Roped Fate

Roped Fate
Ch.63 : Iblis Musim Dingin



Andi pun mematung setelah melihat siapa orang yang tengah berjalan ke arahnya.


“Tak salah lagi, orang ini adalah iblis musim dingin, sial! apa yang aku khawatirkan benar-benar telah terjadi,” gumam Andi penuh dengan kekesalan.


“Ahahaha ... kita bertemu lagi, ketua klub exorcist!” seru gadis cantik itu.


Andi pun berusaha bangkit dan berdiri, meskipun ia cukup kesulitan karena tumpukan salju itu telah membuat persendiannya menjadi kaku dan kram.


Tak lama berselang, para rekan-rekan eksorcist pun segera datang dan kembali berkumpul bersamanya. Beberapa di antara mereka mulai membantu ketuanya untuk bangun dan menormalkan posisinya.


“Ketua, kau baik-baik saja kan?” tanya Fuurin khawatir.


“Tidak perlu khawatir, aku hanya kelelahan dan kram ... daripada memikirkan itu sebaiknya kalian perhatikan musuh berbahaya yang sedang berdiri di depan,” ungkap Andi dengan perasaan was-was.


“Heh! para exorcist yang manis, kalian tak akan bisa menangkapku lagi kali ini, ahahaha!” tawa gadis iblis itu dengan penuh percaya diri.


“Tchh! sialan,” umpat Andi kesal.


“Ketua, siapakah gadis yang sedang berdiri di sana?” tanya Fuurin lagi.


“Dia adalah iblis musim dingin, tahun lalu kami pernah menyegelnya ke dalam buku segel ... tapi karena baru-baru ini ada yang telah mencuri beberapa koleksi buku segel, aku yakin sebagian iblis telah dibebaskan dan salah satunya adalah gadis yang ada di hadapan kita saat ini,” jelas Andi dengan tatapan yang tajam.


“Tidak mungkin, ketua! apakah dia si monster iblis musim dingin yang waktu itu telah kita segel?” tanya Ruri untuk memastikan kembali.


“Ya, benar!” jawab Andi singkat.


“Tapi, bukankah tahun lalu dia adalah iblis yang berwujud monster mengerikan menyerupai serigala, kenapa sekarang bisa berubah menjadi gadis yang cantik?” balas Ruri seakan tak percaya.


“Iya benar, itu adalah wujud monsternya ... tapi sebenarnya, dia juga memiliki wujud versi manusia ... bahkan setiap iblis pun juga memilikinya,” jelas Andi singkat.


“Begitu ya, jadi mereka menggunakan wujud monster saat bertarung dan berburu, baiklah! aku mengerti sekarang ... tapi, kenapa iblis di depan kita malah menunjukkan wujudnya seperti itu, apa yang sedang di rencanakannya?” tanya Ruri penasaran.


“Apapun itu, keberadaannya bukanlah hal yang baik... kalian semua harus tetap waspada!” seru Andi serius.


Gadis iblis itu hanya terkekeh mendengarkan perbincangan mereka, ia tak terlihat tertarik untuk ikut campur dengan urusan para exorcist itu.


“Oahm ... kalian ini benar-benar menggelikan, membuatku jadi ingin tertawa ... lihatlah keadaan kalian yang sudah hampir sekarat, tapi masih saja banyak omong, kalian pikir dengan kekuatan yang sudah hampir tak bersisa bisa mengalahkanku begitu saja, ahahahahaha ... bermimpi saja dulu!” ucap gadis iblis itu dengan nada merendahkan.


“Diam kau! sebenarnya apa maumu? setelah memanipulasi zombie tadi, aku yakin kau pasti punya rencana lainnya?” teriak Andi kesal.


“Ooo kasihan ... ketua yang malang, sudah sekarat pun masih berani membentak, tapi tenang saja ... aku tak akan bertindak macam-macam selain yang diperintahkan tuanku, jadi hidup kalian tergantung padanya,” balas gadis iblis dengan nada mengejek.


“Ah begitu ya ... kau menggunakan wujud ini karena memang tak berniat untuk menyerang, tapi menunggu aba-aba dan perintah dari tuanmu ... meski bukan sebuah pertarungan, pasti orang itu sudah merencanakan semuanya dari awal bukan,” sela Fuurin.


“Benar sekali! aku ke sini bukan untuk bertarung ... jadi, bersyukurlah kalian semua,” balasnya singkat.


Andi masih terdiam sambil menatap tajam ke arah gadis itu, meskipun ia sudah menduga hal itu sebelumnya. Namun, ia tetap waspada dan terus mengawasi pergerakan iblis cantik itu.


Perlahan Andi mulai berdiri dengan sedikit bantuan dari rekan-rekan lainnya. Kemudian dengan saksama ia memperhatikan suasana di sekitarnya.


‘Sepertinya hujan salju dari iblis ini telah menetralisir dampak kekuatan immortalku yang sebelumnya melanda tempat ini, meskipun menyebalkan tapi syukurlah ... tak ada bencana yang terjadi akibat kecerobohanku tadi,’ bhatin Andi sedikit lega.


