Roped Fate

Roped Fate
Ch.56 : Siapa Dia?



Setelah cukup lama berlatih hari ini, akhirnya Riko mulai beristirahat sejenak. Ia sedikit berbincang-bincang pada Tian mengenai teknik yang biasa dulu ia pakai. Meskipun teringat, ia tetap masih mengalami kesulitan saat mencobanya.


“Hei Tian, ngomong-ngomong kenapa kau senang sekali ikut campur urusan orang sih ... seingatku kau tak pernah membiarkanku tenang sendiri, selalu saja mencoba mengacaukan hari-hariku,” ucap Riko tiba-tiba.


“Emm ... cuma hobiku aja sih, hehehe.”


“Hmm, harusnya aku tak perlu menanyakan hal tadi pada iblis perempuan ini, jawabannya sudah pasti menyebalkan.”


“Hahaha ... yaudah deh, kalau begitu aku bawakan kau sedikit makanan untuk menambah energi,” ucap Tian sekaligus bangun dari tempat duduknya.


“Hah, tumben baik ... okelah, gue juga cukup lapar,” sahut Riko dengan santai.


Setelah Tian keluar dari kamarnya, Riko kembali fokus pada benda kesayangannya itu. Sembari mengingat-ingat, ia kembali mengobrak-abrik lemari lamanya. Ia berharap akan menemukan sesuatu di sana.


Sudah cukup lama ia mencari-cari, tetapi tak ada hal penting yang bisa menjadi petunjuk. Ketika merasa penasaran dengan tumpukan benda yang berada di atas lemari, Riko pun menariknya dengan kuat.


Tanpa bisa menahannya, ia malah menjatuhkan semua benda-benda di atas dan berserakan di mana-mana. Ia kembali kesal sembari memungutnya dengan berapi-api.


‘Siapa yang tahu benda-benda sialan ini akan jatuh seperti ini, menyebalkan sekali,’ pikirnya.


Tak lama kemudian ia melihat suatu benda yang membuatnya cukup penasaran. Benda kecil itu cukup berkilau dan indah, Riko sedikit tertarik lalu mengambilnya.


‘Hei, kenapa ada anting di sini? apakah milik Tian yang tak sengaja terselip, tapi ini hanya ada satu buah ... di mana pasangan satunya lagi? tunggu, sepertinya dia juga tak pernah memakai benda ini, apa perlu aku tanyakan padanya ... tapi mungkin dia akan mengambilnya meskipun bukan miliknya, benda ini sangat indah, apa aku perlu menyimpannya? argghhh ... tau ah!’ bhatin Riko kebingungan.


Riko cukup bingung harus bagaimana dan perlukah ia menyimpan benda itu? Kemudian mulai terdengar suara Tian yang semakin mendekat, Riko yang terus berpikir keras dengan benda itu dan akhirnya memutuskan untuk menanyakannya pada Tian. Namun, ia tak berniat menyerahkannya.


“Riko ... makanan datang!” seru Tian dengan bersemangat.


“Hmm, semangatnya seketika membuatku jadi mual,” gumam Riko.


Tian pun langsung masuk dan membawakan makanan itu ke tempat Riko.


“Woah, terima kasih sudah membawakannya,” ucap Riko santai.


“Padahal kita keluarga dan kau masih saja bersikap seperti itu ... dalam keluarga kau tak perlu mengucapkan terima kasih, lagi pula ini bukan hal yang besar, kau ini ribet sekali ya,” sahut Tian kecut.


“Memangnya kenapa, aku punya kesempatan hari ini ... kenapa mesti menunda sampai tak bisa mengucapkannya lagi, jangan menyianyiakan kesempatan yang masih ada,” jawab Riko agak geram.


“Hah, memangnya kau mau ke mana? serius begitu sih,” balas Tian lagi.


“Dia mengatakan itu, dan aku tak ingin menyesal lagi karena meributkan hal bodoh seperti ini, sudahlah ... ngomong-ngomong ada yang ingin aku tanyakan lagi padamu.”


“Tanya soal apa?”


“Emm, ini lho! aku menemukan sebuah anting, kau tau ini milik siapa?” tanya Riko sembari menunjukan anting tersebut.


“Emm ... sepertinya ini milikmu, dulu kau pernah memakainya sekali,” jawab Tian sembari mengingat-ingat.


“Haa ... untuk apa aku memakainya, apa gunanya coba?” sahut Riko yang tampak heran.


“Kau mengenakannya di sebelah kanan dan kakakmu di sebelah kiri, kurasa itu adalah benda yang sangat berharga untukmu,” jelas Tian agak ragu.


“Hmm, berharga ya? oke, kalau begitu aku akan menyimpannya dan akan menggunakannya kembali suatu hari nanti, setidaknya saat semuanya menjadi jelas dan aku bisa menarik busurku dengan benar, aku pasti sangat menantikannya,” sahut Riko sembari memasang seringai di wajah dinginnya.


“Huh ... kau masih membencinya ya, sayang sekali.”


“Tentu saja, meskipun tak banyak yang kuingat, tapi ada satu hal yang tak pernah bisa aku sampaikan dan itu membuatku cukup menyesal, sudahlah! aku bahkan tak bisa mengingat, di mana orang itu berada setelahnya,” balas Riko sembari merenung.


