
*B**ebeberapa hari kemudian*...
Zack duduk di taman dengan bir di atas meja, ia memperhatikan ibunya sedang memetik beberapa bunga dengan Evashya.
Pagi yang cerah dan menyejukkan, Ibu dan adiknya sama-sama memakai topi yang cukup besar untuk melindungi kepala mereka dari teriknya matahari di lahan yang begitu luas.
Beberapa hari sudah Zack hanya duduk dan memikirkan segala yang ia lalui akhir-akhir ini.
Yang paling berat untuknya adalah meninggalkan kekasihnya. Isabella.
"Kau melamun?" Kata Zafran menepuk bahu anaknya dan duduk di samping sang anak.
"Tidak, aku melihat mereka." Kata Zack.
Zafran kemudian melihat Laura yang tertawa tiap kali bersama Evashya.
"Kau tidak membawa Isabella kemari?" Tanya Zafran sembari meraih beberapa kacang mete dan memakannya.
"Tidak." Kata Zack meminum bir nya.
"Karena itu kah beberapa hari kau terus berada di sini dan minum-minum?" Tanya Zafran mengunyah mete.
"Udara di sini dan suasana di sini sejuk, aku suka."
"Maka ajaklah Isabella kemari, dia pasti yang paling menderita."
Zack diam sejenak.
"Sebenarnya aku memutuskan untuk tidak berhubungan dengannya." Kata Zack.
"Apa?!" Zafran terkejut dengan pernyataan anaknya.
"Ku kira hubungan kalian akan bertahan sampai maut yang memisahkan. Hanya segitu saja ternyata?" Kata Zafran meledek.
"Bagaimana ayah melalui semuanya dengan ibu?" Tanya Zack.
"Tentang apa?"
"Tentang semua ini? Ancaman, nyawa yang tak bersalah, penculikan, segala teror dan peluru yang berterbangan, bisnis yang tidak mudah dan selalu memiliki musuh." Tanya Zack pada ayahnya.
"Kau pasti sedang di fase kebingungan Zack, itu wajar usia mu bahkan masih sangat muda. Apa kau takut?" Tanya Zafran balik.
"Aku tidak takut jika menyangkut diri ku sendiri, tapi untuk orang yang ku sayang, aku sangat takut, aku menyerah di depan Emir saat dia menyekap Isabella."
"Ayah juga akan melakukan hal yang sama jika itu adalah ibumu, tapi ayah tidak akan meninggalkannya Zack, kau harus tahu bagaimana perjuangan ayah untuk mendapatkan hati ibu mu kembali." Kata Zafran.
"Apa ibu takut saat mengetahui ayah adalah seorang mafia?"
"Awalnya iya, tapi ibu mu dan juga ayah tidak pernah terbesit sekalipun untuk berpisah. Jika pun harus berpisah hanya kematian yang memisahkan kami. Pernah berpisah tapi karena saat itu keluarga ibu mu menentang ayah."
Zack diam sesaat.
"Kau masih harus banyak belajar." Kata Zafran.
Keadaan hening sejenak.
"Aku hanya tidak ingin Isabella terkena imbas dari semua yang berhubungan dengan mafia." Kata Zack.
Zafran melenguhkan nafasnya.
"Itu prinsip yang baik, tapi ayah tidak akan pernah melakukan hal seperti itu, ayah mencintai ibumu dan sewajarnya ayah akan melindunginya, meski pernah ayah kecolongan ibumu terkena racun tapi dari hal itu ayah belajar. Tidak ada orang yang berhasil tanpa jatuh terlebih dulu Zack."
"Jemput Isabella Zack, jangan sampai kau menyesal, dan jangan terlalu banyak minum." Kata Zafran menepuk bahu anaknya.
"Apa ayah tidak mau menemaniku minum?"
Zafran menarik nafasnya dalam-dalam.
"Ayah ingin tapi sayangnya ayah sudah tidak minum. Ibu mu sudah melarang ayah, begitu juga para dokter, Kau lihat Stark, dia bahkan tidak pernah menyentuh alkohol." Ujar Zafran menunjuk Stark yang berjaga di depan teras.
Zafran berdiri dan hendak masuk ke dalam.
"Apa dokter Leizya juga tergabung di dalamnya?"
"Mm.. Dia yang justru mengusulkan bahwa dalam masa perawatan kami harus bersembunyi."
Zack melenguh.
"Ayah... Jadi apa yang harus ku lakukan?"
