REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 44 -



Isabella meraih kemeja Zack, dan menariknya untuk mendekat sembari menciumnya.


Zack sendiri cukup terkejut karena ini pertama kalinya Isabella yang memulai lebih dulu.


Namun, mendapatkan lampu hijau Zack mulai membalas ciuman Isabella, sedangkan tangan Isabella juga aktif melepaskan pakaian milik Zack.


Kini Zack hanya memakai boxer ketatnya sedang Isabella hanya memakai underwearnya, mereka saling menekan di atas ranjang.


Zack semakin kalap, gerakannya semakin panas dan hembusan nafasnya sudah begitu cepat, ia menekan tubuhnya di atas tubuh mungil Isabella. Bibirnya semakin ganas mengecup seluruh tubuh Isabella, menyesapnya dengan lembut kadang juga sangat kuat membuat Isabella melenguh karena menimbulkan bekas merah di beberapa bagian tubuh Isabella.


Namun, ketika Zack melihat wajah Isabella, ada yang aneh. Isabella seolah menahan ketakutan, ada setetes air mata yang membasahi pelupuk matanya. Isabella menutup kedua matanya namun bibirnya gemetar.


Kemudian Zack menelan ludah dan diam sejenak. Zack memutuskan untuk berhenti dan memeluk Isabella, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


"Maafkan aku." Kata Zack memeluk Isabella dan mencium punuk kepala Isabella.


"Maaf sudah membuatmu takut." Kata Zack lagi.


Isabella menggelengkan kepalanya.


"Maafkan aku Zack." Kata Isabella


"Kenapa?" Tanya Zack.


"Aku pikir aku sudah siap, tapi aku masih merasa takut."


"It's okey..." Kata Zack membelai kepala Isabella.


"Apa kau marah padaku, dan akan mencari yang lain?"


Zack tersenyum.


"Untuk masalah kecil seperti ini?" Tanya Zack.


"Ku pikir semua laki-laki menginginkan itu?"


"Ya, tapi aku tidak seperti semua laki-laki yang kau bicarakan, aku menghargai keputusanmu." Kata Zack sembari mengecup kening Isabella.


"Zack..."


"Mm?"


"Bagaimana jika aku berciuman dengan laki-laki lain?"


Zack kemudian terkejut dan melihat Isabella, lalu berfikir sejenak seolah Zack sedang membaca pikiran kekasihnya.


"Kau yang menciumnya atau dia yang menciummu?" Tanya Zack.


"Mungkin... Dia yang memaksa menciumku."


Zack diam.


"Karena alasan itu kah, lalu kau mengajakku tidur bersama?" Tanya Zack.


"Aku hanya bertanya." Sahut Isabella.


Zack menelan ludahnya.


"Mungkin aku akan menghajarnya, hingga babak belur, dan tidak akan berhenti sebelum emosi ku mereda." Kata Zack datar.


Isabella diam.


"Apa ada yang memaksa mencium mu?" Tanya Zack.


"Tidak." Kata Isabella.


"Mmm." Zack mengeratkan pelukannya.


*****


Cafe La Barca...


Evashya sedang bertemu dengan Camilla dan beberapa teman laki-laki mereka.


Mereka semua sedang melakukan taruhan yang konyol saat bermain billiard.


"Evashya, jika kau kalah, kau harus telanjang di depanku." Kata Austin.


"Aku tidak suka taruhan itu kakakku akan membunuhku." Kata Evashya.


Semua laki-laki tertawa.


"Ayolah Evashya, apa kau akan terus bersembunyi di belakang kakakmu?" Ledek Austin lagi.


"Hanya saja di dalam keluarga ku ada aturan-aturan nya sendiri."


"Berarti kau masih perawan benar begitu?" Kata Austin mendekati Evashya.


"Aku salah datang ke sini, ayo Camilla kita pergi." Evashya menggandeng Camilla hendak pergi.


"Eits! Yang sudah bermain harus menyelesaikan nya sampai akhir Evashya, dan sekarang giliranmu." Kata Austin.


"Kau sudah keterlaluan Austin!" Kata Camilla.


Teman-teman Austin menghalangi Evashya dan Camilla untuk pergi.


"Permainan ini bodoh! Orang gila sekalipun tahu jika aku akan kalah! Dan kau meminta taruhan yang sama gilanya!" Teriak Evashya.


"Lakukan atau kau akan telanjang di sini Evashya, tentunya jika kau kalah, kau hanya cukup telanjang di depanku, jika kau mau aku bisa memberimu kesenangan. Lagi pula kau masih perawan pasti kau akan menyukai itu." Kata Austin lagi.


Kemudian seorang laki-laki datang mengambil stick billiard.


"Aku yang akan main untuk Evashya." Katanya.


"Harry..." Sahut Evashya.


"Tidak bisa, kau siapa!" Teriak Austin.


Austin menelan ludahnya.


