
Iring-iringan mobil sampai di Mansion, namun keadaan Mansion sedang tidak kondusif.
Banyak barang-barang di ganti dan di ubah, apalagi para pelayan semua telah di ganti yang baru.
Para pelayan lama berkumpul dan serba bingung, mereka semua kompak memakai baju hitam, karena sedang berkabung.
Mereka berdiri dan menatap pada Dax serta Zack.
"Ada apa ini." Tanya Dax.
"Kami tidak tahu tuan, tiba-tiba banyak pelayan baru datang dan mengganti semua perabotan." Kata seorang pelayan yang lain.
"Dimana Jully." Tanya Dax.
Tak berapa lama terdengar teriakan dari sisi ruangan yang lain.
"Jangan sentuh lukisan-lukisan itu!!! Jangan kotori lukisan itu!!! Jangan sentuh foto-foto milik Nyonya dan Tuan!!!"
Dax melihat Jully yang sedang sibuk menghentikan para pelayan.
"Sedari tadi Jully sibuk menghentikan mereka tuan." Sahut seorang pelayan lagi.
"Aku tidak kuat..." Sahut Evashya lemah.
Kemudian Zack memapah Evashya untuk duduk di sofa.
"Maaf sofa ini hanya untuk pemilik Mansion." Sahut sang pelayan baru.
Kemudian ada beberapa pelayan yang membawa foto figura besar keluarga Volkofrich.
Zack marah dan menghentikan mereka.
Namun Dax menahan keponakannya dan menggeleng pasrah.
Setelah beberapa menit berunding, akhirnya Dax memberikan pesangon pada para pelayan. Dax akan mengirimnya melalui rekening masing-masing.
Di halaman Mansion yang luas para pelayan menangis dan tidak ikhlas. Bagaimana semua ini bisa terjadi. Terlebih Jully yang sangat merasa menyesal.
"Ayo Zack, ajak Evashya ke apartmen, pengawal akan membawa barang-barang penting kalian." Sahut Dax.
Ketika mereka berjalan dengan lemah dan hendak masuk ke dalam mobil, Stark pun datang dengan mobil yang lain.
"Tuan Zack anda harus ikut dengan saya." Sahut Stark.
Mereka semua saling pandang, kecuali Evashya yang sudah masuk ke dalam mobil dengan wajah lemas dan lemah.
"Aku akan menyusul, paman."
"Baiklah, hati-hati." Dax menyentuh bahu Zack.
"Jaga dia, aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu padanya." Ancam Dax pada Stark.
"Dengan seluruh nyama saya." Sahut Stark.
Setelah mobil Dax meluncur, Stark membawa Zack masuk ke dalam mansion.
"Kita harus mengamankan sesuatu di dalam sana." Sahut Stark.
Zack bingung dan masih tidak mengerti.
Kemudian Stark membuka ruangan kerja Zafran yang masih terkunci dan belum terjamah.
Stark menggeser rak buku dan terdapat sebuah pintu brangkas yang cukup besar, kemudian ia menekan beberapa pin tak berapa lama terbukalah pintu brangkas tersebut.
Pintu brangkas yang tebal dan kemudian Stark membukanya lebar, ia mempersilahkan Zack untuk masuk lebih dulu.
Zack terkejut melihat begitu banyak emas di dalam brangkas tersebut.
"Tuan muda, ini semua adalah modal anda, untuk melawan Emir Khan. Jika anda mampu saya siap dengan setia di samping anda, tuan Zafran juga telah mengalihkan sebagian aset miliknya pada Nyonya Laura, dokumen itu akan kami urus menjadi atas nama anda. Mungkin Gaby lupa, harta yang paling besar bukan di miliki tuan Zafran, namun di miliki oleh Nyonya Laura, dan Emir hanya meminta tanda tangan tuan Zafran."
Stark memunggu jawaban dari Zack.
"Kau tidak perlu bertanya Stark, tanpa dirimu atau tanpa siapapun, aku akan mengambil kembali milik ayah." Sahut Zack dengan wajah datar.
Stark menyeringaikan senyumannya.
"Saya akan menghubungi markas untuk mengambil semua emas dan berlian ini."
"Aku mengerti."
*****
Hill School...
Isabella duduk sendirian di kursinya dan menatap malas roti yang sudah ia buka.
