
Zack datang dengan beberapa kotak kado yang di bawa oleh Stark dan juga para pengawal, Zack membeli semua yang mungkin akan di sukai Evashya.
Saat itu Evashya sedang duduk di ruang makan dengan segelas susu cokelatnya.
"Selamat ulang tahun Shya..." Zack mencium punuk kepala Evashya.
"Kau melupakannya." Sahut Evashya kesal.
"Tidak, aku sibuk dan aku minta maaf Evashya."
"Seharusnya aku ikut dengan paman Edward dan bibi Kate, tidak ada yang mengingat ulang tahunku selain mereka." Sahut Evashya lagi.
"Maafkan aku Evashya. Aku bawakan kado untukmu."
"Kau yakin hari ini hanya pergi ke perusahaan?" Tanya Evashya.
"Ya, aku sibuk."
Zack tidak berani jujur jika ia pergi ke tempat Isabella.
"Aku lelah, selamat malam Zack." Evashya pergi ke kamarnya tanpa membuka kado-kado yang di bawakan oleh Zack.
Sejak saat itulah Evashya mengerti dan merasa bahwa posisi nya kini sudah tergantikan oleh orang lain. Evashya merasa di buang dan tidak berharga lagi sebagai adik dari Zack.
"Kenapa kau berbohong Zack..."
Evashya menangis sembari menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Aku hanya minta kejujurannya, kenapa kau menutupinya, apa karena wanita itu menyuruhmu untuk berbohong? Kau lebih memilih bersama dia."
Evashya melihat kartu identitas Isabella melalui layar ponselnya yang ternyata juga memiliki hari ulang tahun yang sama dengan dirinya.
"Evashya, aku melihat Zack ada di apartmen Odeon Tower, bukankah itu apartmen milik kakak mu? Kenapa dia membawa buket bunga mawar? Tadinya aku ingin menyapanya. Tapi aku buru-buru."
Evashya kemudian menyuruh seseorang untuk memeriksa siapa yang baru saja Zack temui. Setelah ia mengetahui informasi tersebut, Evashya mengingat pernah membicarakan pada Isabella saat Isabella masih menjadi tutornya, jika hari ulang tahun mereka jatuh pada tanggal yang sama.
*****
Isyana berada di rumah sakit menemani ibu sambungnya yang kritis dam sedang di tangani oleh beberapa dokter.
Para pengawal mengantarnya dengan persetujuan Harry. Saat itu Harry masih berada di perkemahan dan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit setelah meminta ijin pada Mr.Jacob.
Tak berapa lama Harry pun tiba dengan langkah cepat, menghampiri sang adik yang berjongkok di samping pintu ruang ICU.
Melihat kaki jenjang berdiri di depannya Isyana mendongak melihat siapa yang datang.
"Harry..." Sahut Isyana lemah.
"Ayo duduk di kursi. Jangan seperti ini."
Harry memapah Isyana duduk di kursi dan menunggu para dokter sedang melakukan tindakan.
"Dia akan selamat." Sahut Harry.
"Jangan menghibur dan memberikan harapan kosong." Sahut Isyana menghapus air matanya.
"Setidaknya kau masih punya aku dan ayah meski dia juga terbaring lemah."
"Aku... Sangat menyayangi ibu sambungku, bahkan dia rela melakukan hal kotor demi agar aku bisa sekolah dan mengenyam pendidikan." Isyana menangis sesengukkan.
"Aku belum bisa dan belum sempat membalas semua kebaikannya padaku, bahkan dia rela kelaparan hanya agar aku tetap bisa makan, wanita yang telah membuangku yang kau bilang ibu kandungku bahkan tidak meninggalkan sepeser apapun."
Isyana menggigit lengan mantelnya karena geram dan kesal, ia hanya bisa meluapkan emosinya melalui tangisannya, namun ia juga ingin menahan segala gundukan yang siap meledak dalam hatinya, ia ingin sekali berteriak.
"Wanita itu memang sengaja memisahkan kita, dan membuat keluarga Benyamin hancur, dia bahkan tidak memiliki sisi keibuan sedikitpun." Sahut Harry.
"Aku tidak ingin kehilangan ibu sambungku, aku belum membahagiakannya."
Harry kemudian merengkuh bahu adiknya dan membuat sang adik bersandar di bahunya.
