
PEMENANG SOUVENIR SILAHKAN HUBUNGI AUTHOR.
Helikopter mendarat bersamaan di atap rumah sakit di bawah naungan Volkofrich.
Semua dokter dan perawat sudah siap siaga dengan segala peralatan karena dalam perjalanan Stark sudah menghubungi semua dokter ahli yang di miliki oleh keluarga Volkofrich.
"Perketat penjagaan!" Teriak Stark pada para pengawal.
Dengan cekatan para dokter dan perawat bergegas mendorong 2 ranjang yang saling beriringan ke ruangan operasi.
"Dokter darahnya terus mengalir." Kata seorang perawat.
"Lakukan tindakan! Tekan lukanya! Kita harus bergegas melakukan operasi!"
Saat itu kondisi Zafran memang cukup parah, namun ia masih sadar dan melihat pada istrinya yang lemah juga masih memiliki nafas meski tarikannya pendek.
"Stark..." Kata Zafran pelan.
"Zafran jangan banyak bergerak percayakan pada kami." Kata Leizya.
"Panggil Stark ke mari..." Kata Zafran terbata.
"Tapi..."
"Hanya dia yang ku percaya." Kalimat Zafran begitu berat menahan rasa sakit yang terbakar.
"Aku akan panggil Stark." Kata Leizya mengalah dan menyerah pada perintah Zafran.
Sedangkan dokter lain dan para perawat masih sibuk menangani kondisi Zafran dan Laura.
Mereka dengan gesit memasang alat-alat pada tubuh Zafran dan juga Laura, siap untuk melakukan tindakan operasi.
Tak berapa lama Stark pun masuk.
"Tuan, anda harus segera melakukan operasi tidak ada waktu lagi."
"Stark, lakukan sesuatu..." Kata Zafran terengah.
"Ya tuan..."
"Jika... Operasi ini gagal dan kami mati, jaga anak-anakku, jangan biarkan siapapun menyakiti mereka..." Zafran berhenti karena nafasnya kian pendek.
"Tuan, jangan khawatir tentang itu, anda pasti selamat, sekarang anda hanya perlu fokus pada operasi nya, saya mohon."
"Tidak... Aku harus mengatakannya sekarang untuk berjaga."
"Tuan!" Stark berteriak, kedua tangannya mengepal karena amarahnya.
Ini kali pertamanya Zafran melihat pengawal sekaligus assisten pribadinya yang paling setia berani membentak dan memarahinya dengan wajah mengerikan
"Ada sesuatu yang sangat penting, keadaan sangat darurat, jika operasi kami berhasil, berjanjilah tetap konfirmasi kan kematian kami... Setelah itu bawa kami ke tempat itu Stark, tempat yang sudah ku siapkan untuk Laura, tempat yang ia impikan selama ini."
Stark mencengkram leher belakangnya, ia benar-benar sudah tidak kuat melihat tuannya di ambang kematian dan terus saja menunda operasi. Namun, mendengar pernyataan Zafran Stark mengerti, hanya ini jalan satu-satunya untuk mengecoh para musuh meski ke depannya Zack akan berjalan lebih berat. Zack akan memikul tanggung jawab yang lebih besar.
Demi keberlangsungan keturunan Volkofrich, semua sandiwara ini harus di lakukan.
"Saya akan mengkonfirmasinya tuan."
"Aku tahu, kau bisa di andalkan. Lalu, ada sebuah brangkas dan itu pasti akan membantu Zack dalam menjalankan peran barunya. Emir pasti akan merebut semuannya." Kata Zafran terengah.
"Baik tuan, sekarang waktu nya anda harus dioperasi." Perintah Stark.
"Berjanjilah, tidak boleh ada seorang pun meski itu adalah Zack, dan pastikan para dokter di sini semua tutup mulut, jika ada yang membeberkan bunuh mereka." Mata Zafran kian layu dan pucat.
"Baik tuan. Dokter Leizya lakukan tindakan!" Perintah Stark dengan penuh ketegangan.
Baru kali ini tubuh Stark begitu dingin dan gemetar, melihat bagaimana tuan yang telah ia layani begitu lama terbaring lemah di atas ranjang pasien dan di bantu dengan alat-alat yang sudah terpasang di tubuhnya.
Operasi pun di lakukan secara bersamaan, Laura beberapa kali harus di suntik adrenalin, dan itu membuat mata Stark berair.
"Aku berjanji jika kalian selamat, selamanya, jiwa dan tubuhku hanya akan mengabdi pada keluarga Volkofrich, tidak akan memiliki pasangan dan akan menjaga kalian." Kata Stark dalam hati.