"Ada yang aneh, Isyana tidak berangkat menjaga perpustakaan, Zack juga, Harry, bahkan Evashya yang membuat bingung teman-temannya, kenapa anak itu tidak berangkat." Kata Isabella lirih.
"Ada apa sebenarnya."
Setelah cukup lama Isabella mulai menggigit rotinya lagi, dan mneyeruput yoghurt rasa strawberry.
Tak berapa lama gerombolan siswa dimana itu adalah Sezi serta teman-temannya datang terlihat berjalan ke arahnya.
"Para pembully lagi." Sahut Isabella lirih dan hendak pergi dan sudah meninggalkan kursinya.
Namun gerombolan itu saling menyedekapkan tangan mereka dan menghalangi Isabella.
Ke kiri dan ke kanan, Isabella di halangi.
"Bisakah satu hari saja kalian tidak menggangguku." Isabella menatap nanar.
"Tidak bisa." Sahut Fay.
"Seret dia." Perintah Sezi sembari berbalik pergi masih menyedekapkan tangannya dan berjalan angkuh.
"Apa!!!" Teriak Isabella sembari melotot.
Fay, dan Milly mulai mencengkram lengan Isabella, mereka menyeretnya ke ruangan gudang dimana Sezi sudah berdiri di dalam ruangan gelap tersebut.
"Jangan macam-macam, aku akan melaporkan tindakan kalian pada pengawas!!!" Teriak Isabella mulai ketakutan.
"Ohya? Laporkan dan kita lihat apa yang bisa mereka lakukan. Aku hanya ingin bertanya Isabella, kenapa pacarmu Zack tidak berangkat sekolah, dan tidak ada di sisi mu? Apa dia sudah bosan denganmu?"
"Aku tidak tahu." Jawab isabella cepat.
"Apa kau mau dengar kabar yang sebenarnya?" Kata Sezi kemudian mendekatkan bibir nya di telinga Isabella.
"Kata orang tuaku, mereka sudah bangkrut dan di depak dari mansion mewah itu." Bisik Sezi.
"Kau bohong!" Teriak Isabella.
"Dan sekarang tidak akan lagi yang bisa melindungimu. Zack jatuh miskin, dia tidak akan berani melawan kami yang jauh lebih kaya dari nya." Kata Sezi sembari mendorong dahi Isabella kasar dengan telunjuknya.
Sezi kemudian mencengkram kedua pipi Isabella, sedang Isabella masih tidak bisa bergerak karena cengkraman di kedua lengannya.
"Aku sangat membencimu!!! Tahun ini jangan sampai kau mendapat peringkat lebih baik dariku, atau kau akan mati!" Kata Sezi melolot dan mencengkram rahang Isabella.
"Aku juga mau peringkat atas Sezi, mamaku sudah mulai cerewet." Sahut Fay.
"Baiklah, bagaimana kalau si pintar ini memberikan kita jawaban dari semua soal ujiannya." Sezi menyeringaikan mulutnya sembari melotot membuat wajahnya menakutkan.
"A... Aku tidak bisa melakukan itu, aku harus masuk perguruan tinggi." Sahut Isabella
PLAKKK
Sezi menampar Isabella.
"Lakukan atau kau akan mati!!!" Teriak Sezi yang sudah kehabisan kesabaran.
"Jika dia tidak mau, bagaimana jika dalam hitungan ke-3 kita lempar dia dan kita kurung saja di sini." Sahut Milly.
"Besok kita akan berangkat karya wisata, bagaimana jika kita siksa jalangg ini di sana." Kata Sezi.
"No... No... Bagaimana jika hari ini kita bawa jalangg ini ke hotel, kita panggil Gery, kita telanjanggi ****** ini, Gery akan sangat senang bermain dengannya, dan kita foto lalu kita serahkan pada guru kedisiplinan, bagaimana?" Ujar Fay.
"Jangan! Jangan lakukan itu aku mohon pada kalian. Ba-baiklah, aku akan mengalah dan memberikan jawabanku pada kalian saat ujian tahun ini." Sahut Isabella mulai ketakutan dengan ancaman itu.
Mereka tersenyum puas dan kemudian melempar Isabella, setelah mendapatkan apa yang mereka mau, para pembully itu meninggalkan Isabella yang duduk lemah di dalam gudang sembari menangis.
Saat berlalu pergi Isabella melihat para gerombolan siswi kaya raya itu saling tos dan tertawa-tawa. Isabella menyebut mereka gerombolan pembully.
~bersambung~