku belajar di mana-mana, tadinya mau masuk ke lab. Fisika eh, ternyata ada kamu di sini.”


“Woahh ... memangnya guru-guru tidak menegurmu, kulihat kau sering bolos.”


“Tidak masalah selama aku bisa mengerjakan tugas dan ulangan dengan baik, mereka tidak akan bisa protes.”


“Tidak juga, aku hanya rajin belajar dan banyak berusaha, kau juga bisa lho! makanya kamu belajar aja sama aku, setiap hari juga boleh, bahkan sampai di rumahmu juga boleh, aku pasti membantumu.”


“Hahh ... tidak usah sampai segitunya juga, aku ini orang yang paling malas belajar, kalau kau memintaku untuk belajar seharian penuh, bisa stress aku.”


Perempuan ini benar-benar mengerikan, ya kali orang introvert seperti gue mau berlama-lamaan dengan orang lain.


“Baiklah, aku juga tidak memaksa kok! oke, kita mulai saja belajarnya ya.”


“Oke deh!”


Dia mulai mengajari Riko dan menjelaskan begitu banyak materi pelajaran dengan sangat rinci dan mudah dipahami oleh orang semacam Riko. Terlihat jelas anak dari kelas teladan memang beda, pikirnya.


Di samping mengajari Riko, ia juga ikut mengerjakan beberapa tugas. Riko sedikit kebingungan melihat tumpukan buku yang dibawanya, mengapa tugas sekolah bisa sebanyak itu?


Setelah ia memperhatikan lagi nama yang tertulis di cover buku, ia kembali terkejut, itu bukan buku tugas milik Lisa, bagaimana bisa?


“Oii Lisa, ini apa maksudnya ... apa kau mengerjakan tugas teman-temanmu dan kau bolos hanya untuk ini, padahal kau murid teladan kenapa bodoh sekali sih!”


“Hehh ... tidak masalah kok, selama mereka senang padaku.”


“Haaah ... apa-apaan kau ini, aneh sekali sih! untuk apa berjuang demi orang lain, mereka belum tentu mengingat kebaikanmu, kau lakukanlah yang terbaik hanya untuk dirimu sendiri.”


“Tentu saja aku melakukannya untuk diriku sendiri, kau tahu itu ....”


Auranya kembali berubah, Riko pun menghela napas panjang. Mengapa ia selalu terjebak dalam situasi seperti ini, dan ini sungguh melelahkan untuknya.


“Apaan sih kau, aku bukanlah orang yang pandai menyerap teka-teki kata, kau jadilah seperti biasa.”


“Yup ... aku pasti akan mengajarimu dengan baik.”


*gloomy*


Entah kenapa kata-katanya selalu berhasil membuat mood gue down.


“Oiya, ngomong-ngomong para guru tidakkah menyadarinya, bahwa semua tugas temanmu ternyata kau yang mengerjakannya?" tanya Riko lagi.


“Tentu saja tidak, aku selalu menyerahkan tugas mereka di luar jam pelajaran, atau ketika guru sedang tidak ada di kelas.”


“Tapi, apa mereka tidak menyadari tulisanmu dan temanmu jelas berbeda, lagipula kau tak hanya mengerjakan tugas satu orang saja tapi banyak, apa guru-guru tidak curiga melihat tugas para murid yang sama semua?”


“Tenang saja, aku bisa meniru tulisan mereka semua agar 99% identik.”


apa orang ini semacam monster?


“Begitukah, baguslah ... tapi kau jangan terlalu memaksakan diri ya.”


“Tenang saja, aku tidak sedang memaksakan diri.”


Mereka mulai melanjutkan pelajaran, Lisa tampak begitu bersemangat walaupun Riko terlihat sangat membosankan saat belajar, tetapi ia tetap sabar mengahadapi Riko.


Bel pun berbunyi, dan mereka mengakhiri pelajaran cukup sampai di sini, Lisa mulai membereskan buku-buku pelajaran tadi, Riko pun juga ikut membantunya.


“Oke ... pelajaran selesai! waktunya pulang ....”


“Baiklah, sekarang cukup sampai di sini dulu, dan besok ayo belajar bersama lagi.”


“Ehh ... tapi aku ga janji ya, karena terkadang aku ada urusan mendadak ... yahh intinya, aku tidak punya jadwal yang tetap, kau beraktivitas seperti biasa saja, jangan menungguku, oke!”


“Baiklah, sampai jumpa besok ya! sekarang aku akan membawakan tugas-tugas ini dulu.”


“Ah, benar juga! aku baru ingat ... temanmu yang di kantin tadi juga memintamu mengerjakan tugasnya kan, lalu sekarang membawakannya pada mereka, hmm ... kejam sekali, padahal dia mengatakan kau temannya.”


“Oh, maksudmu si jelek tadi, yah dia memang temanku karena itulah dia selalu menyuruhku, sudah ya! aku pergi dulu, bye ... bye ....”


Pfttt ... dia bilang si jelek? pantas saja waktu itu ia tiba-tiba tertawa.


Lisa meninggalkan tempat itu lebih dulu, sementara Riko masih bersantai saja. Semua pun terasa lebih hening, tetapi setelah berdiri cukup lama di sana, rasanya seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya.


Riko kembali waspada, ia masih khawatir dan terus teringat tentang iblis yang sebelumnya pernah menangkapnya.


Akhirnya Riko memberanikan diri untuk memastikan apa yang terus membuatnya penasaran dari tadi. Kemudian ia berjalan mendekati dinding yang tak jauh dari tempat belajar tadi. Ia terus mendekat dan semakin dekat, ia begitu deg-degan ketika mencoba melihat apa yang ada dibalik dinding itu.


Ketika ia berhasil melihatnya dengan jelas, suara teriakan pun kembali bergema.


.


.


.


TBC