
Sudah seminggu berlalu sejak hari libur Andi dan dua temannya, tiba-tiba Andi menerima telepon dari keluarganya untuk segera berangkat karena akan ada acara keluarga yang mengharuskannya pulang ke kediaman orang tuanya di suatu kota.
Tak menunggu lama, Andi pun mulai mengemas barang-barang kebutuhannya dan siap berangkat. Ia pergi dijemput oleh ayahnya sendiri, sudah cukup lama tak bertemu keluarga, tentu saja ia terlihat sangat bersemangat.
Kurang lebih perjalanan ditempuh selama 2 jam, akhirnya mereka sampai di tujuan.
Riko langsung bergegas turun dari mobil dan membawa barang-barang miliknya. Terlihat sang ibu yang datang menghampiri, lalu memeluk erat Andi.
“Sudah lama tak berjumpa ibu sangat merindukanmu nak, ayo kita masuk dulu!” seru sang ibu dengan lembut.
“Aku juga merindukanmu dan yang lainnya juga, kalau begitu aku masuk dulu sambil membereskan barang-barangku,” balas Andi dengan senyum hangat di wajahnya.
“Sini ibu bantu bawakan barang-barangmu, kamarmu juga sudah ibu bereskan tadi,” lirih sang ibu sembari mengambil beberapa barang yang dibawa Andi tadi.
Setelah sampai di dalam, terlihat seorang anak kecil yang berlari ke arahnya dengan wajah yang gembira.
“Kak Andi datang! horeee...,” seru anak itu sembari melompat dan memeluk Andi.
“Ivan, rupanya adik nakal ini sudah tumbuh makin besar ya, kuharap kau tidak jadi makin bandel lagi,” sindir Andi iseng.
“Enggak donk! aku sudah jadi anak yang baik hehe,” balasnya dengan wajah yang berseri.
“Baiklah, kalau begitu sekarang bantu kakakmu bereskan barang-barang ya,” pinta Andi sembari mengacak-acak rambut adiknya.
“Siap! waktunya beraksi...,” seru Ivan penuh semangat.
Mereka pun akhirnya bergegas ke kamar untuk menata dan merapikan barang-barang milik Andi, tidak begitu banyak yang ia bawa karena setelah ini ia juga akan kembali ke desa. Meskipun begitu Ivan sangat bersemangat untuk ikut membantu.
Ivan adalah adik satu-satunya Andi, tentu saja ia sangat memanjakannya. Umur mereka hanya selisih 1 tahun, kepribadian Ivan adalah anak yang periang, hiperaktif, keras kepala dan juga bandel. Terkadang orang tua mereka pun cukup dibuat kerepotan saat ia mulai bertingkah keras kepala, bahkan Andi sendiri juga kadang merasa kesal saat adiknya tak bisa di beritahu.
Beberapa menit berlalu, setelah membereskan barang-barang miliknya, Andi pun langsung bergegas mandi sebelum memulai aktivitas lainnya.
Dalam beberapa hari akan ada acara pernikahan bibinya, oleh karena itu Andi diharuskan pulang untuk ikut menghadiri acara tersebut. Andi sebenarnya sangat menantikan hari-hari seperti ini, dengan begitu ia bisa berkumpul dengan keluarganya, apalagi hari libur yang didapat cukup panjang jadi ia bisa beristirahat sejenak, baik urusan organisasi exorcist maupun sekolah. Di sekolah Andi meminta izin untuk libur selama seminggu, mungkin itu sudah cukup untuknya sampai hari H berakhir.
****
Ketika malam tiba, Andi sekeluarga berkumpul di meja makan sembari membicarakan keseharian Andi selama di desa.
“Yay! makan malam bersama!” seru Ivan dengan penuh semangat.
“Hari ini adalah hari yang cukup spesial karena kita bisa berkumpul bersama Andi lagi, jadi mari rayakan malam ini,” ucap sang ibu lembut.
“Horeeee! nanti bisa main bareng lagi,” seru Ivan.
“Oya, ngomong-ngomong bagaimana keadaan di desa?” tanya sang ayah penasaran.
Andi sempat terdiam sejenak, akhirnya dengan tenang ia mulai menjelaskan beberapa hal secara singkat.
“Sebenarnya banyak hal yang telah terjadi, tapi kejadian terbesar tepatnya terjadi setahun yang lalu, bencana yang melanda desa telah menghancurkan sebagian besar rumah warga termasuk temanku Hita, ia kehilangan seluruh keluarganya dan sekarang tinggal bersama Rein,” jelas Andi.
“Bencana? kenapa kau tak pernah memberi kabar tentang hal itu?” tanya sang ayah.
“Tenang saja, rumah kita cukup jauh dari lokasi bencana jadi masih aman, lagipula kalian sangat sibuk jadi aku takut akan mengganggu pekerjaan dan aku juga masih baik-baik saja, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan,” balas Andi santai.
