
Sore ini Riko duduk di dekat jendela kamarnya, ia menunggu kedatangan teman-temannya untuk misi malam nanti. Cukup lama terdiam, akhirnya datang dan terparkir sebuah mobil di depan rumahnya.
Di sana terlihat Andi yang sedang berjalan menuju rumahnya. Riko pun langsung bangkit dan berlari menuruni tangga untuk segera menemui tamunya.
Sampai di depan pintu, tiba-tiba Andi dikejutkan oleh kemunculan Riko yang terlihat begitu tergesa-gesa.
“Hah ... hah ... syukurlah kau yang datang lebih dulu, ayo segera masuk! ada yang inginku bahas,” ucap Riko dengan napas yang masih terengah-engah.
“Ada apaan sih? tumben banget gak ngomel dulu langsung to the point,” sindir Andi.
“Arghh ... berisik kau, cepatlah sedikit sebelum yang lainnya datang!” seru Riko sembari menyeret Andi ke ruangannya.
.......
Sesampainya di sana, Riko mulai menjelaskan apa saja yang telah terjadi sebelumnya.
“Oii Andi ... ini darurat, kemarin malam gue ga sengaja pecahin segel pelindung anti iblis, bisa perbarui lagi gak?” tanya Riko tanpa ragu.
“Eh, bocah kurang ajar ... beraninya memanggil namaku seperti itu, di mana sopan santunmu, hahh!” balas Andi dengan sedikit geram.
“Terus gimana dong? nama lu kan emang 'Andi' masa gue harus panggil yang lain, haduh ...,” hela Riko tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Entah apa yang merasukimu lagi, sialannya makin menjadi-jadi aja, oke ... biar aku ingatkan lagi, jika memanggilku kau harus tambahkan kakak, senior atau ketua agar lebih sopan, mengerti!” bentak Andi.
“Kakak Andi ... huekkk, jijik lah ... gue ga punya kakak kayak elu, empat mata sialan!” seru Riko dengan dengan heboh.
“Sudahlah, bikin ribet saja ... terserah kau sajalah mau panggil apa, sekarang kembali ke inti obrolan, tadi kau mengatakan segelnya hancur ... bagaimana bisa terjadi, apa ada iblis yang mengamuk di sini?” tanya Andi cukup serius.
“Aku bingung harus mulai cerita dari mana, tapi yang pasti aku melihat cahaya ungu dari kejauhan, itu tampak dekat saat aku melihatnya ... entah apa yang aku pikirkan, tiba-tiba saja aku menghancurkan segel itu sendiri,” jelas Riko dengan wajah yang sedikit murung.
“Eh, kau menghancurkannya sendiri, bagaimana bisa?” tanya Andi penasaran.
“Sebenarnya aku menemukan senjata yang cukup hebat di kamarku, rasanya tak asing lagi tapi aku tak bisa mengingatnya dengan jelas, aku juga tak mengerti kenapa aku bisa melakukan hal itu, tapi saat segel itu hancur tiba-tiba iblis kecil datang ke kamarku dan mengacaukan semuanya ... setelah aku menembakkan anak panahku padanya, makhluk itu menghilang dan aku pun terjatuh dalam mimpi buruk, kurasa itu beberapa kenanganku yang hilang,” jelas Riko yang masih tampak murung.
“Begitu ya, dan tadi kau bilang anak panah ... bisakah aku melihatnya?” tanya Andi cukup serius.
“Tentu," balas Riko singkat.
Riko pun segera mengambil busur dan anak panahnya, lalu menunjukannya pada Andi. Sembari berpikir, Andi mengamati kedua jenis benda itu dengan teliti. Dari busur dan ujung anak panah itu, ia merasa itu bukanlah hal yang baru lagi.
“Sepertinya aku pernah melihat benda ini sebelumnya ... dilihat dari bahannya, senjata ini adalah senjata khusus yang biasa digunakan oleh seorang exorcist, level senjata ini juga cukup tinggi ... bagaimana kau bisa memilikinya?” tanya Andi dengan serius.
“Keluargaku dulunya adalah seorang exorcist, tapi aku tak bisa mengingat mereka dengan jelas ... jadi wajar saja kalau benda ini ada padaku,” sahut Riko datar.
“Ah, maaf membuatmu teringat, aku lupa kalau kau itu yatim piatu.”
“Eh, kau tahu dari mana kalau aku yatim piatu? dasar stalker empat mata, apa saja yang sudah kau tahu tentangku hahh,” berontak Riko.
“Woi santai aja kali, siapa juga yang stalker cuma tahu sedikit dari Tian, menyebalkan sekali bocah ini, huhh.”
“Hmm ... jadi bagaimana, apa kau bisa memperbarui segelnya lagi?” tanya Riko dengan sedikit lebih tenang.
“Tentu saja, dan senjatamu ... bolehkah aku mencobanya sebentar?” tanya Andi dengan atmosfer yang tiba-tiba meredup.
“Ah baiklah, ngomong-ngomong apa keadaaanmu baik-baik saja?” tanya Riko yang menyadari perubahan mood Andi secara tiba-tiba.
“Santai saja, aku hanya sedikit grogi saat akan menggunakan sesuatu yang tak bisa aku kuasai,” jelas Andi.
“Baiklah, aku pasang dinding targetnya dulu, kau bersiap saja.”
Riko pun mengambil benda itu dan memasangnya pada dinding di depannya. Setelah itu, ia melambaikan tangannya tanda bahwa target itu sudah terpasang sempurna.
