
Siang itu begitu cerah Isabella dalam perjalanan pulang menuju apartmen bersama Zack. Isabella sudah masuk lebih dulu, namun Zack masih di luar bersama Stark.
"Ada apa Stark kenapa kau gelisah." Tanya Zack.
"Emir Khan tahu perusahaan Daichi dan Lawrence hanyalah cangkang yang kita buat tuan." Kata Stark.
"Lalu bagaimana."
"Jalan satu-satunya adalah kita mencoba memakai Belinda dan Nona Isabella."
"Apa kau gila!" Bisik Zack geram.
"Aku tidak akan melibatkan Isabella dengan persoalan ini, apalagi nyawa adalah taruhannya ketika kita berhadapan dengan Emir Khan!" Zack menggeram kesal.
"Tapi itu jalan satu-satunya yang harus kita coba tuan, atau kita harus ikhlaskan apa yang sudah dia ambil."
"Pasti ada cara lain." Sahut Zack.
"Hari ini Emir Khan terdeteksi berada di sekitar perusahaan anda tuan." Kata Stark.
"Apa yang dia lakukan?"
"Mungkin sedang mengincar perusahaan Wickley juga." Sahut Stark.
Kemudian Zack berfikir.
"Zack... Apa kau tidak mau masuk dan membantuku masak?" Tanya Isabella yang keluar apartmen.
"Aku akan masuk dan membantumu, aku akan segera menyusul." Kata Zack tersenyum.
Kemudian Isabella membalas dengan senyuman dan masuk kembali ke dalam.
"Jangan libatkan Isabella dalam masalah ini!" Geram Zack pada Stark.
Beberapa saat kemudian, Zack sibuk membantu Isabella memasak, ia memakai celemek seperti apa yang di suruh Isabella, namun pikirannya tidak bisa fokus.
Drrt... Drrtt...
Ponsel Zack bergetar, dan kemudian ia mengangkatnya.
"Bocah ingusan sedang mencoba menjebakku."
Suara yang tidak asing bagi Zack. Kemudian Zack menyeringaikan sudut bibirnya dan memanggil Stark dengan mengkodenya.
"Emir Khan." Kata Zack tanpa suara memberi tahukan pada Stark.
Kemudian Stark menghubungi para pengawal di markas untuk melacak dimana posisi Emir Khan saat ini.
"Kau masih kalah jauh dengan ayahmu, seharusnya sebelum mati dia mengajarimu agar lebih pintar."
"Ya, ku rasa kau benar, aku tidak sepintar ayahku. Lalu bagaimana kau bisa mengetahui itu adalah perusahaan yang ku buat."
Zack memancing obrolan agar Emir tetap mau berbicara dan para pengawal terus mencari di mana lokasinya saat ini.
"Zack, apa kau mau di beri sedikit lada?" Tanya Isabella.
"Sst..." Kata Zack menempelkan telunjuknya di bibirnya, dan kemudian membelai kepala Isabella tak ingin membuatnya tersinggung. Zack lalu pergi ke ruang tamu.
"Apa kau sedang main masak-masakan dengan adikmu. Kalian memang akur setelah menjadi anak yatim piatu."
"Sayangnya bukan, aku sedang memasak dengan cucu dari Kaufmann Hueber." Sahut Zack.
Beberapa saat kemudian, Emir Khan terdiam, hanya nafas nya yang terdengar.
"Kedengarannya kau cukup cepat mendapatkan informasi tentangku. Apa kau menemukan Belinda juga." Kata Emir Khan kemudian.
"Ya... Dia dalam keadaan sehat, kau tidak tertarik dengan istri mu yang kabur?"
"Ha Ha Ha Ha.... Informasi seperti apa yang kau peroleh dari pengawal setia mu? Jadi, aku sangat kasihan padamu, begitu berusahanya kau untuk menangkapku. Ku pikir aku akan memberikan sedikit kesempatan agar kita bertemu, apa pengawalmu sudah melacakku?" Tanya Emir Khan kemudian.
Zack menelan ludahnya.
"Ha Ha Ha aku yakin wajahmu sangat jelek Zack, kau benar-benar harus belajar banyak dari ayahmu. Apa lokasi ku sudah kau temukan?"
Zack bertanya pada Stark melalui kode. Stark mengangguk dan memberikan tabletnya.
"Sky Tower?"
"Aku menunggu mu di sini kesempatanmu hanya 1 jam dan kau harus membawa mereka padaku."
Kemudian panggilan terputus.
Zack hanya diam, ia tidak ingin melibatkan Isabella.
"Tuan..." Stark menunggu perintah.
Zack masih diam.
Kemudian Zack menuju dapur dan mematikan kompor.
"Maafkan aku Isabella." Kata Zack.
"Kenapa Zack?" Tanya Isabella tidak mengerti kenapa Zack menarik tangannya.