"Kau pengacau!" Kata Austin dan melemparkan stick billiard di atas meja lalu pergi bersama teman-temannya.


Setelah melihat para laki-laki itu pergi, Evashya bernafas lega.


"Siapa mereka." Tanya Harry.


"Teman, tapi bukan dari Hill School." Jawab Evashya.


"Kakakmu akan khawatir jika dia tahu kau bermain dengan brandal-brandal miskin itu." Kata Harry.


"Jadi tolong jangan katakan apapun padanya." Pinta Evashya.


Harry hanya diam.


"Evashya, apa kau tidak mau mengenalkannya padaku?" Tanya Camilla.


"Oh ya, Camilla dia Harry teman Zack, dan Harry dia Camilla."


"Hai Harry..." Sapa Camilla.


Harry hanya diam.


"Ayo ku antar pulang." Harry menarik tangan Evashya.


"Tapi Camilla... Dia juga datang bersamaku." Kata Evashya.


"Dia punya kaki dan uang, bisa pulang sendiri." Kata Harry acuh.


"Camilla maafkan aku...!" Teriak Evashya yang sudah di tarik oleh Harry.


"Hmb... Belum pendekatan sudah di tolak duluan." Kata Camilla cemberut.


Mobil Harry pun melaju menuju mansion Volkofrich, gerbang besar yang kokoh terbuka dan Harry menekan gas nya hingga ia berhenti tepat di halaman mansion.


"Terimakasih Harry." Kata Evashya malu-malu.


Evahsya hendak keluar namun, ia berbalik dan mencium Harry dengan cepat. Bibirnya mengecup pipi Harry dan sedikit mengenai sudut bibir Harry.


Kemudian Evahsya menutup wajahnya karena malu dan keluar dari mobil, masuk ke dalam mansion dengan berlari secepat mungkin.


Evashya naik ke dalam kamar dan menutup pintu nya.


"Astaga, jantung ku... Apa jantungku baik-baik saja." Tanya Evashya memegangi jantungnya dengan nafas terengah karena berlari.


Sedang Harry, masih duduk di balik kemudi dengan memasang wajah datarnya dan menyentuh pipi karena tindakan Evashya, tak berapa lama Harry menekan gas mobilnya dan pergi.


Evashya kemudian berlari menuju balkon dan melihat kepergian Harry, mobil porsche berwarna biru metalik melaju dan menghilang dari pandangan Evashya.


"Dia tampan sekali." Kata Evashya.


"Aku sudah jatuh cinta..." Sahut Evahsya lagi dengan memegangi dadanya dan ambruk di atas ranjang.


"Indahnya jatuh cinta..." Kata Evashya merentangkan kedua tangannya naik dan turun di ranjang seperti kupu-kupu.


"Tapi... Apa Daddy dan Mommy akan merestui nya, jika aku jatuh cinta pada Harry." Senyuman Evashya seketika memudar.


*****


Hill School...


Pagi itu Alicia menunggu Isabella di depan gerbang Hill School, ia ingin meminta maaf pada Isabella atas kesalahan sang kakak.


Dan akhirnya Isabella pun terlihat berjalan kaki, Alicia berlari menemui Isabella dan hendak meminta maaf.


"Alicia, jangan katakan apapun, aku tahu kau ingin minta maaf, tapi yang aku ingin kan adalah Harry bukan kau." Kata Isabella lebih dulu.


"Tapi, apa kita masih berteman?" Tanya Alicia hampir menangis.


"Kita tetap berteman, tapi aku masih butuh waktu untuk sendiri Alicia."


Kemudian Isabella pergi meninggalkan Alicia yang menghapus air matanya.


Semalaman Alicia tidak bertemu dengan Harry, bahkan hari ini kakaknya tidak berangkat ke sekolah. Entah sedang berada dimana dia sekarang.


Alicia melangkah dengan malas untuk ke kelas.


"Alicia..." Sapa Billy.


"Hai..." Kata Alicia.


"Apa nanti kau ada acara..." Tanya Billy.


"Tidak." Kata Alicia.


"Bagaimana jika kau ikut denganku ke pantai, nanti sore akan ada pertunjukan band bagus di pantai."


Alicia berfikir dari pada sedih dan kesal karena pertemanannya dengan Isabella sedikit kacau dan kesal dengan kakaknya, lebih baik dia menerima ajakan Harry.


"Okey kau jemput aku." Kata Alicia.


"Yes!" Kata Billy.


Alicia melihat tingkah Billy dan tersenyum.


"Kau tersenyum...." Kata Billy.


"Itu karena kau lucu."


"Aku senang kau tersenyum."


Mereka berdua memasuki kelas bersama, dan Sezi memperhatikan itu, ia mulai merasa risih, sejujurnya Sezi sudah merasa nyaman jika Billy menyukainya namun ia terlalu gengsi dan terlalu terobsesi pada zack.


~bersambung~