
Cheriel baru saja menghadap guru seni nya,ia meminta maaf karena dirinya sekolah tidak jadi mengikuti kompetisi dance,apa lagi teman temannya telah lama berlatih.
Untungnya guru dan teman teman Cheriel tidak terlalu mempermasalahkannya,bagi mereka ini bukan akhir dari segalanya,masih banyak kesempatan yang akan datang dan bisa mereka ikuti kembali.
Meski masih merasa bersalah kepada sekolah dan teman temannya,tapi Cheriel bisa sedikit bernafas lega,ia memiliki guru dan tim yang sangat mendukungnya.
Sambil berjalan melewati koridor sekolah Cheriel berusaha agar bisa tersenyum.
Ia tak mau terpuruk lama lama karena kesalahannya.
Senyum mulai mengembang di wajah cantiknya, namun senyuman itu seketika menghilang saat Cheriel tak sengaja melihat Gavin yang berjalan ke arahnya.
Cheriel berusaha untuk bersikap tenang dan tak ingin berurusan lagi dengan orang yang bernama Gavin.
Langkahnya yang tadi sempat terhenti kini mulai bergerak kembali.
Dengan sifat cueknya ia berjalan dan saat keduanya semakin dekat, Cheriel begitu saja melewati Gavin yang berdiri menatapnya, ia sama sekali tak menganggap keberadaan Gavin yang ada di hadapannya.
Gavin yang ingin menegur Cheriel hanya bingung melihat Cheriel yang pergi begitu saja tanpa menghiraukan keberadaanya.
[Gavin]
Tuh cewek gak liat gue apa? Main lewat aja....
Gavin langsung berbalik arah dan berjalan ke arah Cheriel.
Gavin langsung menahan langkah Cheriel dengan memegang lengan Cheriel.
[Gavin]
Gue rasa mata lo baik baik aja kan?
Yang cederakan bahu lo,jadi mata lo sehat dong...??
[Cheriel]
Sorry, gue gak ada urusan lagi sama lo,jadi buat apa lagi?
[Gavin]
Ya tapi lo gak bisa seenaknya gak menghiraukan gue,seolah kaya gak kenal
[Cheriel]
Apa.....
Gue gak salah dengar kan?
Setau gue kita emang gak saling kenal kan? Jadi buat apa? Urusan kita udah selesai dan impas jadi buat apa lagi?
Cheriel melepaskan pegangan dari Gavin, dan ia pergi meninggalkan Gavin begitu saja.
Gavin menatap kesal ke arah Cheriel yang mulai menjauh darinya.
Gavin merasa dirinya memiliki rasa terhadap Cheriel, dan ia ingin memastikannya rasa apa yang saat ini tengah ia rasakan.
[Gavin]
Gue gak mau ngerasa seperti ini terus,gue yakin ini pasti cuma rasa bersalah aja sama tuh cewek.
----------------------------------
Cheriel menyimak penjelasan dari guru yang tengah mengajar di kelasnya.
Meski tak bisa menulis Cheriel tak ingin hanya diam saja,ia mengetik semuanya dalam tab yang telah ia siapkan dari rumah.
Chinthya dan Chika juga membantu Cheriel jika ia mulai kesusahan.
Suara bunyi bel terdengar keras, dan jam telah menunjukkan pukul 13.30 tanda jam pelajaran telah usai dan seluruh siswa dan siswi bersiap untuk pulang.
[Chinthya]
Riel,lo pulang bareng shaka lagi?
[Cheriel]
Gak tau deh? Bukannya shaka lagi latihan basket ya
[Chika]
Iyaa...makanya tuh anak gak masuk kelas
[Chinthya]
Gue minta maaf ya riel, gue gak bisa nganter pulang lo,gue ada les tambahan
[Cheriel]
Iya gak papa,gue naik taksi aja
[Chika]
Hmm...atau lo mau nunggu gue riel,gue latihan vokal bentaran doang kok
[Cheriel]
Gak usah, beneran gak papa gue naik taksi aja bisa kok...
[Chinthya]
Oke deh, tapi setelah lo sampai rumah lo harus ngabarin kita oke...
[Cheriel]
Iyaa....kalian udah kaya bunda deh bawel banget...
[Chinthya & Cheriel]
Iya lah, lo kan sahabat kita...
[Cheriel]
Kompak banget sih...udah sana entar kalian telat lagi...
Chinthya dan Chika bergegas pergi karena waktu mereka sangat lah mepet.
Cheriel berjalan santai keluar dari kelasnya,ia melangkah ke arah gerbang sekolah,sesekali para teman menyapanya dan Cheriel menyapa balik dengan senyumannya.
Cheriel terkenal sebagai murid yang ramah dikalangan siswa dan siswi yang lain.
Di sisi lain Gavin yang ingin memakai helmnya dan mulai bergegas pulang tiba tiba mengurungkan niatnya setelah melihat Cheriel yang berjalan sendirian menuju gerbang sekolah.
Mata nya sampai tak berkedip melihat Cheriel dari jauh. Sampai Cheriel menyetopkan sebuah taksi dan pergi meninggalkan sekolah.
