Roped Fate

Roped Fate
Ch.62 : Akhir Yang Tak Terduga



Dalam langkah selanjutnya, Andi kembali menebaskan pedang cahayanya yang berkobarkan elemen petir hingga mengelilingi seluruh tubuh zombie iblis. Jumlah energi yang ia keluarkan sangatlah besar, petir yang bertegangan jutaan volt itu pun menyengat zombie tanpa memberikan sedikit pun celah.


Namun, akibatnya area sekitar yang terkena radiasi serangannya menjadi hancur dan terlempar ke berbagai arah.


Fuurin dan yang lainnya pun berusaha menahan dampak serangan tersebut untuk tetap bisa mempertahankan segelnya. Oleh karena itu, Ruri dan yang lainnya pun membuat segel penghalang tambahan untuk melindungi tempat mereka berkumpul sekarang.


“Energi yang dikeluarkan sangatlah besar, aku tak yakin bisa mempertahankan segel pelindung ini lebih lama lagi, karena itu kalian juga perlu mempersiapkan diri untuk menahan ledakan energi kuat ini ketika pelindung menjadi hancur nantinya,” pinta Fuurin dengan wajah yang cemas.


“Kami mengerti! energi dalam pelindung ini memanglah berbeda dari biasanya, jadi sebisa mungkin kami akan berusaha menetralisir energi itu sebelum terlepas ke alam bebas,” sahut Ruri tegas.


“Umm.”


Sementara zombie yang masih dikelilingi sengatan listrik terus meronta dan meraung saat menerima serangan yang cukup besar itu. Belum berakhir dengan serangan pertama, lalu Andi menyiapkan ribuan kertas mantra yang kemudian mengelilingi area sekitar zombie. Perlahan Andi melepaskan segel mantra dari tiap goresan yang mengikatnya.


~Reverse~ Mantra Pengikat ‖ Elemen Petir : spear-needle ~


Bebaskan!


Ribuan kertas mantra pun mengeluarkan cahaya terang, kemudian secara bersamaan kertas tersebut mengeluarkan tombak petir yang dengan cepat melaju ke titik pusat yaitu ke arah zombie iblis tadi.


Pada serangan kedua, energi yang dihasilkan pun jauh lebih besar dari sebelumnya. Akibatnya, tekanan angin kencang yang dihasilkan pun membuat material keras di sekitarnya melayang dan menghunjam kuat ke arah Fuurin dan yang lainnya berada.


Tak lama setelah itu, segel penghalang pun menjadi hancur dan akhirnya benda-benda asing mulai menghantam mereka.


Setelah kibasan angin kencang tadi berakhir, mereka kembali bangkit dan berdiri dengan posisi bertahan. Namun, akibat dampak serangan tadi banyak di antara mereka yang terluka, baik hanya goresan maupun luka yang lebih parah.


Fuurin pun merintih, tangan kirinya tergores cukup parah saat terkena material dampak serangan tadi. meskipun rekan-rekan exorcistnya sudah berusaha melindunginya sebelum itu, tetapi tetap saja masih ada material yang terlewatkan.


“Fuurin, kamu terluka!” pekik Ruri cukup panik.


“Iya, tadi aku tak sempat menghindar ... laju meterial tadi sangatlah cepat, aku tak bisa mengatasinya saat sedang mempertahankan segel pelindung,” jawab Fuurin sembari menahan perih di tangannya.


“Bukankah kita bisa meninggalkan segel pelindung setelah menciptakannya dan berlari ke tempat yang lebih aman, kenapa kau masih bertahan pada segel ini?” tanya Erick sedikit penasaran.


“Iya, umumnya memang seperti itu ... tapi kali ini situasinya benar-benar berbeda, dengan kekuatan besar yang akan dihasilkan, aku harus menciptakan segel khusus yang lebih kuat lagi agar tak mudah hancur ketika berbagai serangan dilepaskan, karena itu ... aku harus tetap berada di tempat ini untuk terus memperbarui segel pelindung,” jelas Fuurin secara singkat.


“Begitu ya, kau benar-benar ahli ya dalam hal segel,” puji Erick.


“Ini masih belum cukup, aku harus berusaha lebih keras lagi ... kalian juga jangan sampai lengah, serangan ini belum berakhir, fokuslah!” seru Fuurin dengan tegas.


“Baiklah, tapi sebelum itu kita harus mengobati luka masing-masing terlebih dahulu sebelum mulai bersiaga,” sahut Ruri.


“Kalau begitu aku akan membantu mengobati kalian secara bergiliran, untuk yang belum mendapat giliran, kalian berjaga-jaga saja dulu untuk mengantisipasi serangan tiba-tiba dan untuk yang terluka parah kalian tetaplah berada di belakang, biarkan yang lainnya melindungi kalian,” perintah Ran.


“Baik!” jawab mereka serempak.


.......


Di sisi lain, Andi terus menerjang iblis dengan serangan bertubi-tubi. Ia tak akan memberikan celah kepada zombie iblis untuk lolos dari kekangannya.


