REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 21 -



Zack Wickley pulang dari perusahaan dan langsung menuju apartmen Isabella. Stark sudah menunggu dan berjaga di luar apartmen bersama beberapa pengawal.


"Kau sedang apa?" Tanya Zack melepaskan jasnya.


"Belajar." Sahut Isabella.


Zack tersenyum melihat buku cukup besar berisi tentang kisi-kisi soal yang pernah ia berikan pada Isabella berada di jemari Isabella.


"Apa kau sudah makan?" Tanya Zack lagi.


"Ya, aku sudah makan. Kau sendiri?"


"Aku sudah makan tadi di kantor. Bagaimana kaki mu?"


"Sudah lebih baik obat dan salep nya sangat efektif, aku sudah bisa berjalan-jalan dan sudah tidak merasakan sakit lagi."


"Syukurlah."


"Sebentar lagi ujian tengah tahun Zack, laporan ilmiah dan tinjauan berkelakuan baik akan di nilai, aku sangat takut, aku takut apakah beasiswaku masih bisa di pertahankan."


"Kau melakukan yang terbaik sejauh ini, aku yakin semuanya akan baik-baik saja."


"Hanya saja, akhir-akhir ini banyak kejadian keributan yang terjadi padaku, lebih parah dari sebelum-sebelumnya."


Kemudian Zack mengambil buku yang ada di tangan Isabella dan meletakkannya di atas meja.


"Aku yakin kau bisa Isabella."


Zack mencium bibir Isabella selembut mungkin, Isabella pun membalasnya dan mengalungkan tangannya di leher Zack.


Ciuman itu masih berlanjut. Saat itu Isabella duduk di atas sofa dengan meluruskan kakinya, sedangkan Zack duduk di tepi sofa tepat di samping paha Isabella.


Zack mencium leher Isabella dan menyesapnya kuat, membuat leher itu memiliki bekas merah.


"Zaackk..." Kata Isabella lirih.


"Selamat ulang tahun Isabella." Sahut Zack kemudian memberikan kotak kecil yang di bungkus dengan pita pada Isabella.


"Aku bahkan lupa ulang tahun ku sendiri..." Kata Isabella.


"Bukalah."


Kemudian Isabella membukanya dan itu adalah kalung kecil yang memiliki liontin angsa putih kecil.


"Kau secantik dan sesuci angsa putih, memberiku kebahagiaan dan kekuatan." Kata Zack memasang kalung itu pada leher Isabella.


"Terimakasih untuk hadiah yang indah ini, aku janji akan selalu memakainya dan tidak akan pernah melepaskannya." Kata Isabella memegangi kalung itu.


"Aku ingin melihat nya melalui cermin."


Isabella melangkah perlahan dan melihatnya di depan cermin, ada bekas merah kecupan Zack pula di lehernya. Isabella mengelus pelan bekas kecupan itu, tiba-tiba Zack memeluk Isabella dari belakang dan mencium tengkuk Isabella dimana rambutnya yang panjang tergerai.


"Aku bahagia Zack, jangan tinggalkan aku."


"Aku juga." Jawab Zack mencium bibir Isabella.


Ciuman itu semakin menekan tubuh Isabella, hingga Zack mengarahkan Isabella untuk terus berjalan mundur dan menuju kamarnya.


Perlahan mereka jatuh bersamaan, Zack menyesap leher Isabella yang putih dan mulus, tangan Zack mulai meraba sisi leher yang lain milik Isabella.


Sedangkan Isabella melingkarkan tangan nya di leher Zack, meremas rambut Zack dan memejamkan mata.


Jemari Zack mulai membuka kancing baju Isabella dan kemudian Zack menyesap kuat dada bagian atas milik Isabella hingga menimbulkan bekas merah.


Isabella melenguh, apalagi ketika tubuh Zack mulai menekan tubuhnya. Zack pria normal dimana gejolak masa muda dan hatinya sedang berada pada titik yang memuncak.


Jemari Zack kemudian berpindah turun dan masuk ke dalam baju Isabella dari bawah, meraba dan membelai perut langsing Isabella, sedangkan Zack masih menciumi leher Isabella.


Tangan Zack mulai bergerak naik, dan terus naik, meraih sesuatu yang berada di balik pakaian Isabella, dan kemudian meremasnya perlahan, penuh kelembutan dan kesabaran.


"Zaackk..." Panggil Isabella kembali dengan suara yang lemah dan lembut hampir seperti mendesis.


