Roped Fate

Roped Fate
Ch.15 : Latihan



Setelah menyelesaikan makan siang, Riko dan Fuurin bergegas pergi ke ruang klub, sementara Juan hanya tetap duduk di sana dan mengabaikan mereka yang pergi begitu saja, lalu ia tersenyum lagi ketika melihat seseorang berdiri di pojok sana.


Fuurin mempercepat langkahnya sembari menarik tangan Riko, ia terlihat begitu cemas dan berharap akan cepat sampai di ruang klub. Melihat hal itu Riko jadi semakin gregetan dengan temannya ini.


“Hei ... kau ini orangnya tak bisa sabaran ya, pelan-pelan saja ... memangnya kenapa sih?” tanya Riko kesal.


“Kau ini orangnya malas banget, gak bisa serius dikit lah,” balas Fuurin acuh.


“Hmmm ....”


Riko sudah malas berdebat terus dengannya, terlebih lagi suasana hatinya saat ini sedang tidak baik, jadi sesekali ia perlu mengalah padanya.


Cukup lama berjalan, akhirnya sampai juga di tujuan. Mereka langsung masuk setelah dipersilahkan oleh ketua klub.


Fuurin ingin segera mendiskusikan masalah tadi. Namun, pertama ia harus menenangkan diri terlebih dulu, selain itu keberadaan Riko juga masih cukup asing di sana. Jadi, mereka akan mendiskusikannya secara bertahap dan cermat.


“Riko kecil, sebelum kita memulai diskusi hari ini ... pertama, sebagai anggota klub, kami akan memperkenalkan diri dulu,” ucap Andi untuk menyambut Riko.


”Oke silahkan, tapi apa maksudmu dengan ‘Riko kecil’ kau pikir ada berapa Riko di sini ... emang ada ‘Riko besar’ juga, kampret!” balas Riko kesal.


“Hhhh ... oke, kita mulai saja perkenalannya.”


Mereka mulai memperkenalkan diri satu persatu. Selain Fuurin dan Andi di sini ada anggota dari kelas 9B, seorang siswi bernama “Nana” prestasinya cukup baik, ia juga cantik dan cukup popular di kelasnya.


Kedua, anggota dari kelas 9B juga, seorang siswi bernama “Miki” ia agak pendiam, tetapi orangnya baik dan peduli.


Ketiga, anggota dari kelas 9A, seorang siswa bernama “Erick” ia adalah teman sekelas Andi sekaligus teman SD-nya juga, orangnya suka berbelit-belit, tetapi banyak akal.


Keempat, anggota dari kelas 9A juga, seorang siswi bernama “Ruri” sama seperti Erick, ia juga teman Andi sejak dari SD. Ia adalah siswi paling popular di sekolah, selain pintar dia juga cantik dan memiliki profesi sampingan sebagai model.


Kelima, anggota dari kelas 9C, seorang siswa bernama “Ran” ia memiliki hobi mengkoleksi berbagai tanaman beracun dan obat-obatan, ia termasuk orang yang masa bodo terhadap ketenaran, tetapi pengetahuannya cukup luas dan ia juga senang bergaul.


Mereka memperkenalkan diri dengan cukup ramah dan Riko sendiri juga membalas salam perkenalkan mereka dengan baik, normal tanpa berontak seperti biasanya.


“Sebenarnya, masih ada anggota junior lainnya, tapi karena ini adalah urusan mendadak jadi aku hanya memanggil anggota senior untuk berdiskusi,” tambah Andi.


“Ohh.”


“Selain itu ... sebenarnya masih ada satu lagi anggota inti, tapi dia tidak ada di sini,” tambah Andi agak canggung.


“Kenapa? tidak mau datang?” tanya Riko.


“Bukan begitu, untuk yang satu ini sih memang jarang bersekolah sejak lama, juga jarang datang ke klub, tapi ... ya sudahlah, aku hanya sekedar memberitahu saja,” jelas Andi singkat.


“Haaah ... apa dia teman dekatmu?” tanya Riko lagi.


“Sudahlah, kau tak perlu membahasnya lagi, sekarang ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan, mengerti!” tegas Andi untuk mengakhiri topik kali ini.


“Okelah ....”


Mereka mulai mendiskusikan topik masalah satu per satu agar Riko tidak terlalu bingung, ketua klub juga menyelingi dengan sedikit penjelasan tentang istilah dunia exorcist.


Riko sebenarnya malas dengan yang namanya berdiskusi, tetapi mau bagaimana lagi ia hanya bisa menunggu sambil mendengarkan diskusi tersebut sampai selesai.


Ketika diskusi pertama berakhir, akhirnya Riko diperkenankan untuk break dulu. Sembari melihat-lihat beberapa koleksi unik dan buku-buku tentang exorcist ia ditemani seniornya untuk pergi ke ruang khusus, sebenarnya ia cukup terkejut ketika melihat ke dalam.


“Bagaimana mungkin ruang klub bisa seluas ini,” gumam Riko.


"Sebenarnya, ini bukan bagian dari area sekolah, tapi kita ini sedang berada pada dimensi lain, yang tadi itu hanya pintu penghubung,” sahut senior Ran.


“Oh begitu, hebat juga! aku tak menyangka,” balas Riko sembari memperhatikan sekitar.


Orang itu tiba-tiba terkekeh ketika memperhatikan Riko lagi.


“Oii ... apa yang kau tertawakan, hmm.”


