Roped Fate

Roped Fate
Ch.21 : Di Ruang UKS



Riko hanya beristirahat tenang di UKS sembari menunggu seragamnya kering. Bel masuk kelas berbunyi, hari ini ia benar-benar telah melewatkan ulangan.


Setelah absent kelas hari ini, Andi datang ke kelas 8D untuk menyampaikan keadaan Riko yang sedang tidak enak badan, sekaligus ia juga meminta izin untuk juniornya itu.


Fuurin agak khawatir dengan keadaan Riko, tentu saja ia memang orang yang seperti itu, ia pun memutuskan untuk menjenguknya setelah jam istirahat nanti.


Riko membahas cukup banyak hal pada senior Rein, tampaknya ia cukup nyaman berbicara dengannya. Namun, ada beberapa hal yang masih membuatnya penasaran.


“Senior, aku masih bingung, kau memanggil ketua dengan sebutan Jiu, apa itu marganya atau apa? rasanya terdengar agak aneh.”


“Bukan, itu panggilan khusus untuknya sebagai kelompok teman kami waktu masih kecil.”


“Oh ... jadi senior Rein dan ketua sudah berteman sejak lama ya?”


“Um ....”


TOK ... TOK ... TOK ....


Terdengar suara ketukan pintu di luar, Rein mempersilahkan mereka yang di luar untuk membuka pintu sendiri.


“Siapapun di luar, silahkan masuk saja! pintu tidak dikunci.”


“Oh ... oke!”


Seseorang datang untuk melihat keadaan Riko, ia langsung masuk ke dalam lalu memberi salam kepada senior yang sedang merawat Riko di sana.


“Selamat pagi, aku teman sekelas Riko, aku datang hanya karena sedikit penasaran, tumben Riko istirahat di UKS,” sapa Juan dengan ramah kepada seniornya.


“Hahh ... lagi males aja, ngomong-ngomong si Fuurin ke mana? tumben gak cariin gue,” tanya Riko.


“Tenang saja, sebentar lagi dia akan datang, dia masih belikanmu makanan dulu di kantin,” balas Juan singkat.


“Oh, begitu ya.”


Tak lama kemudian, Fuurin akhirnya muncul sembari membawakan bubur ayam di tangannya. Ia masuk dengan langkah hati-hati, maklum buburnya masih panas. Fuurin memperhatikan sekeliling Riko, rupanya senior klub juga ada di sana.


“Hai, aku Fuurin, senang bertemu denganmu.”


“Aku Rein, senang juga bertemu denganmu”


Hari ini Fuurin agak sedikit berbeda dari biasanya, Riko pun sempat berpikir Fuurin akan menjadi heboh setelah ia datang. Begitu juga dengan Juan, ia selalu dibuat penasaran.


‘Tumben ikan remora agak tenang dan formal, jadi penasaran nih,’ pikir Juan.


“Ee ... terima kasih sudah menjaga Riko, aku tak tahu kalau dia sedang sakit,” ucap Fuurin agak canggung.


“Tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja! aku hanya kebetulan lewat saja,” jawab Rein dengan tenang.


“Ahh ... aku baru ingat kau yang waktu itu di depan klub bukan?” tanya Juan.


“Iya, kamu siswa yang menunggu di luar itu ya?”


“Iya, namaku Juan, salam kenal ya.”


“Oh iya, aku Rein ... salam kenal juga.”


Riko hanya bersantai sembari menikmati bubur ayam yang dibawakan Fuurin.


“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu,” ucap Rein.


“Oke, terima kasih sudah menolongku tadi,” balas Riko ramah .


“Tidak masalah, sampai jumpa lagi adik kesayangan Jiu, ahahaha...,” goda Rein sebelum melangkah keluar.


“Haaahh?”


Sebelum Rein benar-benar meninggalkan UKS, Riko kembali teringat dan memanggilnya saat itu.


“Eh senior, aku baru ingat ... ini jaketmu!” seru Riko.


“Pakai saja dulu, seragammu belum kering, tak mungkin kan kau telanjang di depan teman perempuanmu,” sindir Rein dengan tegas.