Andi merasa sedikit gugup, ia benar-benar tak terbiasa menggunakan benda itu. Perlahan Riko berjalan ke pinggir sembari menyaksikan tembakan anak panah dari ketuanya.
Tak lama kemudian, anak panahnya pun melesat ke arah dinding target. Namun, sayangnya ia meleset. Akurasi tembakannya benar-benar buruk, anak panah melesat jauh di luar target. Riko pun hanya terdiam, ia tak berani mengganggu saat melihat tangan Andi yang sedikit bergetar.
Riko sedikit bingung, karena tak seperti biasanya Andi terlihat cukup terbebani oleh senjata miliknya.
“Terima kasih, aku hanya teringat ... dulu teman masa kecilku sangat gemar menggunakan senjata jenis ini, aku juga pernah mencobanya sekali, dan sama seperti tadi hanya gagal, dia mengatakan akan mengajariku tapi sayang sekali, setelah hari itu dia tak pernah mendatangiku lagi padahal aku selalu menunggunya di tempat itu,” jelas Andi dengan senyum getir di wajahnya.
“Aku mengerti, ayo coba lagi di lain waktu ... sekarang kau perhatikan saja caraku dengan saksama, mungkin bisa dijadikan referensi,” balas Riko dengan hangat.
Setelah mengambil anak panah itu, perlahan Riko menarik busurnya dengan santai, ia cukup fokus mengarahkan anak panahnya pada target. Andi hanya tersenyum kecil ketika melihat kemajuan Riko yang kian hari semakin meningkat.
Saat sasaran telah terkunci pasti, ia pun melepaskan anak panahnya. Andi sedikit terkejut melihat ancang-ancang Riko yang sangat indah dan tanpa ragu saat melepas anak panahnya. Namun, sayangnya kali ini tembakannya sedikit meleset pada sasaran.
“Arghhh ... sialan! padahal tadi gue udah keren kok malah meleset sih, kampret dah!” keluh Riko sembari mengacak-acak rambutnya.
“Kau itu benar-benar sesuatu yah, selalu bisa membuat kejutan di berbagai situasi, hahaha ... tapi aku akui gaya menembakmu itu benar-benar indah, kau seperti sudah biasa menggunakannya,” puji Andi dengan cukup bersemangat.
“Sudah jelas dong, lain kali aku pasti akan menunjukan yang lebih baik lagi dari itu, yosh! lihatlah kali ini ... sebelum kita mulai membahas hal lainnya,” sahut Riko dengan penuh percaya diri.
Riko mengambil anak panah lainnya dan mengulangi percobaan terakhirnya. Tanpa berlama-lamaan lagi ia pun langsung melepaskan anak panahnya dengan penuh keyakinan.
Kali ini tembakannya benar-benar mengenai sasaran, ia terlihat cukup puas karena sesekali ia juga bisa terlihat keren di depan ketua sekaligus rivalnya.
“Tuh lihatkan! usaha itu pasti selalu ada hasilnya, kau juga bisa melakukannya lho! hehe,” ucap Riko berseri dengan bangga.
“Kau .....”
“Baiklah, aku ambil anak panah tadi ... latihannya sampai di sini dulu, oke,” tambah Riko.
“Tunggu!” seru Andi sembari menarik tangan Riko dengan cepat.
Riko pun berbalik dan merasa sedikit kebingungan.
“Eh, kenapa?” tanya Riko.
“Ah maaf, aku hanya teringat saja ... rasanya tadi itu tak asing lagi, mungkin aku pernah melihatnya entah di mana, hahaha ...,” jawab Andi agak canggung.
“Aneh, tidak seperti kau yang biasanya.”
“Ya, lupakan saja ... ayo lanjutkan aktivitas! sebentar lagi rekan lainnya akan tiba, tapi sebelum itu kita perbarui segel pelindung terlebih dahulu,” sahut Andi mencairkan suasana.
“Siap!”
Mereka berdua pun langsung turun ke lantai bawah dan berjalan menuju pintu keluar. Tian yang melihat mereka berdua merasa sedikit kebingungan, tidak biasanya Riko dan Andi akur seperti itu, ditambah lagi semangat Riko yang tak biasa membuat Tian sedikit curiga dan penasaran.
‘Apa yang sedang terjadi? tak biasanya kak Riko berseri seperti itu, apakah dia telah memenangkan sesuatu? entahlah ... aku intip ah, siapa tau punya kesempatan untuk mengganggu, hihihi ...,’ bhatin Tian sembari menyeringai usil.
Riko berjalan cukup cepat dan bersemangat, Andi tentunya cukup mengerti dan bisa memahami hal itu.
Meskipun baru saja ia merasa kalah dari bocah keras kepala yang berkepribadian kasar di depannya itu. Namun, ia cukup yakin bisa mengatur anak itu kedepannya.
‘Hmm ... dia benar-benar menyebalkan, sial! sifat buruknya memang yang terbaik, kalau sudah begini aku pun tak bisa mengabaikannya, dia harus diajarkan dengan baik,’ bhatin Andi.
“Oii, ketua sialan! cepatlah sedikit, kau lambat sekali jalannya ... mau gue tinggal nih?” teriak Riko dengan lancang seperti biasanya.
“Dasar bocah!”
Riko terlihat sedikit kesal sembari mengerucutkan bibirnya. Ia cukup tak sabar menunggu Andi untuk memulai aktivitas segelnya sebelum rekan yang lain tiba di sana.
‘Dia itu ... apakah orang itu benar-benar dia? sungguh takdir yang aneh,’ bhatin Andi sembari tersenyum ramah.
.
.
.
TBC