Memakan waktu yang tidak sebentar para dokter berjuang dalam operasi pengangkatan peluru yang ada di dalam tubuh Zafran dan Laura.
Situasi yang memgerikan dan seolah dalam tekanan keadaan para dokter pun merasa sedang ikut memperjuangkan keberlangsungan hidup mereka.
Setelah akhirnya sepanjang jarum detik jam bertambah, begitu pula keringat dingin mereka terus menetes dan perawat menyekanya perlahan. Akhirnya sampailah pada usaha yang tidak mengkhianati hasilnya.
Zafran berhasil bertahan, namun tidak untuk Laura. Tubuh Laura sangat lemah. Beberapa usaha telah mereka lakukan namun pada akhirnya Laura pun dinyatakan koma.
Seperti wasiat yang telah Zafran katakan sebelumnya, selamat ataupun tidak selamat, kematian akan tetap di konfirmasi.
Dengan cepat Stark memanggil para pengawal rahasia yang terlatih dan siap mati. Mereka membawa tubuh Zafran beserta Laura bersama alat-alat medis yang masih terpasang melalui pintu belakang dan akan membawanya ke suatu tempat.
Sedangkan Stark akan mengurus sisanya.
******
Mobil-mobil beriringan melaju dengan pengawalan yang ketat menuju sebuah lahan yang luas dimana penjagaan juga terlihat begitu banyak.
Setelah semua mobil terparkir, para dokter bergegas memasukkan Zafran serta Laura ke dalam kamar dengan segala peralatan canggih yang menyertai mereka.
"Para dokter harus tetap berada di sini selama perawatan tuan Zafran dan juga Nyonya Laura." Kata Vrederic dengan tegas, pimpinan batalyon siap mati.
"Baik kami akan tetap berada di sini." Kata salah satu dokter mewakili para dokter yang lainnya.
Sedangkan di tempat lain Stark dengam cermat mengatur agar peti mati kosong itu di masukkan ke dalam liang lahat tanpa seorang pun tahu bahwa Zafran serta Laura masih hidup meski dalam keadaan kritis.
"Maafkan saya tuan muda Zack, dan Nona Evashya. Saya akan menebus semuanya dengan pengabdian diri saya pada kalian karena telah berbohong."
"Tapi, ini adalah yang terbaik bagi tuan Zafran dan juga Nyonya Laura, demi kesembuhan mereka dan mereka juga membutuhkan keadaan yang aman dan damai untuk memulihkan diri."
******
Beberapa bulan berlalu, Zafran bisa melewati kritis dengan baik. Keadaan tubuhnya pun membaik dengan cukup cepat.
Zafran sudah bisa berjalan sendiri, tanpa bantuan perawat atau dokter meski ia masih menggunakan tongkat untuk menyangga tubuhnya.
Kala itu, Zafran sedang menemani sang istri, ia duduk di tepi ranjang Laura yang masih terbaring koma.
Stark berdiri menundukkan kepala memberikan hormatnya pada Zafran.
"Tuan Zack sudah menjalankan rencananya."
"Hm... Lalu bagaimana dengan gadis itu."
"Nona Isabella bersikeras tetap ingin bersama dengan tuan Zack."
"Dia seperti Laura sewaktu muda. Tapi, aku akan merestui hubungan mereka jika Zack bisa bertanggung jawab dengan pilihannya, Isabella mungkin gadis yang tepat untuk Zack. Terlepas siapa sebenarnya Isabella, aku yakin ada sesuatu rahasia yang harus tetap kau gali. Mungkin Emir bukanlah ayah kandung Isabella.
"Saya pikir juga begitu tuan. Tapi, apa tidak sebaiknya Nona Evashya di beritahu, mungkin Nyonya akan lebih cepat sadar."
"Aku juga ingin begitu, tapi keadaan masih terlalu kacau, aku tidak bisa mempertaruhkan semuanya, yang paling penting kau harus tetap menjaga mereka."
"Baik tuan."
~TAMAT~
PENGUMUMAN :
TERIMAKASIH UNTUK KALIAN YANG SUDAH BERPARTISIPASI. MAAF JIKA BELUM BERUNTUNG TAPI TERIMAKASIH ATAS KESTIAAN KALIAN SEMUA.
DAN TERUNTUK PARA READERS SETIA. SAYA UCAPKAN TERIMAKASIH PADA KALIAN SEMUA KHUSUSNYA YANG MASIH SETIA MEMBACA TULISAN SAYA.