Tak lama kemudian, angin pun kembali berubah arah. Dari kejauhan sana, muncul seseorang yang terlihat cukup misterius dan tengah berdiri di puncak pepohonan.


“Heh! akhirnya muncul juga kau” gumam Andi bersemangat.


Uhuk ... uhuk ....


Meskipun dalam keadaan yang masih belum membaik, dengan antusias Andi berusaha berjalan mendekati tempat orang itu berada.


“Hei kau! cepatlah turun!” teriak Andi pada orang itu.


Tanpa menjawab apapun, orang tersebut langsung turun dan berdiri di hadapan Andi. Melihat hal itu, rekan-rekan eksorcist lainnya pun kembali khawatir. Seseorang dengan memakai jubah hitam adalah orang yang sama yang Andi temui sebelumnya.


“Ke mana kau membawanya?” tanya Andi tanpa basa-basi lagi.


“Tidak perlu semarah itu, aku tak membawa siapapun ke manapun ... tenang saja, sebentar lagi kau juga pasti akan menemukannya,” sahut orang itu.


“Sebenarnya apa tujuanmu? kau merencanakan semuanya dengan begitu sempurna, kenapa kau melakukan ini?” tanya Andi yang sedikit emosional.


Beberapa saat setelah itu, rekan-rekan eksorcist lainnya pun kembali berkumpul bersama Andi.


“Ketua, siapa orang ini?” tanya Miki.


“Entahlah, yang pasti semua kejadian hari ini adalah salah satu bagian dari rencananya,” jelas Andi secara singkat.


“Orang ini?” gumam Fuurin yang terlihat sedikit ragu.


“Kau benar,” sambung Andi.


Fuurin pun tersenyum misterius dan enggan untuk bertanya lagi.


“Begitu ya, aku mengerti!” sahut Fuurin singkat.


Gadis iblis tadi pun kembali bergabung bersama tuannya.


“Tuan, ayo kita segera kembali! mereka juga sudah tak bisa bertarung lagi,” ucap gadis itu.


“Baiklah, aku juga tak bisa berlama-lamaan ... hari ini aku cukup terkesan, ternyata kau cukup hebat juga wahai ketua club eksorcist,” ucap orang misterius tadi.


“Ahahaha, kalau begitu sampai jumpa lagi ketua klub dan gadis kecil di sana,” sapa gadis iblis sembari melirik ke arah Fuurin.


“Ah, benar juga ... gadis kecil! aku tahu kau memiliki sesuatu yang cukup unik, pikirkanlah baik-baik, apa kau yakin akan terus bersama orang-orang exorcist?” ucap orang misterius tadi sebelum berbalik arah.


“Apa maksudmu?” tanya Fuurin lemah.


“Pergilah! kalian tak ingin membuang-buang waktu bukan?” seru orang itu lagi untuk meyakinkan para exorcist.


Namun, sebelum orang itu berhanjak pergi ... ia kembali meluncurkan sebuah anak panah ke tempat Andi dan yang lainnya berada.


Meskipun sempat terkejut, tetapi Andi selalu percaya bahwa orang yang mengiriminya anak panah itu pasti akan meninggalkan pesan untuknya.


Andi pun mengambil anak panah yang tertancap pada tanah di depannya, kemudian memeriksa sesuatu yang terselip di sana.


‘Sudah kuduga, teka-teki lagi ya? entah apa tujuan orang itu, yang pasti ini bukanlah sekedar bualan semata, kurasa ini adalah petunjuk yang besar, tunggulah! cepat atau lambat aku pasti bisa membuka topeng dari orang itu,’ bhatin Andi serius.


“Baiklah, ayo semuanya! kita pergi dari tempat ini!” perintah Andi.


“Baik!” jawab mereka serempak.


Akhirnya mereka mulai bergerak untuk meninggalkan tempat itu sembari berdiskusi untuk mencari di mana keberadaan Riko sekarang. Sementara orang misterius tadi bersama gadis iblis itu berdiri di atas dataran tinggi sembari melihat kerlap-kerlip lampu di kota bawah sana.


“Sekarang apalagi yang akan kau rencanakan tuan?” tanya iblis cantik itu.


“Entahlah, kita lihat saja nanti dan tetap ikuti alur ... aku penasaran sampai di mana mereka bisa bertahan,” sahut orang itu.


“Heeh ... lalu bagaimana dengan orang itu?” tanya iblis itu penasaran.


“Kuharap dia tak akan ikut campur lebih jauh lagi,” jawabnya singkat.


“Baiklah, kalau begitu apa kita perlu pergi ke markas dulu?” tanya iblis itu lagi.


“Tidak dulu ... aku masih ingin mengawasinya.”


“Ahahaha, kau ini benar-benar sesuatu ya tuanku,” tawa gadis iblis itu sembari menggoda tuannya.


Malam itu udara terasa lebih dingin, meskipun hujan salju telah dihentikan oleh penggunanya, tetapi jumlah embun yang bertiup semakin bertambah dan membuat udara menjadi lebih lembab.


Riko yang masih tertidur tentunya bisa terserang flu ataupun masuk angin karena suhu yang rendah serta embun yang turun tertiup angin dengan cukup kencang.


.


.


.


TBC