Roped Fate

Roped Fate
Ch.31 : Ilusi Mimpi Buruk



Suasana terasa menyebalkan akibat kotak makanan titipan dari Tian, dua orang di sana pun sepakat untuk memusnahkan makanan petaka tersebut dengan cara membakarnya.


“Oke, kalau begini sudah beres kan?” ucap Riko sembari menyilangkan kedua tangannya.


“Ya ... mungkin saja, kuharap selanjutnya tidak akan ada ranjau semacam itu lagi,” balas Andi tenang.


Karena urusan dengan makanan sudah selesai, sekarang Riko bisa kembali ke kelasnya dengan tenang. Namun, sebelum itu ... Andi menahannya sejenak untuk sekedar ngobrol sembari menunggu makanan datang dari rekan lainnya.


“Oii ... ketua, gue pergi dulu ya,” ucap Riko acuh.


“Tunggu sebentar! aku sudah menyuruh Ruri dan Erick untuk membeli makanan di kantin, tunggu sampai mereka datang, ayo kita makan bersama,” balas Andi.


“Haah ... sebenarnya membosankan, tapi karena kebetulan aku sedang malas ke kelas, okelah ... aku ikut di sini.”


“Baguslah kalau begitu.”


Tak lama kemudian, seseorang datang dan masuk ke ruang klub.


“Halo ... Fuurin di sini, kalian sedang apa?” sapa Fuurin penuh energi.


“Nona Fuurin? ayo bergabung,” ajak Andi ramah.


“Oh, Fuurin ya? gue pikir makanan sudah datang,” ucap Riko agak malas.


“Haaa?”


Fuurin memiringkan kepalanya, ia tak begitu paham apa maksudnya itu.


“Ah sudahlah, aku ada sesuatu untukmu,” ucap Fuurin yang tampak senang.


“Sesuatu? apaan?”


“Ini untukmu, silahkan dilihat dulu.”


Fuurin menyodorkan sebuah buku untuk Riko. Dilihat dari covernya, tampaknya itu bukan buku biasa seperti yang beredar di pasaran.


Riko mulai membuka tiap halaman demi halaman, ia sedikit mengernyit.


‘Buku ini sepertinya buatan manual, dilihat dari jenis kertasnya, ini mungkin sudah sangat lama,' pikirnya.


“Ini?”


“Itu buku kakekku, dulu aku memintanya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia,” sahut Fuurin santai.


“Wah ... pantas saja tampilannya sangat klasik.”


“Iya, begitulah.”


“Kau memberikannya padaku?” tanya Riko untuk memastikan.


“Iya, itu untukmu,” jawab Fuurin singkat .


“Lalu, kau sendiri bagaimana?”


“Tenang saja ... aku masih punya yang lainnya.”


“Oh, baiklah! kalau begitu, terima kasih ya.”


“Siap, santai saja.”


Setelah obrolan mereka selesai, Andi pun langsung mempersilakan Fuurin untuk bergabung bersama.


“Oke, kalian sudah selesai kan? sekarang, silahkan duduk dulu nona Fuurin, mari kita bahas bersama tentang hal itu.”


“Siap!! kaichou ....”


Mereka duduk bersama sembari membicarakan tentang misi maupun latihan, karena sebelum misi dijalankan, mereka perlu latihan khusus terlebih dahulu untuk mempersiapkan diri dan pertahanan setiap individu.


Dalam hal itu, Riko memang tidak termasuk ke dalam orang yang akan menjalankan misi. Namun, ia tetap mengikuti saran dan masukan dari ketuanya, karena suatu saat ia pasti akan membutuhkannya juga.


Tak lama kemudian, akhirnya para senior lainnya sudah tiba di sana dengan membawakan beberapa jenis makanan. Riko kembali berseri, maklum saja karena sebenarnya ia juga sudah cukup kelaparan hanya dengan mendengar berbagai penjelasan yang diberikan oleh ketua Andi.


“Waktunya makan!”


Mereka mulai bergegas untuk menyajikan makanan tersebut di atas meja klub. Makan bersama kali ini terlihat cukup meriah, mereka juga lebih ramah dari sebelumnya dan lebih banyak memberikan kesempatan untuk Riko.


Riko memang merasa sedikit lebih senang karena makanan itu. Namun, ia juga merasa tak pantas saat berada di sana. Jika diingat-ingat kembali, bagaimana kehidupannya sebelum hari ini, tentu saja ini hanya akan menjadi seperti sebuah pertunjukan.


Meskipun dalam keramaian ia tetap merasa kesepian, rasanya kegembiraan ini bukanlah ditujukan kepadanya.


Seketika ia menghentikan kegiatannya, kemudian berdiri sembari memberi hormat dan ucapan terima kasih. Terima kasih untuk hari ini dan makanannya juga, aku masih ada urusan, jadi sampai di sini saja aku permisi dulu, ucap Riko sebelum meninggalkan klub.


Semua orang di klub merasa terheran-heran dengan sikap dan mood Riko yang dengan mudahnya berubah-ubah seperti itu.


“Hei ... dia kenapa sih? kok suram lagi? apa mungkin ada hal yang tak sengaja menyinggungnya?” tanya Ruri kebingungan.


“Sudahlah, abaikan saja! dia memang biasa seperti itu, nanti juga kembali normal,” sela Andi.


“Umm ... Riko memang seperti itu, jangan khawatir, dia akan baik-baik saja.”


Kegiatan mereka pun kembali dilanjutkan. Sementara Riko, ia masih berkeliling-keliling di luar sembari mencari udara segar. Perasaan kosongnya kembali menghampiri, mungkin saja suatu hal telah mengingatkannya tentang kejadian hari ini.


