Roped Fate

Roped Fate
Ch.54 : Pagi Yang Panjang



Riko pun kembali membereskan busur dan anak panah yang masih berserakan, kemudian meletakkannya di atas meja. Ketika melihat jam pada ponselnya, ia pun kembali menghela napas. Hari ini masih tepat pukul 05:00 pagi, ia merasa tak ingin kembali ke tempat tidurnya.


Karena masih terpikir akan kejadian sebelumnya yang telah menimpanya, ia pun kembali penasaran untuk membuka jendela.


Hanya sekedar untuk melihat-lihat keadaan di luar, sekaligus merenungkan kembali tentang mimpi itu. Ia hanya terdiam sebari merasakan sensasi udara pagi yang masih cukup dingin itu


‘Hmm ... aku sudah merusak pelindungnya, haruskah aku meminta bantuan pada orang itu lagi?’ bhatin Riko bimbang.


Riko merasa cukup enggan jika melakukan hal itu, tetapi ia juga tak punya pilihan lain yang bisa menjamin keselamatannya di lain hari.


‘Heeh ... jika dipikir-pikir, ternyata benar ya? takdir itu memang datang memburuku, nasib sial anak dari dua orang exorcist bodoh, hmm ... dia benar-benar sudah menduganya.’


Riko hanya terus melamun sembari memikirkan tentang hal dalam ingatannya itu.


‘Tapi aku selalu penasaran, sebenarnya hal apa yang telah membuatku jadi membenci orang itu?’


Semakin dipikirkan, maka semakin sakit kepalanya membayangkan hal itu. Sementara desiran angin yang melambai-lambaikan ranting pohon, terasa semakin sejuk.


Ia melihat dan memperhatikan sekitar, bahwa keadaan di sana masih baik-baik saja, tak ada cahaya ungu lagi yang muncul seperti sebelumnya dan tak ada juga iblis usil yang tiba-tiba datang menghampiri.


Kali ini Riko akhirnya bisa menarik napas lega. Sembari diam melamun, perlahan langit mulai bersemu terang. Ia sudah cukup menghabiskan waktunya untuk berpikir.


Ketika melihat kembali pada ponsenya, ternyata jam telah menunjukkan pukul 05:30.


Riko pun mulai bergegas untuk mengakhiri lamunannya, lalu berjalan untuk menyalakan lampu kamarnya.


Ia mulai membereskan kamarnya dan menyiapkan segala keperluan sekolahnya.


“Ahh ... bosannya! ini masih cukup pagi, apalagi yang perlu aku kerjakan,” keluh Riko sembari kembali berbaring pada tempat tidurnya.


Kemudian ia mengambil dan memeriksa ponselnya, di sana tampak tak ada pesan pemberitahuan apapun.


Riko berencana menghubungi teman seberandalannya, tetapi ia cukup merasa ragu.


“Heeh ... emang si kampret udah bangun jam segini? hmm ... gak jadi deh.”


Ia pun menekan tombol back lalu melempar ponselnya di tempat tidur.


‘Huhh ... bosan!’


Baru saja ia berniat mengambil kembali ponselnya, tiba-tiba saja itu berdering dan sempat membuatnya terkejut.


‘Astaga, ponsel sialan ... bikin kaget saja.’


Meskipun sedikit kesal dengan hal itu, ia cukup penasaran juga, siapa orang yang tiba-tiba menelponnya pagi-pagi begini.


Ia pun bangun sembari melihat dan menatap nama yang tertara pada layar ponselnya.


“Heeeh ... ada apa lagi ini si iblis empat mata pagi-pagi begini nelpon gue,” gumam Riko dengan ketus.


Ia sempat berpikir untuk menutup panggilan tersebut. Namun, pada akhirnya ia tetap menerimanya.


“Ya ... empat mata sialan? kenapa tiba-tiba telpon gue?” ucap Riko dengan cuek.


“Hari ini sebaiknya kau jangan pergi ke sekolah dulu, sekian dan no comment,” sahut Andi dengan singkat, padat, dan jelas.


TUT ... TUT ....


“Haah ... apa maksudnya ini, sialan empat mata, arghhh!”


Riko tampak kesal sembari mengepal tangan, auranya berapi-api.


“Orang paling gaje yang selalu berhasil bikin gue naik darah, roaarrr!”


Karena tak ada siapapun di sana yang bisa ia jadikan sasaran amukannya, akhirnya ia kembali berbaring di tempat tidur.


