
Waktu cukup cepat berlalu bagi para siswa-siswi yang menikmati kunjungan itu, dan kini siang pun sudah menjelang sore, terlihat para siswa-siswi sebagian masih ingin memutari perusahaan tersebut.
Di sudut tempat duduk yang lain, ada salah satu siswi yang merasa waktu sungguh lama berputar, berkali-kali ia melihat jam di tangannya dan setiap kali melihat hanya bertambah satu menit.
Bahkan Isabella ingin sekali pingsan. Isabella tampak pucat dengan nafas yang sudah terasa sesak. Gadis itu tidak bisa lagi menahan sakit di pergelangan kakinya, ia sudah tidak kuat berjalan. Mata Isabella makin sayu dan lelah.
"Isabella, kita harus pergi ke rumah sakit." Kata Harry.
"Tidak aku tidak apa-apa, aku pernah mengalami yang lebih parah dan aku baik-baik saja." Kata Isabella menolak Harry secara halus.
Isabell ingin menjauhkan Harry darinya, ia tidak ingin salah paham tentang hubungannya dengan Harry semakin terlihat nyata.
"Tapi aku melihat wajah dan kondisi tubuh mu tidak baik-baik saja." Kata Harry lagi.
"Harry aku masih harus melihat gedung yang sebelah sana, materi ku masih belum cukup." Sahut Isabella.
"Naik ke punggungku dan aku akan membawamu ke bus, kau harus istirahat di sana."
"Tidak Harry." Kata Isabella dengan wajah pucat pasi.
Harry merasa kesal dan kemudian hanya bisa berjalan kesana dan kemari melihat pendirian Isabella yang tidak bisa di runtuhkan.
"Aku akan menggendongmu."
"Tidak aku tidak mau, Zack dan yang lainnya akan salah paham." Kata Isabella.
"Persetan dengan mereka, aku sudah muak!"
Dengan cepat Harry menggendong Isabella, membuat Isabella terkejut dan spontan melingkarkan kedua tangannya di tengkuk leher Harry membuat mereka saling adu pandang, wajah mereka pun sangat dekat.
Sebagai pria normal, tentu saja Harry ingin sekali mencium Isabella, itu adalah kesempatan bagus, namun pikiran itu ia tepis dan kemudian berjalan menuju bus.
Semua murid melihat itu dan bersorak, mereka saling berteriak dan menggoda Harry dengan Isabella.
Saat itu Zack masih fokus dengan kertas, tablet dan segala macam di tangannya namun kemudian wajahnya berubah.
"Owh Fvck!" Geram Zack melihat pemandangan tepat di depan matanya.
Harry membawa Isabella ke dalam bus, kemudian Isabella membenarkan duduknya dan menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Menutup mata dan mencoba untuk tidur.
"Biar ku lepaskan sepatumu." Kata Harry.
Setelah cukup lama dan Harry masih menunggu Isabella, Zack pun datang menyusul dengan kesal, ia meraih bahu Harry untuk berdiri.
"Bisa kau menjauhi pacarku!" Geram Zack dengan berbisik penuh kekesalan.
Harry melemparkan tawa pendek tak percaya dengan ucapan Zack.
"Jika aku menjauhinya lalu siapa yang akan menolongnya? Kau? Bukanya kau marah padanya dengan segala kesalahpahaman malam itu?"
Zack meremas tengkuknya. Bimbang. Bingung. Dan tidak tahu harus mempercayai siapa.
"Dengarkan sendiri rekaman itu." Kata Harry mengirimkan sesuatu pada Zack, melalui surel.
"Aku tinggalkan Isabella di sini denganmu, tapi jika kau meninggalkannya aku tidak akan lagi mengalah. Ingat, ini yang terakhir kali aku mengalah padamu. Tidak ada lain kali lagi dan aku benar-benar akan membuat Isabella mencintaiku." Bisik Harry di telinga Zack.
Kemudian Harry pergi meninggalkan Zack dan juga Isabella yang sudah tidur karena kelelahan apalagi ia sedang ingin membuat kakinya lebih tenang.
Zack duduk di samping Isabella dan membenarkan kepala Isabella dengan sepelan mungkin untuk bersandar di bahunya.
Kemudian, dengan sedikit ragu Zack membuka surel miliknya, sebuah rekaman di kirim oleh Harry.
Zack memutar rekaman itu dimana berisi percakapan tentang Sezi dan teman-temannya mengenai malam itu.
Setelah mendengar rekaman itu Zack meremas ponselnya.
"Seharusnya aku tahu itu." Kata Zack dan kemudian mencium kening Isabella.
Membuat Isabella pun terbangun.
"Zack..."
"Yah..."
"Kau di sini?"
"Ya, aku di sini denganmu."
