
Beberapa jam sebelum penyelamatan keluarga Volkofrich....
Di sebuah Mansion besar yang mewah namun suasana begitu sepi dan hening.
"Tuan Harry, kami menemukan dimana posisi Nyonya Gaby sekarang."
"Kita kesana..." Sahut Harry.
"Tapi, masalahnya..."
Harry menunggu pengawalnya melanjutkan kalimatnya.
"Nyonya Gaby bekerja sama dengan Emir Khan pengusaha dari Turkey, untuk menghancurkan keluarga Volkofrich."
Harry mengernyitkan dahinya.
"Teman sekolah anda sekarang, Zack Wickley Volkofrich."
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin menangkap jalangg itu." Sahut Harry sembari pergi melangkahkan kakinya untuk menuju mobil dan siap untuk ke lokasi bersama beberapa pengawal.
Isyana yang saat itu sedang dalam kungkungan kakak kembarnya hanya bisa memandang tak mengerti dari sudut yang cukup jauh.
Melihat Harry Benyamin pergi dengan tergesa ia pun masuk mencari ponselnya di dalam kamar Harry.
Perjalanan menuju lokasi memakan waktu cukup lama, saat itu sudah menujukkan pukul 3 pagi.
Hingga akhirnya mobil iring-iringan Harry di berhentikan beberapa orang yang dimana banyak sekali pasukan pengawal dengan senjata lengkap.
"Mereka adalah pengawal dan pasukan milik Volkofrich yang berjaga." Sahut Demian.
Salah satu pengawal membawa senapan dan berpakaian serba hitam lengkap dengan mantel dan sarung tangan serta topi berwarna hitam maju mengetuk kaca mobil bagian kemudi, dan sang sopir pun menurunkan kaca mobilnya.
"Ada kepentingan apa?" Tanya sang pengawal.
"Kau ikut denganku Demian." Kata Harry mengajak pengawal setianya.
Harry pun keluar dari mobilnya ditemani Demian, dan menemui para pengawal yang bertugas menutup jalan.
"Dimana pimpinan kalian." Tanya Demian.
"Siapa anda dan punya kepentingan apa?"
"Katakan saja tuan Harry Benyamin, anak dari Gaby Miranda ingin bertemu." Sahut Demian lagi.
Salah satu pengawal memberitahukan pesan itu pada Dax serta Stark yang sedang merancang strategi, mereka saling bertukar ide dan pandangan, tepat di atas meja lipat cukup besar sudah terpampang kertas bergambar tentang denah bangunan dan lokasi yang di jadikan tempat untuk menyandra Evashya.
"Tuan ada yang ingin bertemu, dia mengaku anak dari Gaby Miranda."
"Siapa namanya?" Tanya Dax.
"Harry Benyamin."
Dax saling pandang dengan Stark, dan kemudian berjalan mendatangi Harry yang masih berdiri dengan Demian di ujung.
"Kau anak dari wanita itu?" Tanya Dax.
"Ya, aku anaknya, dan aku juga punya kepentingan dengannya, bisa kau berikan kami jalan untuk kesana."
"Bisa saja, tapi sayangnya, kami tidak ingin membahayakan keluarga Volkofrich, karena radar akan mendeteksi siapapun yang melewati batas yang sudah di atur mereka."
"Lalu?" Tanya Harry.
"Hanya bisa menunggu, ketika pertukaran dan apa yang mereka mau selesai." Sahut Dax.
"Aku inginkan Gaby dalam keadaan hidup, aku sudah lama memburunya." Sahut Harry.
Dax serta Stark hanya diam.
"Yang jelas kita memiliki misi berbeda dan kepentingan berbeda, namun aku yakin kita berada di pihak yang menginginkan Gaby segera di tangkap." Sahut Dax.
*****
Hospital di bawah naungan Volkofrich...
Evashya duduk dengan menggenggam kedua tangannya yang sudah sedingin es dan terasa kaku, wajahnya pun pucat pasi dengan lingkaran hitam di bawah kedua matanya.
Dax pun berdiri bersandar di dinding rumah sakit, mereka semua menunggu operasi selesai.
Sedangkan Stark, dari awal sudah berada di dalam kamar operasi untuk menemani Zafran serta Laura.
