
Pelajaran pertama di mulai, hari ini guru memberi latihan soal pada murid kelas 8D. Awalnya Riko berniat untuk bersungguh-sungguh kali ini, tetapi setelah ponselnya kembali bergetar ia pun mulai memeriksa pesan masuk dan membacanya.
Riko berpikir sejenak sebelum melanjutkan latihan soal itu, ia menulis dengan sangat cepat dan terburu-buru. Tak lama kemudian, ia berdiri sembari memegang buku latihannya dan maju ke depan untuk menyetor jawaban dari soal latihan tersebut, semua murid-murid di kelas begitu terheran-heran, termasuk Fuurin dan Juan, bagimana Riko bisa menyelesaikan soal secepat itu?
Mereka berdua rasanya tak percaya dengan semua itu. Walaupun dia murid berandalan, tetapi rasanya tak mungkin juga ia akan berbuat curang ataupun menyontek.
Tak lama berselang, guru mulai membuka buku latihan Riko. Ia tertegun sesaat ketika melihat jawaban dari buku latihan milik Riko, guru sempat menatap Riko yang masih berdiri di sana dan ia pun langsung memalingkan wajahnya.
“Riko ...,” panggil guru itu dingin.
“Hehe ....”
“Silahkan keluar jika tak ingin mengikuti pelajaran saya,” pekik sang guru yang tampak geram.
“Siap! saya permisi dulu ya pak guru galak, hehe,” sahut Riko iseng.
“Kau ....”
Riko pun langsung melesat meninggalkan kelas, Juan dan Fuurin hanya menghela napas, harusnya mereka sudah mengerti bahwa dari awal memang itu tujuannya, hanya saja mereka sedikit penasaran, sebenarnya apa yang membuat Riko sampai harus meninggalkan latihan tugas hari ini.
Riko berlari ke suatu tempat sembari memeriksa ponselnya lagi, tampaknya ia ingin menemui seseorang. Di taman belakang seseorang sedang duduk sambil menunggunya.
“Senior Rein!” teriak Riko.
“Oh, Riko ya,” balas Rein tenang.
“Apa kau sudah lama menunggu?” tanya Riko lagi.
“Tidak juga, tidak terlalu lama,” jawabnya dengan senyuman ramah.
“Ee ... ngomong-ngomong ada apa senior memanggilku?” tanya Riko penasaran.
“Oh, itu ... aku ingin membahas soal kemarin,” ucap Rein sambil melirik Riko.
“Ah ... yang itu yah? ya, begitulah! belakangan ini memang banyak hal aneh yang terjadi,” balas Riko canggung.
“Karena itu, aku ingin melatih kemampuanmu, agar kau bisa melindungi dirimu sendiri dan hal seperti kemarin tak akan terjadi lagi,” ucap Rein dengan tatapan serius.
“Aku sudah mulai mengambil langkah awal untuk latihan bersama ketua, sebaiknya kita latihan bersama di klub.”
“Tentu saja aku tak berharap tentang hal itu, kau bisa berlatih dengan yang lainnya, tapi di lain tempat dan waktu kau bisa latihan bersamaku, setidaknya itu akan membuat kemampuanmu meningkat lebih cepat,” jelas Rein tenang.
“Baiklah, aku mengerti! aku pasti akan berusaha menjadi lebih kuat agar tak pernah merepotkan ketua dan yang lainnya,” tegas Riko.
“Kau benar, suatu saat kau juga pasti harus menyelamatkannya,” ucap Rein sambil melirik ke arah Riko.
“Ah ... kuharap begitu.”
“Tapi terkadang aku berpikir kau juga membencinya, mungkin bisakah kau meyakinkan dirimu bahwa kau akan memilih untuk menyelamatkannya, jika itu antara kau, Fuurin, dan ketua, bisakah kau memilih?” tanya Rein penasaran.
“Entahlah, aku tak bisa memastikan, tapi selama aku masih bisa bergerak, maka aku akan membawa mereka bersama tanpa harus memilih, jika harus ada yang mati, mungkin bersama adalah jawaban yang adil,” jawab Riko dengan yakin.
“Baiklah, aku terima pilihanmu, kuharap suatu saat kau tak akan mengingkarinya,” sahut Rein dengan intonasi lemah tetapi juga seperti ada maksud tersembunyi.
“Aku selalu berusaha yang terbaik,” balas Riko serius.
“Siapapun selalu ingin melakukan yang terbaik, tapi kenyataan takdir tidak selalu memihak pada apa yang kita harapkan, aku sudah lama berteman dengannya, tentu saja aku tahu apa yang sedang ia coba lakukan, dan itu membuatku sedikit khawatir,” balas Rein tenang.
“Kau tak perlu khawatir dia memang seperti itu, tapi aku yakin dia biasa menghadapinya,” lirih Riko mencoba menyemangatinya.
“Mungkin aku tak akan memiliki waktu yang lama, dan aku tak selalu bisa melindunginya, karena itu kau ... berlatihlah dan menjadi kuat, suatu saat kau harus melindunginya juga, anggap saja itu sebagai pembalasan budi atas semua hal yang telah ia korbankan untukmu,” tambah Rein yang tampak hampa dan datar.
“Aku mengerti, aku pasti akan membayar semua itu,” jawab Riko dengan tegas.
“Sampai saat itu tiba, kau harus selalu menjadi malaikatnya dan tetap menjadi anjingku,” ucap Rein sambil tersenyum getir dengan raut wajah dalam penderitaan.