“Oke ... aku mengerti, aku pakai dulu sampai seragamku kering, nanti akan kukembalikan lagi,” jawab Riko canggung dan merasa malu.


“Tidak usah, kau simpan saja untukmu.”


“Baiklah, terima kasih.”


“Ingat! jangan sampai kau lupakan apa yang aku katakan tadi, kau mengerti!” ucap Rein mengingatkan Riko lagi


“Ah iya ....”


Fuurin menatap Rein intense, demikian juga dengan Rein, ia menatap Fuurin cukup lama dengan penuh maksud. Juan kembali menjadi orang ketiga dalam hal ini, mengingat Riko yang hanya selalu menomor satukan makanan daripada keadaan. Ia kembali tersenyum ramah sebelum akhirnya meninggalkan ruang UKS.


Masih belum jauh dari sana, tiba-tiba seseorang tak sengaja menabraknya.


“Hei, apa yang kau lakukan? kenapa begitu terburu-buru,” ucap Rein agak kesal.


“Maaf ... aku tidak sengaja, aku ingin menjenguk temanku di sana,” balas seorang siswi yang tampak menundukkan kepalanya.


“Oh, jadi kau ingin menjenguk Riko ya? silahkan di sana ia baik-baik saja, temannya yang lain juga sudah di sana,” balas Rein lebih santai.


Orang itu mulai mengangkat wajahnya dan menatap Rein.


“Terima kasih, lain kali aku akan lebih berhati-hati.”


Rein kembali tersenyum, tetapi sebelum orang itu sempat pergi, tak lupa ia menanyakan identitasnya.


“Aku seniormu, boleh tahu nama dan kelasmu?” tanya Rein penasaran.


“Aku Lisa, dari kelas 8A.”


“Oke, sampai jumpa lagi Lisa, namaku Rein.”


Lisa kembali mempercepat langkahnya menuju ruang UKS, sementara dari kejauhan Rein dengan tenang memperhatikannya kembali.


“Orang itu ... benarkah, takdir sedang berpihak padaku?” gumamnya.


Sampai UKS, ia langsung berlari ke arah Riko dengan panik.


“Riko, kau baik-baik saja kan? ada yang sakit?”


‘Tchh ... orang ini lagi, kenapa sih suka sekali mengacaukan kedamaian orang?’


Juan kembali muak dengan keberadaan orang itu, kemudian ia memperhatikan wajah Fuurin sejenak, tampaknya Fuurin juga merasa tidak senang dengan kehadirannya.


Riko menghela napas, dan mencoba untuk mendinginkan suasana.


“Aku baik-baik saja, tak perlu ada yang khawatir, aku tidak sakit ... hanya saja pakaianku yang tak sengaja kena basah, jadi sambil menunggu seragam kering, aku bersantai dulu di sini, lagi pula bolos adalah kebiasaanku sehari-hari, kalian tak perlu berlebihan, lihatlah ... aku baik-baik saja kan! sebaiknya kalian semua keluar saja, aku mau istirahat dulu,” ucap Riko agak kesal.


Mereka terdiam, dan perlahan mengambil langkah untuk mundur, Riko sedikit mengernyit, ia agak khawatir kalau ternyata usahanya untuk mendinginkan suasana malah berakhir jadi memanaskan suasana.


“Ee ... baiklah kalau kau ingin beristirahat, kami permisi dulu, nanti jika moodmu sudah membaik, kembalilah ke kelas” ucap Fuurin lebih tenang.


“Baiklah, aku cuma ingin memastikan keadaanmu saja, kalau begitu aku permisi dulu,” tambah Lisa.


“Oke, bro ... sampai jumpa di kelas, tenang saja kau tak perlu merasa tak enak hati, aku mengerti dirimu lebih dari siapapun,” ucap Juan dengan yakin.


KRIK ... KRIK ... KRIK ....


“Aku lebih mengerti,” gerutu Fuurin.


“Aku jauh lebih mengerti,” sahut Lisa dengan intonasi yang kurang menyenangkan.


“Hmm ... oke nona-nona, sebaiknya kita keluar saja, dia ingin segera beristirahat,” sela Juan.


