
Riko begitu deg-degan ketika mencoba untuk melihat apa yang ada dibalik dinding itu. Ia berjalan perlahan sembari meneguk ludahnya. Ketika ternyata ia mendapati sesuatu di sana, serangan jantung ringan kembali terjadi.
UWAA ....
HYAAA ....
“Ka-kau ... terciduk kau, oii ... jangan kabur!” pekik Riko.
Orang itu segera kabur setelah Riko memergokinya, ia menuruni tangga begitu cepat hingga pijakannya pada beberapa anak tangga terakhir menjadi tidak stabil dan akhirnya terpleset.
BRUGHHH ....
Ia terjatuh dengan posisi yang cukup buruk, melihat hal itu Riko segera turun untuk menangkapnya sebelum ia kabur lagi.
“Oii ... kau, jangan kabur lagi!” pekik Riko dengan tatapan tajamnya.
“Emm ... jangan berprasangka buruk dulu, sebenarnya tadi cuma kebetulan lewat aja,” balas siswa berambut pirang itu.
Riko berjalan agak santai mendekati orang itu, sepertinya dia sudah menyerah dan tak berniat kabur lagi.
Riko kembali melihat pada orang itu dan ternyata ia sedang terluka, pantas saja tak bisa kabur lagi. Suasana kembali hening dan tanpa bertanya lagi Riko langsung meraih orang itu lalu menyeretnya ke pinggir tangga untuk menormalkan posisi kakinya.
Walaupun sedikit agak kejam, tetapi ia benar-benar berniat untuk memberi sedikit bantuan sebelum menginterogasi orang itu.
“Oke, sekarang kau sudah tenang bukan? cepat katakan! jawab dengan jujur! sejak kapan kau berdiri di sana? untuk apa kau mengikutiku? apa kau punya rencana jahat padaku?” tanya Riko mengintimidasi.
“Akhh ... santai dulu bro, jangan ngegas gitu! kau begitu menakutiku, akan aku jelaskan, tapi kau tenangkan dulu dirimu! jangan sampai menyiksa orang karena suatu kesalahpahaman,” sahutnya agak khawatir.
“Hahhh ... kau ini aneh sekali, untuk apa menyiksamu? apa gunanya? selain itu apa maksudnya dengan kesalahpahaman? kau jelas-jelas ketahuan sedang menguntitku, masih beralasan lagi,” balas Riko sinis.
“Huhh ... siapa juga yang menguntitmu, sebenarnya tadi aku kebetulan lewat sini, lalu lihat kau bersantai di sana, tadinya mau langsung menghampirimu, tapi tiba-tiba siswi aneh tadi langsung mendatangimu, aku jadi bingung harus bagaimana? jadi sebelum dia menyadariku, aku terpaksa harus bersembunyi sampai kalian bubar, tapi entah kenapa, tampaknya kalian asyik sekali ngobrolnya sampai-sampai kakiku pegal menunggu kalian kembali, bahkan aku jadi melewatkan pelajaran terakhir, hmm ... menyebalkan sekali,” jelas siswa itu dengan muka masamnya.
“Hahhh ... hahaha ... jika benar begitu, kau bodoh sekali! hahaha ....”
Riko hanya tertawa lepas mendengar penjelasan dari rekan sekelasnya itu.
“Berhenti tertawa! ini gara-gara kau juga, dan orang itu ...,” sahutnya dengan sedikit keraguan.
“Hahh ... lagi pula kenapa kau mau mendatangiku? kau sudah tahu kan, aku sudah biasa bolos, kenapa tiba-tiba ingin menemuiku, apa uang yang aku beri tidak cukup? hmm,” tanya Riko iseng.
“Bukan begitu kampret! kau berhenti berpikir buruk padaku, sebenarnya tadi temanmu si Fuurin itu heboh sekali, dia pikir kau tiba-tiba menghilang, dia sangat khawatir sampai-sampai kakinya terkilir saat berjuang mencarimu, jadi setelah aku melihat kau di sana, ya ... kupikir aku perlu memberitahumu agar segera menemuinya dan ia tak perlu khawatir lagi,” jelasnya dengan rinci.
“Benarkah? bagaimana keadaanya sekarang? apa dia baik-baik saja? cideranya tidak parah kan? dan sekarang dia ada di mana? bersama siapa?” tanya Riko tanpa memberi jeda pada pertanyaannya.
“Kau ini ... bisa tidak ya, kalau bertanya itu satu-satu, jangan serakah gitu, panikmu bikin pusing saja,” sahutnya ketus.
“Tapi gue cuma penasaran aja.”
“Huftt ... aku tahu kau pasti mengkhawatirkannya, tapi tenanglah! dia baik-baik saja, lagi pula sudah ada ketua OSIS yang sedang merawatnya di UKS,” balas Juan sembari menghela napas.
“Ketua OSIS? memang siapa ketua OSIS itu?” tanya Riko sembari mengernyitkan alisnya.
“Huft ... kau benar-benar apatis sekali ya, ketua OSIS saja tidak tahu, kau sudah dua tahun lho bersekolah di sini, hmm ... abaikan saja! dia itu siswa yang sangat terkenal dan jenius, penampilannya juga oke, dia terlihat keren dan berkharisma, dengan frame kacamata membuatnya semakin berkelas,” jelas Juan dengan wajah yang berseri-seri.
