
Latihan kali ini memang terkesan agak terburu-buru, Riko dan Andi berlatih energi spiritul masih pada ruangan ketua klub, akibatnya ketiga tamu mereka menjadi terheran-heran dan prihatin.
Tidak biasanya Andi bertindak seperti itu, mereka berpikir mungkin itu ulah Riko yang mencari gara-gara lebih dulu. Dan mungkin tentang kegiatan corat-coret wajah juga hanya usul bodoh Riko.
Mereka berlatih sambil taruhan, bagi yang kalah harus bersedia dicoret wajahnya oleh yang menang. Andi mungkin menyetujuinya, tetapi itu hanya agar Riko lebih bersemangat dan termotivasi.
Meskipun pada akhirnya hanya Riko yang menderita kerugian dari idenya sendiri, wajahnya kini dipenuhi oleh banyak coretan warna, sementara Andi hanya mendapat sebagian kecil dari hukuman itu.
Tentu saja Riko telah salah memilih lawan untuk bertaruh hal semacam itu. Masih seperti sebelumnya mereka hanya berlatih dengan pukulan dan tendangan, akibatnya ruangan pun menjadi sangat berantakan.
“Wohh ... tamu datang! sekomplotan tiga orang yang otaknya bermasalah,” ucap Riko dengan pedas seperti biasanya.
“Haah ... yang bermasalah itu kau sendiri kali!” balas Fuurin kecut.
“Ah ... sudah-sudah! kalian semuanya sama-sama bermasalah kok!” sahut Andi.
“Heee ... yang paling parah itu yang empat mata sih ya,” sindir Riko.
“Ahaha ... kalian semua sudahlah! mari kita lanjutkan pembahasan tentang masalah topik utama yaitu, soal misi besok,” sela guru Tono.
“Baiklah, kalau begitu ... ayo kita bicarakan di ruang utama klub,” jawab Andi.
Mereka semua pun pergi ke ruang utama untuk membicarakan rencana mereka untuk misi besok. Juan sebenarnya agak merasa canggung untuk ikut bergabung, selain bukan anggota juga ia memiliki hubungan yang kurang baik dengan ketua.
Namun, karena ia sudah terlanjur di sana, jadi Andi membiarkannya untuk ikut bergabung, lagi pula mereka adalah teman sekomplotan, jadi ... apapun yang mereka lakukan pastinya selalu bersama-sama.
“Emm ... jadi, aku boleh ikut nih?” tanya Juan untuk memastikan lagi.
“Boleh saja, tapi jangan banyak bertingkah,” jawab Andi datar.
“Oke deh!”
Mereka pun mulai membicarakan hal itu dengan cukup serius, dalam pembahasan tersebut, mereka terlihat sangat berpengalaman. Bahkan Juan yang tak ikut misi pun juga memberi beberapa masukan dan ikut membantu dalam penyelidikan misi berdasarkan informasi yang ada.
Dalam hal ini Riko merasa agak risih, ia hanya dikelilingi oleh orang-orang jenius dan merasa paling bodoh sendiri.
Setelah urusan klub selesai, akhirnya mereka bisa kembali ke tempat masing-masing. Riko, Fuurin, dan Juan berjalan bersama melewati koridor belakang sekolah. Tiba-tiba terdengar suara geraman hewan buas, mereka bertiga langsung menghentikan langkahnya dan kembali waspada.
Tak lama kemudian, muncul dua ekor serigala dari balik gedung lama. Tak hanya itu, di sana juga terlihat dua orang bodyguard yang sedang menuntun serigala itu agar datang ke tempat mereka bertiga. Wajah kedua orang itu masih tampak asing, tetapi sudah bisa dipastikan bahwa mereka bukanlah orang baik.
“Wah ... sepertinya kita kedatangan musuh tak diundang, ayo bersiap!” ucap Riko siaga.
“Kau benar! tapi sayang sekali aku sedang tidak membawa senjata,” sahut Juan.
“Apapun itu, usahakan kita bertiga jangan sampai terpisah,” tambah Fuurin.
“Siap!”
Kedua serigala itu mulai bersiap dan memasang ancang-ancang untuk menyerang. Setelah kedua hewan buas ini mendapat kode dari tuannya, mereka pun langsung berlari mendekati sasarannya.
Fuurin mungkin masih belum bisa menunjukkan kekuatan spiritulnya di depan orang asing, tetapi dalam hal pertarungan fisik ia sudah cukup lihai dan tangguh, begitu juga dengan kedua teman komplotannya itu.
Dalam hal ini Riko merasa sedikit tertantang, mungkin kedua hewan itu bisa ia jadikan sarana latihannya.
Ketika akan memulai serangan pembuka bel masuk kelas pun berbunyi.
DING ... DONG ....
“Sial! kenapa harus di saat-saat seperti ini sih,” keluh Riko.
Walaupun demikian, mereka tetap akan melanjutkan pertarungan tersebut. Bertarung dengan penuh semangat, hanya dengan bermodalkan tendangan, pukulan, dan kelincahan gerakan, mereka cukup bisa mengimbangi pertarungan 3 lawan 2 itu.
Namun, setelah cukup lama bertarung, tentunya mereka juga akan mengalami yang namanya kelelahan. Akurasi serangan mereka pun mulai melemah serta kelihaian irama gerakan yang sudah semakin terbatas.
Hampir saja serigala itu berhasil menerkam Riko yang sempat terjatuh, tetapi sebuah serangan yang datang entah dari mana telah berhasil menghentikan serigala itu untuk sementara waktu.
“Anak panah? siapa yang melakukan hal ini?” tanya Riko bingung.