“Tidak, aku hanya berpikir ekspresimu tidaklah begitu mengejutkan, padahal waktu itu kau orang yang berteriak histeris di depan pintu kan?” balas Ran sembari mencoba menahan dirinya agar tak sampai tertawa lepas.


“Sialan, masih ingat aja nih orang ... sebenarnya gue sih cuma lagi kesal aja waktu itu,” sahut Riko sambil menahan rasa kesal sekaligus malu terhadap kejadian sebelumnya.


“Jangan marah dulu dong! kita kan satu klub, oke ... pertama aku akan menunjukan tempat nona Rin latihan,” ajak Ran dengan antusias.


“Siap deh.”


“Btw, mereka kok lama banget ya, bahas apaan sih?” tanya Riko penasaran.


“Santai saja dulu, sebentar lagi mereka juga akan datang kok,” balas Ran santai.


“Okelah.”


Agar tidak terlalu bosan menunggu, senior Ran mencoba untuk memperkenalkan beberapa teknik yang akan digunakan untuk latihan dasar oleh Fuurin, ia terlihat cukup antusias dan bersahabat.


Riko cukup senang berinteraksi dengan seniornya yang ini, karena menurutnya dibandingkan yang lainnya, senior Ran jauh lebih logis dan polos, mengingat salah satu seniornya yang lain begitu licik dan penuh perhitungan.


Di meja utama klub, akhirnya mereka telah menyelesaikan diskusi itu dengan beberapa keputusan dari ketua. Setelah itu anggota lainnya mulai membubarkan diri, mereka pergi ke tempat Riko dan Ran menunggu, yaitu Emerald Space, tempat di mana mereka gunakan untuk latihan.


Sebelum Fuurin dan Riko pergi menyusul mereka, masih ada beberapa hal rahasia yang sedang dibicarakan dan ini hanya di antara mereka berdua saja.


Riko masih berusaha sabar menunggu mereka di sana, ia hanya diam saja sambil memperhatikan yang lainnya latihan. Tak lama kemudian, akhirnya mereka muncul juga.


“Oee ... lama banget sih! apa hobimu memang suka berlama-lamaan hahh,” protes Riko.


“Ehh ... bukannya yang biasa berlama-lamaan itu kau, ini baru sebentar udah ngomel, kenapa? kau kesepian?” balas Fuurin.


“Pftttt ....”


“Oii ... yang lainnya diam! huhh ... yasudah, gimana latihannya? cepetan dong, gue capek nungguin lu,” ucap Riko cuek.


“Oke! kalian berdua cukup ... kita langsung saja mulai latihannya,” sela Andi.


Latihan yang dipilih Fuurin adalah segel delapan teratai, segel ini biasanya dilakukan oleh satu kelompok yang berjumlah empat orang yang mengisi disetiap sudut, lalu menciptakan sebuah segel yang saling terhubung satu dengan yang lainnya.


Namun, sebelum ia ke tahapan ini, ternyata masih ada tahapan dasar dulu yang perlu ia pelajari, yaitu membuat segel itu sendiri secara mandiri.


Biasanya itu disebut segel petal, Fuurin memang masih baru di sini, tetapi mempelajari segel bukanlah hal yang sulit untuknya, tentu saja ia berhasil menguasainya hanya dalam beberapa kali percobaan, bagaimana bisa? senior lainnnya pun jadi tercengang.


“Wajar saja sih, aku juga sudah mempelajarinya sejak aku masih berumur 6 tahun, keluarga ibuku adalah seorang pendeta Tao, karena itu aku tahu beberapa hal tentang segel, meskipun tekniknya sedikit berbeda, tetapi setidaknya dengan energi spiritualku yang sudah dilatih sejak lama, jadi dalam latihan ini aku bisa menguasainya dengan cepat, karena itu ... segel adalah salah satu keahlianku,” jelas Fuurin.


“Baiklah, kalau begitu mari lanjutkan teknik yang lainnya, tapi untuk yang tadi kau juga harus terus melatihnya agar tetap stabil,” pinta senior Ruri.


“Siap! senior.”


Fuurin kembali melanjutkan latihan bersama para seniornya, Riko pun ikut memperhatikan dan berinteraksi dengannya. Dia tahu Fuurin memang memiliki sisi uniknya tersendiri, walaupun terkadang ia suka melakukan hal-hal aneh dan gila, tetapi dia yang sebenarnya adalah seorang jenius yang terhormat.


Riko pergi lagi ke sisi Ran, dan seperti dugaan ... seniornya itu pun mulai membahas tentang tanaman lagi.


‘Hmm ... benar-benar maniak tanaman,’ pikir Riko.


Andi pun ikut bergabung dengan mereka, di sana terlihat jelas ekspresi Riko yang tampak mulai terganggu dengan kehadirannya. Namun, Andi kembali memecah kegabutan Riko dengan beberapa gangguan.


Melihat hal itu, Erick pun ikut-ikutan bergabung di sana.


“Oke kalau begini kan bagus, lihat di sana ... biarkan cewek-cewek bersenang-senang dengan junior barunya,” ucap Erick.


“Hmm ... mereka terlihat sangat akrab,” tambah Ran.


“Tapi nona hantu jangan khawatir akan kesepian, masih ada kami di sini,” ucap Andi tiba-tiba sembari mulai merengkuhnya.


“Hyaaa ... emang siapa kau, aku tak membutuhkanmu ... kau menyingkir dariku, empat mata sialan!” teriak Riko sambil mencoba menjauh darinya.


“Ahahahaha ....”


.


.


.


TBC