
Sepulang sekolah, Juan langsung pergi ke ruang klub exorcist untuk menunggu mereka di sana. Menunggu itu memang hal yang menyebalkan, entah harus berapa lama ia menunggu di luar sampai kedua orang itu muncul.
Ia berdiri sembari bersandar di dinding luar klub, tanpa disadari seseorang datang menghampirinya.
“Hei ... apa yang kau lakukan di sini? kenapa tidak masuk ke dalam?” tanya seorang siswa yang tampak asing di sekolahnya.
“Ah tidak ... aku sedang menunggu teman di sini,” jawab Juan ramah.
“Oh ... kalau begitu tunggulah, sebentar lagi temanmu akan datang,” balasnya dengan santun.
“Iya ... haha.”
Orang itu kemudian masuk ke dalam tanpa permisi dan mengetuk pintu terlebih dahulu, padahal Juan yakin bahwa sebelumnya pintu telah terkunci tapi bagaimana bisa orang itu membukanya begitu saja.
‘Apa mungkin ketua sudah membukanya?’ pikirnya.
Namun, ia masih penasaran, sepertinya ia belum pernah melihat orang itu di klub sebelumnya.
‘Apa dia anggota baru? ah tidak ... sepertinya orang itu sudah terbiasa dengan klub ini, selain itu masih banyak kejanggalan yang kulihat padanya, sebenarnya ini klub macam apaan sih? kenapa semuanya menjadi aneh dan seperti tak masuk akal begini?'
Juan masih terus memikirkan hal itu, tak lama kemudian, dua orang yang ditunggu akhirnya keluar juga.
“Juan! sudah lama menunggu?” tanya Fuurin polos.
“Iya, sampai lumutan,” jawab Juan acuh.
“Salah sendiri, kenapa tak masuk ke dalam?” sahut Riko malas.
“Hiuku ... kau tahu! ketuamu itu tak mengizinkanku masuk ke dalam,” jawab Juan agak kesal.
“Oh, kau sebenarnya ada masalah apa sih sama si empat mata, kok kayaknya runyam banget urusannya?” tanya Riko penasaran.
“Bukan apa-apa sih ... kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang,” balas Juan singkat tanpa memberi penjelasan.
“Ayo!”
Mereka berjalan bersama sampai di depan gerbang sekolah, seperti biasa Juan akan dijemput sopirnya. Tujuan hari ini, mereka akan pergi ke rumah Riko untuk belajar bersama.
Di dalam mobil, sepanjang perjalanan mereka hanya dipenuhi oleh ocehan Fuurin dan Riko, sementara Juan hanya melihat ke sisi jendela mobil sembari memikirkan orang tadi di klub exorcist.
‘Tak mungkin kan, jika itu hanya kebetulan saja?’
Ia kembali teringat untuk menanyakan hal tadi pada mereka berdua.
“Oiya, aku baru ingat ... orang yang masuk ke klub tadi, itu siapa ya?” tanya Juan penasaran.
“Oh, yang itu ... aku tak tahu sih,” jawab Fuurin polos.
“Haah ... tidak tahu! kau ngapain aja sih di sana? masa gak tahu,” protes Juan.
“Berisik kalian berdua, sepertinya dia itu salah satu anggota lama klub,” sela Riko.
“Tadi ... apa dia menyuruhmu keluar?” tanya Juan lagi.
“Tidak, bukan begitu ... tapi si rubah yang meminta agar latihan hari ini cukup sampai di situ saja,” jawab Riko.
“Begitukah ... aku mengerti.”
Jadi memang benar orang itu adalah anggota klub, dan ia juga sudah menduga bahwa ketua akan mencukupkan latihan waktu itu, karena itu ia berkata seperti itu padaku? hmm ... sudahlah! tapi aku hanya heran saja, kenapa aku sama sekali belum pernah melihat orang itu? sepertinya dia orang yang cukup penting.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai juga. Riko mengajak mereka masuk ke dalam, termasuk sopirnya juga. Tidak mungkin bukan, jika ia harus menunggu di mobil sampai karatan.