Mereka bertiga tetap waspada, tetapi juga merasa penasaran, siapa yang telah menyerang kedua serigala tersebut dengan anak panah. Tak lama kemudian, serigala pun kembali bangkit dan kedua bodyguard itu mulai mendekat untuk mencabut anak panah yang tertancap pada tubuh kedua serigala tersebut.
Wajahnya terlihat begitu sangar dan menyebalkan, Riko berusaha menahan dirinya agar tidak mengatai orang itu, karena akan sangat berbahaya jika seandainya mereka membawa senjata api.
‘Sial, wajah macam Thanos aja lu belagu, mau nakut-nakutin orang ... awas saja ketemu majikan lu, gue sikat sekalian,’ batin Riko.
Ketiganya hanya mundur perlahan sembari mencari celah untuk kabur. Saat serigala mulai bangkit dan mendekat, tiba-tiba hembusan angin kembali berubah. Suasana pun menjadi mendung dan mencekem, perasaan tidak enak itu sudah jelas adalah tanda kemunculan iblis.
“Ini iblis! gawat ... kalian bersiaplah! musuh kita kali ini bukanlah manusia,” ucap Fuurin waspada.
“Aku tahu! sial ... masalah serigala belum berakhir, sekarang sudah ada masalah baru lagi, cihh!” sahut Riko.
“Jadi seperti ini ya berhadapan dengan iblis, aku sih belum pernah berhadapan dengan mereka, tapi sepertinya akan menjadi hal yang merepotkan,” tambah Juan malas.
“Sebaiknya kau bersiap saja dan jangan terkejut melihat apa yang akan terjadi nanti,” sahut Riko.
Karena terlalu sibuk membicarakan tentang iblis, mereka bertiga pun tak sadar bahwa kedua serigala itu sudah siap menerkam. Ketika hewan itu melompat ke sasarannya, tiba-tiba kibasan angin membelah kedua sisi tempat itu, mereka semua terhempas.
Kedua serigala itu pun mati terpotong akibat kibasan angin tadi, dan mereka semua tercengang ketika melihat kemunculan iblis angin berjubah hitam. Fuurin sedikit mengernyit ternyata iblis itu mengambil wujud biasa yang menyerupai manusia, walau begitu tetap saja makhluk itu tak bisa diremehkan begitu saja.
Kedua bodyguard itu akhirnya turun tangan untuk membasmi makhluk misterius yang baru saja menghabisi kedua serigala peliharaan mereka.
Sebuah senjata api mulai dikeluarkan oleh masing-masing dari bodyguard tersebut. Mereka langsung memberi tembakan pada pada sang iblis. Namun, sayang sekali ... tembakan itu tak berarti apa-apa baginya.
Makhluk itu mulai mendekat dan dalam tempo yang singkat, kedua leher bodyguard langsung dipatahkan sekaligus. Iblis itu pun menyerap jiwa dari kedua orang tersebut yang membuat keduanya langsung tewas mengenaskan dan terbujur kaku.
Ketiga komplotan di sana langsung merinding, mereka masih bersembunyi di suatu tempat. Namun, sayangnya mereka saling terpisah akibat dampak kibasan angin tadi.
Mereka ingin segera bergabung dan langsung pergi, tetapi mereka juga khawatir itu malah akan menarik perhatian iblis angin.
Juan yang bersembunyi cukup dekat dengan tempat Riko, akhirnya perlahan mendekat dan kembali berkumpul. Fuurin yang tempatnya cukup berseberangan jauh dengannya, ia hanya bisa memberi sebuah kode untuk saling berkomunikasi.
Keduanya hanya menggunakan isyarat atau bahasa tubuh. Setelah mengonfirmasi rencana itu dan membuat kesepakatan, Juan mulai membisikkan sesuatu pada Riko. Mungkin rencana itu agak sulit diterimanya, tetapi tidak ada pilihan lain lagi untuk mengatasi masalah saat ini.
“Oii ... tidakkah itu sangat berbahaya, itu seperti sebuah pertaruhan, jika bukan kita berdua yang tertangkap, pastinya Fuurin yang akan dalam bahaya,” protes Riko.
“Ah, ini memang sebuah pertaruhan, tapi tentunya kita berharap tak akan ada yang sampai tertangkap, kau percayakan saja semuanya padanya, setelah itu bantuan pasti akan segera datang,” bisik Juan dengan memelankan suaranya sekecil mungkin.
“Bukannya kau bisa mengirim pesan dengan ponselmu, lebih cepat kan! kenapa malah cari yang ribet sih, menunggu Fuurin sampai tiba di klub exorcist, kita mah sudah jadi ikan teri macam bodyguard tadi, hmm,” balas Riko yang masih tetap tidak setuju.
“Iya juga sih, tapi ... memangnya si iblis mau nungguin sampai para exorcist tiba? hmm.”
“Kalau masalah itu ... gak jamin sih, tenaga gue juga sudah hampir habis gara-gara melawan kedua serigala sialan tadi,” balas Riko bimbang.
“Makanya, kita harus alihkan perhatian makhluk itu agar Fuurin bisa segera pergi, kalau hanya menunggu bantuan datang, kemungkinan kita bertiga akan bernasib sama seperti mereka berdua.”
“Bagaimana jika makhluk itu tidak mengejar kita dan malah menyerang Fuurin?” tanya Riko.
“Jika itu terjadi, maka rencana langsung berubah, kita akan kembali membantu Fuurin, bagaimana?” usul Juan.
“Oke, bisa diterima sih ... tapi ....”
KLANGGG ....
Sebuah benda tiba-tiba terjatuh di sekitarnya, mereka pun langsung terdiam dan mengambil ancang-ancang untuk segera kabur. Iblis angin mulai mendekat, sebelum pergi ... dengan sengaja Juan meninggalkan jam tangannya di tempat tadi, setelah itu barulah ia langsung kabur bersama Riko.
.
.
.
TBC