“Okelah, kalau begitu selamat berjuang dan teruslah memanjat langit itu, semoga berhasil ya ... hhhh,” ucap Tian dengan sedikit terkekeh.


“Aneh, entah apa yang sedang kau pikirkan, tapi sudahlah! aku mau makan saja dulu,” sahut Riko sedikit kesal.


Setelah cukup lama membuang-buang waktunya dengan berdebat, akhirnya ia pun mulai menyajikan makanannya. Tian juga bergegas keluar dari kamar Riko dan kembali melanjutkan aktivitas.


‘Huft ... aku yakin ketua Andi akan datang sore nanti, karena itu aku harus berlatih lagi agar tak merepotkan nantinya,’ bhatin Riko serius.


Sembari memikirkan hal itu, ia pun segera menghabiskan makanannya.


.


.


Panas terik matahari siang ini cukup menyilaukan, dedaunan bergemerisik dan berjatuhan. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, para murid mulai berhamburan keluar dan bergegas pulang.


Desiran angin yang lembut, suasana sekolah tampak sudah lebih sepi. Seseorang berdiri di bawah pohon dengan ekspresi dingin dan tatapan yang tajam.


“Sekarang sudah tak ada siapapun di sini, kau bisa menunjukkan dirimu,” ucap ketua Andi di bawah pohon rindang sekolahnya.


Tak lama kemudian, daun dan ranting bergemerisik. Tampak sosok asing yang turun dari atas pohon yang membuat dedaunan gugur di saat yang bersamaan.


“Hah, kau benar-benar tak sabar ya ... ahahaha,” sahutnya dengan seringai pada wajah yang menoleh dari belakang.


“Siapa kau sebenarnya dan apa tujuanmu?” tanya Andi sinis.


“Heh, bukan urusanmu ... ini hanyalah tugas dan aku sendiri tak punya tujuan khusus, aku hanya sekedar ingin melihatnya saja,” jawab sosok misterius itu.


“Lalu kenapa kau selalu membayang-bayangi kami?” tanya Andi lagi dengan semakin geram.


“Huh, Kenapa? entahlah ... ahahaha, kau pikir sendiri, aku hanya ingin sekedar mengingatkanmu saja untuk lebih berhati-hati lagi, sudahlah! kalau begitu sampai jumpa lagi ya tuan ketua,” balas orang itu sembari sedikit terkekeh.


“Sialan! kau mencoba kabur tanpa memberi penjelasan apapun padaku, kau pikir aku akan membiarkanmu lolos begitu saja,” teriak Andi menantang orang itu.


“Hmm ... kenapa harus melawan ketua berkacamata sepertimu, benar-benar membosankan,” sahutnya dengan tatapan remeh.


Andi benar-benar tak tahan dengan sikap orang itu, tetapi ia hanya berusaha menahan emosinya saat ini agar tak terpengaruh. Namun, ia tetap berencana dan mengambil aba-aba untuk menyerangnya.


Dengan perlahan Andi mengeluarkan beberapa jarum dan menyelipkan pada tangannya. Dengan gerakan cepat dan ringan ia langsung meluncurkan benda itu ke arah orang tadi.


Jarum yang bergerak tajam ke arahnya pun dihentikan dengan mudahnya, ia hanya mengibaskan satu tangannya kemudian jarum-jarum tersebut seketika berhenti dan terjatuh.


“Heh, bisa Shinra Tensei ya? cihh ... sialan,” umpat Andi.


“Shinra Tensei? pftt ... ternyata kau OTAKU juga ya, tidak heran sih ... hahaha,” ucap orang tadi sembari tertawa.


*note : Shinra Tensei adalah kemampuan untuk memanipulasi gaya tolak sesuai keinginan penggunanya. (Dalam anime Naruto)


Tanpa basa-basi lagi Andi melemparkan serangan kedua dengan gerakan yang sangat halus. Namun, pada akhirnya serangan itu tetap tak berhasil mengenai sasaran. Orang tadi hanya menangkap jarum-jarum tersebut di antara jari-jarinya.


“Woah, gerakan yang bagus ... senjatamu juga cukup menarik, tapi aku tak tertarik dengan kacamata sepertimu, kau masih terlalu lemah untuk berani menantangku ... hmm, sebaiknya simpan kekuatanmu itu untuk pertarungan yang lebih penting, lagi pula aku bukan musuh jadi tak perlu khawatir,” ucapnya sebelum pergi dan menghilang dari tempat itu.


“Dia cepat sekali! sial aku kehilangan jejaknya begitu saja, tchh.”


Andi cukup kesal karena orang itu benar-benar sulit dimengerti, tetapi ia juga cukup terpikir dengan kata-katanya.


‘Benar-benar merepotkan, tapi benar juga sih yang orang itu katakan, lagi pula dia juga pernah membantu kami sebelumnya, huft ... sudahlah, aku juga tak bisa menunjukkan kekuatanku di sembarang tempat, jika sampai ada yang melihat bisa gawat jadinya.’


Setelah urusannya selesai, akhirnya ia juga bergegas meninggalkan tempat itu dan segera pulang.


.


.


.


TBC