
Hari ini Riko berlatih dengan cukup baik, ia sudah mulai bisa menyesuaikan diri dan mampu mengendalikan emosinya lebih baik lagi. Setelah latihan dicukupkan, mereka berdua kembali lagi ke kelas.
Sampai di kelas, bel pun berbunyi dan murid-murid mulai memasuki kelas.
Juan masih duduk di kursinya sembari menatap kedua orang itu untuk kembali ke mejanya masing-masing.
“Hei ... bagaimana misi kalian, berhasil tidak?” tanya Juan penasaran.
“Ya ... kalau bisa kembali, sudah pasti berhasil lah!” jawab Riko cuek.
“Hah ... menyebalkan seperti biasa, ngomong-ngomong, itu si Sheerli ke mana? kok belum kembali sih,” tanya Juan lagi.
“Oh ... mungkin sedang dandan kali, soalnya tadi dia jelek sekali,” balas Riko dengan nada malas.
“Pftt ... kau memang yang paling the best kalau masalah menghina,” sahut Juan sembari terkekeh.
“Eh, tapi bagaimana kalau dia berulah lagi? sepertinya dia semakin dendam padamu,” sela Fuurin.
“Biarkan saja, kalau berani ... nanti aku juga akan membalasnya,” sahut Riko dengan yakin.
“Okelah ... tapi bukan hanya kau saja, kita bertiga juga harus berhati-hati dengan orang itu,” sambung Fuurin.
Tak lama kemudian, Sheerli pun datang dan segera memasuki kelas, saat itu juga orang-orang mulai menatapnya dengan tatapan jijik. Sudah jelas ia pasti langsung menyadari alasannya, dan itu juga membuatnya menjadi semakin dendam terhadap mereka bertiga.
Sheerli hanya mengabaikan mereka semua dan kembali ke tempat duduknya masing-masing. Jam pelajaran akan segera dimulai, sebentar lagi guru pembimbing akan datang.
Beberapa menit kemudian, akhirnya guru pun tiba di kelas mereka. Namun, tampaknya wajah guru itu masih cukup asing di sana, mereka belum pernah melihat orang itu sebelumnya.
.......
“Selamat siang semuanya, saya guru baru di sini, perkenalkan ... nama saya Tono, saya akan mengajar di sini sebagai guru sastra, senang bertemu kalian semua,” salam guru baru itu.
Murid-murid pun menjawab serentak dan bersorak. Setelah itu, absen pun segera dimulai. Di sisi lain Riko dan Fuurin merasa aneh, padahal baru tadi pagi bertemu, mereka tak menduga bahwa guru baru itu ternyata akan mengajar di kelas 8D. Riko pun kembali teringat tentang sebelumnya, tadi pagi ia sudah bersikap tidak sopan terhadap guru baru itu.
Beberapa siswi terlihat berbisik-bisik mengomentari penampilan guru itu, ia masih terlihat muda dan fresh.
Ini adalah jam pelajaran terakhir, seperti biasa murid-murid akan menjadi lesu dan ngantuk. Guru Tono kembali canggung, kenapa murid didiknya tak mau memperhatikan pelajarannya? mungkinkah mereka bosan dengan metode yang diterapkannya? ia pun kembali merasa pesimis.
Selain itu, beberapa siswi yang mencoba untuk memotretnya secara diam-diam, itu terasa sangat menjengkelkan.
Guru Tono jadi terlihat canggung pada setiap gerakannya, Riko yang melihatnya seperti itu, tentu merasa risih dan terganggu. Ia mencoba untuk menetralisir suasana basi yang tengah berlangsung saat ini, dengan mengajukan beberapa pertanyaan seputaran pelajaran kepada guru Tono.
“Oii ... pak guru! saya ada sedikit pertanyaan tentang bagian-bagian resensi buku yang ada di bab 2, bisakah anda jelaskan lebih rincinya!” seru Riko dengan lantang.
“Tentu saja, akan saya jelaskan lebih detailnya.”
Guru Tono pun mulai menjelaskan tentang pertanyaan Riko, dan yang lainnya pun juga ikut memperhatikan. Namun, di sisi lain, para murid di kelas merasa terheran-heran, tak biasanya Riko mau memperhatikan pelajaran.
Beberapa menit berlalu bel pun kembali berbunyi.
DING ... DONG ....
Akhirnya jam pelajaran pun berakhir, mereka semua bisa segera pulang dan beristirahat. Namun, khusus untuk para anggota klub exorcist, saat ini mereka sedang ada rapat mendadak, sehingga mereka harus pergi ke klub dulu untuk mengikuti rapat tersebut.
Riko memang tidak termasuk ke dalam klub, tetapi Andi memintanya untuk tetap datang. Walaupun dengan berat hati, ia tetap mengikuti instruksi ketuanya, mungkin saja akan ada informasi penting yang akan disampaikan, dan ia sendiri sebenarnya juga penasaran.
