Roped Fate

Roped Fate
Ch.51 : Langit Malam



Dalam malam yang tenang dan dingin, kedua ibu di sana berjalan bersama sembari membawa makanan untuk disajikan bersama keluarga.


Riko kecil pun langsung bersemangat ketika melihat ibunya sudah kembali.


Kemudian makanan diletakkan di atas meja kecil yang sengaja mereka siapkan sebelumnya.


“Wah ... ibu sudah kembali!” seru Riko bersemangat.


“Ibu dan tante Rima sudah kembali, baguslah,” tambah Rion sambil tersenyum singkat melihat ke arah kedua ibu di sana.


“Wah, maaf ya ... kalian pasti sudah lama menunggu,” ucap Rima lembut.


“Tapi tenang saja ... kami sudah memasakkan sesuatu yang spesial untuk kalian, hehe,” timpal Diana.


“Wah ... hore! makan malam ...,” seru Riko dengan bersemangat.


“Hm, tapi sebelum itu ... ayahmu ke mana nak?” tanya ibunya.


“Tadi dipanggil temannya, sepertinya ada urusan penting bu,” jawab Riko.


“Oh, kalau begitu kita makan berempat saja dulu, sepertinya ayahmu masih lama kembali, jadi nanti ibu buatkan lagi untuknya,” ucap ibunya dengan senyuman lembut.


“Um, baik bu!”


Akhirnya mereka makan malam hanya berempat saja. Riko terlihat begitu ceria dan bersemangat ketika sedang menikmati makan malamnya.


“Um, masakan ibu memang yang terbaik dan paling enak di dunia!” seru Riko masih dengan sisa makanan di mulutnya.


“Haha ... kamu selesaikan makanannya dulu, jangan sambil ngobrol nanti tersedak lho!” balas Rima mencoba menasehati Riko.


“Enggak lah, aku sudah pro tau, hahaha.”


“Ya sudah, kalau begitu makanlah yang cukup, biar kamu tetap sehat dan cepat besar ya,” tambah Rima.


“Siap ... aku makan yang banyak biar makin kuat, masakan ibu kan enak dan bergizi,” sahut Riko dengan bangga.


“Ini juga dibantu oleh tante Diana lho! kamu juga perlu berterima kasih dengannya,” ucap ibunya.


Riko tertahan dan hanya terdiam dengan memasang wajah cemberut sembari menggosok kedua tangannya, ia tampak agak gugup karena masih belum terbiasa dengan orang asing.


“Hei nak, kenapa diam saja? ayo ... tante Diana memasakkannya dengan senang hati lho! masak kamu diam saja,” bujuk ibunya.


Riko kecil masih terdiam saja. Ia ingin mengatakannya, tetapi tak menemukan kata yang tepat untuk memulainya.


Melihat hal itu Diana juga tak ingin begitu mempermasalahkannya, wajar saja Riko masih anak-anak dan polos, jadi ia hanya memakluminya.


“Sudahlah Rima, tidak masalah ... dia juga masih anak-anak, jadi jangan terlalu dipaksa,” sela Diana.


“Baiklah, kalau begitu harap dimaklumi ya, dia masih malu-malu rupanya,” jawab Rima.


Akhirnya mereka kembali melanjutkan kegiatan makan malam dengan tenang. Sebenarnya Riko cukup senang, tetapi ia hanya canggung untuk berbaur dengan mereka. Mungkin ia perlu beberapa waktu untuk bisa terbiasa.


Beberapa waktu berlalu, setelah menyelesaikan makan malam. Para ibu pun langsung membereskan dan membawa piring serta sisa makanan ke belakang, sementara Riko dan Rion meminta izin untuk pergi ke suatu tempat.


Tak jauh dari perkemahan, Rion mengajak Riko untuk melihat pemandangan langit di tempat yang lebih terbuka. Pada pinggiran hutan sekaligus dataran tinggi, di sana mereka bisa melihat dengan jelas pemandangan bintang di langit.


“Wahh ... indah sekali! ini pertama kali aku bisa melihat langit dengan sangat jelas, aku tak menyangka ternyata seluas inikah langit itu,” ucap Riko dengan mata berbinar-binar sambil menatap langit.


“Aku sering melihatnya dari tempat ini, dan dulu aku selalu melihatnya bersama ayah,” sahut Rion.


“Oh, dan sekarang kau masih tetap tak bosan untuk datang ke tempat ini? tidakkah itu akan mengingatkanmu pada hal yang menyedihkan?” tanya Riko


“Tidak perlu sampai seperti itu, kalau kau mengaitkan semuanya pada kesedihan, lalu bisakah kau menghindari semua hal yang berkaitan dengan hal itu?” balas Rion tenang.


“Apa maksudnya itu?” tanya Riko kebingungan.


“Sudahlah, daripada itu ... coba kau lihat kumpulan bintang yang itu,” pinta Rion sambil menunjuk ke arah langit di sana.


“Iya, kenapa dengan bintangnya?” tanya Riko sedikit kebingungan.


“Itu adalah rasi Orion, ayahku sangat gemar mengamatinya, terkadang dulu ayah juga suka membawa teropong ke sini,” jelas Rion.


“Oh, jadi ... apa itu juga menjadi alasan kenapa kau diberi nama Rion?” tanya Riko lagi.


“Benar, saat sebelum aku lahir ... ayah sempat melihat hujan meteor di sekitaran rasi Orion waktu itu,” terang Rion tenang.


“Terima kasih.”


