
Riko semakin menuntut tentang hal apa yang ingin ditawarkan oleh ketua exorcist.
“Cepat jelaskan! apa yang ingin kau tawarkan itu?” tanya Riko yang semakin penasaran.
“Baik, aku takkan mengadukannya pada kepala sekolah, tapi kalian berdua harus bergabung di klub kami, kebetulan lagi kekurangan anggota, kurasa kalian bisa membantu,” jelas senior exorcist dengan singkat.
“Dengan senang hati kaichou ...,” sahut Fuurin tanpa ragu.
“Senang apanya, ini sih gue yang jadi tersiksa,” sahut Riko kesal.
“Jangan khawatir kami takkan menyiksamu.”
“Emang enggak kampret, batin gue yang tersiksa tapi.”
“Dicoba dululah, kau pasti akan terbiasa nantinya, kalau tidak mau juga tak masalah, aku akan melaporkanmu.”
“Terserah kau, aku membencimu ....”
.....
Riko langsung pergi meninggalkan kedua orang di sana. Fuurin hendak mengejar tetapi dihentikan oleh Andi.
“Biarkan saja dulu, ia hanya sedikit emosional karena kesal denganku, lihat saja nanti ia pasti akan kembali,” ucap Andi.
“Hmm ... kuharap begitu.”
“Oke ... mari kembali ke ruang klub kami, di sini tidak terlalu aman, aku akan memberitahumu beberapa hal di sana.”
“Siap kaichou ....”
“Ee ... dari tadi kau bilang kaichou, sebenarnya apa maksudnya itu.”
“Oh ... dalam bahasa jepang kaichou itu berarti ketua.”
“Begitukah? benar juga, namamu seperti orang jepang, kau aslinya orang jepang ya?”
“Ya ... setengah-setengah sih, aku blesteran Indo dan Jepang.”
“Ah, pantas saja ... oke, lalu bagaimana dengan temanmu tadi, kenapa ia bisa serusuh itu sih?”
“Ya ... memang begitu sifatnya, akan kuberitahu tentangnya di perjalanan nanti, tapi sekarang aku harus ganti kostum dulu, takutnya teman-temanmu malah memburuku lagi.”
“Silahkan nona, aku tunggu di depan.”
Fuurin langsung mengganti kostum hantunya serta membersihkan wajah dari make up hantu tersebut. Ia keluar dan langsung menemui Andi kemudian siap meluncur ke ruang klub exorcist.
“Aslinya kau sudah cantik malah dandan kayak hantu.”
“Yahh ... namanya saja cosplay.”
“Memangnya kenapa kau begitu berambisi menakuti klub sastra?” tanya Andi penasaran.
“Mereka sebelumnya mengganggu temanku Riko, jadi aku ingin memberi mereka sedikit pelajaran kecil, lagi pula hanya menakut-nakuti saja dan kami tidak melakukan kejahatan yang berat kok! tapi semua orang malah berlebihan,” jelas Fuurin.
"Hahaha ... sepertinya kau sangat peduli dengannya, padahal orang rusuh seperti dia biasanya dijauhi banyak orang tapi kau malah mendekatinya.”
“Dia sebenarnya orang yang baik, tetapi memiliki emosi yang buruk, peruntungannya juga buruk, jadi aku merasa itu tidak adil untuknya, mau bagaimana lagi aku bersimpati padanya.”
“Kau yakin hanya bersimpati saja?”
“Apa maksudmu?”
“Bukan apa-apa, ayo teruskan saja ceritamu perjalanan kita sudah hampir sampai.”
“Siap ....”
Mereka masih berjalan santai sembari bercerita tentang banyak hal juga tentang pertemanannya dengan Riko. Andi termasuk pendengar yang baik, ia juga tak banyak protes. Fuurin terlihat bersemangat dan menggebu-gebu ketika mulai membahas teman barunya.
