
Riko yang merasa kesal langsung kembali ke tempat tidurnya dan terlentang seperti sebelumnya. Saat keheningan kembali menyelimuti, Riko pun sedikit menyesal.
‘Huft ... bodoh, kenapa aku malah mengusirnya, padahal masih ada banyak hal yang ingin aku bahas dengannya, hmm ... sudahlah lain kali sajalah, sebaiknya beristirahat dulu, aku sendiri juga sangat lelah.’
****
Keesokan harinya, Riko bersiap-siap lebih awal karena ia ada sedikit urusan dengan ketuanya. Fuurin dan yang lainnya pun juga bangun lebih awal untuk sekedar membantu bibi dan Tian membereskan rumah dan sebagainya.
Beberapa saat kemudian setelah sarapan siap dihidangkan, mereka semua berkumpul bersama untuk sarapan pagi sebelum berpamitan pulang, Riko dan paman juga menyiapkan kursi tambahan untuk senior-seniornya yang kekurangan tempat duduk.
****
Saat semua urusan sudah selesai, akhirnya mereka mulai berpamitan pulang dan berterima kasih pada bibi sekeluarga.
“Bibi terima kasih untuk hari ini, Tian juga ... sudah banyak membantu perawatan kami dan juga hidangannya, setelah ini kami izin pamit pulang ... sampai jumpa di lain waktu,” ucap Fuurin dengan sopan.
“Tidak masalah, kalau begitu selamat jalan ... semoga perjalanan kalian aman tanpa kendala, lain kali kalian semua boleh mampir lagi untuk sekedar mengunjungi Riko ataupun Tian, mereka pasti akan senang,” balas bibi yang cukup antusias.
“Terima kasih bibi, kalau begitu kami permisi dulu ... dan Riko, harap kau cepat pulih agar bisa kembali berkumpul di sekolah,” tambah Fuurin sembari melambaikan tangannya ke arah Riko.
“Tenang saja, besok aku sudah bisa kembali ... hari ini saja sudah cukup untuk beristirahat, kalau begitu sampai jumpa besok, kau juga beristirahatlah, senior juga ...,” sahut Riko tenang dengan expresi yang sedikit dingin.
Fuurin mengernyitkan alisnya merasa sedikit aneh dengan reaksi Riko, begitu pula dengan yang lainnya, tidak seperti biasanya mereka hanya berpikir mungkin Riko masih kelelahan. Meskipun begitu, itu masih hal yang wajar jadi mereka hanya mengabaikannya dan langsung pergi tanpa bertanya lagi.
Fuurin dan senior lainnya pun telah berhanjak keluar dan hanya menyisakan senior Andi. Riko kembali mempersilakan Andi masuk untuk kepentingan segel yang sempat tertunda sebelumnya.
“Ketua! sebaiknya kita percepat proses segel pelindung, kita hanya memiliki waktu sehari ... masih banyak yang perlu aku lakukan,” pinta Riko yang terlihat sedikit serius.
“Ah, baiklah ... kita ulangi lagi, pertama dari kamar kau dulu setelah itu kembali ke pekarangan rumah,” balas Andi tenang.
Tanpa basa-basi lagi mereka langsung memulai kegiatan segel pelindung. Mungkin terasa seperti de ja vu saat Tian juga ikut mengamati kegiatan mereka sama seperti sebelumnya.
****
Beberapa waktu berlalu, akhirnya mereka menyelesaikan semuanya dengan cepat tanpa ada perdebatan seperti yang biasa mereka lakukan.
“Aku cukup terkesan, kau lebih tenang dari biasanya ... ahahaha,” goda Andi untuk menormalkan suasana.
“Karena aku sudah bisa mengingat tujuanku, jadi kurasa tak bisa bermalas-malasan lagi ... ada banyak hal yang harus aku lakukan, aku mungkin sudah tertinggal banyak tapi bukan berarti aku akan menyerah begitu saja, aku harus lebih serius lagi untuk itu,” balas Riko masih dengan expresi yang serius.
“Aku mengerti, kalau begitu aku juga akan ikut membantumu,” sahut Andi dengan sedikit senyuman ramah di wajahnya.
“Hari ini aku ingin mengunjungi suatu tempat ... apa kau akan membantuku juga untuk itu?” tanya Riko tiba-tiba.
“Oh, tidak masalah! aku akan menemanimu ke sana,” jawab Andi singkat.
“Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi sekarang!” seru Riko yang terlihat bersemangat.
****
Hari ini mereka memiliki banyak kesibukan, sehingga tak terlihat ada waktu untuk beristirahat. Rencana hari ini Riko ingin mengunjungi tempat di mana ia sebelumnya tinggal, yaitu rumah orang tua kandungnya.