Selama perjalanan, dari kejauhan mereka mendengar suara aneh dari suatu tempat. Mereka berdua jadi penasaran, lalu mencoba untuk mencari tahu dari mana suara itu berasal. Semakin mendekat, terdengar seperti suara tembakan.
Mereka berdua mencoba menguntit apa yang ada di balik tempat itu, alhasil ternyata di sana tampak ada seseorang yang sedang bertarung dengan iblis.
“Oii ... orang itu sedang bertarung,” bisik Riko.
“Apakah orang itu seorang exorcist? tapi apa yang dilakukannya di tempat seperti ini?” tanya Fuurin bingung.
“Yosh! kuharap dia akan baik-baik saja.”
“Entahlah, kurasa dia cukup kuat.”
Setelah pertarungan yang cukup menegangkan itu berakhir, dua orang penguntit akhirnya menampakkan keberadaannya, sekaligus datang ke sana untuk menemuinya.
“Oii, kau!” teriak Riko.
Orang itu sangat terkejut dan berusaha untuk kabur, tetapi sayang sekali usahanya gagal. Karena tempat itu agak tertutup, jadi kesempatan untuk kabur itu cukup sulit, ditambah lagi orang tersebut masih belum mengenal baik tempat itu. Ia pun berhasil dipojokkan dan akhirnya menyerah.
“Hei ... kenapa malah lari sih, memang kau pikir kita mau ngapain?” pekik Fuurin.
Dengan ragu akhirnya orang itu mau melepaskan topengnya, dengan ekspresi khawatir orang itu hanya membuang muka.
“Woah ... ternyata pak guru baru ya, hmm ... sudah kuduga, kau pasti punya tujuan lain ke sekolah ini,” ucap Riko dengan penuh kecurigaan.
“Okelah ... saya mengaku saja, sebenarnya saya memang punya tujuan lain, dan itu hanya misi dari salah satu organisasi exorcist, lagi pula sebelumnya mereka juga sudah biasa bekerjasama dengan klub exorcist di sekolah ini,” jelas guru Tono.
“Oh, begitu ya! jadi, anda ditugaskan untuk bekerjasama dengan klub exorcist untuk membasmi iblis di sekolah ini kan?” tanya Fuurin.
“Benar, tapi selain itu ... saya juga ditugaskan untuk ikut membantu dalam pelaksanaan suatu misi di blok A selatan, karena di sana cukup berbahaya ... pastinya klub exorcist di sekolah ini juga memerlukan orang pendamping dari organisasi,” jelasnya lagi.
“Oke ... jadi, sudah jelas dong! rapat klub exorcist hari ini pastinya akan membahas tentang kedatangan pak guru baru ini, hmm,” tambah Riko dengan penuh keyakinan.
“Jadi, kalian dari klub exorcist?” tanya guru Tono.
“Iya benar! aku dari klub exorcist dan ini temanku, masih belum mau bergabung sih, tapi ia sudah biasa berinteraksi dengan rekan-rekan klub dan ketua juga,” jawab Fuurin santai.
“Oh, begitu ya! syukurlah kalian orang-orang dari klub exorcist, saya sedikit khawatir bila ada orang yang tahu tentang misi saya di sini.”
“Tenang saja, menyebarkan rahasia orang, bukanlah hobiku ... jadi tak perlu khawatir, entah aku anggota klub atau bukan, itu bukan urusanku,” ucap Riko dengan sombong.
“Ahahaha ... syukurlah kalau begitu.”
“Oke, kalau begitu ... ayo kita pergi ke klub exorcist bersama-sama,” ajak Fuurin.
“Oke.”
Mereka bertiga langsung pergi dari tempat itu dan menuju ke ruang klub exorcist. Selama perjalanan, mereka membahas beberapa hal tentang misi itu, walau terkadang guru Tono menjadi canggung, tetapi ia cukup senang bisa bertukar pikiran dengan murid didiknya.
“Pak guru, aku jadi bingung, kenapa organisasi exorcist besar seperti itu hanya bisa mengirim satu orang untuk ditugaskan misi,” tanya Fuurin.
“Iya, umumnya memang begitu sih, walaupun organisasi kami cukup besar, tapi kami tetap kekurangan orang dalam berbagai project, pengiriman orang di setiap wilayah biasanya paling sedikit ada lima atau empat orang, tergantung situasi setempat.”
“Lalu, kenapa kau bisa ditugaskan sendiri?” tanya Riko.
“Itu karena, klub exorcist di sini sebenarnya sudah cukup kuat untuk bisa mengatasi beberapa serangan iblis di sekolah ini, walau sebenarnya ... seharusnya ada dua orang yang ditugaskan ke sekolah ini, tapi karena dia sedang ada halangan mendadak, akhirnya hanya saya yang dikirim ke sini.”
“Oh ... jadi begitu ya.”
Setelah cukup lama berbincang-bincang selama perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di depan klub.
.
.
.
TBC