Bibi Riko menyambut mereka dengan baik, lalu kembali ke dapur untuk menyiapkkan minuman. Tanpa menyadari keberadaan teman-teman Riko di sana, secara tak sengaja adiknya lewat begitu saja hanya dengan mengenakan pakaian minim.
Ia pun langsung terlonjak dan merasa malu, Riko hanya terkekeh dan adiknya langsung meluncur ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
“Awas kau kakak sialan, gue bakar nanti semua koleksi superheromu termasuk figurenya juga, arghhh ...,” teriak adiknya.
“Dasar adik durhaka, awas saja kalau berani kau,” ancam Riko.
“Ahahaha ... kalian kakak beradik lucu sekali, sepertinya hubungan kalian sangat menyenangkan,” ucap Juan sedikit getir.
“Berisik! jamur payung ... btw, apa kau punya saudara?” tanya Riko tiba-tiba.
“Oh, ada! aku punya kakak laki-laki, tapi kami tidak tinggal bersama.”
“Hnn ....”
Riko memperhatikan sikap Juan yang tadinya jamur tiba-tiba suram sembari mengepal tangannya, auranya juga cukup tidak baik. Ia pun jadi sedikit penasaran.
‘Memang kakaknya kenapa?’ pikir Riko.
Tak ingin terlalu lama membiarkan udara bersih di rumahnya tercemari udara berpolusi dari Juan, ia pun mencoba untuk sedikit menghiburnya.
“Kau tahu, aku dan adikku bukanlah saudara kandung, dia adik sepupuku, walaupun dia selalu menyebalkan, tapi aku tetap menyayanginya seperti saudara kandung,” ucap Riko yang mencoba sedikit menghiburnya.
Riko pun datang ke tempat di mana Juan sedang duduk, ia berdiri di depannya, lalu menepuk-nepuk pundak Juan.
“Kau tenang saja, selama kakakmu belum kembali ... jika kau merasa kesepian, kau bisa menganggapku sebagai saudaramu, kau bisa datang ke rumahku kapan saja kau mau, oke!”
Riko tersenyum tulus sembari mengacak-acak rambut Juan.
“Pftttt ... actingmu norak sekali kakak,” ucap adiknya yang tiba-tiba muncul di sana.
Wajah Riko pun memerah terasa seperti terbakar saking malunya, biasanya ia adalah orang yang paling gengsi dalam hal itu.
“Diam kau bocah siluman!” bentak Riko kesal.
“Hei, Riko ... sejak kapan kamu jadi badut? pftt ....” tambah Fuurin.
“Kau juga jangan ikut-ikutan dong, kampret!”
“Ahahahaha ....”
Wajah Riko kembali berubah ke ilustrasi hitam biru bergaris, ia jadi semakin jengkel dengan tawa dua orang itu yang semakin menjadi-jadi.
“Pfttt ... kau bilang apaan sih? apa tadi kepalamu sempat terbentur sesuatu?” ejek Tian lagi.
“Gue kubur lu hidup-hidup, adik durhaka! arghhh ....”
“Hahahahaaa ....”
Mereka pun malah jadi perang saling lempar. Namun, di sisi lain Juan merasa sedikit terhibur olehnya.
‘Benar juga, sebaiknya aku tak perlu begitu memikirkan orang itu, untuk sekarang aku harus fokus pada urusanku saat ini,’ tegas Juan dalam hati.
Juan mulai bangkit dan datang ke tempat di mana Riko sedang berdiri saat ini, ia meraih lalu mendekapnya.
“Uwaaahhh ... kau ngapain, lepaskan gue! kok malah jadi baper sih,” teriak Riko.
“Kamu terlihat lucu, lebih cocok jadi adikku saja ya!” seru Juan dengan wajah yang berseri.
“Oii-oii ... sadar bro! kayak bocah aja lu,” balas Riko sambil berusaha menyingkirkan Juan dari hadapannya.
“Kamu juga ke sini! adiknya Riko,” pinta Juan.
Dengan langkah ragu Tian datang ke sana, ia masih agak bingung, tetapi tetap berusaha bersikap normal. Tak lama kemudian ia kembali berteriak karena Juan juga malah ikut memeluknya.