Tanpa berkomentar lagi, Lisa langsung pergi keluar dengan ekspresi wajah yang tidak menyenangkan. Fuurin kembali down, ia juga tak ingin mengatakan apapun, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Karena itu, ia juga segera keluar.


“Wah ... wah ... sepertinya cewek-cewek sedang kecewa padamu,” sindir Juan.


“Haah ... salahku apa coba, mereka egois sekali,” protes Riko yang semakin kesal.


“Tenang saja, nanti juga mereka akan kembali normal,” balas Juan mencoba menenangkan mood Riko.


“Oke deh, kau jamur kadang-kadang berguna juga.”


“Haah ... apaan sih! hmm ... ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa bertemu dengan senior Rein?” tanya Juan penasaran.


Meskipun ucapan Riko selalu menyakitkan telinga, Juan tak begitu menanggapinya dengan serius karena itu memang sifat alaminya, daripada itu Juan malah lebih tertarik mencari tahu tentang keseharian dan kegiatan yang dilakukan Riko, ia selalu penasaran dengan hal-hal ganjil yang terjadi dan berkaitan dengan Riko.


“Oh ... itu, tadi pagi aku ....”


Riko kembali teringat pada perkataan Rein bahwa ia tak boleh menceritakan kejadian tadi pagi kepada siapapun.


“Hei, kenapa tadi pagi?” tanya Juan sedikit kebingungan.


“Bukan apa-apa, aku hanya kebetulan bertemu dia di jalan, waktu itu pakaianku tersiram air hujan karena plaffon atap tiba-tiba jebol waktu aku lewat, hmm,” jelas Riko dengan muka masamnya.


“Pftt ... apa hidupmu hanya untuk mendapatkan kesialan saja, hhhh...,” goda Juan lagi.


“Diam! kau mulai lagi jamur.”


“Hmm ... oke deh! cuma bercanda, kalau begitu beristirahatlah yang tenang, aku akan kembali ke kelas.”


“Oke.”


Juan pun hendak mulai berangkat keluar, tetapi belum sempat melangkahkan kakinya, di depan pintu sudah ada ketua Andi yang berdiri di sana, ia jadi agak canggung ketika melihat tatapan sinis Andi.


“Eh ... ketua OSIS? sudah lama berdiri di sana? hehehe,” sapa Juan canggung.


“Kau kembali saja ... jangan terlalu mencampuri urusan orang!” balasnya acuh.


Riko yang mendengar ocehan ketuanya pun mulai mendengus kesal.


“Oii ... ketua iblis, kau tak punya hak untuk mengatur orang lain, lagian kau ada masalah apa sih sama si jamur, kok kayaknya rumit banget hubungan kalian,” ucap Riko yang sedikit geregetan.


“Tidak ada sih, mungkin dia cuma cemburu saja,” sahut Juan iseng.


Aura membunuh Andi kembali berkobar, Juan memang sengaja untuk sekedar menggodanya, tentunya mereka berdua pasti memiliki suatu hal yang sedang disembunyikan.


“Ahahaha ... sampai jumpa lagi ya,” ucap Juan sebelum pergi dari tempat itu.


“Hmm ... sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengannya, kau tahu ... dia hanya sedang memanfaatkanmu saja,” ucap Andi dingin.


“Bukan urusanmu, lagi pula aku tak pernah membuat kesepakatan apapun padanya, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan,” balas Riko dengan acuh.


“Huhh ... kau memang bodoh, kalau sudah begini ... aku jadi tak bisa mengabaikanmu lagi.”


Juan pergi untuk kembali ke kelas, tetapi sepanjang perjalanannya ia masih terus memikirkan reaksi Riko tadi.


‘Apa dia benar-benar hanya kebetulan bertemu senior Rein? tapi, dari ekspresi dan reaksinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan, selain itu ... aku masih ingat, sebelum senior Rein pergi, ia sempat berpesan dan mengingatkan sesuatu pada Riko.’


Ia masih selalu penasaran, banyak hal yang telah ia selidiki, tetapi masih belum menemukan titik terang.


‘Tapi, sudahlah ... teka-teki ini masih berjalan, cepat atau lambat aku akan memecahkannya.’


.


.


.


TBC