"Aku minta maaf Alicia, aku datang terlambat bahkan aku tidak tahu jika selama ini kau sangat menderita."
Dengan cepat Isyana berdiri dan menghampiri para dokter tersebut.
"Bagaimana dokter?" Tanya Isyana.
Para dokter menggelengkan kepala, wajah mereka terlihat menyesal.
"Tidakk!!! Ibu!!!" Isyana berteriak sekencang kencang nya dan pecahlah segala air mata serta gundukan dan sumpalan hatinya.
Isyana berlari menggoyang-goyang kan tubuh Dorothy yang sudah terbujur tanpa terpasang lagi alat-alat bantu kehidupan. Seluruh wajah itu sudah pucat pasi dan menutup mata dengan rapat.
"Maafkan kami tuan, kami sudah sangat berusaha, bahlan sebelumnya kami sudah katakan pada tuan Dax jika harapan hidup nyonya Dorothy sangat tipis dan tidak mungkin. Kami pun sudah katakan jika alat bantu kehidupan itu sia-sia, ini semua hanyalah untuk agar Nona Isyana tetap tenang dan berfikir Nyonya Dorothy akan sembuh dan bangun dari komanya, namun yang sebenarnya seluruh organnya telah mati."
"Dax?" Tanya Harry kemudian.
"Iya, semua perawatan ini di biayai oleh Tuan Dax dan rumah sakit ini berada di bawah naungan perusahaan Kennedy." Kata sang dokter.
Harry menarik nafas nya dan mengerti kenapa Isyana harus bolak-balik ke apartmen pria itu.
"Pecundang!" Sahut Harry kemudian mengepalkan kedua tangannya.
Malam itu juga Dorothy Aubrey di mandikan dan di rias serta di masukkan ke dalam peti berkaca yang cantik, dengan pakaian mewah terbaik dan sarung tangan putih serta sepatu terbaik untuk Dorothy.
Isyana melangkah dan kemudian melihat wajah Dorothy begitu bening bercahaya dan juga secantik malaikat.
Isyana membelai wajah ibu sambungnya dan menangis sesenggukan.
"Kau sudah tidak merasakan sakit lagi ibu. Kau akan ke surga dengan damai, dan aku selalu menyayangimu." Sahut Isyana.
Kemudian para pengawal membawa peti tersebut masuk ke dalam mobil untuk di makamkan malam itu juga.
Harry memperbolehkan Dorothy untuk di makamkan di pemakaman elite milik keluarga Benyamin.
Suasana pemakaman sangat sepi dan sunyi, hanya ada pendeta serta beberapa pengawal, beberapa lampu besar sudah menyorot menyinari lahan pemakaman, lampu yang berwarna putih dan bersinar terang.
"Ibu... Damailah di surga." Sahut Isyana melemparkan bunganya dimana peti sudah masuk ke dalam liang lahat.
Setelah ritual pemakaman selesai, mereka kembali ke Mansion, para pengawal membereskan semua yang ada di pemakaman.
Isyana berjalan gontai di papah oleh Harry, Mansion sudah rapi kembali dan pastilah para pelayan sudah membersihkannya.
"Duduklah." Kata Harry.
Isyana menurut dan duduk di tepi ranjangnya.
"Minum dulu." Kata Harry mengambil kan air yang ada di atas meja Isyana.
Kemudian Isyana menyesap sedikit air minum itu, ia merasa hampa, dan kemudian meringkuk di atas ranjang.
"Istirahatlah." Kata Harry.
Kemudian Harry keluar dari kamar Isyana dan menutup pintu.
"Maafkan aku ibu..." Kata Isyana menangis terisak dan sangat terpukul kehilangan orang yang paling ia sayangi.
Isyana kemudian melihat ponselnya, dan mencoba menghubungi Dax lagi, hingga beberapa kali Isyana tanpa letih mencoba menghubungi Dax namun nihil.
Kemudian Isyana bangun dari ranjang dan berulang kali melemparkan ponselnya ke lantai hingga ponsel itu mati.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Belum puas seolah Isyana ingin melampiaskan amarah dan kekeaalan, kemudian ia melemparkan ponselnya ke dinding hingga ponsel itu benar-benar pecah menjadi beberapa bagian.
~bersambung~