Ia ingin mencari petunjuk yang mungkin masih tertinggal di sana, karena itu ia sedikit berharap tempat itu masih ada dan berdiri kokoh seperti sebelumnya, ia juga berharap tak akan ada penghuni baru yang mengambil alih rumahnya.
“Ketua, aku punya banyak pertanyaan setelah ini ... kuharap kau akan menjawabnya dengan jujur,” ucap Riko dengan expresi datar.
“Baiklah, tapi sebelum itu kita selesaikan misiku terlebih dahulu," sahut Riko yang kembali rileks.
Kurang lebih satu jam perjalan, akhirnya mereka sampai di tujuan. Riko dan Andi pun mulai turun dari mobil. Dari kejauhan hanya terlihat semak rimbun yang menghalangi, jadi mereka perlu berjalan kaki lagi melewati tempat itu untuk bisa menemukan lokasi tujuan.
Tak membutuhkan waktu lama akhirnya mereka berhasil menemukan rumah lama yang kini sudah terlihat usang dan dipenuhi tumbuhan liar, bangunan itu juga terlihat sudah rapuh dan berdebu.
Meskipun begitu Riko cukup puas dengan penemuannya, setidaknya tak ada orang yang mengambil alih rumah milik keluarganya.
“Baiklah, sesuai harapan ... belum ada orang yang berani menyentuh rumah ini, kita bisa mencari petunjuk dengan bebas,” ucap Riko yang cukup bersemangat.
“Kalau begitu kita langsung masuk, jangan lupa waspada dan perhatikan sekelilingmu, bahaya bisa datang dari arah manapun, jangan terlalu berjauhan denganku,” perintah Andi.
“Tentu saja, aku sudah waspada dari tadi ... ayo kalau begitu!” balas Riko yang mulai bergerak menuju pintu depan.
Saat sudah sampai di depan sana Riko kembali teringat, meskipun sudah tak berpenghuni tentu saja tempat itu masih terkunci sebelum mereka meninggalkannya.
Riko sedikit kesal karena hal itu akan membuang banyak waktunya, tanpa berpikir panjang Riko pun mengerahkan tenaganya untuk mendobrak pintu depan dengan tendangan yang kuat. Namun, sayangnya ia malah terpental begitu saja, Andi hanya terkekeh melihat kepolosan Riko.
Tanpa berkomentar apapun Andi langsung berjalan menuju pintu tadi untuk memeriksanya.
“Pintu ini tentu saja terkunci, tapi selain itu ada energi spiritual yang masih mengalir dan mengunci bangunan ini, tak heran sih ... keluargamu adalah kelompok exorcist, mereka pasti melindungi tempat ini dengan baik,” gumam Andi sembari menganalisa keadaan sekitar.
“Pantas saja, bodoh sekali aku malah mengunakan tenaga biasa untuk mendobrak pintu, hmm ...,” gumam Riko dengan wajah masamnya.
Andi pun memulai formasi pembuka segel pengunci untuk membebaskan energi yang mengikat bangunan itu. Tak begitu sulit dilakukan ia pun berhasil melenyapkan segel tanpa menghabiskan banyak waktu.
Setelah segel lenyap, selanjutnya ia membuka kunci pintu dengan jarum-jarum uniknya yang dapat menjangkau berbagai kondisi dan tempat, tak lama kemudian akhirnya pintu pun terbuka begitu saja.
Riko sedikit kesal dan malu terhadap dirinya sendiri yang sebelumnya selalu bertingkah impulsif.
Andi pun memanggil Riko yang masih saja duduk terdiam di tanah.
“Hei, kau masih duduk di sana? cepat kemari ... perlu bantuanku?” tanya Andi yang sedikit iseng.
“Tidak, aku bisa berdiri sendiri ... kalau begitu ayo masuk,” balas Riko yang langsung berdiri dengan ekspresi jengkel di wajahnya.
****
Riko cukup terkejut saat memasuki ruangan yang hancur tersebut, meskipun sudah lama tetapi bagaimana bisa rumah kosong menjadi sehancur itu, tatanannya pun benar-benar berantakan ... Riko sedikit khawatir bila ia tak bisa menemukan petunjuk apapun melihat keadaan tempat yang terlihat seperti sengaja dihancurkan itu.
“Tidak masalah, kau masih ingat dengan tata letak ruangan ini bukan ... kita fokus ke ruangan pribadi terlebih dahulu, abaikan kekacauan ini, kita cari petunjuk dengan lebih teliti,” ucap Andi yang menyadarkan lamunan Riko sebelumnya.
“Tentu saja aku ingat, baiklah kalau begitu kita mulai dari ruang kerja orang tuaku dahulu, ayo ikuti aku!” seru Riko dengan tatapan yang serius.
Mereka pun mulai bergerak mencari ke tempat yang ditujukan Riko saat itu.
.
.
.
TBC