Setelah perjalanan tadi, akhirnya mereka sampai di depan ruang klub, Andi mempersilahkan tamunya. Di sana ia disambut cukup baik oleh anggota lainnya. Fuurin mulai memperkenalkan diri serta menyatakan bahwa ia akan bergabung dengan klub exorcist, dan satu hal lagi ... tak lupa juga ia menyebutkan bahwa akan ada satu temannya lagi yang akan bergabung, tetapi untuk saat ini ia masih belum bisa datang.
Andi hanya terkekeh melihat perjuangan gadis kecil ini terhadap teman seberandalannya.
“Oke ... perkenalannya cukup sampai di situ saja, sekarang ada hal penting yang akan ku sampaikan, sekaligus beberapa rule dalam klub kami jadi dengarkan baik-baik,” ucap Andi lebih formal.
“Dimengerti kaichou ... saya pasti akan melakukan yang terbaik dan mentaati semua rule klub ini,” balas Fuurin bersemangat.
“Yah ... kamu juga tidak perlu kaku begitu kali, dan tenang saja untuk temanmu, cepat atau lambat dia pasti akan bergabung karena dari awal sejak kita bertemu, dia sudah ditakdirkan untuk menjadi salah satu anggota exorcist,” ungkap Andi yang sedikit misterius.
“Yass ... kalau dia masih ga mau aku sih masih punya cara lain untuk membuatnya bergabung.”
“Iya, kau orangnya sangat ambisius, aku jadi penasaran kenapa kau begitu terobsesi dengannya.”
Untuk mempersingkat waktu mereka langsung membahas ke topik utama, apa saja rulenya, bagaimana projectnya, seperti apa misi mereka, apa saja yang biasanya mereka kerjakan dan masih banyak hal yang perlu mereka diskusikan.
.
.
Angin berhembus dengan lembut membelai rambut Riko yang sedang menyendiri di lorong atas lantai dua di belakang sekolahnya. Bangunan itu sudah kosong sejak lama dikarenakan penurunan jumlah siswa baru per tahunnya, jadi ... itu dibiarkan kosong sebagai gudang penyimpanan barang.
Riko pun masih merasa kesal karena teman satu-satunya ia, telah direbut oleh seniornya. Padahal ia sudah banyak berjuang menghadapi kegilaan temannya itu, tetapi sekarang malah berakhir di wilayah orang lain, ditambah lagi ancaman si ketua klub membuat ia semakin geram saat mengingatnya.
Kenapa aku selalu berakhir seperti ini? apapun yang aku lakukan ujung-ujungnya dilupakan dan sendiri lagi, ini semua gara-gara si rubah empat mata itu, dia sudah merebut temanku dan kali ini pasti berencana akan menendangku dari sekolah, huhh ... malangnya nasibku, adakah orang yang bisa membantuku saat ini? aku benar-benar frustasi.
“Memangnya apa yang kau inginkan?” tiba-tiba terdengar suara aneh yang entah datang dari mana.
“Jelas ingin menghancurkan si empat itu lah ia sudah merusak hari-hariku,” jawab Riko dengan polos tanpa memerhatikan kejanggalan yang ada.
“Kau yakin ingin menghancurkannya?”
“Yakin dong, orang itu sangat menjengkelkan.”
“Aku bisa saja membantumu, tapi kau juga harus membantuku terlebih dahulu.”
“Oke ... katakan dulu apa maumu.”
Apa mau mu???
Tunggu dulu, memangnya aku sedang bicara dengan siapa, kok baru nyadar sih, batin Riko.
~Bebaskan aku, cepat bebaskanlah ....~
“Uwaa ... kok ada rambut sih? darimana asalnya?”
Dengan perasaan was-was Riko pun mulai mencari pangkal dari pemilik rambut ini.
Kenapa berserakan di lantai? pikirnya.
Ia mulai berjalan menuju kelas kosong, di sana tampak pintu tua yang sudah rusak membingkai arah rambut itu. Ia berusaha membuka pintu itu, tetapi tampaknya telah lama terkunci dari luar. Ia cukup deg-degan tetapi juga penasaran.
