Roped Fate

Roped Fate
Ch.17 : Diskusi Rahasia



Bel istirahat berbunyi, Riko mulai bergegas membereskan buku-buku yang ia pelajari tadi, agar tak terlalu lama di sana, ia langsung pergi setelah mengucapkan sampai nanti pada Lisa.


Riko sudah merasa, pasti saat ini Fuurin sedang kesal karena ia bolos lagi.


‘Tapi yasudahlah akan aku jelaskan nanti,’ pikir Riko.


“Lisa, sudah ... sampai di sini dulu ya, aku harus kembali, bye-bye ... sampai jumpa lagi.”


“Riko ... kenapa buru-buru?” tanya Lisa.


“Aku sudah bolos satu jam pelajaran tadi, akan bermasalah jika aku terus-terusan bolos, sudah ya! aku pergi dulu,” jawab Riko agak terburu-buru.


“Okelah ....”


Riko kembali ke kelas dengan langkah yang terburu-buru.


‘Huff ... orang tadi sangat merepotkan, jangan sampai dia mencegatku lagi,’ pikirnya.


Sampai di kelas, ia tampak canggung karena merasa tidak enak hati pada temannya. Fuurin masih duduk di mejanya sembari melemparkan tatapan intimidasi terhadap Riko, dan seperti biasa Juan hanya bisa cekikikan melihat sikap childish mereka berdua.


Ia sedikit prihatin dengan situasi ini, hingga tanpa permisi ia mulai ikut campur lagi untuk meluruskan urusan kedua teman sekelasnya.


“Oii ... kalian berdua! silahkan duduk dulu, mari kita bicarakan bersama,” pinta Juan.


Keduanya menghela napas dan hanya mengikuti intruksi Juan.


“Riko! Riko ... kau ini menyebalkan sekali, kau bolos lagi, ngapain sih,” protes Fuurin.


“Santai dulu dong, akan gue jelaskan ... ceritanya lumayan panjang sih, tapi gue cuma berniat membantu aja kok! kasihan soalnya, nasibnya 11/12 sama gue, lagian orangnya juga pemaksaan, ribet urusannya kalau berdebat lagi,” jelas Riko.


Riko pun mulai menjelaskan semuanya dari awal dan juga tentang bagaimana ia bisa mengenal Lisa. Fuurin mengerti Riko memang orang yang seperti itu, tapi ia juga perlu memperingatinya untuk lebih berhati-hati.


“Kau jangan mudah percaya begitu saja dengan orang lain," ucap Fuurin dingin.


Dalam hal ini Fuurin sudah cukup paham dengan penjelasan Riko, selain itu tampak si pendengar gratisan juga hanya tersenyum berseri. Walaupun terlihat hanya menjadi obat nyamuk, tetapi sebenarnya ia memiliki keuntungan tersendiri saat mendengar percakapan mereka berdua.


“Hei, Riko! pulang sekolah kita jadi kan belajar bersama?” tanya Fuurin yang langsung mengganti topik pembicaraan.


“Tentu saja, iya,” balas Riko singkat.


“Oke, nanti kita belajar di rumahmu ... bersama Juan juga,” tambah Fuurin.


“Haaahhh ... kenapa dia ikutan juga?” protes Riko yang cukup terkejut.


“Pokoknya ikut saja, kau jangan protes lagi.”


“Oke dehhh.”


‘Hmm ... apa dia cuma ingin balas dendam denganku?’


Mereka bertiga akhirnya sepakat untuk belajar bersama di rumah Riko. Murid di kelas tampak agak heran, bagaimana bisa orang-orang mulai berteman dengan Riko, yang paling mengejutkan terutama Juan, ia bukanlah tipe orang yang suka bergabung dengan orang bermasalah, apa yang salah dengan orang itu?


Juan adalah orang yang tidak begitu peduli sekitar kecuali itu berhubungan dengannya, selain itu peringkatnya di kelas juga cukup baik, meskipun jarang memperhatikan pelajaran. Namun, rasanya aneh saja jika tiba-tiba ia bisa membuat pertemanan dengan orang seperti Riko.


Sebelum membahas hal itu lebih lanjut, seperti biasa mereka akan pergi ke klub terlebih dahulu. Sampai di sana, mereka langsung masuk. Semua anggota memang selalu menyapa mereka dengan ramah, tetapi untuk yang satu ini Andi agak keberatan, kenapa juga Juan harus ikut ke sana?


“Hei, siapa yang mengizinkan anak ini masuk?” tanya Andi agak kurang senang.


“Uwaah ... kejam sekali, aku mau ikut bergabung juga lho! kau mau mengusir anggota baru, hmm,” sindir Juan.


“Hee ... jadi kau mau bergabung ya, membosankan sekali,” sela Riko.


“Kau sendiri juga sama.”


“Tidak, gue ga ikut bergabung ... cuma temani Fuurin latihan, itu saja,” sahut Riko acuh.


“Arggghh ... kau mengizinkan orang lain datang ke sini, bahkan yang bukan anggota, dan kau melarangku yang ingin bergabung, kau ini bagaimana sih ... ga adil banget jadi ketua,” protes Juan.


“Kau berbeda dengannya ... jika Riko, aku memang sengaja mengundangnya secara unlimited, dia bisa bergabung kapan saja jika ia mau, sementara kau adalah anggota yang tak diundang dan sudah diblacklist sebelumnya,” jawab Andi dengan dingin dan tegas.


“Haahhh ... bagaimana bisa begitu, tidak adil donk! kau menyalahgunakan kekuasaanmu,” sindir Juan sembari mengerucutkan mulutnya.


Andi berjalan ke arah mereka berdua, lalu berdiri di sisi Riko.