“Tapi tetap saja, kamu harus memberi kami kabar, bagaimana jika terjadi sesuatu lagi kedepannya,” sahut sang ibu khawatir.
“Ngomong-ngomong bencana apa yang telah terjadi di sana?” sela sang ayah.
“Emm ... sempat terjadi badai besar dan angin ribut, jdi kerusakannya cukup parah,” jawab Andi singkat.
‘Mereka tak perlu tahu kejadian yang sebenarnya, setidaknya ini adalah rahasia desa’ bhatin Andi.
“Begitu rupanya, syukurlah kamu masih baik-baik saja ... lain kali kalau terjadi sesuatu lagi, kamu harus kabari kami di sini ya,” lirih sang ibu.
“Tenang saja, itu hanya bencana alam yang tak terduga ... tak seperti akan berlangsung terus menerus, jika terjadi lagi akan aku kabari,” balas Andi tenang.
“Baguslah kalau begitu, jangan terlalu memaksakan diri ya kalau memang perlu sesuatu, beri tahu kami di sini,” tambah sang ayah.
“Baik ayah, jangan terlalu khawatir ... aku baik-baik saja,” sahut Andi agak dingin.
Tentunya kejadian yang terjadi sebelumnya dilarang untuk disebarluaskan untuk menghindari kepanikan masyarakat luas, warga setempat pun juga telah menyepakati aturan larangan tersebut, selain itu Andi sendiri juga khawatir bahwa orang tuanya akan melarangnya tinggal di desa, akibatnya ia tak akan bisa bertemu teman-temannya lagi, bahkan untuk berlatih pun akan sulit nantinya, karena itu sebisa mungkin ia akan merahasiakan apa yang terjadi di sana.
.
.
Andi yang tampak mulai kelelahan akhirnya pergi ke luar untuk menghirup udara segar sejenak, sesampainya di luar ia dibuat terkejut oleh seseorang yang tiba-tiba menyapanya.
“Hai, kau yang di sana pasti sedang bosan juga kan,” pekik orang itu tiba-tiba.
Menyadari kehadiran orang tersebut, Andi pun langsung menghampirinya. Seorang gadis kecil yang mungkin seumuran dengannya, ia hanya duduk santai di pinggiran.
“Aku hanya sedang mencari udara segar sejenak karena tadi siang cukup melelahkan,” balas Andi santai sembari berdiri menatap anak tadi.
“Oh, ngomong-ngomong siapa namamu? siapa tau bisa menjadi teman,” tanya anak itu penasaran.
Andi sebenarnya merasa sedikit tidak nyaman dengan sikap gadis itu, tetapi tak mungkin juga ia mengabaikannya.
“Aku Andi ... salam kenal,” jawab Andi singkat.
“Oh, Aku Lyra ... senang bertemu denganmu, di sini sangatlah membosankan, aku ingin segera pulang tapi orang tuaku sangat lama, hufft! oiya aku punya sesuatu yang sangat menakjubkan, apa kau mau lihat?” tanya anak itu dengan wajah yang berseri.
“Emm ... ya silahkan tunjukan saja, aku sedikit penasaran,” balas Andi yang tampak sedikit curiga.
Kemudian Lyra menarik dan membuka tas selempangnya dengan bersemangat dan menunjukan sebuah benda yang tampak berkilauan.
“Lihat! ini luar biasa bukan? ahahaha,” seru Lyra yang tampak gembira.
“Benda seperti ini tampaknya bukan benda sembarangan yang bisa dijual bebas, mereka bercahaya dalam kegelapan, bagaimana kau bisa memilikinya?” tanya Andi penasaran.
“Oh, ini aku mencurinya di suatu tempat, hehehe,” balasnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Astaga, kau tau yang kau lakukan itu sangatlah tidak terpuji, apakah kau pernah memikirkan bagaimana perasaan pemiliknya? benda langka seperti itu kau ambil begitu saja, hmmm,” tutur Andi yang tak habis pikir dengan kelakuan gadis kecil yang baru saja ia temui itu.
“Tentu saja aku tau betapa paniknya mereka saat kehilangan benda ini, meskipun mereka punya banyak dan aku hanya mengambilnya dua buah, mereka pasti tetap kepanikan saat tau benda ini telah dicuri, artinya benda ini sangat berharga dan juga langka, aku yakin mereka punya rencana yang besar dengan benda ini, jika bisa dibeli harganya pastilah sangat tinggi dan itupun kalau ada yang menjualnya,” balas Lyra yang mulai menunjukan obsesinya.
“Hah, jadi kau ingin menawar mereka untuk membeli kembali dengan harga yang sangat tinggi, begitu?” tanya Andi yang semakin geregetan.