‘Aku sudah menggunakan begitu banyak energi, tapi tak ada pilihan lain lagi ... jika aku hentikan serangan ini, maka zombie itu akan kembali memulihkan diri, aku tak boleh lengah dan harus terus menyerangnya sampai hancur hingga tak bersisa,’ bhatin Andi dengan tegas.


Ketika serangan itu telah habis membakar seluruh bagian tubuh zombie, makhluk itu pun terjatuh dan perlahan kulit kerasnya merontok akibat serangan tadi.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Andi kembali melayangkan serangan pada zombie tersebut. Hanya saja kali ini ia menggunakan jarum logam untuk mengurangi dampak serangan terhadap rekan-rekan exorcistnya.


Ia menancapkan ribuan jarum pada salah satu bagian tubuh zombie tersebut. Pertama pada salah satu bagian lengan zombie. Setelah semua jarum menghunjam pada titik sasaran, Andi pun melanjutkan rangkaian serangan berikutnya yaitu, ledakan cahaya. Jarum yang tadinya berupa logam kemudian diubah menjadi ledakan jarum cahaya.


Serangan tersebut akhirnya berhasil menghancurkan salah satu bagian angota tubuh zombie dan membuat lengannya terputus dan kemudian hancur setelah menerima serangan terakhir dari Andi. Tak hanya sampai di sana, Andi juga menyegel kekuatan dari violet mark yang tersisa pada lengan tadi untuk mengantisipasi agar kekuatannya tidak beregenerasi kembali.


Andi yang hampir mencapai batasnya pun segera mempercepat rencananya, ia tak mau membuang waktu terlalu banyak sebelum zombie tersebut memberi serangan balasan.


Kemudian, serangan berikutnya yaitu pada leher zombie. Ia melakukan hal serupa sebagaimana yang ia lakukan sebelumnya. Setelah berhasil menghancurkan titik sasaran, dengan sigap ia berlari dan membuat jaring cahaya untuk menangkap bagian leher dan kepala yang telah terputus dari tubuhnya.


Pada bagian ini kali ini, Andi membutuhkan waktu lebih lama dan kekuatan yang lebih besar untuk menyegel kekuatan violet mark pada titik energinya.


Aku harus cepat, sebelum sialan itu memperbarui kembali mark pada kekuatan iblis ini, bhatin Andi dengan  perasaan yang sedikit cemas.


Sementara masih menyegel energi zombie, Andi pun menahan bagian tubuh yang lain dengan lilitan petir agar tak goyah maupun melakukan serangan yang membabi buta, karena selama violet mark masih melekat pada tubuh zombie maka ia tetap bisa melakukan serangan bahkan saat anggota tubuhnya terpisah sekalipun makhluk itu tetap masih bisa bergerak. 


.......


Beberapa waktu berlalu, ia pun berhasil menyegel violet mark pada bagian kepala makhluk itu.


“Yosh! dengan begini zombie iblis itu tak akan bisa memasok energi baru lagi, aku harus cepat ... tubuhku sudah mulai kelelahan oleh kekuatan besar ini,” gumam Andi yang merasa sedikit lega.


Setelah berhasil menyimpan kembali buku segelnya, Andi pun bersiap untuk membereskan sisa tubuh zombie yang masih berada dalam kekangannya.


Langsung saja Andi melepaskan jurus penahannya yang kemudian di susul dengan serangan fisik. Andi mengolah jarum logam yang ia miliki menjadi sebuah pedang panjang yang sangat tajam. Ia melompat ke arah zombie yang telah melemah itu, lalu menebas setiap bagian tubuhnya.


Setelah beberapa kali ia mendaratkan serangannya, tiba-tiba makhluk itu kembali mengeluarkan cairan beracun pada tubuhnya, seketika Andi langsung menghindar dengan cepat dan kembali turun untuk mempertahankan keseimbangannya yang sedikit goyah akibat serangan tiba-tiba sebelumnya.


Dengan kekuatan penuh Andi langsung menebas kedua kaki zombie raksasa itu. Meskipun tak sampai putus, tetapi serangan itu sudah cukup untuk menumbangkan makhluk besar itu.


“Sial! tulang-tulangnya begitu kuat, tanganku sampai mati rasa setelah mendaratkan serangan tadi, tapi tak masalah ... aku sudah memutuskan seluruh otot dan urat-uratnya, dengan begitu makhluk ini tak akan bisa berdiri lagi, baiklah! tinggal eksekusi terakhir,” gumam Andi dengan yakin.


Andi mulai mengaktifkan segel penghancur yaitu kuburan petir. Selama proses eksekusi berlangsung, Andi pun menyiapkan segel yang cukup besar untuk menyegel violet mark setelah tubuh zombie berhasil dihanguskan nantinya.


Ia membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk bisa menyelesaikan pola segelnya, ketika pada goresan terakhir ia pun kembali melirik pada rekan-rekan eksorcistnya.