Saat perjalanan ke rumah sakit menggunakan helikopter nafas dan detak jantung Zafran serta Laura masih ada, bahkan Zafran masih sadar, dan kini mereka hanya menunggu sebuah harapan.
Tak berapa lama Stark pun keluar bersama beberapa dokter.
Zack berdiri begitu juga Evashya yang kemudian mendekat. Mereka sangat yakin kedua orang tuanya akan selamat.
Dax yang menjaga para keponakannya pun juga begitu, pria itu datang untuk mendengar penjelasan sang dokter.
Para dokter terlihat sangat sedih dan menggelangkan kepala.
"Maafkan kami, kami sudah sangat berusaha." Kata Leizya dokter pribadi keluarga Volkofrich.
"Tidak... Tidak mungkin." Sahut Evashya.
"Itu bohong!!! Kalian bohong!!!! Aku mau melihat mereka!" Teriak Evashya sembari menangis.
"Dalam perjalanan menuju rumah sakit, tuan Zafran memberikan wasiat agar anak dan keluarganya tidak di perbolehkan melihat jasad mereka." Sahut Stark menghalangi Evashya untuk masuk.
"Tuan Zafran tidak ingin jika di kemudian hari, kalian akan terus mengingat kenangan wajah mereka yang tidak lagi bersinar. Tuan Zafran hanya ingin kalian mengingat wajah-wajah orang tua kalian di saat mereka tersenyum." Sahut Stark lagi.
Zafran dan Laura memang terpisah, tidak dalam satu helikopter yang sama.
Laura bersama Evashya dan para pengawal, sedangkan Zafran bersama Stark.
"Tuan Dax, mohon kerja samanya, ajak mereka untuk pulang, peti jenazah akan saya urus dan langsung saya makamkan di pemakaman." Kata Stark
"Apa kau bercanda!" Dax menarik kerah Stark, dengan amarahnya hingga mencengkramnya kuat-kuat.
Air mata Dax hampir tak bisa di bendung lagi.
Zack masih memegangi tubuh Evashya yang lemah dan hampir pingsan.
Stark tidak bergeming, para pria itu hanya saling tatap.
"Saya hanya menjalankan tugas, sampai detik ini saya orang yang paling tuan Zafran percaya, sampai detik ini saya yang akan mengurus semuanya, dan saya juga yang akan terus menemani tuan muda Zack." Sahut Stark.
"Apa yang sedang kau incar." Dax geram dan mulai curiga.
"Kalian tidak boleh bertengkar di sini, kami akan mengurus jenazahnya dan akan segera di makamkan." Kata Leizya melerai.
Dax melepaskan cengkramannya.
"Kami akan tetap ikut dalam pemakaman." Sahut Zack lemah.
"Baik, tapi saya mohon tanpa membuka petinya." Sahut Stark lagi.
Zack serta Evashya kemudian pulang untuk membersihkan diri mereka, mengganti pakaian yang lebih layak dan bersih untuk mengantar orang tua mereka ke tempat peristirahatan terakhir.
Setelah persiapan dan segala macam sudah di atur oleh Stark, Zack serta Evashya dan juga Dax datang bersamaan mereka sudah memakai baju serba hitam, Evashya memakai dress pendek hitam, meski wajah mereka pucat dan sedih namun ketampanan serta kecantikan dari aura masing-masing tetap terpancar sebagai keluarga bangsawan.
2 peti mati, berwarna hitam mengkilap sudah siap di masukkan ke dalam 1 liang lahat.
Zack memeluk Evashya, guyuran hujan menambah tangis haru dan suramnya hati mereka. Dax serta salah satu pengawal memayungi mereka.
"Ayah... Ibu... !!!" Teriak Evashya.
Kemudian Evashya memeluk peti-peti tersebut, di susul Zack yang sudah tidak kuasa menahan kakinya hingga lemah, kedua lututnya bertumpu di rerumputan di depan kedua peti tersebut.
Meski mereka di payungi, namun hujan tetap membasahi tubuh mereka.
Setelah kedua peti masuk ke liang lahat, sampai pada terbenam di dalam tanah, dan kemudian di hiasi bunga serta rerumputan, mereka semua bersiap pergi.
Evashya menyandarkan kepalanya di bahu Zack, sedangkan Zack memeluk kuat bahu Evashya dari belakang.
Saat itu Dax berada di belakang mereka.
~bersambung~