"Temui dia, apa dia mau tetap bersamamu meski ke depannya akan sulit, dan pastikan bahwa kau akan melindunginya. Kau tahu Zack, dia sendirian, tidak ada yang membantunya dan tidak ada yang mendukung mentalnya saat dia melalui hal-hal seperti kemarin apalagi setelah apa yang Emir Khan lakukan padanya, ayah kecewa kau meninggalkannya, meski usia mu masih di ambang labil tapi untuk Isabella ayah pikir kau bisa jauh lebih kuat. Tapi ternyata kau melepaskannya begitu saja."
"Mantapkan hatimu Zack, semakin lama kau di sini semakin besar kemungkinan kau benar-benar kehilangan Isabella."
Zack kemudian berdiri dan menyambar kunci mobilnya, ia berlari dan masuk ke dalam mobil, menginjak gas dan memutar stir.
"Dia terlahir kaya, andai dia terlahir miskin seperti ayahnya dulu, pasti dia tidak akan bimbang." Kata Zafran.
"Stark latih Zack lebih keras lagi." Kata Zafran pada Stark.
"Baik tuan."
Mobil sport mewah melaju dengan sangat kencang melewati lahan yang begitu luas, banyak pos-pos penjaga di sekitaran Mansion milik Zafran. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya Zack keluar dari lahan pribadi ayahnya dan kemudian ia menekan gas lebih dalam lagi menuju ke suatu tempat.
Perjalanan memakan waktu selama satu jam lebih dan akhirnya Zack sampai di apartmen, dengan tidak sabar Zack keluar dari dalam mobil.
Sebelumnya sepanjang perjalanan Zack sudah berlatih untuk meminta maaf pada Isabella.
Langkah kakinya mantap ia tahu keputusannya sangat bodoh, ia berada di antara dilema berat, satu sisi ia sangat bersalah dengan Isabella satu sisi ia sangat mencintai Isabella.
Bukan hanya Isabella yang terluka, bahkan Zack juga sangat menderita.
Zack menekan beberapa nomor pin apartmen, dan kemudian membuka apartmen itu, namun keadaan begitu sepi, tirai bahkan belum di buka.
Zack merasa apartmen sudah kosong.
Zack memutari apartmen dan masuk ke dalam kamar Isabella, almari dan seluruhnya sudah kosong.
"Apa yang sudah ku lakukan!!!" Geram Zack menjambak rambutnya sendiri.
Zack kemudian mencari sesuatu petunjuk, apakah Isabella meninggalkan sesuatu untuknya atau apapun, ia menarik laci meja di samping tempat tidur.
Namun yang ia temukan hanyalah kalung yang teronggrok di sana, kalung yang pernah ia berikan pada Isabella.
Zack meraihnya dan menggenggamnya.
Zack lari keluar dan terus berlari menuju ruangan keamanan.
BRAK! Zack membuka pintu dengan kasar.
Di sana beberapa orang masih berjaga dengan sembari memakan burger dan saling tertawa. Melihat kedatangan Zack mereka berdiri dan menunduk.
"Periksa CCTV, dan temukan orang ini!" Perintah Zack sembari memberikan foto Isabella.
"Baik tuan."
Zack kemudian menghubungi Stark untuk ikut membantunya mencari.
"Strak bantu aku untuk mencari Isabella." Kata Zack.
"Maaf tuan, tugas saya selesai untuk menjaga anda, kali ini anda harus melakukannya sendiri." Stark kemudian mematikan ponselnya.
Zafran menaikkan jempolnya dan kembali memakan sandwich buatan sang istri.
"Apa?! Dia mematikan ponselnya?! Apa yang dia katakan! Lihat saja jika nanti kita bertemu, akan ku beri kau pelajaran!" Kata Zack geram.
"Tuan kita menemukannya." Kata sang penjaga.
Zack kemudian melihat layar, saat itu terlihat Isabella sedang menarik kopernya, beberapa barang pun sudah naik ke atas mobil yang terbuka.
Zack mencermati mobil tersebut.
"Pena dan kertas!" Kata Zack.
Kemudian sang penjaga memberinya pena serta kertas, terlihat Zack mencatat plat mobil tersebut.
"Kapan itu berlangsung." Tanya Zack.
"Kemarin tuan, pukul 6 pagi."
Zack kemudian menghubungi bagian perhubungan lalu lintas dan meminta beberapa cctv yang ada di sepanjang jalan di dekat apartmennya.
"Ya, sesuatu sedang terjadi, pencuri membobol apartmen milik salah satu penyewa apartmen saya. Ya, kemarin sekitar pukul 6 pagi." Kata Zack berbohong.
Zack kemudian kembali ke apartmen dan menunggu sembari membuka laptopnya yang ada di apartmen. Tak berapa lama beberapa rekaman cctv masuk ke dalam surelnya.
~bersambung~