‘Aku harus cepat! mereka juga terlihat sudah mencapai batasnya,’ pikir Andi sembari menyelesaikan goresan pola terakhirnya.


Tanpa berlama-lamaan lagi, ia pun memulai proses segel meskipun proses eksekusinya belum selesai.


‘Tidak masalah, selama makhluk ini tidak kabur lagi maka semuanya akan baik-baik saja, ayolah ... tubuhku sudah mencapai batasnya, ada yang harus aku lakukan setelah ini ... kumohon jangan ada kejutan lainnya lagi, aku benar-benar akan mati jika itu terjadi’, bhatin Andi dalam suasana tegang.


Saat proses segel telah berjalan sekitar 50%, tiba-tiba potongan tubuh zombie mengeluarkan semacam gas dengan bau yang menyengat.


“Mayat hidup itu sudah mengeluarkan bau busuk, apa itu berarti ketua sudah berhasil memutus semua aliran energinya?” tanya Nana penasaran.


“Entahlah, apapun itu yang pasti jangan lengah sampai makhluk itu benar-benar hangus tak bersisa,” sahut Ruri yang masih tetap waspada.


“Aku mengerti!” balas Nana singkat.


Dari kejauhan, ekspresi Andi terlihat cukup tidak menyenangkan. Ia tampak sangat gelisah dan seperti sedang kesulitan.


“Ada apa dengan ketua?” gumam Fuurin yang semakin khawatir.


.......


Semakin lama proses segel terasa semakin berat, ia berusaha keras untuk menyelesaikannya segelnya sampai akhir tanpa ada sedikitpun kesalahan.


‘Sial! energinya begitu kuat ... segel ini pun terasa begitu berat, bahkan meskipun tubuhku sudah mencapai batas, seharusnya tak akan seberat ini ... apa yang telah terjadi? tak mungkin bukan, jika ini ulah orang itu lagi?’ bhatin Andi yang terus bertanya-tanya.


Andi terus berjuang untuk menyegel kekuatan iblis itu. Namun, tak disangka violet mark pun bereaksi dan menunjukkan aktivitas energi yang abnormal. Susunan energi pada zombie iblis yang tadinya teratur tiba-tiba berubah menjadi tak karuan.


Kekuatan itu berubah menjadi agresif hingga menghancurkan tubuh zombie itu sendiri. Tak lama kemudian, kekacauan energi tersebut meledak dan menghancurkan area sekitarnya.


Tak hanya sampai di sana, tekanan energi kuat yang dihasilkan itu pun menghancurkan segel pelindung yang dibuat oleh Fuurin sebelumnya dan membuat mereka semua juga ikut terpental cukup jauh.


“Sial! pelindungnya telah hancur, tubuhku juga tak bisa bergerak ... yang lainnya juga ikut terhempas, jika dibiarkan ... kekacauan dan bencana alam akan melanda dunia manusia, sial! kenapa di saat-saat seperti ini tubuhku menjadi tak berguna, tchh!” umpat Andi yang tengah berbaring di atas tanah sembari berusaha menahan tekanan dari ledakan energi tersebut.


Tak lama berselang, tiupan angin kencang pun menerjang di area itu.


“Sial! aku harus menghentikannya,” gumam Andi serius.


Pada kibasan kedua, angin pun menjadi lebih kencang dari sebelumnya. Langit tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita yang di sertai petir, mungkin sebentar lagi akan terjadi badai.


“Hah ... hah ... apa aku akan gagal kali ini? ahahaha ... ini benar-benar tidak lucu, sialan! jika terus begini, aku tak akan bisa menyelamatkannya lagi bukan?” gumamnya penuh dengan keputusasaan.


Andi hanya terus berbaring dan menutup matanya dengan pasrah. Cukup lama bertahan pada posisinya, ia pun baru menyadari bahwa suhu udara mulai berubah drastis.


“Dingin? ada apa ini?” gumam Andi kebingungan.


Seketika Andi langsung membuka mata dan melihat area sekitarnya.


“Tidak mungkin, ini ... kristal es?”


Tak hanya suhu saja yang menurun, tetapi kumpulan kristal es yang mulai turun menghujani tempat itu hingga membentuk tumpukan salju.


Tak lama setelah itu, dari kejauhan terlihat seseorang yang mulai berjalan mendekati Andi yang tengah berbaring.


Fuurin dan yang lainnya pun juga sudah mulai berkumpul dan saling membantu rekan-rekan yang sedang terluka. Mereka mulai waspada ketika melihat orang tak dikenal mulai mendekat ke arah ketuanya.


“Siapa orang itu?” tanya Fuurin khawatir.


“Entahlah, seseorang gadis yang cantik?” sahut Ruri kebingungan.


Di sisi lain, Andi mulai mematung ketika melihat wajah gadis itu dengan jelas.


“Tak salah lagi, orang ini adalah ....”


.


.


.


TBC