Roped Fate

Roped Fate
Ch.64 : Seseorang Di Balik Semak



Malam itu Andi dan rekan-rekan exorcistnya berpencar untuk mencari Riko. Mereka terbagi menjadi beberapa team, yaitu Andi dan Fuurin bergerak ke arah timur jalan. Kemudian, Nana dan Erick mencari ke arah barat. Untuk Ruri, Miki, dan Ran mencari ke arah selatan jalan.


Mereka terus mencari ke setiap sudut tempat, tetapi masih belum juga menemukan di mana Riko berada.


Andi dan Fuurin berjalan menyusuri tepi jalan yang berdekatan dengan aliran sungai kecil di kota itu. Mereka mencari di beberapa tempat bahkan sampai ke semak belukar.


“Ketua, menurutmu di tempat seperti apa orang itu membawa Riko?” tanya Fuurin memecah keheningan.


“Entahlah, aku juga tak mengerti ... apakah memang dia yang membawanya atau bukan, hanya saja sebelumnya orang itu mengatakan bahwa kita pasti akan menemukan Riko, dia tak memberi petunjuk sama sekali bagaimana kita bisa menemukannya,” jawab Andi yang juga kebingungan.


“Hmm ... kira-kira bagaimana ya dengan yang lain, apakah mereka sudah menemukan petunjuk?” tanya Fuurin penasaran.


“Entahlah, tapi jika diantara mereka sudah ada yg menemukannya ... tentu mereka akan memberi kabar,” sahut Andi tenang.


“Begitu ya.”


Uhuk ... Uhuk ....


Andi kembali terbatuk-batuk karena udara yang cukup dingin juga keadaannya yang belum pulih, benar-benar membuatnya kesulitan.


“Ketua, jangan terlalu memaksakan diri ... biar aku yang mencarinya, kau beristirahatlah dulu,” pinta Fuurin khawatir.


“Tidak masalah, kita hanya sedang mencari seseorang, bukan untuk bertarung ... jadi ini bukanlah masalah yang besar untukku, lagi pula tanganmu sendiri juga sedang terluka, bagaimana mungkin aku membiarkan kau pergi sendiri,” balas Andi dengan ramah.


“Jangan khawatir! ini hanya luka ringan dan sudah diobati juga oleh senior Ran, jadi ini akan segera sembuh,” sahut Fuurin.


“Baiklah, kalau begitu ayo kita lanjutkan pencarian ini!” seru Andi dengan senyuman ramah.


Baru saja mereka akan mulai melangkah, tiba-tiba sesuatu kembali mengganggu keberadaan mereka berdua. Tampak ada sesuatu yang sedang bersembunyi di balik semak-semak, membuat mereka berdua menjadi kembali waspada.


“Hei! makhluk apapun di sana, cepat! keluar dan tunjukan dirimu!” teriak Fuurin dengan intonasi yang sedikit tinggi.


Cukup lama menunggu, tetapi masih belum ada jawaban maupun reaksi dari makhluk misterius yang ada di balik semak-semak itu.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Fuurin langsung datang mendekati objek mencurigakan tadi.


“Aku akan memeriksa tempat itu, ketua tetaplah di sini untuk mengawasi,” pinta Fuurin serius.


“Baik, berhati-hatilah nona Fuurin,” lirih Andi yang sedikit khawatir.


“Tenang saja, aku pasti berhati-hati ... hanya sebentar untuk memastikan saja,” tegas Fuurin sebelum mulai melangkah ke tujuannya.


Dengan langkah perlahan Fuurin mulai mengeluarkan senjata khususnya yaitu tali senar spiritual.


Ia menggunakan benda itu untuk menyingkap apa yang ada di balik semak-semak, dengan mengikat lalu menyingkirkan objek sekitar yang mengganggu, akhirnya Fuurin berhasil membuka dan melihat apa yang ada di balik sana.