Dengan cepat Gavin memakai helmnya dan mengikuti taksi yang dinaiki oleh Cheriel.
30 menit kemudian taksi itu stop di depan sebuah rumah,Gavin yang berhenti cukup jauh dari jarak rumah Cheriel akhirnya mengetahui rumah Gadis yang telah membuat perasaannya tak menentu itu.
[Gavin]
Ternyata rumahnya disitu...
Dari raut wajahnya,bisa ditebak jika Gavin telah merencanakan sesuatu. Ia kembali memakai helmnya dan pergi dari kawasan komplek rumah Cheriel.
----------------------------------
Christ,Reymond & Nhaya tengah asyik nongkrong di sebuah Cafe.
Mereka sudah sering ngumpul bersama di Cafe tersebut.
Nhaya terlihat gelisah dan memandangi terus layar ponselnya.
Sesekali ia mencoba menghubungi seseorang tapi tak ada jawaban dan hal itu membuat Nhaya sangat kesal.
[Reymond]
Cacingan lo...
[Nhaya]
Lo tuh yang cacingan....
[Reymond]
Habis dari tadi gak tenang amat,kenapa?
[Christ]
Paling ngehubungin Gavin tapi gak di respon sama tuh anak
[Reymond]
Nhay....nhay....lo tuh udah kaya nyokapnya Gavin tau gak?
[Nhaya]
Lo berdua tuh kenapa sih?
Gavin kan teman kita,kok lo berdua gak peduli banget sama dia?
[Christ]
Nhay, lo tuh udah terlalu berlebihan tau gak?
Gavin tuh bukan anak kecil lagi, dia bisa ngurus hidupnya sendiri
[Reymond]
Iya....lagian kalau dia emang butuh bantuan pasti dia bakal bilang,jadi santai aja deh...
Bukannya tenang Nhaya malah semakin kesal dengan kedua temannya itu.
Ia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Christ & Reymond.
[Reymond]
Ngambekkan lo....
Christ & Reymond membiarkan Nhaya pergi begitu saja.
Sedangkan Orang yang di khawatirkan Nhaya saat ini tengah berada di depan rumah Cheriel.
Setelah tadi siang mengikuti Cheriel Gavin memutuskan untuk mengunjungi rumah Cheriel.
Dengan membawa beberapa macam buah Gavin mengetuk pintu rumah Cheriel.
Tak lama kemudian wanita paruh baya membuka kan pintu yang tak lain adalah bunda nya Cheriel.
[Gavin]
Malam tante, Cheriel nya ada?
[Bunda]
Cheriel ada, kamu siapa ya?
[Gavin]
Saya teman sekolahnya Cheriel tante
[Bunda]
Owh,teman sekolah Cheriel
Ayoo masuk...
Bentar ya tante panggilin Cheriel dulu..
[Gavin]
Iya tante, makasih...
Gavin duduk disofa,sambil menunggu bunda memanggilkan Cheriel.
Mata Gavin melihat kesekitar ruang tamu, ruang tamu bernuansa putih itu banyak di penuhi dengan Photo kebersamaan Cheriel bersama sang bunda.
Photo dari Cheriel masih bayi, hingga dewasa. Tapi Gavin sedikit merasa bingung tak ada satu pun Photo Cheril bersama ayahnya.
Namun Gavin tak terlalu memikirkannya.
Ia beranjak dari duduknya dan menuju sebuah Nakas dimana banyak Photo photo Cheriel yang berjejer di atasnya,Gavin tersenyum melihat sebuah Photo dimana Cheriel tersenyum manis dan duduk di tengah hamparan bunga
Tanpa berfikir panjang,Gavin meraih ponselnya dari saku dan mengambil gambar Photo Cheriel dengan kamera ponselnya.
*
*
*
Di sisi lain rumah
Bunda menuju kamar Cheriel, ia mendapati putrinya itu tengah asyik menonton sebuah video dance dari laptop.
[Bunda]
Riel....
[Cheriel]
Iya bund...
[Bunda]
Itu ada teman kamu datang
[Cheriel]
Siapa bund? Shaka ?
[Bunda]
Bukan....
Bunda baru liat teman kamu yang ini
[Cheriel]
Haa.......siapa sih?
[Bunda]
Udah sana gak enak biarin orang nunggu lama lama....
[Cheriel]
Iya bund...
Cheriel lalu keluar dari kamarnya dan turun menuju ruang tamu, ia masih menebak nebak siapa teman nya yang datang, kedua mata Cheriel menangkap sosok laki laki yang tengah memunggunginya dan sedang asyik melihat Photo photo dirinya, Cheriel tak mengenali siapa sosok tersebut.
[Cheriel]
Sorry....siapa ya...?
Dan seketika Cheriel terkejut melihat sosok laki laki itu ternyata adalah Gavin.
Ekspresi Tidak senang keluar dari raut wajah cantik Cheriel. Sedangkan Gavin malah sebaliknya ia tersenyum seolah tak pernah ada masalah di antara mereka.