‘Yahh ... meskipun menyebalkan, mungkin dia punya alasan dibalik semua itu, lagi pula aku juga masih ingat bahwa misi hari ini akan dijalankan sore nanti, jadi ... kurasa aku perlu menghubunginya lagi nanti, tapi ... mungkin juga sepulang sekolah dia sendiri yang akan datang kemari, arghh ... masa bodo! mumpung libur, aku latihan dengan senjata baruku dulu deh.’


Setelah selesai berkompromi dengan dirinya sendiri, akhirnya ia bangun dan berjalan menuju meja tempat ia meletakkan busur dan anak panahnya.


Ia memperhatikan setiap sudut benda yang tengah ia pegang itu sembari sedikit mengernyit.


‘Pantas saja rasanya tak asing dengan benda ini, jadi ternyata ... ini memang senjata milikku dulu dan aku pernah menggunakannya, tapi anehnya ... kenapa aku bisa melupakan hampir sebagian kenanganku waktu kecil, apakah ada sesuatu yang terjadi sebelumnya? entahlah, mungkin aku perlu menanyakannya pada Tian.’


Riko cukup penasaran dan terus bertanya-tanya dalam hati, seperti apakah masa lalunya dulu.


Setelah itu Riko kembali melanjutkan aktivitas biasa, seperti mandi dan kegiatan lainnya.


.


.


Selesai melakukan kegiatannya, Riko pun pergi membantu bibinya untuk menyiapkan makanan, selain beres-beres ia juga membantu menghidangkan makanan di meja makan.


Bibinya cukup heran dengan tingkah Riko yang tiba-tiba saja rajin hingga menyempatkan diri untuk membantunya pagi itu.


Ia terlihat cukup terburu-buru, karena setelah selesai menyiapkan makanan, ia langsung bergegas sarapan sekaligus minta izin bahwa hari ini ia tak akan pergi ke sekolah.


“Bibi, hari ini aku ada urusan penting, jadi aku tak akan pergi ke sekolah,” ucap Riko pada bibinya.


“Begitu ya, baiklah kalau memang sibuk, tapi ngomong-ngomong kamu ada acara ke mana?” tanya bibi penasaran.


“Kalau acara sih nanti sore, tapi untuk pagi ini urusanku ada di rumah,” balas Riko santai.


“Baiklah, tidak masalah ... kalau begitu habiskan makanannya ya!”


“Siap bibi!”


Riko makan dengan cukup terburu-buru, ia tampaknya ingin segera kembali ke kamarnya.


Setelah menyelesaikan makanannya, ia pergi mencuci piring, lalu berjalan cepat menuju kamarnya.


Dalam perjalanan ia hampir saja menabrak adik sepupunya.


“Astaga, Tian sialan! kenapa kau nongol tiba-tiba sih! hampir saja ketabrak,” bentak Riko.


“Eh, yang salah siapa juga ... lu jalan macam robot yang hilang kendali, gak bisa santai dikit napa,” balas Tian.


“Gue lagi cepat-cepat mau ke kamar tau.”


“Ngapain, kebelet lu?”


“Sialan, gue ada latihan nih ... eh, bentar! lu juga harus ikut sekarang!” ucap Riko bersemangat.


“Eh, ngapain? gue udah kesiangan nih belum mandi lagi, bisa-bisa telat nanti,” sahut Tian kecut.


“Udah, bentar aja kok ... ini masih pagi.”


“Iya masih pagi, lo udah rapi begini ... sedangkan gue baru aja bangun belum mandi, belum sarapan, belum lagi dandan nanti mau ke sekolah, waktu pagi anak cewek itu 300% dari cowok, dan lo harus mengerti itu!” balas Tian dengan aksen yang super tinggi.


“Astaga, ini adik apa setan sih?” sindir Riko.


“Roarrrr! pagi-pagi udah ngajak ribut, niat minta bantuan apa berantem nih?”


“Oke-oke, gue serius nih mau bahas tentang busur dan anak panah yg kemarin itu,” jawab Riko santai.


“Hah? kenapa lagi sih, kan udah gue kasih tau kemarin, dasar kau ... cerewetnya macam nona saja,” protes Tian kesal.


“Yang kali ini beda lagi, cepat dong! jangan protes lagi, nanti lu telat sekolah malah gue yang jadi sasaran amukan lu.”


“Okedeh, 2 menit doang,” balas Tian singkat.


“Pelit lu!”


“Mau gak?”


“Yaudah mau, gak ada pilihan lain sih.”


Akhirnya keduanya sepakat dan mulai melangkah menuju kamar Riko untuk memeriksa senjata misterius miliknya.


.


.


.


TBC