"Kau tidak marah lagi padaku?"
Zack menggelengkan kepala pelan.
"Oh...! Sakit!" Kata Isabella.
"Hati-hati... Biar ku lihat." Kata Zack melihat pergelangan kaki Isabella.
Seketika Zack mengutuki dirinya yang tidak becus menjaga Isabella saat kekasihnya bahkan ada di dekatnya. Zack sungguh menyesal dan berfikir.
"Bagaimana mungkin aku bisa menjalankan perusahaan yang begitu besar sedangkan menjaga pacarmu saja yang ada di depan mata aku pun luput."
"Maafkan aku Isabella..." Kata Zack.
"Tidak, ini hanya salah paham." Sahut Isabella tersenyum.
"Yang penting kau sudah tidak marah padaku, itu sudah cukup bagiku." Kata Isabella.
"Kita harus ke rumah sakit, aku akan menghubungi Stark dan meminta ijin pada Mr.Jacob."
"Tapi tugas makalah karya wisatanya, aku bahkan baru memutari 1 gedung. Itu tidak cukup sebagai bahan materi." Isabella mengerutkan alisnya pertanda ia sangat cemas.
"Kita bisa kesini lagi berdua, aku akan atur itu, Ceo Giant Corp adalah teman ayahku." Kata Zack membelai rambut lembut Isabella.
"Benarkah?"
"Hm..." Sahut Zack.
"Ya tuhan, kau seperti malaikat bagiku, malaikat yang bisa memberiku apapun. Aku sangat mencintaimu Zack." Kata Isabella dan mencium bibir Zack.
Zack membalas ciuman Isabella, dan kemudian mengecup kedua mata indah Isabella.
"Yang paling penting sekarang adalah pergi ke dokter." Kata Zack.
Kemudian Zack menghubungi Stark untuk menjemput mereka di perkemahan, sedangkan Zack juga pergi untuk meminta ijin pada Mr.Jacob.
Terlihat para siswa-siswi sudah mulai memasuki bus-bus masing-masing begitupun Sezi dan yang lainnya.
Sezi duduk di tempatnya dan melihat ke arah Zack serta Isabella yang duduk bersama.
"Zack bus akan berangkat kau tidak pindah duduk?" Tanya Sezi.
Zack hanya diam dan memandang ketus pafa Sezi, seolah ia merasa jijik dan muak.
"Aku akan duduk di sini." Kata Harry yang baru saja tiba sembari duduk di tempat Zack.
"Kau tidak bisa seperti ini Harry, kau adalah ketuanya seharusnya kau yang lebih patuh pada peraturan!"
"Ada apa denganmu? Kenapa otakmu begitu kolot, ini hanya tempat duduk, kenapa kau sangat mempermasalahkannya." Kata Harry datar setengah berbisik. Harry memandang Sezi dengan tatapan tajam.
"Tapi... Aku dan Mrs.Frawn sudah mengaturnya Harry..."
"Terserah." Kata Harry Acuh.
"Kemudian Sezi melenguh kesal dan menghempaskan punggungnya kasar di kursi.
Sezi mendengus-dengus menahan amarah, ia meremas penanya hingga patah.
Harry menutup wajahnya kembali dengan menggunakan jaketnya, ia tidak mau tahu dengan kepusingan Sezi.
Perjalanan cukup lama dan sampai di perkemahan hampir malam. Terlihat Stark sudah menunggu dengan 3 mobil berjajar, seperti biasa 2 mobil lainnya adalah milik pengawal.
Zack hendak menggendong Isabella namun Isabella menolak.
"Tidak Zack aku bisa jalan sendiri."
Zack mengerutkan alisnya.
"Tapi tadi siang Harry menggendongmu?"
"Ah... Itu, dia memaksa dan tiba-tiba menggendongku, aku masih kuat untuk berjalan." Kata Isabella.
Zack diam sejenak.
"Aku bisa Zack, aku sudah istirahat, aku juga tidak ingin terlalu manja atau terlalu bergantung pada mu, kau tahu Zack, aku sangat mandiri, dan ini semua akan membuatku malas." Kata Isabella tidak ingin melukai perasaan Zack dengan penolakannya.
Isabella sangat tahu, Zack sedang dilanda cemburu pada Harry, Isabella pun sadar, jika ia tidak menjaga perasaan masing-masing dari mereka, keduanya akan berkelahi.
Maka dari itu Isabella sangat ingin menjaga jarak dari Harry, karena Isabella sangat mencintai Zack. Namun, segala tindakan Harry selalu saja membuat Isabella cukup kwalahan, ia berulang kali menolak dan ingin menghindar namun semakin ia ingin menghindar dan menjauhi Harry, justru Harry semakin mendekati Isabella.
~bersambung~