
“Ehh ... selamat yahh! misi kalian sukses besar, tapi tahukah ... kalian juga harus memberikan selamat atas keberhasilanku telah menangkap kedua nona hantu yang sedang berkeliaran.”
“Se-se-nior ... ketua club exorcist?”
“Hei ... kenapa kau melihatku seperti sedang melihat hantu, lihatlah dirimu! bukankah kau lebih terlihat menyeramkan daripada aku.”
“Hmm ... senior! kami cuma cosplay aja kok, jangan takut, oke ...,” ucap Fuurin.
“Ehh ... GR banget sih kau, siapa juga yang takut dengan penyamaran bodohmu ini,” bentak Riko atas kebodohan temannya.
“Siapa yang kau bilang bodoh, lihat kau sendiri juga bodoh tau,” balas Fuurin yang tak mau kalah.
“Itu sih karena ide bodohmu! kalau bukan karena dompetku kau tahan mana mungkin mau ikutan.”
“Ehh ... ingat! kau juga punya dendam sama si club sastra, aku cuma ingin membantumu saja.”
“Ya, tapi lihat dulu kondisinya, kau asal labrak aja, gue juga kan yang kena!”
“Mana kutahu, para pendeta club exorcist akan datang.”
“Salahmu ....”
“Salah kau juga ....”
“Bukan, ini sepenuhnya salah kau.”
ARGHHHH ....
“Oii ... anak-anak nakal! kalian tak memperhatikanku lagi, berani sekali kalian,” sela senior tadi dengan aura yang kuat.
“ Se-se-nior ... salah dia.”
“Oke ... cukup! kalian berdua sudah tertangkap, tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi.”
Dengan tatapan dingin dan sinisnya, ketua exorcist menyeret kedua hantu ini masih lengkap dengan kostumnya.
Sebenarnya Riko merasa sedikit khawatir, mungkin kali ini ia benar-benar akan dikeluarkan dari sekolah. Padahal baru saja ia ingin memulai semuanya dari awal dan berdamai dengan dirinya sendiri, tetapi nasibnya selalu berakhir buruk. Di tengah kegelisahan dan lamunannya, tiba-tiba saja ia diinterupsi oleh suara yang begitu dekat dengan telinganya.
“Ada apa nona, kau terlihat begitu gelisah, apa aku sudah menakutimu, hmmm ...,” bisik senior tadi mengintimidasi Riko.
Dalam hati Riko begitu kesal mendengar suara dan cara berbicara seniornya ini.
Orang ini benar-benar membuatku gila, ia benar-benar terlihat seperti karakter anime yandera yang mendominasi, pikir Riko.
“Jangan menatapku seperti itu, atau aku benar-benar akan memajangmu di ruang koleksi klub kami.”
“Uwaahhh ... kau mau jadikan kami mumi, gawat, Riko ayo kabur!” seru Fuurin yang terlihat panik.
....
Fuurin langsung menghempas lengan seniornya sebelum ia berlari meloloskan diri. Hendak menarik tangan temannya, tetapi usahanya gagal. Riko benar-benar sudah tertangkap, tangan senior yang tadinya menahan Fuurin kini sepenuhnya telah berhasil mencengkram Riko dalam dekapnya.
“Ampun dah ... gue benar-benar akan dikulitinya kali ini, jahat benar senior ini ... tanpa ampun,” gumam Riko yang gagal kabur dari seniornya.
.....
“Kenapa kabur sih? aku belum selesai bicara, tidak sopan sekali kalian,” protes senior itu.
“Senior, lepaskan dulu temanku! lihat, dia begitu ketakutan, kau mau jadikan ia mumi?” tanya Fuurin yang masih panik.
“Siapa juga yang mau jadikan dia mumi, aku cuma bercanda, hahaha,” balas senior itu sambil terkekeh.
ARGHHH ....
“Kesabaran gue benar-benar sudah habis, sebenarnya kau mau apa sih? kalau mau laporkan, silahkan terserah kau ... semuanya pasti senang jika gue keluar dari sekolah ini, kau juga pasti sudah merencanakannya dari tadi,” teriak Riko kesal.
“Hehhh ... aku? apa yang aku rencanakan? memangnya siapa kau? kenapa harus menendangmu dari sekolah, apa untungnya bagiku? hmm ....”
Senior exorcist terus menuntut dan memojokkannya tanpa ampun, mental Riko kembali menciut. Senior itu berbisik begitu dekat dengan telinganya membuat ia seketika merinding.
“Oke ... aku menyerah senior! jangan intimidasi lagi oke ... aku benar-benar tak kuat dengan sikapmu yang seperti psikopat itu,” balas Riko yang kembali melemah.
“Oke, tenangkan dulu dirimu dan panggil temanmu itu!” perintah senior itu.
“Oke deh ... oii ... Fuurin, cepat kemari jika kau masih peduli padaku.”
“Hmm ... mau bagaimana lagi, walaupun menyusahkan kau tetap temanku.”
“Kampret ... salah siapa woy ... kalau bukan karena kau ...."
Senior exorcist langsung membekap mulut Riko dengan tangannya.
“Berhenti berteriak! kau membuatku semakin kesal.”
“Ma-maaf ... ga sengaja.”
Fuurin langsung datang ke tempat mereka berdua. Senior itu kembali mempersilahkannya untuk duduk di sana.
Setelah keadaan sudah lebih tenang, baru ia melepaskan Riko kemudian duduk di sebelahnya.
“Oke, nona-nona ... sekarang sudah lebih tenang, bisakah kalian berdua menjelaskan apa yang telah terjadi?” tanya sang senior.