"Waktu ku hanya 1 jam, kau pergilah dengan Stark, nantu dia akan membawamu padaku. Percayalah padaku. Aku mencintaimu Isabella dengan segenap nyawaku." Zack mencium bibir Isabella dan pergi terpisah.
Stark kemudian mengantar Isabella menggunakan mobil yang lain.
"Mari Nona, saya akan menjelaskannya di mobil."
Kemudian Isabella masuk ke dalam mobil dengan sesekali melihat pada Zack, terlihat dari kaca jendela, Zack sudah pergi menggunakan mobil lain bersama para pengawal.
"Saya akan mengajak anda menemui Nyonya Belinda. Ibu kandung anda, Dokter Leizya mecocokkan sample DNA milik anda dan ternyata kalian memang anak dan ibu."
"Apa?" Kata Isabella mengernyitkan alisnya terkejut.
"Aku punya ibu?" Derai air mata membasahi pipi Isabella.
"Dan penyebab kematian kedua orang tua tuan Zack adalah pembunuhan."
"Apa!" Isabella benar-benar syock tidak tahu harus berbicara apa.
"Kasihan Zack dan Evashya." Kata Isabella menangis.
"Dan pembunuhnya adalah Emir Khan, ayah anda."
Kembali Isabella merasa ribuan kilat menyambar seluruh tubuhnya. Jantungnya terasa sakit, dan ribuan pisau seolah mengkuliti tubuh Isabella, semua fakta-fakta itu menghujaminya bertubi-tubi. Fakta yang menyakitkan.
"Apa Zack tahu... Jika dia ayahku, dan selama ini dia tahu dan masih bersikap baik padaku?"
Stark mengangguk.
Isabella terdiam dan hanya menangis, tidak tahu lagi apa yang harus ia sampaikan.
Di tempat lain, Zack sudah sampai di Sky Tower, dan naik menuju dimana Emir Khan menunggu. Zack masuk ke dalam ruangan yang cerah, dimana sinar matahri dengan leluasa masuk dari jendela besar dan menyuguhkan pemandangan gedung-gedung kota.
Meja panjang menjadi jarak antara Zack dan juga Emir Khan.
Beberapa pengawal Emir Khan memeriksa Zack, memastikan Zack bersih.
"Dimana mereka." Tanya Emir khan yang duduk menumpukan sebelah kakinya di kaki yang lain, ia duduk di ujung meja panjang.
"Ada, mereka sedang menuju kemari." Kata Zack.
"Aku ingin melakukan negosiasi dan penawaran."
"Silahkan, ajukan penawaranmu."
"Saat ku bawa mereka kemari, serahkan kembali perusahaan ayahku dan lahan kelapa sawit."
"Aku suka dengan lawakanmu. Aku bingung, kau ini pintar atau bodoh." Kata Emir tertawa.
"Aku akan menggantinya dengan lahan di pulau pribadiku, di sana kau bisa menemukan emas, dan mendirikan perusahaan tambang. Pulau La Diego, kau bisa mengecek dokumennya. Carilah dokumen di email pribadi Perusahaan Volkofrich dengan nama La Diego." Kata Zack.
Emir tertawa lagi.
"Jangan main-main Zack."
"Kau bisa mengeceknya sendiri, aku sudah tidak memiliki akses ke email pribadi perusahaan Volkofrich. Pulau itu atas namaku, nilainya jauh lebih besar dari perusahaan ayahku." Kata Zack.
"Awas jika kau berbohong." Kata Emir memberikan kode pada assistennya untuk mengecek.
Dan tak berapa lama sang Assisten membawa tabletnya.
"Tanah emas tuan. Seperti yang pernah di beritakan."
Emir menatap pada Zack tak percaya.
"Kau terkejut? Harta yang sebenarnya ada di sana. Semua yang terlihat buruk belum tentu buruk, kau hanya melihat yang terlihat indah. Tapi pulau itu memang sangat indah dan memiliki kekayaan yang jauh lebih besar."
"Kenapa kau lakukan ini?" Tanya Emir Khan.
"Aku ingin menyelamatkan semua yang harus di selamatkan, jika kau membangun lahan kelapa sawit dengan perusahaan kimia, itu akan berdampak pada masyarakat di sekitarnya."
"Yah, kau memang bodoh dan lebih bodoh dari ayahmu. Tapi, Belinda dan anaknya harus bersamaku."
"Setuju." Sahut Zack.
"Siapkan dokumen untuk Zack dan ambilkan beberapa dokumen yang sudah tersimpan untuk para wanitaku." Perintah Emir Khan pada sang assisten.
Setelah menunggu beberapa menit, sang asissten kembali dari pintu yang sejajar dengan Emir Khan, membawa beberapa dokumen.
~bersambung~