Gerakan demi gerakan itu makin kuat, di saat nafas mereka mulai saling memburu. Suara nafas yang seolah ingin mengambil oksigen sebanyak-banyaknya karena gejolak hasrat yang kian naik membuat nya semakin memanas.


Zack kemudian menurunkan tangannya perlahan hingga mencapai pada karet celana Isabella.


Telunjuk kelingkingnya perlahan turun sedikit demi sedikit, sedangkan jari-jari yang lain masih memutari pusar Isabella.


Nafas Isabella naik dan turun dengan cepat, baju Isabella sudah terbuka sebagian, perut langsing itu tereskpose di depan tubuh Zack.


Suara ponsel yang bergetar cukup keras di atas meja membuyarkan Isabella.


"Ponselmu... Zack..." Kata Isabella terbata dengan nafas terengah.


Ponsel milik Zack terus bergetar membuatnya harus berdiri dengan malas dan mengambilnya di atas meja dekat sofa, kemudian Zack mengangkatnya.


"Ya..."


"Zack, kau dimana, Ini sudah malam kau lupa hari ini aku ulang tahun, Bibi Kate dan Paman Edward bahkan sudah memberiku kado kemarin?"


"Aku... Ada di kantor aku akan pulang maafkan aku." Sahut Zack berbohong.


"Aku diam saja sepanjang hari ini, ku kira kau akan memberiku kado dan kejutan."


"Maafkan aku Evashya, aku akan pulang."


Isabella duduk dan melihat pada Zack, inilah pertama kalinya ia tahu Zack berbohong.


Zack masuk kembali ke kamar Isabella dan hendak mencium Isabella namun gadis itu menahan dada Zack.


"Jangan berbohong Zack, jangan pernah berbohong pada siapapun aku tidak mau kau berubah." Kata Isabella meminta.


Bukan keinginan Zack juga jika ia harus membohongi Evashya, tapi ia juga tidak tahu bagaimana ia bisa lupa, dan ini pertama kalinya juga baginya melupakan hari ulang tahun adiknya, bahkan ini pertama kalinya juga ia membohongi adiknya.


"Pulang berikan hadiah pada adikmu dan jangan berbohong padanya, minta maaf padanya Zack." Kata Isabella.


"Baiklah." Sahut Zack menurut.


Isabella mengantar Zack hingga di depan pintu apartmennya, terlihat Stark dan beberapa pengawal masih berada di luar.


******


Mansion Benyamin....


"Nomor yang anda tuju salah."


Berulang kali Isyana menghubungi Dax namun berulang kali pula panggilannya tidak dapat tersambung.


"Dia benar-benar memblokir dan memutuskan hubungan denganku." Sahut Isyana pelan dan duduk lemas di ranjangnya.


Drrrt... Drrt...


Ponsel Isyana bergetar dan dengan cepat Isyana memgangkatnya.


"Dax..." Sahut Isyana.


"Maaf, ini dengan Nona Isyana Aubrey?"


"Ya, benar." Sahut Isyana.


"*Kami dari Rumah Sakit ingin memberi*tahu, Nona harus datang, ini mengenai kondisi Nyonya Dorothy Aubrey."


Isyana terbelalak, hingga tanganya gemetar memegangi ponselnya sendiri. Gadis itu pun beranjak dari kamarnya dan keluar.


Namun para pengawal masih berjaga dan tidak memperbolehkan Isyana keluar.


"Aku harus menemui Ibu ku!!!" Teriak Isyana pada para pengawal.


"Tanpa ijin dari tuan Harry anda tidak bisa kemanapun Nona, maafkan kami."


"Astaga! Apa kalian semua tidak memiliki ibu! Apa kalian tidak memiliki seorang ibu yang sedang sakit dan sekarat!" Teriak Isyana sembari menangis.


"Maafkan kami Nona, tapi kami juga tidak ingin terkena masalah dari tuan Harry." Kata para pengawal sembari menunduk menyesal.


"Biarkan aku pergi!!"


Isyana menjerit dan berteriak hingga membanting barang-barang Mansion, sampai beberapa menit Isyana hanya duduk di samping barang-barang yang sudah berantakan.


Kemudian Isyana berdiri dan menemui para pengawal lagi.


"Kalau begitu telfon Harry, mintakan ijin padanya." Sahut Isyana.


Salah satu pengawal menganggukkan kepala pada rekannya, dan sang pengawal itu menghubungi Harry.


~bersambung~