“Baiklah ... aku akan menjelaskan semuanya, tapi berhenti kau memanggilku nona, dasar kau empat mata keranjang,” protes Riko.
“Yang salah itu matamu, jelas-jelas aku ini laki-laki kau terus panggil nona.”
“Benarkah? ah, sorry ... aku tidak menyadarinya, penampilanmu benar-benar seperti hantu wanita.”
“Namanya saja cosplay, mau jadi apa saja bebas”
“Hmm ... tau begitu aku beneran tonjok mukamu yang menyebalkan dan berisik itu,” gerutu senior dengan ekspresi iblisnya.
“Hahh ... mentang-mentang senior, mengancam orang seenaknya.”
“Yang salah siapa? aku hanya sedang menuntut kedua pembuat onar malah ngelawan.”
Senior exorcist kembali kesal dan mendekat ke arah Riko dengan tatapan membunuh.
“Ehh ... sudah! sudah! kalian berdua kenapa malah tegang lagi, cuma meluruskan masalah aja kok jadi ribet gini sih,” lerai Fuurin.
“Ah iya ... kita kembali ke topik permasalahan, tapi sebelum itu aku mau bertanya ... bagaimana denganmu hantu yang satunya, apa kau juga laki-laki?” tanya senior lagi pada Fuurin.
“Tidak, aku perempuan lah! memangnya aku terlihat seperti laki-laki, huhuhu ...,” balas Fuurin dramatis.
“Kacamatamu sudah retak kali, masa ga bisa bedain,” sela Riko.
“Makanya ... kau juga ngapain pakai pakaian seperti ini,” balas senior exorcist.
“Sudah kubilang tadi namanya juga cosplay, huhhh ... capek ngomong sama kau.”
“Sudahlah cukup obrolannya disimpan nanti saja, sekarang luruskan dulu masalah ini,” balas senior yang mulai serius.
Akhirnya mereka mulai menjelaskan dari awal seperti apa rancangan rencananya untuk mengisengi club sastra. Seperti apa jalan ceritanya? beberapa kali senior exorcist tersenyum dan terkekeh, mereka benar-benar bodoh dan terlalu polos, pikirnya.
.....
“Kami sudah menceritakan semuanya dengan jujur, kau masih ingin melaporkan kami?” tanya Fuurin dengan ekspresi memelas.
“Hmm ... aku pikir-pikir dulu bagaimana baiknya,” balas senior sembari memikirkan sesuatu.
“Bilang saja kau ingin aku dikeluarkan segera dari sekolah, oke ... aku sudah mempersiapkan diri, tapi kau jangan bawa-bawa masalah ini padanya dan kau juga harus melindungi temanku satu-satunya yang terlalu bodoh ini,” ucap Riko dengan kesal.
“Riko ... aku ini temanmu, mana mungkin membiarkanmu dalam masalah sendirian,” sahut Fuurin yang semakin dramatis.
“Ehhh ... sudah jangan drama lagi, bosan! kau juga dari tadi bilang apaan ga jelas, memang apa untungnya jika kau keluar dari sekolah? hmm ... tentu saja aku punya penawaran lain, sama-sama menguntungkan,” jelas senior exorcist dengan nada yang penuh maksud.
Riko langsung membersihkan wajahnya dari make up hantunya serta melepaskan semua atribut kostum hantu dan kembali mengenakan seragamnya.
.......
“Sekarang kau sudah lihat kan! siapa aku ... aku orang yang dibenci semua orang tentu saja semuanya akan senang jika aku menghilang,” teriak Riko.
“Itu bukan urusanku ya, mau siapa kek ... kau tetap tahananku sekarang ini,” balas sang senior sedikit acuh.
“Ehh ... kau tidak tahu aku?”
“Kenapa harus tahu?”
“Bodoh kau! semua orang biasanya mengatakan aku ....”
“Ah ... playboy psycho,” sela Fuurin.
“Jangan bilang gitu dong! nanti dia salah paham.”
“Ahahahaha ... aku sering mendengarnya dari orang-orang, tapi aku tak menyangka ternyata kau orangnya, hahaha ... bodoh sekali,” ejek senior exorcist.
“Diam kau rubah empat mata, sudah puas sekarang kau bebas menghina ataupun melaporkanku.”
“Lagi-lagi melaporkan, memang apa keuntungannya aku melaporkanmu? sudah kubilang tadi kau hanya tahananku saat ini, jika ingin semuanya baik-baik saja cukup dengarkan penawaranku jika tidak aku bisa mengeksposmu kapan saja,” ancam sang senior.
“Rubah licik ... beraninya kau mengambil kesempatan dalam kesempitan, huhh ... oke, sekarang apa maumu, cepat katakan!”
“Jangan terburu-buru, aku orangnya santai kok, oh iya ... hampir lupa satu lagi, nona kamu tadi namanya siapa ya? Fuen kah?”
“Bukan ... perkenalkan aku Fuurin, senang bertemu denganmu,” jawab Fuurin.
“Aku Andi, senang juga bertemu denganmu, nona cantik ...,” salam senior exorcist.
“Ahaa ... terima kasih, aku ....”
“Kampret ... kalian berdua jangan OOT terus, cepat katakan apa penawaranmu keburu bel berbunyi nih,” bentak Riko kesal.
“Santai dulu ... jangan marah-marah begitu, akan aku jelaskan syaratnya, kalian berdua dengarkan baik-baik ....”
“Oke ... silahkan saja, kalau bisa harap dipercepat.”
.
.
.
TBC.