“Eh, menjual terlalu mudah ... untuk apa mencuri lalu mengembalikannya lagi, aku tidak segila itu ... akan lebih menyenangkan jika aku simpan untuk diriku sendiri, dengan begitu rencana besar mereka akan hancur berantakan, sampai kapanpun mereka tak akan bisa menggunakannya, ahahaha aku jenius bukan?” jawab Lyra ambisius.
Andi pun menghela napas kemudian duduk di sampingnya. Meskipun ia tak yakin ingin melanjutkan pembicaraannya saat ini. Namun, ia juga merasa penasaran, karena mungkin ada hal besar yang bisa ia gali dari gadis misterius itu.
“Hmm ... menghancurkan rencana orang lain sebegitu menyenangkannya untukmu? jangan bilang kau kemari berencana menghancurkan pernikahan bibiku juga, huh?” sahut Andi sinis.
“Tenang saja, kalau tak ada untungnya aku tak akan melakukan hal merepotkan seperti itu, masih ada banyak hal menyenangkan lainnya yang bisa aku lakukan,” ungkap Lyra dengan wajah yang berseri.
“Oh, jadi kau punya dendam dengan mereka atau bagaimana?” tanya Andi lagi.
“Benar sekali ... selain benda ini berharga, aku juga kesal dengan mereka, dulu saat orang tua mengajakku ke suatu tempat, di sana mereka sangat sibuk hingga tak bisa menemaniku, jadi aku bermain sendiri di bawah meja, karena menunggu terlalu lama akhirnya aku ketiduran di suatu ruangan yang cukup sepi, tak lama kemudian aku mendengar suara seseorang yang menutup pintu, ia tak menyadari aku ada di sana dan pergi setelah mengunci pintu tadi, tak lama berselang listrik tiba-tiba padam, aku sangat panik pastinya, tapi saat melihat sesuatu yang bercahaya di suatu tempat, aku pun segera mendekat untuk melihatnya, karena jumlahnya lumayan banyak jadi aku ambil dua buah saja, salah mereka yang terlalu lalai sudah mengunci seorang maling dalam ruangan penting,” jelas Lyra dengan singkat.
“Hehh, aneh sekali kau ya ... mengklaim diri sendiri maling sebagai alasan untuk mencuri sesuatu, hei ... itu bukan profesimu, kau melakukannya hanya untuk bersenang-senang saja dan meskipun kau masih bocah tak ada yang bisa membenarkan kebiasaanmu itu,” sahut Andi kecut.
Lyra sedikit terkekeh dengan balasan Andi, meskipun ia terus memojokan dan menentang pernyataannya, tetapi tampaknya Lyra sedikit tertarik dengan kepribadian Andi.
“Ahaha, jangan terlalu kaku ... sebenarnya ini cukup menyenangkan, kau bisa mencobanya sendiri, mengacaukan rencana orang lain tidaklah seburuk itu, yang buruk hanyalah orang yang merasakannya saja, aku yakin kau akan memerlukannya suatu saat nanti, belajarlah sedikit lebih licik untuk mempermudah hidupmu karena orang lain sendiri tak akan memberimu kemudahan itu,” balas Lyra sembari menepuk-nepuk pundak Andi.
“Huftt, okelah ... sebenarnya kau cukup masuk akal juga, hanya saja aku tak akan mengambil terlalu banyak resiko sepertimu, tapi jangan salah sangka, aku tidak sepolos itu kok ... karena aku punya tujuan dan ambisi juga,” ungkap Andi dengan tegas.
Cukup lama berbincang-bincang di sana, tampak seseorang baru saja keluar dari pintu depan.
“Oh, itu orang tuaku! sepertinya obrolan kita berakhir sampai di sini saja, senang bertemu denganmu tapi sepertinya kita tak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama, jadi ... aku beri kau satu kristal sebagai hadiah pertemanan kita, ingat! rahasiakan benda ini dari jangkauan mata orang lain atau kau akan mendapatkan masalah besar,” ucap Lyra sembari menyeringai misterius.
“Itu sih sudah pasti, aku tidak sebodoh itu untuk sengaja menempatkan diri dalam masalah,” sahut Andi kecut.
“Ahahaha, yasudah kalau begitu aku pergi ya ... semoga harimu menyenangkan, dan satu lagi kau jangan menyebutku bocah, umurku mungkin lebih tua darimu lho, hormatlah sedikit dengan seniormu!” seru Lyra sedikit menggoda Andi.
“Huft, terserahlah ... aku juga mau kembali ke dalam, sampai jumpa entah kapan, semoga harimu menyenangkan,” balas Andi singkat.
Mereka pun saling melambaikan tangan sebelum kembali ke tempat tujuan masing-masing.
.
.
.
TBC.