‘Andai saja hari itu tak pernah datang, pastinya aku tak akan pernah memikirkannya lagi,’ batin Riko hampa.


Angin pun berhembus dengan tenang, rasanya sudah lama sekali ia tak merasakan sensasi musim ini. Namun, ketika berjalan di koridor belakang sekolah, tiba-tiba saja arah anginnya berubah, perasaan mencekam ini sama seperti sebelumnya, ia pun kembali teringat bahwa seharusnya ia tak boleh lengah hingga bayangan itu mempengaruhi emosinya.


Ia tetap bersiap dan waspada. Kali ini yang datang adalah ilusi, sebuah dinding tak berujung menangkap dan menguncinya ke dalam dunia tanpa akhir.


Di dalam sana ia terus berjuang melawan ilusi yang tak ada habisnya. Semua kenangan masa lalu kembali datang menghantuinya, perasaan stress itu memenuhi kepala, ia mengerti bahwa itu hanya ilusi kegelapan dalam hatinya. Namun, tetap saja ia tak bisa mengalahkan bahkan sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri.


Aura gelap terus merasuk hati dan menguasai seluruh tubuhnya. Riko masih terus berjuang, ia tak ingin dikalahkan hanya dengan hal semacam ini, ia terus meronta dan memukul segala objek, entah itu nyata ataupun ilusi, pikiran berdebu telah menutup semua akal sehatnya.


“Keluar kau makhluk sialan! sampai kapan kau hanya bersembunyi dengan ilusi sampah ini, aku tak takut denganmu, hahahaha.”


Riko hanya mengamuk tanpa arah, guna menghancurkan seluruh kota ilusi ini sembari tertawa dengan air mata kebencian.


AHAHAHAHA ....


Tak lama kemudian, tanda Jiu kembali menyebar dan mencekik kepalanya. Ia terjatuh, rasa sakit itu sungguh menyiksa hingga dengan perlahan ia kembali tersadar. Perasaan takut akan ketidakmampuannya membuat ia merasa menyesal telah hidup di dunia ini.


Ia tak tahu harus melakukan apa, walaupun kesadarannya telah kembali. Namun, mengalahkan ilusi iblis adalah sesuatu yang sangat mustahil untuknya.


Riko duduk termenung hingga tiba-tiba semua menjadi gelap. Dalam kegelapan itu ia mendengar suara yang sudah tak asing lagi di telinganya. Entah di mana ia pernah mendengarnya, perasaan itu kembali menyiksanya.


“Apapun yang terjadi, kau harus tetap hidup, mungkin aku tak berhak mengatakan ini, tapi tolong maafkan ketidakmampuanku ... meski begitu menyayangimu tapi aku tak pernah bisa berbuat banyak.”


Sepasang tangan dan sosok misterius datang memeluk sembari menutup kedua mata Riko, lalu kembali berbisik di telinganya.


“Kau tak boleh mati disini.”


.


.


“Riko!”


“Hei, Riko ... apa kau mendengarku?”


“Cepatlah bangun! ada apa denganmu.”


Riko mulai mendengar keributan di sekitarnya. Dengan perlahan ia membuka mata dan mendapati banyak orang di sampingnya, mereka adalah Fuurin dan beberapa rekan klub lainnya.


Ketika melihat Riko yang sudah mulai sadar, Fuurin langsung berteriak senang sembari memeluknya erat.


Tak lama berselang Andi pun datang menghampiri dan berlari ke tempat yang lainnya berkumpul.


“Bagaimana ketua, apa kau berhasil menangkapnya?” tanya Ruri.


“Sayang sekali, makhluk itu berhasil lolos.”


Riko kembali teringat dengan hal apa yang telah menimpanya tadi, karena itu ia langsung bangkit untuk menanyakan tentang makhluk yang baru saja telah menyerangnya.


“Ketua, makhluk yang tadi itu ....”


“Itu Nightmare Demon atau iblis ilusi mimpi, iblis ini termasuk dari beberapa yang paling sulit diatasi, jika kau sudah terlanjur terjebak di dalam ilusinya, maka kau akan sulit keluar dari sana, karena mereka selalu menyerang bagian terlemah dari kenanganmu, mungkin kau akan bisa selamat jika ada yang menyelamatkanmu dari luar,” jelas Andi.


“Jadi begitu, lalu ... apakah kau yang sudah menyelamatkanku tadi?” tanya Riko penasaran.


“Bukan! aku tak tahu, karena saat aku datang, ilusi iblis itu telah hancur, lalu sebelum kau sadar, aku sempat mengejar iblis itu, tapi sayang sekali ia sudah berhasil kabur,” balas Andi serius.


“Kalau begitu, siapa yang sudah menyelamatkanku? sial ... aku benar-benar tak bisa mengingatnya,” gumam Riko yang tampak agak kecewa.


“Sudahlah, kesampingkan dulu tentang hal itu, sekarang ayo kita kembali ke klub, kau perlu menenangkan dirimu,” ucap Andi yang cukup bersimpati.


“Baiklah.”


Mereka langsung bergegas dan membantu Riko berdiri lalu mengantarnya kembali ke ruang klub.


Andi sempat melihat ke belakang sebelum melanjutkan perjalanannya, ia masih penasaran, siapa orang yang telah menolong Riko tadi? Ia pun berpikir, siapapun orang itu, tentunya ia memiliki kekuatan spiritual yang tak bisa diremehkan.


.


.


.


TBC