Riko tertegun sesaat, arah angin kembali berubah, perasaan itu adalah kesepian. Mungkin ia memang tak tahu hal apa yang pernah terjadi di antara mereka berdua sebelumnya, tetapi ia cukup mengerti perasaan itu, kemarahan, kebencian, dan kesepian, tak selamanya ia bisa menahan hal itu karena semua yang akan datang hanyalah kesedihan.
‘Mungkin aku tidak memiliki hal yang bisa berguna saat ini, dan aku pun tak pernah berniat menjadi berguna untuk orang lain, tapi yang namanya hutang tetaplah hutang, bahkan dengan nyawa sekalipun harus tetap membayarnya,’ batin Riko.
Riko mengangkat wajahnya dan menyetujui permintaan Rein.
“Baiklah, aku akan berlatih bersamamu secara diam-diam, tentu saja kau adalah masterku, aku pasti akan mengikuti petunjukmu,” jawab Riko tegas.
“Baguslah! kuharap kau akan benar-benar berguna,” sahut Rein datar.
“Kau ....”
“Aku pergi dulu, sampai jumpa lagi.”
‘Entah mengapa itu terasa menyakitkan, seburuk itukah diriku?’ batin Riko yang agak tidak terima.
Rein pun langsung meninggalkan tempat itu. Sementara Riko, sebenarnya ia merasa sedikit kesal. Menghadapi orang yang lebih suram dari dirinya ternyata bukanlah hal yang mudah, tentunya ia sendiri juga merasa direndahkan.
Namun, perasaan itu seharusnya bisa memicu semangatnya, karena kemarahan juga bisa menjadi energi.
Riko memang sempat menjadi sedikit emosional, tapi kembali ia tegaskan bahwa ini adalah perasaan ikhlas untuk membalas budi seseorang.
Ia pun mulai berhanjak dari tempat itu dan pergi ke tempat lain. Ia sebenarnya agak bingung harus pergi ke mana, tak mungkin juga ia kembali ke kelas karena sudah diusir oleh guru sebelumnya. Mungkin perpustakaan bisa menjadi pilihan alternatif untuk sekedar menghilangkan kebosanannya.
****
Riko pergi ke perpustakaan dengan langkah yang santai, ia tak begitu berniat untuk belajar sendiri di sana, tetapi setidaknya untuk mengisi jam kosong, ia bisa mencari beberapa buku yang mungkin bisa berguna untuknya. Setelah sampai di depan pintu perpustakaan, langkah Riko kembali terhenti, tampaknya ada seseorang yang sedang duduk di sana.
‘Lho! si Lisa lagi? aduh ... males deh gue, mending kabur aja deh ... sebelum tertangkap mak lampir itu,’ bhatin Riko was-was.
Dengan perlahan Riko mengambil langkah mundur, setelah cukup menjauh, lalu ia pun berlari meninggalkan tempat itu.
‘Hua ... sekarang ke mana lagi? gue kok malah jadi semacam gelandangan gini sih! hmm ... sepertinya tujuan satu-satunya yang aman adalah kantin, kebetulan gue mulai lapar,’ bhatin Riko yang mulai kelelahan.
Masih dengan napas yang terengah-engah, Riko kembali melanjutkan perjalanan berikutnya yaitu kantin.
Sesampainya di sana, ia melihat suasana yang begitu menyejukkan hati yaitu sepi. Riko kembali bersemangat, ia sempat membantu ibu kantin sejenak sebelum akhirnya memesan makanan.
Namun, ketika ia mulai menyajikan makanannya, bel istirahat pun berbunyi. Riko kembali panik, ini bukanlah situasi yang bagus, ketika yang lainnya melihat ia di sana pastinya mereka berpikir bahwa ia membolos tadi hanya untuk makan di kantin.
Ia berniat menghabiskan makanan secepatnya lalu pergi dari sana. Namun, kenyataannya murid-murid sudah lebih dulu sampai di sana sebelum ia sempat menyelesaikan makanannya.
Ia juga seharusnya sudah mengetahui hal itu, bahwa kelaparan adalah energi terbesar untuk alasan memberontak, tentu saja para murid sudah merasa lapar dan tak bisa bersabar lagi.
Riko hanya mencoba bersikap santai dan dengan sombongnya bersiul sambil menaikkan sebelah kakinya di atas kursi. Ia seakan menantang orang-orang bahwa ia tak akan takut pada siapapun.
Tak lama kemudian, para senior klub exorcist datang untuk makan di sana, Riko pun mulai menghentikan siulannya, melihat reaksi para seniornya yang terlihat sedang menahan tawa, membuatnya merasa cukup malu.
Tak lama berselang, orang-orang seperti Sheerli, Lisa, dan Rein pun juga datang ke sana. Tingkat kebosanan kembali bertambah, ia tak bisa mempertahankan wajah sombongnya lagi, hingga para tokoh yang terakhir datang lagi yaitu Fuurin, Juan dan guru Tono, ia pun seketika menurunkan kakinya tadi.
Suasana menjadi canggung dan menyebalkan, mereka semua terus mencoba menahan tawa. Riko bingung harus bagaimana, tak lama kemudian ponselnya tiba-tiba berdering, ia langsung menjawab panggilan itu.
“Halo, oh iya ... aku ke sana sekarang, bye-bye,” jawab Riko dengan cepat dan terburu-buru.
Riko merasa sedikit terselamatkan oleh panggilan tersebut, tanpa basa-basi ia langsung bangun dari meja, kemudian membayar ke ibu kantin, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Semua orang sempat terdiam sementara, lalu kembali tertawa terbahak-bahak ketika Riko telah pergi. Namun, setelah semua itu berlalu, beberapa di antara mereka mulai saling melempar tatapan intimidasi dan tidak suka. Karena pada dasarnya mereka yang ada di sana adalah saling bermusuhan.
.
.
.
TBC