Tanpa jeda yang lama, sebuah bayangan hitam keluar dari tempat itu dan menghancurkan semak sekitarnya. Benda aneh yang bisa memanjang dan bergerak bebas itu pun kembali menyusut ke persembunyiannya.


“Iblis lagi ya? dan yang tadi itu ...,” gumam Fuurin dengan sepotong kalimat rumpang.


“Semacam tentakel?” sambung Andi yang juga penasaran.


“Mungkin.”


Tak lama kemudian, semak-semak pun kembali bergoyang, pada saat yang bersamaan pula mereka mendengar suara samar seperti orang yang sedang meminta tolong.


“Ketua, aku mendengar suara manusia yang sedang minta tolong,” ungkap Fuurin yang cukup panik.


“Aku juga mendengarnya, ayo kita segera bergerak!” seru Andi dengan serius.


Mereka berdua langsung menyiapkan serangan masing-masing untuk menyeret makhluk aneh tadi agar keluar dari tempat persembunyiannya.


Andi menggunakan serangan petir untuk mengoyak dan menghanguskan semak-semak sekitar yang menghalangi. Namun, ia sedikit menurunkan tegangan pada elemen petir yang ia gunakan agar tak sampai melukai seseorang yang ada di balik sana.


Setelah makhluk itu benar-benar terekspos jelas, kemudian Fuurin menggunakan tali senarnya untuk menyerang makhluk tersebut.


Sebagian ia gunakan untuk mengikat salah satu tentakel makhluk yang tengah melilit seorang manusia di sana, sedangkan tali senar lainnya ia gunakan untuk menyerang, mengikat, sekaligus mencekik tentakel-tentakel iblis tersebut.


Fuurin menarik kemudian memetik tali senarnya dan menghasilkan gema spiritual yang cukup besar. Setelah iblis mulai melemah, ia pun menggunakan kesempatan itu untuk menghancurkan salah satu tentakel iblis.


Setelah tentakel terputus, dengan sigap Fuurin menarik tubuh manusia tadi agar menjauh dari tempat iblis itu berada.


Untuk mengantisipasi serangan balasan, Andi pun menggunakan jarum-jarumnya untuk menyerang iblis, kemudian disusul dengan ledakan skala kecil yang cukup untuk melemahkan sang iblis.


“Aku mengerti,” balasnya singkat.


Dengan cepat Andi meraih seorang manusia yang sebelumnya telah ditarik keluar oleh Fuurin dari cengkraman iblis, kemudian membawanya ke tempat yang aman.


Meskipun dalam keadaan yang sudah melemah, iblis tetap masih bisa menyerang agresif. Akhirnya tanpa disadari sebuah tentakel dengan cepat melesat ke arah Andi.


Andi yang tengah membawa seseorang menjadi sedikit kesulitan untuk menghindari serangan tiba-tiba. Ia pun terjatuh, meski serangan tak sepenuhnya menerjangnya, tetapi akibat serangan itu pipi kirinya menjadi sedikit tergores dan berdarah.


“Kaichou!!!” teriak Fuurin panik.


“Tidak masalah, aku bisa mengatasi ini ... sisanya kau tolong bereskan makhluk itu, tenagaku sudah sangat terbatas,” balas Andi sembari berpindah mencari tempat yang aman.


“Baik ketua!” sahut Fuurin patuh.


Setelah menemukan dinding batu yang cukup kuat, Andi pun berlindung di tempat itu sembari melihat pertarungan dari jauh. Apabila nantinya Fuurin mengalami kesulitan maka ia akan kembali membantunya.


“Maaf sudah merepotkan kalian dan terima kasih sudah menyelamatkanku,” ucap seseorang yang telah ia selamatkan tadi.


“Tidak masalah, ini adalah tugas kami untuk membasmi para iblis,” sahut Andi tegas.


“Exorcist ya? hebat sekali!” seru orang itu.


“Benar, kami adalah seorang exorcist meskipun bukan dari organisasi resmi tapi beberapa dari kami sudah mendapat lisensi, jadi kami sudah bisa memulai misi atau semacamnya,” jelas Andi secara singkat.