“Eh, kenapa kau mengucapkan terima kasih, aku sudah melakukan apa untukmu?” tanya Riko sedikit bingung.


“Bukankah itu hal yang biasa, kau memuji namaku tadi, jadi wajar saja aku mengatakannya,” jawab Rion dengan sedikit heran.


“Hanya memuji saja apa perlu terima kasih juga? tapi, aku tak memberimu apapun lho!”


“Hmm ... kau ini orang yang anti berterima kasih yah, padahal itu adalah hal biasa dilakukan.”


“Apakah aku harus berterima kasih pada setiap hal?” tanya Riko lagi.


“Tentu saja tidak, sudahlah ... kau masih kecil jadi belum bisa membedakannya dengan benar, hanya saja kau jangan terlalu gengsi juga untuk mengucapkan hal penting itu,” jawab Rion santai.


“Emm ... harus yah? tapi kenapa itu sangat penting untukmu?” tanya Riko semakin penasaran.


“Di dunia ini ada beberapa kata yang jangan sampai kau lupa untuk mengucapkannya, salah satunya adalah 'terima kasih',” jawab Rion.


“Kenapa memangnya?”


“Jika tak kau ucapakan sekarang, mungkin kau akan menyesal suatu hari nanti, karena kau tak lagi punya kesempatan kedua untuk mengatakannya,” jelas Rion sambil tersenyum dingin.


“Arghh ... aku tak mengerti, yang kutahu hanya ketika aku ada mood dan sempat saja, jika itu membuatku senang aku pasti berterima kasih,” balas Riko.


“Yah ... kau masih polos sih, jadi abaikan saja, tapi tetap saja ... kau jangan sampai lupakan kata-kataku tadi, karena berhutang terima kasih itu juga bisa menyakitkan saat kau tak punya kesempatan untuk membayarnya,” tambah Rion lagi.


“Oke deh, aku simpan dulu kata-katamu ... kalau sudah besar nanti, semoga saja saat itu aku sudah bisa mengerti,” jawab Riko malas.


Tak lama berselang setelah itu, terlihat hujan meteor yang melintasi langit malam yang sangat jernih. Riko kecil terlihat sangat gembira, ia memandang dengan lekat hujan meteor tersebut tanpa memikirkan hal apapun lagi. Sementara Rion hanya tersenyum biasa ketika melihat hal yang yang ia anggap itu biasa.


“Wahh ... indahnya! ini pertama kali aku melihat hujan meteor,” ucap Riko begitu bersemangat.


“Baguslah kau bisa melihatnya di tempat terbaik untuk pengamatan,” timpal Rion sembari tersenyum tipis.


“Kalau begitu, terima kasih Tuhan! ini adalah hadiah terindah malam ini ...,” teriak Riko sembari menengadah ke langit.


“Tidak perlu terburu-buru mengatakan itu, malam ini belum berakhir, bisa saja ada hal yang lebih besar akan terjadi setelahnya,”


“Kalau begitu, aku akan mengulanginya lagi nanti.”


“Yah, terserah kau saja ....”


Mereka pun kembali fokus untuk mengamati fenomana kosmik malam ini, dalam keindahan tersebut tampak samar-samar cahaya ungu yang melintas di sekitarnya.


Rion tersadar dan mengambil posisi waspada, ia juga menarik Riko kecil agar mendekat ke tempatnya.


“Waspadalah! ada sesuatu yang tidak beres, kemungkinan itu adalah hal yang berbahaya,” ucap Rion sambil terus memperhatikan sekitarnya.


“Hei, apa yang terjadi? ibu dan ayah ... di mana mereka? aku takut ...,” rengek Riko sembari bersembunyi di belakang Rion.


“Kau jangan panik dulu, tetaplah waspada! jika sesuatu datang ... kita harus lari ke arah yang berlawanan,” pinta Rion yang terus waspada.


“Tapi aku mau pergi ke tempat ibu dan ayah,” rengek Riko lagi sambil berusaha menahan tangisannya.


“Ya sudah, aku akan membawamu kembali ke sana, tapi kita juga jangan gegabah ... kalau sudah terasa aman, barulah kita akan perlahan menyelinap pergi,” bisik Rion masih dengan tatapan yang tajam.


‘Aku harusnya disebut orang bodoh yang berusaha tetap datang mengantar nyawa, dilihat pun harusnya sudah mengerti bahwa cahaya itu berasal dari perkemahan, jika tetap pergi, apa yang bisa aku lakukan di sana? aku tak bisa bertarung ataupun melakukan hal lainnya, tapi anak ini ... aku juga tak bisa mengabaikannya begitu saja,’ pikir Rion bimbang.


Akhirnya Rion mau membantu mengantarkan Riko untuk kembali ke perkemahan. Mereka menyelinap dan bersembunyi dari semak-semak ke semak lainnya.


Sampai tepat di depan perkemahannya, mereka melihat kilatan cahaya yang sangat besar. Api ungu berkobar di mana-mana, kekacauan, hiruk pikuk, dan keputusasaan. Hal itu benar-benar tak bisa diterima oleh akal sehatnya.


Ia tampak ketakutan sekaligus tak percaya. Menyadari hal itu, Rion seketika langsung menutup mata dan telinga Riko.


“Kekacauan ini belum bisa diterima otakmu, jadi kau tak perlu melihatnya ... cukup diam saja di sini sampai semua membaik dan sampai bisa menemukan orang tua kita masing-masing, tapi kau jangan berani sesekali berteriak, karena itu adalah sinyal pengantar nyawa,” bisik Rion dengan serius.


.


.


.


TBC