“Jika kau adiknya Riko, berarti kau juga adikku!” seru Juan bersemangat.
“Aaaaa ... kak Riko temanmu ini kenapa sih?” teriak Tian kebingungan.
“Ahahaha ... terima kasih ya!” balas Juan senang.
Tak berselang lama saat itu Tian pun memikirkan sesuatu yang lebih baik daripada hanya dianggap menjadi adiknya.
“Ah, tidak! aku tak mau jadi adikmu,” ucap Tian tiba-tiba.
“Eh, kenapa? hmm ... kejam sekali adiknya Riko,” balas Juan yang mulai crybaby.
“Namaku Tian, aku tak mau jadi adikmu karena suatu hari nanti di masa depan mungkin aku akan memakai nama keluargamu,” ucap Tian dengan percaya diri.
Haaaahhh .....
KRIK ... KRIK ... KRIK ....
“Bocah sialan, masih bau kencur sudah membahas masa depan, nanti gue adukan lu ke paman,” ancam Riko dengan atmosfer berapi-api.
“Ahahaha ... siapa takut.”
Mereka memang selalu ribut-ribut seperti ini, tetapi setelah itu mereka akan akur kembali, melihat hal itu Fuurin kembali tersenyum damai.
Suasana sudah lebih membaik saat ini, Bibi juga sudah siap untuk menyajikan minuman dan beberapa kue untuk teman-teman Riko. Akhirnya proses belajar kelompok bisa dimulai juga.
Dua orang yang sedang bersama Riko memang berada pada level yang berbeda darinya karena itu ia selalu tertinggal, memang belajar bersama orang yang pandai akan menjadi lebih mudah. Namun, jika ia sendiri jadi yang paling bodoh rasanya memang agak menyebalkan.
Sebenarnya Riko tidaklah sebodoh itu, ia hanya terlalu banyak melewatkan pelajaran selama ia membolos.
Namun, selain itu kemampuan dua orang yang sedang belajar bersamanya juga tak bisa diremehkan, yang membuatnya lebih heran adalah tentang intelligence Juan yang tidak biasa, di kelas ia memang terlihat biasa saja, walau prestasinya lumayan tapi ia hanya suka bermalas-malasan saja.
Akan tetapi Juan yang sebenarnya adalah seorang jenius yang luar biasa, tetapi malas belajar. Namun, ketika ia benar-benar serius mungkin kemampuannya akan setara dengan orang-orang dari kelas A.
Selama proses belajar berlangsung, Fuurin teringat kembali untuk membahas tentang hal sebelumnya di sekolah.
“Riko, orang itu ... sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengannya,” ucap Fuurin tiba-tiba.
“Maksudmu Lisa?”
“Iya, siapa lagi dong!”
“Ehm ... sepertinya ada yang cemburu nih,” sela Juan.
“Bukan begitu, jamur payung mah mana ngerti, waktu itu dia ....”
“Ohh ... dia itu orang yang tak sengaja kau tabrak sebelumnya kan?” tanya Juan.
“Iya, memang dia orangnya,” jawab Fuurin agak murung.
“Kau, menabraknya?” tanya Riko penasaran.
“Iya, waktu itu aku sedang buru-buru mencarimu, eh ... gak sengaja nabrak dia,” jelas Fuurin.
“Lalu?”
“Tidak ada apa-apa sih, dia hanya pergi setelah memperingatiku untuk berhati-hati,” jelas Fuurin dengan polos.
“Hmm ... lalu di mana letak masalahnya?” tanya Riko mengintimidasi.
“Mmm ... gak ada sih.”
“Kampret, ocehanmu ga berbobot, apaan sih,” balas Riko kesal.
Juan yang terus memperhatikan mereka berdua hanya bisa terkekeh melihat tingkah menggemaskan kedua teman sekelasnya itu.
“Jangan khawatir nona remora, aku mengerti perasaanmu,” goda Juan lagi.
“Kau ... jangan jadi jamur terus ya, bikin kesal saja,” bentak Riko yang semakin geregetan.
“Mmm ... bagaimana jika aku memang benar-benar mengerti?”
.
.
.
TBC