“Begitu ya, tapi apa tidak masalah membiarkan nona di sana bertarung sendiri?” tanya orang itu lagi.


“Jangan khawatir, dia cukup hebat lho! selain itu level iblis tersebut masih cukup rendah aku yakin dia bisa mengatasinya,” jawab Andi tenang.


“Begitu ya, ngomong-ngomong kulihat dari penampilanmu, sepertinya kau telah terlibat pertarungan serius sebelumnya ya?” tanya orang itu lagi.


“Ya begitulah, dan sekarang aku benar-benar sudah kehabisan tenaga sampai-sampai menyerahkan pertarungan ini pada rekanku seorang, tapi jangan salah paham dulu ... aku tak ikut bertarung karena aku tak ingin menjadi beban bagi rekanku, ya ... sembari mengawasi aku akan mengumpulkan tenaga, jika terjadi sesuatu akan aku gunakan itu untuk membantunya,” jelas Andi dengan ekspresi tenangnya.


“Ya, kurasa itu memang pilihan yang bijak ... sebenarnya aku juga ingin membantu, tapi aku tak tahu harus melakukan apa, meskipun aku seorang laki-laki tapi tetap saja bertarung untuk mengalahkan makhluk itu sangatlah sulit,” balasnya lemah.


“Tak perlu berkecil hati, iblis bukanlah makhluk yang wajar untuk bisa dikalahkan oleh manusia biasa, tak banyak dari mereka yang bisa mengatasinya karena itu serahkan saja tugas ini pada para exorcist, kau jangan meragukan nona di sana ... dia itu cukup kuat baik fisik maupun spiritual,” terang Andi sembari menyemangati lawan bicaranya.


“Baiklah, sekali lagi terima kasih ya,” tambah orang itu lagi.


“Sama-sama,” balas Andi singkat.


Di sisi lain Fuurin yang sebelumnya memang cukup kesal dengan iblis bertentakel itu pun berniat untuk mempercepat dan segera mengakhiri pertarungan itu, selain tenaga yang terbatas ... melihat kedua orang di sana membuatnya sedikit tergesa-gesa karena perasaan khawatirnya.


‘Mereka berdua tentunya membutuhkan perawatan segera, selain itu kami harus mencari Riko juga, aku tak boleh membuang-buang waktu lebih lama lagi,’ bhatin Fuurin cukup kacau.


Fuurin mulai menghela napas tenang, kemudian berkonsentrasi pada aliran energi pada senjata khususnya. Dalam tempo yang singkat Fuurin mengubah irama serangan yang tadinya normal menjadi lebih brutal. Ia langsung memotong setiap tentakel iblis dan mengulanginya berkali-kali sebelum iblis tersebut bisa beregenerasi.


Ketika mendapat sedikit celah, dengan cepat tali senar tadi langsung melilit seluruh tubuh iblis layaknya akar hidup.


Dark Spirit : Wrapped ~ Hancurkan!


Setelah lilitan itu menjadi erat dan kuat, kemudian Fuurin memetik tali senar dengan energi spiritual yang kuat dan cukup gelap.


Setelah ledakan berakhir, iblis pun langsung lenyap tak bersisa. Andi yang terus memperhatikan pertarungan itu pun kembali menghela napas.


“Huftt ... dasar nona Fuurin,” gumam Andi.


“Eh, kenapa memangnya?” tanya orang tadi penasaran.


“Bukan apa-apa, yang pasti dia telah menyelesaikan misinya dengan baik dan iblis tadi sudah lenyap, kita bisa keluar sekarang,” jelas Andi sambil mengajak orang tadi untuk keluar dari persembunyian.


“Ah iya, syukurlah dia baik-baik saja ... kalau begitu, ayo!” sahut orang tadi dengan perasaan lega.


Sementara Fuurin yang telah berhasil menyelesaikan misi pun melambaikan tangannya dan tersenyum sebelum mulai bergerak dan bergabung ke tempat rekannya berada.


.


.


.


TBC