“Sudah berhenti! fanboy sialan, kau jangan teruskan lagi, itu membuatku jadi semakin mual, sekarang aku paham ... jangan-jangan orang itu si rubah empat mata ketua klub exorcist benar bukan?” tanya Riko untuk memastikan kembali.
“Ahh, benar juga! sepertinya mereka sempat membahas tentang exorcist, yahh ... mungkin memang dia yang kau maksud, hmm ... jadi kalian sudah saling kenal ya?” tanya Juan penasaran.
“Ceritanya panjang, sialan empat mata itu memang sangat memuakkan, aku tanya lagi ... benar bukan namanya Andi?” tanya Riko lagi.
“Yup ... benar sekali.”
“Sudah kuduga.”
'Tunggu sebentar, mereka bertiga saling mengenal dan sebelumnya sempat ada perseteruan, dan ia sangat membenci senior Andi, hmm ... bukankah ini kebetulan yang tak masuk akal? eh ... atau jangan-jangan benar, ini semacam cinta segitigakah? oke ... aku paham sekarang kenapa dia begitu membencinya, hhhhh,' batin Juan sambil memasang ekspresi berseri.
“Oii, si jamur brengsek! apa yang sedang kau pikirkan, aku tahu kau sedang memikirkan yang aneh-aneh kan?”
“Aku mengerti! selamat berjuang ya ... aku pasti mendukungmu,” ucap Juan masih dengan wajah yang berseri dan yakin.
“Sialan! jangan menyimpulkan seenaknya ya ... apapun yang kau pikirkan, ingat! aku tak seperti yang kau bayangkan.”
“Oke deh, santai aja ... aku mengerti segalanya.”
“Argghhh ... orang ini ....”
“Hei, Riko ... kurasa kau tak seburuk gelarmu, aku jadi penasaran,” ungkap Juan bersemangat.
“Diam! kau bukan temanku, jangan berani memanggil namaku, selain itu kau berhenti mencampuri urusan orang lain!” balas Riko acuh.
“Hmm ... membosankan sekali, oiya, aku Archea Juan, kau boleh panggil aku Juan.”
“Sudah kubilang, aku tak berteman denganmu.”
“Tidak masalah, aku cuma ingin memberitahumu agar kau jangan terus memanggilku jamur payung, oke!”
“Terserah gue dong!”
“Hmm ... keras kepala sekali, emm ... sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu dari tadi,” ucap Juan sedikit serius.
“Apaan? katakan saja langsung.”
“Tentang siswi yang bersamamu tadi.”
“Oh ... dia Lisa, siswi dari kelas A, dia cukup baik denganku, orangnya juga rajin dan pandai, hmm ... kenapa kau menanyakan hal itu? jangan-jangan kau menyukainya ya?” tanya Riko agak curiga.
“Tidak juga, aku hanya penasaran saja, aku pun tak berniat menyukai orang itu dan aku juga tidak mengenalnya walaupun beberapa kali pernah melihatnya, hanya saja ... kurasa aku membenci orang itu,” balasnya dengan intonasi yang cukup dingin.
“Hahh ... apa maksudmu?”
“Bukan apa-apa kok! hehehe ....”
Ketika hampir sampai di tujuan, mereka kembali saling berpapasan dengan Fuurin dan Andi, dan seperti biasa Fuurin akan langsung berteriak histeris. Ia senang sekaligus kesal terhadap Riko yang tiba-tiba menghilang. Ia berlari ke sisi Riko yang sedang memapah Juan.
“Hei, Juan! aku akan pergi bersama Riko, kau dengan ketua saja ya! dia cukup hebat kok dalam merawat luka.”
“Okelah kalau begitu ...”
Sebelum ia pergi dari sana, tak lupa ia membisikkan sesuatu pada Riko.
“Semoga sukses ya! aku selalu mendukungmu,” bisiknya.
“Sialan! sudah gue bilang kau jangan berpikir yang aneh-aneh ya.”
“Ahahahaha ....”
“Sudahlah! Riko ada sesuatu yang ingin aku katakan, dan kami juga sudah membahas hal ini dengan yang lainnya, kau jangan berontak lagi ya! ini adalah hal yang cukup serius,” ucap Fuurin yang kembali dramatis.
Juan menatap mereka dengan intense.
'Hei-hei ... apakah ini berhubungan dengan klub mereka? selain itu ... setahuku klub mereka adalah klub tidak biasa yang sangat tertutup, hmm ... ini cukup menarik,' pikirnya.
Mereka mulai berhanjak pergi dan hanya menyisakan dua orang di sana, Andi tampak sedikit menyeringai, mungkin ia telah menyadari sesuatu.
“Ayo! aku akan mengantarmu ke UKS,” ajak Andi dengan ramah.
“Baiklah, senior ... maaf jadi merepotkanmu,” balas Juan sopan.
“Tidak masalah, kau juga sudah membantu nona Fuurin sebelumnya bukan.”
“Ah iya, hahaha ....”
“Hmm ... sebenarnya aku sedikit penasaran, bagaimana bisa orang seperti kau bisa berada di kelas D?” ucap Andi tiba-tiba.
Juan sedikit terkejut mendengar kalimat yang cukup membingungkan itu. Namun, setelah itu ia kembali menyeringai sembari melirik tajam ke arah Andi.
“Tentu saja, aku hanya orang biasa.”
Lalu kembali tersenyum dengan normal.
.
.
.
TBC