~Tolong ... tolong aku ....~
Suara itu terus mengganggu dan terngiang jelas di telinganya. Ia khawatir ada murid yang terjebak di sana ketika sedang mencari sesuatu ataupun sedang mengerjakan suatu project. Dengan perasaan ragu ia mencoba mendobrak pintu tersebut.
Setelah berbagai cara dan banyak waktu yang ia habiskan, akhirnya pintu itu berhasil dibuka paksanya. Namun, sangat mengejutkan ketika melihat apa yang ada didalamnya.
“Uwaaah ... makhluk apaan?”
Sosok yang begitu menyeramkan tampak menyeringai horor ke arahnya.
“Jangan takut, bukankah kau ingin meminta sesuatu padaku, aku akan membantumu ... ayo kemarilah!”
“Ohh ... ahahaha, aku tahu kau pasti Fuurin atau senior iblis yang mencoba menakutiku kan! aku sudah tahu kau tak perlu berpura-pura lagi.”
Ia tertawa sadist mengolok-olok sesuatu yang ada dihadapannya. Setelah pintu tadi tiba-tiba tertutup dengan sendirinya, barulah ia mulai merasakan sengatan-sengatan merinding pada tubuhnya.
“Kau jangan terlalu berisik, bagaimana jika ada yang datang, aku hanya ingin membantumu jadi cepat datanglah kau manusia! baiklah, jika kau tak mau datang aku yang akan ke sana.”
Riko sudah tidak tahan lagi, ia langsung membuka paksa pintu itu. Namun, sayang usahanya masih belum berhasil, bagaimana bisa pintu ini tertutup begitu rapat layaknya terkunci tadi. Ia terus berjuang bahkan sampai tangannya terluka, tetapi pintu tak kunjung terbuka.
Bahkan belum berakhir masalah pintu itu tiba-tiba saja suara itu sudah begitu dekat dengan telinganya. Makhluk menyeramkan tersebut mencengkram tubuh Riko hingga tak mampu berkutik lagi.
“Lepaskan aku, pergi kau makhuk aneh!”
“Aku akan membantumu ... kau akan menghancurkan ketua itu.”
“Berhenti! kau menyingkir dariku, aku memang membencinya tapi tak pernah berpikir untuk membuatnya lenyap.”
“Kau yang sudah mengatakannya, karena itu aku akan membantumu ....”
Makhluk itu terus menggerogoti korbannya. Riko berjuang keras untuk meloloskan diri, tetapi ia tak mampu menahannya lagi. Makhluk itu mencekik leher Riko yang kemudian membungkusnya dengan energi gelap. Semakin ia meronta pikirannya dipenuhi oleh keputusasaan dan sedikit demi sedikit ia telah dikelilingi penuh dengan aura negatif yang masuk ke dalam pikirannya.
Pandangan yang sudah semakin memburam hampir saja ia akan menyerah. Mendengar suara keras dari pintu akhirnya ia kembali tersadar.
Tongkat melayang kearahnya, memang cukup mengejutkan, tetapi akhirnya ia berhasil terlepas dari jeratan makhluk itu.
Seseorang menaburkan semacam bubuk ke arahnya serta begitu banyak kertas bertuliskan sesuatu.
Mereka semua langsung mengepung makhluk menyeramkan itu sembari membuat pola lingkaran, lalu menggores formasi tulisan di lantai dan yang terakhir tampak wajah seseorang yang tak asing lagi baginya. Orang itu begitu lihai memainkan jarum di tangannya, ia melayangkan jarum tersebut ke arah makhluk tadi, kilatan cahaya di sana terlihat sangat mengerikan.
Ia begitu tercengang, apa yang sedang mereka lakukan? pikirnya. Di tengah kegelisahannya tiba-tiba seseorang menyadarkan lamunannya.
.
.
.
TBC