“Tentu saja, ini adalah koleksiku yang berharga,” ucap Andi sembari menepuk-nepuk pundak Riko.


“Hyaaa ... sialan! kau rubah empat mata keranjang.”


“Hahaha”


“Sudahlah kaichou ... jangan bercanda lagi, dia kan cuma ingin bergabung saja,” sela Fuurin.


“Aku akan berbicara dengannya berdua saja, kalian lanjutkan saja kegiatan seperti biasa,” perintah Andi.


“Oke ....”


Ketua mengajak Juan ke ruang lainnya untuk membicarakan masalah itu secara tertutup.


Yang lain hanya mengabaikan hal itu, mereka tahu bahwa ketuanya pasti punya alasan tertentu, hanya saja Riko sedikit penasaran, apa mereka pernah bermusuhan sebelumnya?


“Wahh ... ternyata si empat mata orangnya sadist juga ya!” ucap Riko.


“Jangan begitu, dia orang yang baik kok! sudahlah, kita lanjutkan saja latihan seperti biasa,” sahut Fuurin sembari mengajaknya berlatih bersama.


“Oke.”


Ketua menyeret Juan ke ruangannya, sampai di sana baru ia melepaskan cengkraman tangannya.


“Arghh ... kau ini kenapa sih! sakit tahu ....”


“Kenapa kau datang ke sini?” tanya Andi mengintimidasi.


“Aku cuma mau bergabung, kenapa jadi marah-marah begini sih,” protes Juan.


“Kenapa kau tiba-tiba ingin bergabung? aku tahu kau tak benar-benar ingin bergabung dengan dunia exorcist, tapi kau punya maksud lain untuk hal itu,” ucap Andi dengan penuh kecurigaan.


“Hmm ... memangnya tidak boleh? kita bisa bekerja sama kan?” sahut Juan yang mencoba meyakinkan Andi.


“Tidak! klub ini bukan untuk urusan kerjasama, kau selesaikan saja urusan mu sendiri dan kau jangan pernah ikut melibatkannya, kau tahu ... itu akan membahayakan nona Fuurin,” bentak Andi kesal.


“Aku tak bermaksud membahayakannya, tapi kau tahu bahkan dia sendiri juga akan melakukan hal itu walaupun tanpa aku, jadi jangan terus menyalahkanku,” balas Juan tak mau kalah.


“Baiklah, aku terima pernyataanmu tapi kau tetap tak bisa bergabung dengan kami, jika kau bergabung hanya untuk tujuan lain maka tak ada alasan untuk menerimamu,” tegas Andi serius.


“Hmm ... yasudahlah! aku tak memaksa, aku akan menyelesaikannya sendiri.”


Andi menepuk-nepuk pundaknya dan memberi nasehat.


“Kau tak mengerti kesulitan apa yang akan kau temui jika berani melangkah keluar dalam lingkaranmu, tapi kuharap kau jangan sampai jatuh dalam kegelapan,” bisik Andi mencoba menasehatinya.


“Tenang saja, jangan remehkan aku.”


“Baiklah, jika memang begitu maka jagalah dirimu baik-baik dan lindungi juga nona Fuurin, kau tak perlu khawatir ... aku yakin Riko juga pasti akan ada melindunginya,” tambah Andi lagi.


“Baiklah, aku pergi dulu nanti sampaikan pada Fuurin, kalau aku sudah kembali ke kelas,” balas Juan yang sedikit lebih tenang.


Akhirnya Juan memutuskan untuk kembali ke kelas, memang agak mengecewakan tapi ia tetap optimis pada pendiriannya.


‘Kenapa dia begitu peduli dengan gadis itu, Riko pun juga demikian, apakah benar dugaanku, atau ada alasan lainnya? tchh ... kenapa semua orang selalu memperhatikannya?’ bhatin Juan yang merasa sedikit heran.


Setelah cukup lama menginterogasi Juan, Andi pun kembali bergabung dengan yang lainnya. Fuurin dan Riko jadi penasaran, ke mana perginya Juan? kenapa ia tak ikut bersamanya?


“Oii, ketua sadist! si jamur ke mana? kok datang sendiri?” tanya Riko curiga.


“Aku sudah memulangkannya,” jawab Andi dingin.


“Whaa ... kenapa diusir kaichou?” tanya Fuurin sedikit terkejut.


“Dia tak masuk kualifikasi, sebaiknya kembali saja,” balas Andi singkat.


“Hmm ... aku jadi semakin penasaran, seperti apa interviewnya? sampai-sampai ia ditolak,” tambah Riko lagi.


“Nona Fuurin, aku sarankan sebaiknya kau jangan membuat kesepakatan dengan orang luar, itu akan beresiko besar, kau mengerti!” ucap Andi tiba-tiba.


“Hehe ... aku tidak terlalu paham, apakah si jamur itu bilang yang aneh-aneh tadi?” gerutu Fuurin yang sedikit canggung.


“Tidak juga, kau tak perlu beralasan apapun, dia memang tak bermaksud buruk tapi ingat kau jangan coba lakukan hal-hal berbahaya,” balas Andi lebih tenang sembari memperingati Fuurin.


“Baiklah kaichou ....”


Karena tak ada hal lain lagi untuk disampaikan mereka pun kembali melanjutkan kegiatan seperti biasa, sebenarnya Riko agak penasaran dengan ucapan ketua, ia pun berpikir akan menanyakan kembali hal itu di lain waktu.


‘Mengapa semua malah jadi terasa seperti teka-teki besar, bagaimana bisa aku melewati labyrinth ini, siapa saja yang bisa aku percaya?’


.


.


.


TBC